
Seperti biasanya, Gala tidur di sofa ruang kerjanya. Kejadian beberapa saat yang lalu membuat pria itu geram dengan dirinya sendiri. Jam dinding telah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Suasana kamar Gala tampak sunyi senyap. Gala berusaha memejam matanya namun ia tak dapat terlelap.
Gala memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya dan hendak berolahraga malam di ruangan gym yang terletak di lantai tiga, di ruangan yang berbeda. Saat melewati ranjang, ia mendapati Yara yang sedang tidur terlentang dengan sebuah novel di atas perutnya. Ia pun meraih remot AC dan mengurangi suhu dingin di ruangan itu.
Gala melepas pakaian atasnya sedangkan pakaian bawahnya hanya mengenakan boxer berwarna hitam polos. Ia pun mulai melakukan pemanasan selama lima belas menit. Tak lama kemudian, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat sedikit demi sedikit. Ia meraih barbel yang berbobot seratus dua puluh kilo gram dan mulai mengangkatnya.
Napas Gala mulai terengah. Wajahnya telah dipenuhi peluh. Tak hanya wajah, tubuhnya pun sudah dibanjiri keringat, dan itu semakin membuat penampilannya terlihat seksi dan mempesona. Gala menatap tubuhnya di dinding cermin ruangan gym. Ia menggerakkan kedua tangannya dan melihat urat-urat kecil yang mulai muncul dari balik kulitnya.
Setelah puas menatap tubuh kekarnya, ia pun mulai menggantung tubuhnya di sebuah tiang yang memiliki palang di tengah yang dikhususkan untuk melatih dan memperkuat otot lengan, punggung dan bahu. Hal itu merupakan salah satu rahasia Gala terlihat awet muda, segar dan bugar. Semakin berumur penampilannya semakin maskulin dan keren sehingga dapat memikat setiap hati kaum hawa yang memandanginya.
***
Aktivitas kembali berlanjut saat matahari mulai beranjak dari peraduan. Pagi itu, Yara bangun pukul enam pagi. Ia membersihkan badannya dan setelahnya mengenakan pakaian di ruangan ganti. Gadis itu berencana untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya karena semalam ia memimpikan Ray dan Elyora.
Yara mengintip di ruang kerja Gala, dan mendapati pria itu sedang terlelap di sofa. Ia melihat jam berwarna keemasan yang melingkari pergelangan tangannya yang mulus. "Sudah hampir jam tujuh kok Om Gala belum bangun ya? Tumben sekali," gumamnya.
Gadis itu meraih ponselnya dan mengetik sesuatu. Rupanya ia mengirim pesan ke nomor Gala lewat pesan Whatsapp. Sesudah itu, Yara keluar kamar dan menuju garasi mobil yang terletak di lantai satu samping mansion.
"Selamat pagi Pak," sapanya pada seorang pria paruh baya yang sedang menyeka mobil.
"Selamat pagi Nona."
"Pak, saya boleh pinjam satu mobil tidak?"
"Kenapa dipinjam, ini semua 'kan punya keluarga Nona," tersenyum menatap Yara.
"Bukan. Lebih tepatnya punya suamiku."
Pria paruh baya yang memiliki nama Satya itu menggaruk tengkuk lehernya dengan menatap Yara bingung. "Iya 'kan sama saja, Nona," gumamnya pelan.
"Pak, saya boleh menggunakan mobil itu?" menunjuk sebuah mobil berwarna jingga dengan logo seekor kuda yang berjingkrak. Yara tertarik menggunakan mobil itu karena warnanya cerah, sama dengan hatinya yang begitu cerah.
"Sangat boleh, Nona. Sebentar ya, saya siapkan dulu."
__ADS_1
"Baik."
Sambil menunggu Pak Satya menyiapkan mobil, Yara berdiri di depan garasi dengan memainkan ponselnya. Tak lama setelah itu, Pak Satya menghampirinya dengan super car berwarna jingga yang telah ia keluarkan dari garasi mobil.
"Pak, sebenarnya saya belum terlalu mahir mengendari mobil beginian. Tapi saya akan mencobanya. Saya suka dengan suatu hal yang menantang," terkekeh pelan.
"Waduh. Bahaya Non. Atau biar saya saja yang mengantar Nona?" tawar Pak Satya.
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri. Saya akan berhati-hati."
Dengan hati yang bimbang dan penuh keragu-raguan, Pak Satya keluar dari dalam mobil dan menyerahkan mobil itu pada Yara. "Nona hati-hati. Sekedar informasi, mobil ini merupakan mobil kesayangan Tuan Zian."
Yara melotot sembari menelan salivanya kasar. "Mobil kesayangan Papa Zian?" tanyanya kembali.
"Iya Nona."
"Kenapa Bapak tidak bilang dari tadi," tampak panik.
"Tapi aku tertarik dengan mobil ini. Apa bisa aku meminjamnya? Tidak akan lama kok, hanya mengunjungi makam orangtuaku dan langsung kembali ke mansion," jelas Yara.
Pak Satya masih ragu untuk mengiyakannya. Pasalnya ia juga tidak ingin menerima amukan Tuan Besar jika mobil kesayangannya lecet. Tapi di lain sisi, ia juga tidak enak menolak permintaan Nona Mudanya.
"Pak, saya pergi dulu. Tidak akan lama."
Vrem ... vrem ... vrem
Yara memainkan pedal gas membuat Pak Satya tersadar dari lamunannya dan mendapati jika Yara sudah pergi dari hadapannya.
"Nona ... kembalilah dengan selamat!" teriaknya. "Kembalilah dengan tubuh yang utuh dan mobil yang mulus," lirihnya lagi, menunduk kepala.
Yara tersenyum semringah saat mengemudikan super car yang bermerek Ferarri itu. Ia mengemudikannya dengan sangat hati-hati. Sesekali ia memainkan pedal gas sehingga mesin memperdengarkan raungan agresif sehingga membuat adrenalin si pengendara berdesir.
"Wihh gila! Keren pake begete!" celutuk Yara. Bagai orang udik yang baru pertama kali menaiki mobil, seperti itulah kelakuan Yara.
__ADS_1
Tak memakan waktu yang lama, Yara tiba di makam keluarga Lincoln. Sebelumnya, ia tak lupa juga membeli beberapa bunga mawar segar untuk di taruh di makam keluarga besarnya. Bukan hanya Ray dan Elyora saja, melainkan Kakeknya dan beberapa leluhurnya yang telah lama berpulang.
"Ayah, Bunda .... Aku datang," sapanya seraya meletakkan dua buket bunga mawar segar di masing-masing pusara mendiang orangtuanya yang saling berdekatan.
Yara menatap lekat pusara mendiang kedua orangtuanya. Rautnya tampak semringah karena ada sesuatu yang sedang berkobar dalam dirinya. "Bunda," mengusap pusara Elyora. "Bunda tahu tidak, akhir-akhir ini hatiku tampak aneh. Suasana perasaanku kadang berubah-ubah. Ada apa ya? Ohya ... Hal yang paling membuatku sering merasa gila adalah saat kehadiran Om Gala. Aku sebenarnya kesal sekali padanya, tapi kesal dalam arti yang lain. Aku juga bingung menjelaskannya padamu. Pokoknya aku kesal jikalau Om Gala tidak memperhatikanku! Tapi aku juga kesal jika Om Gala terlalu mencampuri urusanku. Aneh bukan? Intinya, Aku mau bilang trima kasih karena Ayah dan Bunda telah menitipkanku pada orang yang tepat dan aku bahagia dengan hal itu. Memang awalnya aku sedikit marah pada kalian! Bisa-bisanya Kalian menjodohkanku dengan lelaki tua seumuran dengan kalian. Tapi semakin ke sana, aku semakin nyaman dengan lelaki tua itu. Entahlah ... aku juga belum pernah merasakan bagaimana mencintai dan bagaimana dicintai oleh kekasih. Ayah Bunda, sudah dulu ya. Nanti aku balik lagi kapan-kapan. Soalnya aku cuma minjem mobil Papa Zian. Hahah! Aku benar-benar terlalu berani. Tapi rasa penasaranku lebih tinggi dari rasa takut. Ya sudah, aku pamit dulu."
Setelah selesai mencurahkan segala isi hati di depan makam kedua orangtuanya, Yara pun beranjak dan menuju pusara lain milik buyut-buyutnya dan meletakkan buket bunga mawar segar di sana. Tak lupa juga ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai ungkapan doa untuk leluhurnya yang sudah berpulang lebih dulu pada Sang Empunya kehidupan.
Yara segera menuju mobil dan menyalakan mesin. Masih dengan kelakuan yang udik, ia mengendarai mobil itu. Seperti tadi, ia juga memainkan pedal gas sehingga raungan mesin itu kembali terdengar dan membuat hatinya terpincut oleh alunan nada necis dari mobil sultan itu. "Huaa! Sangarrr!" celutuknya, kagum.
Sementara Yara sedang memutar kemudi, ia menatap spion depannya. Ia melihat sebuah mobil berwarna putih sedang ugal-ugalan di belakang kendaraannya. "Ada apa dengannya?! Apa dia mabuk di pagi hari yang cerah ini?"
Tiba-tiba saja mobil berwarna putih itu memalangnya sehingga dengan segera ia menginjak rem dengan kencang sehingga hampir membuat dahinya terbentur di kemudi mobil. "Ahhhhh!" teriaknya panik. "Astaga! Ada apa ini? Ke--kenapa mobil itu tiba-tiba menghadangku?"
Seorang wanita cantik, dengan bentuk tubuh proposional, menggunakan pakaian seksi yang memperlihatkan paha mulus dan kaki jenjangnya, turun dari dalam mobil berwarna putih. Gadis itu segera menghampiri Yara yang masih termangu di dalam mobil.
Tok tok tok ...
Wanita itu mengetuk kaca mobil. "Buka!" celutuknya, kasar.
Yara sontak kaget. Ia perlahan menurunkan kaca jendela mobil dan menatap wanita itu. Bagi Yara sosok wanita yang berdiri di samping mobilnya tampak tak asing baginya. Aku sepertinya kenal dengan wanita ini. Batinnya.
"Hey siapa kamu?! Apa simpanan baru lagi?!" ketus wanita itu yang ternyata adalah Anya.
Yara kembali terkejut. Ia membuka kacamata hitam yang ia kenakan. "Apa maksud Anda?!"
Degg!!
Anya terperanjat bukan kepalang. "K--kau?" gelagapan.
To be continued ...
Tetap dukung Author dengan cara meninggalkan jejak yaa. Supaya Author semakin semangat untuk selalu crazy up. Makasih semua 🥰🤗
__ADS_1