Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 60 : Bertemu Lagi!


__ADS_3

Pagi itu Gala dan Shanks tiba di sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan perusahaan Blackfire. Ia membuat janji temu dengan seseorang yang tak lain adalah Janetha. Saat Yara memberitahu Gala mengenai kedatangan mantan pacar Leon, dengan segera Gala meminta bertemu dengan Janetha.


"Shanks, telepon dia sekarang!" perintah Gala sembari melirik jam tangannya.


"Baik, Tuan."


Saat hendak menelepon, seorang wanita bersama dengan seorang anak kecil muncul di hadapan Gala. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia memberanikan diri bertemu dengan Gala. Melihat kedatangannya, Gala melemparkan pandangan sinis pada wanita itu. Dengan segera, Janetha menundukkan kepalanya.


Ia tidak berani menatap wajah Gala yang tampak garang. Ia mencengkeram tangan anaknya sehingga, Leonard merasakan kesakitan. Anak itu memandangi ibunya dengan tatapan polos. Leonard tahu jika Janetha sedang tidak baik-baik saja.


"Mommy, are you okey?" tanya Leonard.


Gala beralih menatap anak kecil itu.


"I'm ok," ucap Janetha dengan suara yang gemetar.


"Duduklah," ucap Gala.


Janetha langsung mendudukkan tubuhnya. Kini posisinya saling berhadapan dengan tubuh Gala. Belakang punggungnya telah dibanjiri keringat dingin. Ia menjadi ketakutan karena saat itu ia sedang berhadapan dengan seorang Gala, pria yang dulunya membuat janji dengannya.


"Sungguh mirip Leon," gumam Gala.


"Mommy, siapa kedua lelaki dewasa ini? Apa mereka menakutimu?" tanya Leonard.


Janetha masih diam seribu bahasa.


"Aku Gala," ujar Gala, memperkenalkan.


Melihat Gala memperkenalkan dirinya, Shanks pun ikut meramaikan. "Aku, Shanks," tersenyum kecil.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Gala.


Janetha mengratkan cengkeramannya. "Su--sudah empat hari," ucapnya gelagapan.


Gala mendengus. Ia melemparkan pandangannya, beralih menatap jendela. "Apa kau sudah melupakan perjanjiannya?" ucapnya dingin.


Janetha menggeleng dengan cepat. "Ti--tidak, Tuan. Maafkan saya."


"Apa dia putramu?" tanya Gala.


"Iya, Tuan."


"Anak Leon?"


"Benar, Tuan."


Gala mengerjapkan mata. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa?" ucapnya lirih.


Janetha mendongakkan wajahnya menatap Gala, mencari paham maksud ucapan pria itu.


"Kenapa?" tanya Gala dengan nada yang sedikit tinggi.


"What?" lirih Janetha kikuk.


"Kenapa kau muncul lagi?! Kenapa kau melanggar janjimu!" menekan kalimatnya sehingga membuat wanita itu melonjak.

__ADS_1


Deg!


"Mommy?" lirih Leonard. Ia menatap Gala dengan tatapan nanar. "Jangan membentak, Mommy," ucapnya pelan.


Gala tak mempedulikan anak kecil itu.


"Maafkan saya. Saya bersalah, Tuan," ucap Janetha kembali menudukkan kepalanya.


"Apa yang kuberikan padamu kurang? Katakan jika kau masih membutuhkan lebih banyak lagi!"


Janetha menatap Gala dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca. "Saya tidak butuh uang, Tuan. Saya sadar jika saya salah karena telah melanggar perjanjian! Tapi ... " menatap Leonard.


"Mommy ... " lirih anak itu tampak pucat dan ketakutan.


"Shanks, bawah anak ini pergi. Aku ingin berbicara berdua dengan wanita ini!" perintah Gala.


"Baik, Tuan." Shanks berjalan mendekat ke arah Leonard.


"Aku tidak mau!" ketus anak itu lantang.


Gala menatap Janetha dengan sorot mata membunuh. Segera Janetha membujuk anaknya untuk ikut dengan Shanks. "Leonard, ikut Om ini ya. Mommy ingin berbicara berdua dengan pamanmu," ucapnya.


"Uncle?" tanya Leonard sembari tatapannya beralih menatap Gala.


Janetha mengangguk ragu.


"Apa aku boleh meminjam Ibumu sebentar?" ijin Gala.


"Apa kau ... Pamanku?"


Gala terdiam sejenak. Ia sebenarnya tak ingin mengakui, namun wajah anak itu terlalu mirip Leon, sehingga ia tak tega untuk melukai perasaan anak kecil itu. Dengan sedikit kaku, Gala mengangguk mengiyakan.


"Aku Kakaknya Daddymu."


Leonard tersenyum lebar. Ia tampak senang mendengar dan mengetahui jika ternyata ia bukan hanya meiliki seorang ayah, melainkan memiliki seorang paman juga. Leonard langsung memegang tangan Shanks. "Apa kau juga pamanku?"


"Bu--bukan. Tapi jika kau mamaggilku paman, maka aku tak bisa menolak. Aku bersedia menjadi paman keduamu," tutur Shanks tersenyum kecil.


"Baiklah Paman Kedua."


Shanks menjadi heran dengan panggilan anak kecil itu. Ia pun segera membawa Leonard menjauh dari tempat itu.


"Sekarang kita bisa berbicara dengan leluasa."


"Terima kasih Tuan. Kau masih pengertian seperti lima tahun lalu."


"Pulanglah," ucap Gala.


"A--apa?" lirih Janetha.


"Aku bilang pulanglah."


"Pulang kemana? Ini tempat kelahiran saya," ucap Janetha.


"Kalau begitu, kembalilah."

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya akan kembali tiga hari lagi. Karena jadwal keberangkatan saya hari jumat. Saya sudah memesan tik--"


"Malam ini!" potong Gala.


Janetha terkejut. "Ma--maksud, Tuan?"


"Kembalilah malam ini juga!"


Hati Janetha kembali teriris. "Kenapa malam ini, Tuan?"


"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Apa perlu aku menjelaskannya padamu?!"


"Maaf, Tuan," lirihnya.


"Kehadiranmu di sini, bisa menghancurkan seseorang!"


Buliran air mata mulai berjatuhan di mata Janetha. Wajah Chiren kembali terngiang dalam benaknya.


"Istriku memberitahuku jika kau bertemu Leon kemarin. Bukankah kau sudah tahu jika Chiren mengandung anak Leon?"


Janetha mengangguk. Ia terisak dalam diam.


"Apa perlu aku berlutut lagi di hadapanmu supaya kau menjauhi Leon?"


Wanita itu menggeleng dengan cepat. "Tapi ... apakah anakku tidak pantas bertemu dengan ayahnya? Darah Leon mengalir di tubuh anakku ... hik ... hik ... tidak adil bagiku!"


"Janetha sadarlah! Kau harus berpikir realistis! Bukankah Chiren sahabatmu? Kenapa tidak sejak dari dulu saja kau bersikeras untuk menuntut pertanggungjawaban Leon?! Kala itu Leon belum menikah dengan Chiren! Kenapa baru sekarang kau bersikap seperti ini! Di saat mereka telah menikah dan membangun rumah tangga selama lima tahun! Dan setelah Chiren mengandung anak Leon! Kalau dulu hatinya pasti akan menerima, jika kau menikah dengan Leon karena dia belum terikat apapun dengan Leon. Tapi sekarang?! Aku kira kau sudah paham maksudku!"


"Hik ... hik ... " sesenggukan.


"Aku tahu aku juga egois, memisahkan kalian. Memisahkan anak kandung dengan ayahnya. Tapi ... bukankah kita sudah membuat kesepakatan? Kenapa kau muncul di saat seperti ini, Janetha? Kenapa?!"


"Maafkan saya, Tuan ... hik ... hik ... Ini semua kulakukan demi anak saya. Saya tidak terpikir akan jadi seperti ini."


"Berhentilah meminta maaf! Kau membuatku lebih merasa bersalah!"


"Saya akan kembali malam ini juga!" ketus Janetha.


"Bagus karena kau mendengarkanku!"


"Tapi ... bolehkan saya berpamitan dengan Chiren?"


"Tidak!"


"Kalau begitu, bolehkah anakku saja yang bertemu dengan Leon? Kali saja dan aku janji tidak akan muncul lagi di hadapan Leon sampai aku mati!"


Gala terdiam. Ia bingung harus memberikan keputusan apa. Pasalnya ia tak tega melihat anak kecil itu pergi tanpa bertemu lagi dengan Leon untuk terakhir kalinya. Namun Gala terlalu takut, jangan sampai ia salah mengambil keputusan untuk mengijinkan Leonard bertemu Leon.


Karena jika hal itu diketahui Chiren tanpa sengaja, maka pastilah Chiren akan merasakan sakit yang luar biasa. Sudah keguguran anak selama tiga kali, mendapatkan perlakuan buruk dari suami dan kali ini, ia akan jadi gila jika tahu sahabat terbaiknya ternyata pernah berhubungan dengan suaminya dan memiliki seorang anak.


"Tuan! Aku mohon ... "


Gala terperanjat saat melihat Janetha telah tersungkur di lantai, berlutut sembari dahinya menyentuh lantai.


"Hey! Apa yang kau lakukan?!

__ADS_1


To be continued ...


Tetap dukung Author dengan cara like, komen dan vote. Makasih semua 🤗🥰


__ADS_2