
“Suamiku, jangan ngebut-ngebut!” ketus Yara.
“Tapi kita harus bergegas. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika Chiren memang benar menyusul Leon ke bandara!”
Yara terdiam. Perkataan suaminya memanglah benar. Gala melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tampak ugal-ugalan di jalanan sehingga kendaraan lainnya menjadi risih. Gala tak mempedulikan lagi semua pengendara yang menglaksoninya.
Sementara di bandara, tampak Chiren sedang duduk di sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari beberapa orang yang dikenalnya. Perbincangan mulai terdengar. Chiren melonjak saat mendengar anak kecil itu yang tak lain adalah Leonard, memanggil Leon dengan sebutan Daddy.
“Apa yang terjadi?” tanya Leon beralih menatap Janetha.
Wanita itu tidak berani membalas tatapan Leon. Ia menatap tembok dan berkata, “aku harus kembali ke Paris malam ini juga.”
Leon terperanjat. “Kenapa? Bukannya jadwal keberangkatanmu beberapa hari lagi? Kenapa tiba-tiba seperti ini?!” tanyanya sembari menegakkan badannya.
“Bukan urusanmu. Terima kasih telah datang untuk menemui Leonard.”
“Janetha! Aku bertanya padamu, apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini?!”
“Leon cukup! Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu! Aku tahu aku salah karena tiba-tiba muncul di hadapanmu lagi dengan membawa Leonard anakmu. Aku akan berusaha menebus kesalahanku dengan menjauhimu!”
“Mommy … “ lirih Leonard.
“Meisy, bawa Leonard menjauh,” pintah Janetha pada pengasuhnya.
“Baik, Nyonya,” membawa Leonard.
“Daddy … aku mau bersama Daddy,” lirih Leonard.
“Sebentar ya, Sayang. Daddy ingin berbicara dengan Mommy-mu dulu.”
__ADS_1
“Baik.”
Leonard dan Meisy menjauh dari tempat itu. Leon dan Janetha dapat bebas berbicara karena sudah tidak ada lagi perasaan yang harus mereka jaga, lantaran Leonard telah dibawa oleh pengasuhnya untuk menjauh dari mereka.
“Janetha, apa maksudmu?!”
“Aku tidak ingin lagi bertemu denganmu dan berhubungan denganmu. Meski kau berhak atas Leonard karena dia anakmu, tapi demi keamanan dan kenyamanan bersama, maka kita harus kembali berpisah!”
“Kau saja yang pergi, tapi tinggalkan anak itu bersamaku!” ketus Leon, naik pitam.
“Enak saja kau berkata seperti itu! Setelah kau berniat untuk membunuhnya lima tahun lalu dan membiarkan aku dengan susah payah mengandung dan mengurus anak itu, dan sekarang dengan entengnya kau berkata untuk meninggalkan Leonard padamu! Cihh! Manusia jenis apa kamu?!”
Sementara kedua orang itu sedang berdebat, seorang wanita yang tak lain adalah Chiren telah mendengar semua perbincangan mereka. Ia menegang dengan seketika. Dadanya terasa sangat sesak dan seperti ingin mati rasanya. Raut wajahnya menjadi murung, bahkan air mata terus berjatuhan dengan sendirinya dari sudut matanya.
“Memang benar yang kau katakan! Tapi apa aku tidak boleh menebus kesalahanku pada anak itu? Janetha, sadarlah!”
“Kau yang seharusnya sadar!” celetuk Janetha dengan air mata yang telah berlinang menggenangi pipinya. “Kau sudah beristri! Bagaimana kalau Chiren tahu soal ini? Apa kau tahu bagaimana rasa sakit yang ia rasakan! Dia sudah menderita cukup lama dan bahkan sudah keguguran tiga kali! Apa kau mau lagi membuatnya keguguran?!”
Tubuh Chiren melemas saat mendengar ucapan lantang Janetha. Ia benar-benar marah dan sakit hati. Ingin sekali ia menampar kedua orang itu, namun kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya untuk berdiri dan menghampiri mereka. Hatinya sangat hancur bagai tertusuk duri-duri kecil secara berulang-ulang. Itu sangat menyiksa batinnya.
“Aku sudah membuat keputasan, jika aku akan mengatakannya pada Chiren! Aku sadar dengan apa yang aku lakukan padanya selama ini! Memang awalnya aku tidak mencintainya karena aku sangat menyayangimu, Janetha! Namun seiring berjalannya waktu, aku telah jatuh cinta pada Chiren! aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi! Aku memang selalu berkata kasar padanya dan bahkan banyak kali melakukan kekerasan terhadapnya. Tapi dia selalu sabar mengahadapi sikapku!”
Janetha terisak. “Hik … hik … hik! Kenapa kau melakukan ini Leon? Tidak seharusnya kau mengatakan itu padaku. Jujur aku sangat mencintaimu sampai detik ini! Aku tidak bisa melupakanmu sedikit pun! Aku hampir gila karena merindukanmu selama lima tahun! Pada saat aku mengandung anakmu, aku hampir menyerah karena tidak ada kau di sampingku!”
Leon terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat bersalah karena membiarkan Janetha menanggung penderitaan dengan sendiran. Namun ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai laki-laki ia memang kurang tegas dalam menyikapi masalah itu. Tentu saja karena kehidupannya dikendalikan oleh Zian, ayahnya.
“Leon, aku mohon. Biarkan aku dan Leonard pergi. Aku bisa membesarkannya sendiri, tanpa seorang ayah. Aku memang tidak berniat untuk mencari pacar baru dan ayah baru untuk Leonard. Biar aku saja yang akan menjadi ayah sekaligus ibunya.”
“Janetha jangan seperti itu! Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku mencintai Chiren tapi aku menyayangimu dan anak kita!”
__ADS_1
“Aku tidak mau kau membagi cintamu. Begitu juga dengan Chiren, dia pasti tidak rela suaminya mencintai dua wanita sekaligus! Biarlah aku yang pergi. Kau bahagialah bersama dengan Chiren. Dia sahabat terbaikku dan jangan pernah menyakitinya lagi. Dia sedang mengandung anakmu juga! Anggap saja aku tak pernah ada di kehidupanmu, sama seperti tahun-tahun yang telah berlalu.”
“Kau pikir aku tidak merasa gila?! Aku mencoba untuk melupakanmu, tapi aku benar-benar tidak bisa! Aku sampai mencari kesenangan dengan wanita-wanita lain tapi itu semua hanyalah kenikmatan sesaat. Aku mencoba menerima Chiren waktu itu, tapi aku tidak bisa dan malah menyakitinya. Memang kali ini berbeda. Aku tidak tahu kapan benih cinta mulai tumbuh untuk Chiren. Tapi apa aku salah jika ingin menebus kesalahan padamu dengan membantu kau membesarkan Leonard?!”
“Lalu … apa kau akan menikahiku dan menjadikanku sebagai istrimu yang kedua?”
Leon terdiam.
“Jangan egois Leon. Jalani takdirmu dan aku akan menjalani takdirku. Biarlah aku yang mengalah demi kebahagiaan kau dan Chiren. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku sangat mencintaimu! Bahkan sampai aku mati, aku tetap akan mencintaimu! Jangan melarangku untuk mencintaimu.”
Leon tiba-tiba memeluk Janetha dengan erat. Wanita itu menangis semakin menjadi. Orang-orang sedari tadi memperhatikan pertengkaran mereka. Namun orang-orang itu hanya bisa memandangi dan tak bisa menjadi penengah. Chiren pun masih dengan setia menyaksikan perdebatan Janetha dan Leon.
“Aku menyayangimu dan Leonard,” mengecup puncak kepala Janetha. “Tapi maafkan aku karena aku telah mencintai Chiren!”
Janetha melepaskan pelukan Leon. Ia segera menghapus air matanya. “Tidak mengapa.”
Perlahan Chiren mulai bergerak dan beranjak dari duduknya. Ia berusaha tegar untuk berdiri. Ia mulai menarik Langkah kakinya dengan berat, menuju arah Leon dan Janetha. Dengan pipi yang telah berlinang air mata, ia mencoba menyeka cairan bening itu. Namun air matanya semakin berjatuhan dengan deras.
“Chiren, kau harus kuat!” gumamnya.
“Dua puluh menit lagi jadwal keberangkatanku. Aku kira perbincangan kita cukup sampai di sini. Aku harus pergi,” ucap Janetha.
PLAKK!!
Janetha terperanjat bukan kepalang. Maniknya membesar saat melihat wanita yang baru saja menamparnya. Jantungnya serasa ingin melompat keluar dari dalam tubuhnya. Tak hanya Janetha, Leon pun terkejut hebat. Kedatangan Chiren secara tiba-tiba, sukses membuat kedua orang itu gugup dan tak dapat berkutik sedikit pun.
“Suamiku dan sahabatku … “ lirih Chiren dengan bibir yang gemetar. “Berkhianat padaku!”
To be continued ...
__ADS_1
Bagaimana perasaan kalian jika ada di posisi Chiren dan Janetha? Tuliskan jawaban kalian di kolom komentar dan jangan lupa untuk like dan vote. Makasih semua 🥰🤗