
Setelah melewati malam yang panjang dan dramatis, kini Gala kembali melakukan rutinitasnya. Tubuh Yara masih terlentang di atas ranjang, ia tak enak hati membangunkan gadis itu. Sebelum meninggalkan kamar, Gala meninggalkan secarik kertas di atas nakas. Dan di samping itu telah disediakannya sarapan dan obat yang akan Yara minum saat bangun.
Shanks telah menunggu di depan mansion. Gala turun dari lantai tiga dan menuju mobil. Keduanya pun berangkat ke kantor. Hari ini merupakan hari yang akan panjang dan padat bagi Gala. Pasalnya ia akan memimpin beberapa rapat di luar kota. Ingin rasanya tinggal menjaga sang istri, namun pekerjaan seolah mendesaknya untuk segera menyelesaikan tanggung jawabnya.
"Shanks, beritahu Jessica jika Yara tidak bisa ke kantor hari ini karena sakit."
"Baik Tuan. Nona sakit? Kok bisa?" tanya Shanks reflek.
Gala tak menggubris.
"Nona sakit apa, Tuan?" tanya Shanks lagi, kepo.
"Hamil." Jawaban singkat padat dan jelas membuat otak Shanks sedikit macet.
"Ha--hamil?! Kok bisa?! Maksudku, cepat sekali? Belum juga seminggu menikah!" menautkan alisnya.
Gala menatap Shanks dengan tatapan tajam dari kaca spion depan. "Maksudmu, Yara sudah hamil duluan sebelum menikah?! Begitu?"
Shanks terperanjat. "Bukan begitu, Tuan. Maksudku terlalu cepat. Apa Tuan sudah ... " menjeda ucapannya saat sorot mata Gala lebih tajam melirik maniknya. Aura gelap Gala muncul seolah melingkari tubuhnya. Hal itu membuat Shanks bungkam dan tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Ya, aku sudah menidurinya!"
Degg!!
Lagi-lagi Shanks dibuat terkejut dengan ucapan Gala.
"Berhenti mengepoi urusan rumah tangga orang! Jika kau melakukannya lagi maka kau adalah bibit unggul pebinor!"
"Apa itu pebinor, Tuan?" tanyanya penasaran.
"Perebut bini orang!"
"Tidak Tuan. Mana mungkin aku merebut Nona Yara dari Tuan. Aku tidak selancang dan seberani itu Tuan."
"Siapa tahu saja niatmu buruk padaku!"
Gala menarik sudut bibirnya. Sifat Gala begitu posesif. Ia tidak ingin laki-laki lain menghawatirkan Yara. Cukup dirinya sendiri. Bahkan Shanks asisten pribadinya yang sudah hidup selama satu dasawarsa dengannya dan sudah mengetahui sifat Shanks secara mendetail, tapi tetap saja dicurigainya.
Selang beberapa menit, keduanya tiba di perusahaan induk. Gala memerintahkan kedua sekretarisnya untuk menyiapkan segala kebutuhan yang akan ia pakai saat memimpin rapat di luar kota. Shanks juga membantu kedua sekretaris wanita itu dengan membawakan dokumen yang telah membumbung di tangan mereka.
"Ada berapa kota yang akan kita kunjungi?"
"Ada lima Tuan. Dan untuk hari ini tiga, dan sisanya besok. Jika kita memaksakan semuanya hari ini, maka waktu tidak akan cukup, Tuan," jawab salah satu sekretaris yang bernama Ellen.
"Baik. Aku membatasi waktunya. Setiap kota, waktu rapat hanya berlangsung selama satu jam, tidak lebih. Aku ingin pulang sebelum larut malam. Istriku sedang sakit."
"Baik, Tuan," tutur kedua sekretaris wanita itu.
***
Di tempat lain, seorang wanita berjalan dengan tergesa-gesa menuju sebuah ruangan sambil membawa file di tangannya. Wanita itu tak lain adalah Jessica. Ia mendapat telepon dari asisten pribadi Gala mengenai direktur utama mereka.
Tok tok tok ...
"Masuk."
__ADS_1
Jessica menarik gagang pintu.
"Permisi, Tuan. Ada berita penting untukmu dari Tuan Gala."
"Berita apa?" tanya Andro melepas penanya.
"Direktur utama sedang sakit dan akan ijin beberapa hari ke depan. Tuan Gala ingin, Tuan Andro yang menangani semua jadwal Nona Yara."
"Baik. Akan saya handle. Sakit apa direktur?"
"Kata Tuan Shanks, Nona Yara lagi sakit mujur."
"Apa itu sakit mujur? Sakit jenis apa yang mujur? Bukankah sakit adalah sebuah penderitaan?" deretan pertanyaan Andro dilontarkan begitu saja.
"Nona Yara hamil Tuan. Sakit mujur adalah istilah untuk wanita yang sudah menikah dan hamil muda. Biasanya kalau hamil di usia muda, kondisi kandungan masih belum stabil dan sering merasakan nyeri di perut."
"Benarkah? Nona Yara hamil? Sepertinya kita harus mengadakan acara syukur. Tapi nanti saja jika Nona Yara telah pulih."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
"Ya silahkan."
Jessica menunduk dan meninggalkam ruangan wakil direktur. Berita yang Shanks sampaikan cukup menghebohkan. Tapi Shanks tak sepenuhnya salah. Ia hanya mendengar dari Gala saja dan meneruskannya pada Jessica. Jika Yara tahu, entah apa yang akan dilakukan wanita itu pada Gala dan Shanks.
"Ayahhhhh!" teriak anak kecil, menerobos masuk ke dalam ruangan Andro.
Andro terperangah melihat sosok malaikat kecil yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Sudah enam bulan ia tak bertemu putrinya karena suatu hal.
"Abelle ... " gumam Andro dengan ekspresi bahagia. Ia langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri putri kecilnya.
Andro langsung memeluk erat putrinya dan mencium kening gadis kecil itu berulang-ulang. "Ayah sangat merindukan Abelle! Ohya, Abelle datang bersama siapa?"
"Bunda," jawab gadis itu singkat.
"Lalu di mana Bundamu?"
"Bunda di luar."
"Oh begitu. Bagaimana keeadaanmu, Sayang?"
"Aku sudah membaik Ayah. Pengobatan di luar negeri begitu canggih dan keren. Aku saja sampai terpukau melihat benda-benda yang super canggih. Tapi ... " menjeda ucapannya.
"Ohya? Tapi kenapa?"
Wajah Abelle tampak murung. Perlahan ia melepas kupluknya yang membalut kepalanya. Betapa terkejutnya Andro saat melihat puncak kepala Abelle yang sudah tidak memiliki sehelai rambut pun.
"Ayah ... apa kau masih akan menyayangiku walau aku sudah tak memiliki rambut? Ayah ... aku sudah jelek 'kan? Sudah tidak cantik lagi 'kan?" menunduk kepala.
Mendengar ucapan Abelle, hati Andro terkoyak dan begitu hancur. Bagai sebuah bilah pisau yang mengiris halus hatinya secara berulang-ulang. Ada rasa iba yang luar biasa dirasakan Andro. Ayah mana yang tak akan patah dan sakit jika menyaksikan anaknya menderita. Cairan bening mulai berjatuhan dari sudut maniknya.
"Ayah ... " lirih Abelle.
Andro segera menyeka air matanya dan menggendong Abelle. "Kok wajahnya cemberut sih?" mencolek hidung mancung putrinya. "Siapa bilang putri Ayah jelek? Bagaimana pun fisikmu yang sekarang kau tetaplah gadis kecil Ayah yang cantik bagai malaikat," melempar senyuman.
"Benarkah, Ayah?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kau sangat cantik, manis dan pintar. Abelle adalah anak Ayah yang sangat kuat dan tegar. Jangan pernah berpikir apalagi berkata jika Abelle jelek dan tidak cantik lagi. Rambut Abelle pasti akan tumbuh lagi."
Gadis itu tersenyum semringah.
"Apa Abelle sudah makan? Mau makan bersama Ayah?" tawarnya.
"Mau!!!" teriaknya kegirangan.
"Baiklah. Ayo kita pergi."
"Tapi Ayah ajak Bunda juga ya."
Andro terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Pasalnya, ia tidak ingin mengganggu Abigail karena wanita itu sudah memiliki kekasih baru. Dan beberapa bulan lagi, mantan istrinya itu akan menikah. Andro juga menjaga perasaan Anya, kekasihnya. Karena sesuai perjanjian ia dan Anya, jika Andro tidak boleh lagi berhubungan dengan Abigail, kecuali Abelle.
"Abelle, nanti saja ya, kita makan bersama Bunda. Ayah ingin berdua dengan Abelle saja. Mau ya?" tawar Andro.
Raut Abelle kembali kusut. "Ayah masih marah ya sama Bunda?"
"Bukan begitu Sayang. Bundamu pasti tidak ingin makan bersama Ayah. 'Kan Bunda Abelle sudah punya pacar baru. Sebentar lagi Abelle akan punya dua Ayah," tersenyum kecil.
"Abelle senang sih. Tapi Ayah tetap nomor satu di hati Abelle!"
Sementara Abelle dan Andro berbincang, sosok perempuan muncul dari balik pintu. Wanita yang sangat cantik, memiliki rambut selengan, bentuk tubuh semampai. Dialah Abigail. Wanita yang pernah mengisi dunia Andro.
"Maaf mengganggu," tutur Abigail pelan.
Andro segera menatap sumber suara. Pandangan mata Andro begitu nanar. Seperti menyimpan sesuatu di dalam sana. Ia masih menatap Abigail sampai Abelle kembali bersuara dan membuyarkan tatapannya.
"Ayo Ayah, ajak Bunda!" bisik Abelle.
Andro terdiam. Ia masih terpaku membisu.
"Apa aku boleh menitipkan, Abelle padamu? Aku harus mengurus sesuatu," ucap Abigail.
"Kau mau ke mana?" tanya Andro reflek.
Giliran Abigail yang bungkam.
"Bunda mau ke mana? Ayo kita makan siang bersama Ayah."
"Maafkan Bunda, Abelle. Saat ini Bunda tidak bisa. Bunda harus pergi bersama Om Kenzo mengurus sesuatu. Lain kali saja ya, Sayang?"
"Tidak mengapa. Kau pergilah menyelesaikan urusanmu. Aku akan menjaga Abelle."
"Baik trima kasih."
Abigail mendekat ke arah Abelle dan Andro. Ia tampak ragu. Setibanya, Abigail mengecup pipi Abelle yang masih dalam gendongan Andro. "Jangan nakal ya, Sayang. Bunda tidak akan lama. Nanti kalau urusan Bunda telah selesai, Bunda akan menjemput Abelle di rumah Ayah Abelle."
Andro menatap raut wajah Abigail. Posisi keduanya tampak dekat. Sudah dua tahun mereka tidak hidup bersama dan saat berdekatan perasaan mereka tampak canggung dan kaku. Abigail segera memundurkan langkahnya dan menjauh dari Andro.
"Aku titip Abelle."
"Jangan khawatir aku akan menjaganya."
To be continued ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa dukungan untuk Author. Makasih untuk tetap stay dan selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini 🥰🤗