
Saat memasuki gerbang utama kediaman keluarga Rodderick, Yara mengurangi kecepatan mobil. Seorang pria yang mengenakan pakaian hitam, tampak berdiri di depan garasi mobil dengan raut wajah yang semringah saat melihat Yara telah kembali. Pria itu tak lain adalah Pak Satya, si sopir umum sekaligus tukang rawat mobil.
"Pak, saya kembali," tutur Yara yang telah memberhentikan mobil tepat di depan garasi.
"Wah, akhirnya. Saya panik dari tadi, Nona."
"Saya baik-baik saja, Pak. Ohya mobilnya juga masih mulus."
"Baik Nona. Syukurlah Nona dan Mobil tidak apa-apa."
Yara turun dari dalam mobil. Ia menyerahkan kembali mobil itu pada Pak Satya, dan kemudian pria itu langsung memarkirkan di garasi mobil.
"Pak, saya ke dalam dulu," pamit Yara.
"Baik, Nona," menunduk.
Yara masuk ke dalam mansion, seperti biasanya tempat mewah dan luas itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Orang-orang rumah sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing. Tak terkecuali juga para pelayan di mansion itu.
"Dari mana saja kamu?" tanya Kinan yang baru saja keluar dari dalam lift. Ia hendak keluar untuk berkumpul dengan geng sosialitanya.
Yara sedikit kaget melihat sosok mertuanya. "Dari makam orangtuaku," jawabnya lirih.
Kinan menyorotnya tajam. "Cepat mandi sana! Kau hanya akan membawa virus saja!"
Yara terdiam. Ingin sekali ia menyumbat bibir Kinan, namun Yara masih memiliki akal sehat. Biar bagaimana pun juga, Kinan merupakan ibu dari suaminya. Yara pun memutuskan untuk mengacuhkan Kinan dan segera naik ke atas menggunakan tangga darurat.
Melihat Yara yang tak mempedulikan omongannya, membuat tensi Kinan meningkat. "Tak sudi aku memiliki menantu yang sudah terkontaminasi virus aneh! Jangan sampai kau menulari virus ke keluarga ini!"
Langkah Yara terhenti. Ia mengepal jemarinya dengan erat. "Ya! Anak kandung Mama juga telah tertular virus!" ketusnya lantang.
Deg!
Kinan terbelalak. "Apa kau bilang?!"
"Tidak ada. Mama hanya salah dengar," tersenyum kecut.
"Tidak mungkin! Jelas-jelas kau mengatakan jika kau sudah menulari anakku dengan virus mematikan dari mendiang orangtuamu!"
Rahang Yara mengerat saat Kinan kembali mengungkit orangtuanya yang sudah meninggal. Emosi Yara sudah menggebu dan telah berada di ubun-ubun. Sedikit saja Kinan menyinggung perasaannya maka gunung berapi aktif akan mengeluarkan lahar panas.
"Aku lebih setuju jika Amoera yang menjadi menantuku!"
__ADS_1
Yara menarik sudut bibirnya. "Maaf saja ya Ma, tapi anak Mama sangat menyukaiku. Hmm, bagaimana ya?" menyeringai.
"Wanita sialan!" umpatnya pelan.
"Ma, aku ke kamar dulu ya. Mau menunggu suamiku pulang. Soalnya suamiku pasti sangat merindukanku," meledek Kinan dan melanjutkan langkahnya menuju lantai tiga.
Gertak gigi Kinan terdengar. Bibirnya tampak miring, ia sangat emosi dengan kelakuan Yara yang baru saja mengejeknya. "Percaya diri sekali kamu! Apa kamu tahu jika Gala memiliki wanita yang sangat dicintainya?"
Degg!
Entah mengapa saat mendengar kalimat yang Kinan ucapkan membuat hati Yara terasa sesak. Seketika gadis itu terdiam dan tak lagi melanjutkan langkahnya.
"Wah, sepertinya kau belum tahu ya siapa wanita yang sangat dicintai anakku?" menyunggingkan bibir.
"Aku tidak peduli siapa gadis masa lalu suamiku! Yang pasti saat ini, aku menyandang status sebagai istrinya!" ketus Yara menekan kalimatnya.
Kinan kembali mengeratkan rahang. Suasana semakin mencekam. Adu mulut keduanya sama-sama panas pedas dan tajam. Yara pun tak mau kalah dengan ibu mertuanya. Meski ia sedikit merasa tidak sopan karena harus menantang mertuanya. Namun perlakuan Kinan padanya sudah sangat keterlaluan.
"Oh benarkah? Apa kau memang tidak peduli? Bagaimana kalau wanita itu memiliki hubungan baik denganmu?" memancing Yara supaya gadis itu geram.
"Aku tetap tidak peduli. Lagi pula Suamiku memilihku sebagai istrinya. Jadi akulah wanita yang sangat dicintai suamiku! Dan satu lagi, kami juga saling mencintai. Jadi tidak akan ada bibit-bibit pelakor yang mampu merusak rumah tanggaku."
"Maaf ya Ma, tapi Amoera tidak cocok bersaing denganku. Aku tidak selevel dengan wanita montok tak beradab itu! Jelas saja karena aku lebih berakhlak darinya!"
Degg!
"Tutup mulutmu! Lancang sekali bibirmu menghujat calon menantu keluarga Rodderick!"
"Sekali lagi Maaf, Ma. Dia masih calon menantu keluarga Rodderick, tapi aku sudah sah menjadi menantu keluarga Rodderick. Jelas sekali bukan letak perbedaannya denganku?!"
Cara berbicara Yara semakin kalem namun semakin menusuk. Sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan perdebatan antara mertua dan menantu, tampak tersenyum kecil dari kejauhan. Dia adalah Chiren. Dalam diam, Chiren mengagumi keberanian Yara untuk melawan Kinan yang selalu menindasnya.
Aku kagum padamu, Yara! Kau memang hebat. Aku saja tidak berani menatap wajah Mama. Tapi kamu berhasil membuat Mama kehilangan nyali dan ciut. Batin Chiren.
"Ma, permisi. Aku ke kamar dulu," menunduk kepala dan berlalu meninggalkan Kinan yang masih mematung di depan lift dengan sorot mata membunuh.
Meski terlihat tegar, namun sebenarnya hati Yara begitu rapuh dan mudah retak. Hatinya begitu hancur saat mendengar berbagai perkataan kotor yang dikeluarkan mulut mertuanya sendiri. Ia tak menyangka jika Kinan masih begitu membencinya.
Yara mempercepat langkahnya dan tibalah ia di kamar. Ia sudah tak dapat lagi menahan cairan bening yang sudah ia bendung saat Kinan menghina Yara dan kedua orangtuanya. Tangannya gemetar sedari tadi tapi ia menahannya agar tak terlihat gentar saat berhadapan dengan Kinan.
"Hik ... hik ... hik!! Bunda ... Ayah!" gumamnya seraya mendudukkan tubuhnya di lantai dekat ranjang.
__ADS_1
Awal menikah dengan Gala, ia sudah menahan rasa sakit hatinya terhadap keluarga Rodderick. Ia bersikap kuat dan tegar supaya dirinya tak lagi ditindas oleh Kinan. Namun tak dapat disangka jika saat itu ia tak kuasa lagi menahan rasa sakit hatinya. Apalagi saat mendengar jika Kinan lebih mendukung musuhnya dari pada ia yang jelas-jelas adalah menantunya sendiri.
Yara terus terisak dengan bergumam. Isak tangisnya semakin menjadi saat ia membayangkan wajah kedua orangtuanya yang telah tiada. Kembali ucapan Kinan menyambar benaknya. Ia teringat akan kalimat Kinan yang mengatakan bahwa, Gala akan mencampakkannya dan segera menceraikannya. Apalagi Kinan sempat bilang jika Gala memiliki seorang wanita yang sangat Gala cintai.
"Apa benar Om Gala akan meninggalkanku? Dan apa benar kalau Om Gala mencintai wanita lain? Hik ... hik ... hik!" menangis tersedan.
Ceklek
"Aku kembali," tutur seseorang yang baru saja masuk ke kamar.
Yara yang mendengar suara tak asing itu langsung menyeka air matanya dan segera berdiri dari lantai.
"Sedang apa kau di lantai?" tanya Gala dengan menautkan alis.
"Aku ... a-ku ... " sesenggukan.
Gala yang mendengar suara sedan Yara langsung berlari menghampiri istrinya dengan panik. "Yara, kau kenapa?" tanyanya lembut.
Yara tak berani mendongak menatap wajah Gala. Ia menunduk masih dengan menahan isak tangis. "Ti--tidak apa-apa," lirihnya.
Gala memegang bahu dengan kedua tangannya. "Istriku, apa yang terjadi?" tanya Gala dengan lembut dan ramah.
Tiba-tiba air mata Yara langsung berjatuhan dari sudut matanya. Dan suara sedu sedan kini mulai terdengar. "Hik ... hik ..."
"Kenapa kau menangis, Istriku? Apa yang membuatmu sampai menangis seperti ini? Katakan padaku siapa yang membuat istriku terluka."
Yara menatap Gala dengan bola mata yang telah berlinang cairan. Mimiknya begitu sedih dan kusut. "Om Gala .... Hik ... hik ... hik..." sesenggukan.
Melihat wajah Yara yang sudah teramat sembab dan kusut membuat hati Gala ikut menangis. Segera ia mendekap tubuh kecil istrinya sehingga kepala Yara tenggelam di dada biang milik Gala. "Sayang ... jangan menangis," mengusap lembut punggung Yara.
Tangisan Yara semakin menjadi saat kata sayang terdengar dari mulut Gala. "Om tidak akan meninggalkanku 'kan? Hik .. hik!"
"Aku bersumpah demi Sang Pencipta, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Istriku! Aku menyayangimu!"
Yara langsung memeluk erat tubuh Gala dan kembali membenamkan kepalanya di dada kekar Gala. "Aku cinta, Om Gala! Tetaplah berada di sisiku."
Degg!!
To be continued ...
Beri dukungan cinta kalian untuk Author lewat vote, like dan komen. Author sayang Om Gala! Eh salah, sayang readersss maksudnya ... 🥰🤗
__ADS_1