
Seorang wanita baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya yang masih sayu dan mengeluarkan uap dari dalam mulut. Ia menatap tubuhnya yang tanpa busana dan hanya dibaluti selimut tebal. Wanita itu tak lain adalah Anya.
Ia kemudian beralih menatap seorang pria yang sedang terlelap di sampingnya. Senyuman nakal terpasang di wajahnya. Tangan Anya kembali aktif memainkan sesuatu di bawah pusar milik pria di sampingnya. Pria itu tak lain adalah Zian.
Kejutan romantis Andro tadi malam terhenti saat nomor misterius menghubunginya. Nomor itu ternyata adalah milik Zian. Pria tua itu berani menghubungi Andro jika Anya tidak menjawab panggilan telepon darinya.
Anya kembali bersandiwara dan mengatakan jika pria yang menghubungi Andro adalah sutradaranya. Dan ia mengatakan juga pada Andro jika ia memberikan nomor ponsel Andro supaya ketika ia tak sempat menjawab panggilan telepon, mereka bisa menghubungi Andro.
Sebenarnya Andro mulai curiga, namun lagi-lagi ia menentang pikiran negatifnya tentang Anya. Ia memaksakan dirinya untuk tidak percaya pada kebohongan Anya selama ini. Akhirnya Andro pun mengijinkan Anya pergi setelah selesai melamarnya.
Padahal mereka berdua belum sempat makan malam yang romantis. Anya langsung cepat-cepat meninggalkan tempat itu dengan alasan jika mereka mengadakan syuting dadakan. Andro menawarkan diri untuk menemaninya, tapi ditolak oleh Anya.
Dan pagi itu, Anya terbangun di samping Zian. Rupanya semalam ia dipanggil oleh Zian untuk melakukan tugas rutinnya yaitu memuaskan nafsu Zian. Demi posisi peran utama yang Anya dambakan, ia rela menuruti segala perintah Zian.
"Anya," lirih Zian terkejut saat Anya mulai memainkan pusaka miliknya.
"Tuan, Anya mau lagi," godanya dengan memasang wajah centil.
"Tapi aku harus pulang ke mansion. Hari ini adalah ulang tahun Istriku. Dan di sana bakal ada tamu-tamu penting dan juga media untuk meliput berita," jelas Zian seraya melepaskan tangan Anya dari benda pusakanya.
"Heemmm, Tuan," rengek Anya, manja.
Zian terdiam sejenak. Anya kembali memainkan pistol Zian dengan ganas. Sebagai pria normal, ia mulai terangsang dengan permainan Anya. Ia pun segera beranjak dari tidurnya dan mendorong tubuh Anya sehingga wanita itu kembali terlentang.
Dengan brutal, Zian mulai melahap bibir Anya. Setelah puas di sana, ia pun beralih ke bibir bawah dan melahap area sensitif milik Anya menggunakan bibirnya. Anya sampai tersendat-sendat akibat merasakan nikmat luar biasa dari permainan Zian.
Selang beberapa menit melakukan atraksi itu, keduanya pun bertukar posisi. Giliran Anya yang bermain, memanjakan benda pusaka milik Zian. Dengan beringas, Zian mempercepat emutan Anya dengan mencengkeram rambut Anya maju mundur.
Anya sampai terengah akibat melahap habis harta karun Zian. Anya bermain cukup lama di bawah sana. Setelah Zian merasa cukup, ia pun menarik tubuh mungil Anya sehingga keduanya saling berhadapan dan mulai mendorong miliknya keluar masuk goa.
Raungan Anya semakin menjadi saat Zian mempercepat hentakan. Bagai orang yang kesurupan, begitulah keduanya menyelesaikan perzinahan mereka dengan mencapai puncak kenikmatan. Keduanya telah bermandikan keringat.
Zian merasa lelah sehingga ia membaringkan tubuhnya di samping Anya. Wanita itu juga sangat lemas tak bertenaga. Permainan Zian, bagi Anya memang tiada taranya. Lelaki umuran itu memang lihai dalam bercinta. Dari Zian muda sampai bangkotan, ia memang dijuluki pria casanova.
***
"Maaf, Tuan, aku juga tidak tahu."
"Kapan kau diganti?"
"Sudah dari empat bulan yang lalu, Tuan."
Andro tercengang. "Apa kau tahu siapa manajer barunya?"
"Tahu, Tuan."
"Siapa dia?"
Lelaki gemulai itu tampak ragu untuk menberitahu Andro mengenai manajer baru Anya.
"Beritahu saya karena saya harus memastikan sesuatu!" desak Andro.
Nada bicara Andro sedikit ditekan sehingga membuat lelaki setengah perempuan yang berdiri di hadapannya terlihat takut. Peluh mulai berjatuhan di dahinya. Jemarinya pun gemetar karena Andro menatap maniknya dengan sorot mata membunuh.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya si pria gemulai itu menyaksikan kemarahan Andro. Biasanya Andro selalu bersikap baik dan ramah pada mantan manajer Anya. Namun kali ini, mimik wajah Andro tak bisa ditoleransi.
"Cepat kasih tahu!"
"Ba--baik, Tuan."
Dengan segera ia meraih gawainya dan mengirimkan nama kontak manajer baru Anya di Whatsapp Andro. "Sudah aku kirim, Tuan."
"Baik, trima kasih."
Andro langsung bergegas meninggalkan apartemen lelaki gemulai itu. Ia pun kemudian menghubungi nomor kontak manajer baru Anya.
"Halo, saya Andro, pacar Anya. Bisa kita bertemu?"
"Halo, Tuan. Sore ini saya ada jadwal."
"Sekarang bisa?" tawar Andro.
"Sekarang saya ada di agensi."
"Tunggu di sana. Saya akan menemui Anda di sana. Apa kau bersama Anya?"
"Tidak, Tuan."
"Apa tadi malam kalian ada syuting dadakan?"
Suara dari balik telepon sampak senyap.
"Halo ... "
"Baik. Tunggu di sana!"
Andro memutuskan sambungan telepon.
Sejak tadi malam, Andro tak bisa tidur tenang. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dalam pikirannya. Otaknya seolah memberi perintah untuk menyelidiki kekasihnya itu. Meski hatinya menolak keras, namun pikirannya terus menyangkal akan perasaannya.
Andro pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan jadwal Anya pada manajernya. Namun ternyata sudah dari empat bulan yang lalu, si banci yang bekerja dengan Anya telah berhenti. Dan sekarang Anya memiliki manajer baru tanpa sepengetahuan Andro.
Dalam berkendara, hati Andro sangat tak tenang. Jantungnya pun berdegup kencang. Ada rasa takut yang teramat dalam jika pemikiran buruknya tentang Anya, terbukti benar. Namun ia berusaha mengontrol pikirannya dan kembali menghilangkan prasangka buruk tentang Anya.
Akibat padatnya kendaraan di jalan, membuat Andro tiba lebih lama. Perjalanannya menuju agensi Sugar Entertainment memakan waktu sekitar dua puluh menit. Andro segera menuju tempat parkir khusus yang disediakan di bawah gedung itu.
Dengan langkah setengah berlari menuju lokasi, ia kembali menelepon manajer baru Anya. Namun nomor itu sudah tidak aktif. Berulang-ulang ia hubungi tapi nihil. Perasaannya kembali berkecamuk. Pikiran buruk tentang Anya kembali terlintas.
"Permisi," tutur Andro menghentikan seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Iya, ada apa?"
"Apa kau tahu di mana manajer Anya?"
"Maksud Bapak, Anya Crystal?"
"Iya, benar."
__ADS_1
"Ohiya, saya tahu Pak. Kak Anya adalah panutanku. Aku sangat mengagumi kak Anya. Dia juga merupakan mentor trainee-ku."
"Oh begitu? Lalu apa kau tahu di mana manajer Anya?"
"Tahu. Biar saya antarkan, Pak. Bapak siapanya Kak Anya?" tanya wanita cantik itu
"Saya pacarnya Anya."
"Bapak tampan sekali. Kalian berdua sangat serasi deh. Cantik dan Tampan," puji gadis itu.
"Trima kasih. Ohya nama kamu siapa?"
"Saya Pretty, Pak."
"Cantik sesuai namanya. Saya Andro," tersenyum ramah.
"Makasih, Pak Andro."
"Kamu sudah umur berapa?"
"Saya baru lima belas tahun, Pak. Sudah tiga tahun saya di sini, tapi belum juga debut-debut. Heheh!" terkekeh.
"Wah, semoga kamu bisa debut secepatnya. Anya dulu seperti kamu. Dia pekerja keras dan tidak muda menyerah. Hal itu yang membuat dirinya bisa sampai sekarang ini."
"Iya, Pak. Aku tahu. Makanya Kak Anya menjadi panutanku di agensi ini. Sudah cantik, pintar, ramah, baik pula."
Andro tersenyum kecil. Perasaan buruknya hilang dengan sekejap saat mendengar pujian dari Pretty.
"Karena itulah banyak yang memusuhi Kak Anya. Mereka iri dengan pencapaian Kak Anya. Sehingga mulai beredar rumor yang tak sedap di dengar."
"Rumor?"
"Iya, Pak. Semua orang di agensi ini bemuka dua. Di depan mereka memuji-muji Kak Anya. Tapi di belakang mereka senang menggosipkan Kak Anya."
"Maksud kamu, mereka membenci Anya?"
"Iya, Pak. Ohiya, ini ruangannya manajer Kak Anya. Saya hanya boleh mengantar Bapak, sampai di sini saja. Soalnya yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Kami sebagai trainee tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun karena akan mengurangi poin kami dan menyebabkan kami gagal debut. Malahan ada yang sampai dikeluarkan dari agensi," jelas Pretty panjang lebar.
"Oh begitu. Baiklah. Trima kasih sudah mengantar saya."
"Sama-sama, Pak," menunduk dan berjalan meninggalkan Andro.
"Pretty, tunggu."
"Iya, Pak?" menghentikan langkahnya.
"Selesai ini bisa kita bertemu?"
"Hmm, sepertinya tidak bisa, Pak. Aku akan mengadakan audisi buat debut."
"Oh. Kalau begitu lain kali saja. Saya penasaran dengan rumor yang kau ceritakan tadi."
"Baik, Pak. Saya permisi," kembali menunduk dan pamit.
__ADS_1
To be continued ...
Jangan lupa dukung Author dengan cara vote, like dan komen yaa. Makasih semua 🤗🥰