
Orang-orang itu seketika panik. Kinan dan Yara duduk bersebelahan, sedangkan Gala dan Zian mondar-mandir di depan kedua perempuan itu seperti orang gila. Gala mengacak rambutnya sehingga berantakan. Zian melepas dasinya hingga penampilan pria tua itu tak kalah berantakan dengan Gala.
Dokter yang menangani Chiren tiba-tiba keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Mereka langsung mengerumuni dokter itu dan melontarkan berbagai pertanyaan sehingga membuat sang dokter bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.
“Tenang. Bapak Ibu sekalian, mohon tenang. Keadaan Nyonya Chiren baik-baik saja.”
“Bagaimana dengan Leon kecilku?” tanya Kinan dengan raut nanar.
“Janinnya hampir saja tidak bisa diselamatkan. Untung saja Nyonya Chiren termasuk calon ibu yang sangat kuat. Ia mampu menahan rasa sakit dan menetralkan tubuhnya, sehingga semuanya baik-baik saja. Jika Nyonya Chiren, sedikit saja terlelap, maka janinnya tidak bisa diselamatkan.”
Semua orang merasa legah dan tenang. Kinan dan Yara tak henti-hentinya menangis.
“Sebenarnya kami sudah putuskan untuk mengeluarkan bayi itu dengan cara operasi. Namun resikonya akan sangat besar, karena bayi itu akan menjadi prematur atau bahkan akan lahir dengan cacat, tapi jika ditahan terlalu lama, maka akan beresiko besar juga, nyawa bayi akan terancam dan bisa-bisa meninggal akibat tekanan yang dirasakan sang ibu.”
“Lalu? Apa tindakan kalian?” tanya Gala dengan manik melebar.
“Kebetulan Nyonya Chiren langsung sadar. Kami meminta keputusan Nyonya Chiren dan ia memilih untuk melahirkan bayi itu pada waktunya. Kami mengiyakan dengan syarat, Nyonya Chiren tidak boleh sama sekali merasakan stres yang mendalam. Tidak boleh berada di bawah tekanan apa pun.”
“Bagaimana caranya supaya Chiren tidak stres?” tanya Gala lagi.
“Ia harus diperhatikan secara khusus. Tidak boleh tidur sendirian dan beraktivitas sendiri. Harus ada yang menemani dan memanjakannya. Apalagi sang suami telah berpulang. Jadi Nyonya Chiren membutuhkan kasih sayang yang khusus.”
“Baik. Kami akan lakukan itu, asalkan Chiren dan bayinya selamat!” ketus Gala.
“Oh Leon kecilku yang malang,” gumam Kinan. Ia sangat menyayangi kandungan Chiren karena calon bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Dan otomatis itu akan mengingatkannya pada Leon, anaknya. Kelahiran Leon junior sangat dinanti-nantikan.
***
Hanya dua hari saja Chiren di rawat di rumah sakit dan ia sudah meminta diri untuk pulang. Kesehatannya juga semakin stabil. Ia tampak bahagia dari sebelumnya. Siang itu Gala dan Yara menjemput Chiren untuk pulang. Dan sesampai di mansion, Gala mendorong kursi roda yang ditempati Chiren dan membawanya sampai di kamar.
“Kak, aku tidak apa-apa,” ucap Chiren saat Gala berusaha membopong tubuhnya dari kursi roda ke atas tempat tidur. Dan tentunya itu atas izin Yara. Kalau tidak, mana mungkin Gala melakukan hal yang berlebihan.
“Chiren, mulai sekarang kamu tidak usah sungkan. Aku dan Suamiku akan tetap melakukan yang terbaik untukmu, sampai anakmu lahir dan sampai kamu sembuh total.”
“Aku sangat berterima kasih kepada kalian. Mungkin kalau tidak ada kalian aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup.”
__ADS_1
“Jangan ngomong seperti itu. Sudah menjadi tanggung jawab kami, sebagai seorang kakak untuk menjaga dan merawatmu. Leon juga pasti akan sangat senang ketika kami memperlakukanmu dengan baik.”
“Sekali lagi terima kasih Kak Gala,” tersenyum.
“Ohya, mau minum susu? Aku buatin ya?” tawar Yara antusias.
“Tidak usah repot-repot, Yara. Pelayan bisa membuatkan untukku.”
“Oh ini sama sekali tidak merepotkan. Aku bahkan tidak keberatan untuk selalu menyiapkan segala kebutuhanmu Chiren. asalkan kau senang itu sudah lebih dari cukup untukku.”
Chiren merentangkan tangannya dan meminta Yara untuk memeluknya. Ia sangat bahagia sampai-sampai bulir bening menggenangi pipinya yang mulus. “Aku sangat bahagia memiliki kalian,” lirih Chiren.
***
Siang itu saat terik matahari sudah berada di atas kepala, orang-orang yang berada di gedung pencakar langit itu mulai berhenti dari kerja mereka. Ada karyawan yang menuju kantin yang ada di dalam perusahaan, ada juga yang lebih memilih makan di luar. Mereka bebas untuk melakukan apa saja asalkan itu di jam istirahat.
Seorang wanita dengan gaya dan pakaian sederhana namun elit, sedang menenteng rantang yang berisikan makanan. Dengan wajah yang ceria dan semringah ia menaiki lift dan menuju ruangan Presiden Blackfire Company. Tidak ada satupun pengawal yang menahannya saat masuk ke ruangan sang presiden. Ya jelas saja, karena dia adalah Yara, Nyonya Muda Rodderick. Siapa yang berani memblokir jalannya? Ia dapat seenak jidat keluar masuk tanpa memerlukan ijin dari siapa pun.
“Suamikuuuuu! Yuhu! Istri tercintongmyuu datang! Aku sangat merindukanmu Suamiku! Hahaha” gurau Yara yang baru saja keluar dari dalam lift sambil terkekeh.
“Nyonya, jangan berlari nanti jatuh. Kalau jatuh sakit,” tegur Shanks yang merasa ngeri melihat Yara yang berlari bagai anak kecil menuju ruangan Gala.
“Om, aku tahu. Dan aku tidak akan jatuh. Blee!” menjulurkan lidahnya.
“Terserah kau saja,” gumam Shanks, pasrah.
Yara terus berlari sampai tiba di ruangan Gala. “Suamiku?” panggilnya.
“Ya Istriku,” sahut Gala yang baru saja keluar dari toilet.
“Kamu sudah makan apa belum? Aku sudah buatkan makanan untuk—” Tak sengaja mata Yara menatap meja yang di atasnya terdapat beberapa bekal yang tampak kosong. “Kamu sudah makan ternyata,” lirih Yara dengan ekspresi yang langsung berubah murung.
“Jangan bersedih Istriku tercinta, jika itu masakanmu maka aku akan tetap memakannya dengan lahap sampai habis,” ucap Gala mencoba mengembalikan mood Yara.
“Siapa yang membawakanmu makanan?”
__ADS_1
“Tadi ada pelayan rumah yang membawakan makanan ini, katanya dari Chiren. Dia membuatkanku makanan sebagai tanda ucapan terima kasih. Aku merasa kasihan karena dia sedang hamil tapi masih ingin merepotkan diri membuatkanku makanan,” jelas Gala.
“Oh begitu. Tidak mengapa, yang penting kamu sudah makan,” tersenyum lebar.
“Sini berikan ini untukku,” menarik paksa bekal yang di tenteng Yara. “Dan kita makan berdua. Pasti Istriku yang cantik ini belum makan. Sini aku suapin.”
Yara tersenyum dan mengiyakan ucapan Gala. Mereka berdua memakan makanan itu dengan penuh keromantisan. Gala menyuapi Yara dengan manja dan sekali-kali mengecup bibir Yara yang belepotan makanan akibat ulah Gala yang sengaja membuat pinggir bibir Yara cemong.
“Istriku, aku sudah sangat kenyang. Masakanmu sangat enak. Tapi enakan masakan Chiren,” ucap Gala.
“Tidak mengapa, aku masih dalam proses belajar. Sedangkan Chiren, dia sudah ahli dalam memasak. Awas saja kamu, kalau nanti aku sudah jago masak, aku nggak bakalan buatin kamu makanan lagi,” canda Yara tersungging.
“Eits, nggak boleh gitu. Aku 'kan suami kamu. Jadi kamu harus memasak untukku, kalau tidak aku akan meminta jatah, satu hari sepuluh kali!”
Yara menelan kasar liurnya. Ia sedang membayangkan jika hal itu benar terjadi maka gerbang sucinya yang sudah tidak suci lagi akan berubah size menjadi XXXL. Pasalnya punya Gala terlampau besar.
“Apaan sih, Om. Gimana kalau aku mati karena disuntik berkali-kali dengan suntikan tumpul, panjang dan besar? Nanti kamu nyesel loh.”
“Hahaha.” Gala terbahak. Ia menatap tubuh istrinya dengan penuh gairah.
“Suamiku …”
“Iya, Istriku?”
“Aku serasa ingin keluar.”
“Loh, kan belum di apa-apakan?”
“Aku … ehmm,”
“Ada apa, Sayang?” Gala menjadi bingung. Padahal baru niatnya saja ingin meminta jatah.
“Pengen … Boker," celutuk Yara tanpa dosa.
To be continued ...
__ADS_1