
Setelah melihat Chiren telah terlelap, ia dengan perlahan mengangkat tangan Chiren yang berada di atas dadanya. Leon beranjak dari ranjang dan meraih telepon genggam yang diletakkan di atas nakas. Ia tampaknya mencari sebuah kontak dan mencoba menghubungi nomor itu.
Ia berjalan keluar kamar dan mencari tempat aman untuk bertelepon. Namun beberapa kali ia mencoba menghubungi kontak itu, tidak ada jawaban sama sekali. Leon mengacak rambutnya dan berjalan menuju kamar. Ia menjadi tak tenang kembali. Ia memikirkan berbagai cara agar Chiren dan Janetha tidak bertemu satu sama lain.
Keesokan paginya, mereka menjalankan aktivitas seperti biasanya. Chiren menurut apa kata Leon untuk tidak keluar rumah. Padahal ia ada janji temu dengan Janetha. Rencananya hari ini mereka akan mengunjungi galeri orangtua Janetha. Namun ia telah mengabari sahabatnya dan membatalkan pertemuan mereka.
Karena rencana mereka batal, Chiren bermaksud mengundang Janetha ke mansion untuk mengadakan jamuan. Namun dengan keras, Janetha menolaknya. Tentu saja alasannya, karena tempat itu merupakan tempat sakral. Tempat di mana harga dirinya di rendahkan dan diinjak-injak sampai benyok.
“Maaf ya, Chiren, aku tidak bisa. Nanti saja,” ucap Janetha.
“Hmm, baiklah Jan. Maafkan aku juga karena telah membatalkan pertemuan kita,” tutur Chiren dari balik telepon.
“Iya tidak apa-apa. Ya sudah aku tutup dulu.”
“Bye, sampaikan salamku pada Leo.”
“Tentu saja. Bye!”
Tut tut tut …
Janetha membuang napasnya kasar. Ia menatap jam tangannya, “sudah jam sepuluh ternyata. Aku jadi bingung … bertemu dengannya atau tidak?!” gumamnya.
“Mommy? Apa kita jadi bertemu Tante Chiren?” tanya Leonard.
“Tidak, jadi Sayang.”
“Why? Aku suka Tante Chiren. Tante Chiren sangat baik dan juga sangat cantik. Aku suka wanita cantik,” memainkan alisnya.
Janetha terkekeh. “Masih kecil sudah tahu melirik ya,” goda Janetha menyubit pelan pipi Leo yang tembem.
“Kalau begitu kita ketemu Daddy saja. Aku kangen Daddy.”
Ibu satu anak itu terdiam.
“Mommy?”
“Ehm, bagaimana kalau kita main ke mall saja?”
“Ah nggak seru! Maunya ketemu Daddy!” celetuk Leonard, menyilangkan kedua tangannya di atas dada dan memasang raut cemberut.
Aduh bagaimana ini? Tapi aku tidak ingin ketemu Leon! Kalau begini terus, aku bisa jatuh cinta lagi pada si brengsek itu! Batin Janetha.
“Mommy, tidak bisakah kita kembali ke Paris bersama Daddy? Aku ingin tinggal bersama Daddy. Teman-temanku di sana sering di antar jemput oleh Mommy and Daddy mereka. Aku bosan karena hanya Mommy dan Aunty Meisy yang menjemputku!”
Hati Janetha merasa teriris mendengar keluh kesah putranya. Ia juga ingin seperti itu, namun takdir tak mengijinkan mereka bersatu. Janetha memeluk Leonard dengan erat. “Leo, nanti ya. Daddy sangat sibuk.”
Hanya itu yang mampu diucapkan Janetha. Ia tidak tahu dengan cara apa memberitahu anaknya jika mereka tidak bisa bersama dengan Leon. Seiring berjalannya waktu, usia Leonard juga akan semakin bertambah, tentunya anak itu akan segera mengetahui kebenarannya. Dan pastilah Leonard akan menyalahkan Janetha karena tidak memberitahunya dari dulu.
Hati Janetha menjadi luluh saat melihat anaknya yang begitu mendambakan Leon. Ia pun memutuskan menerima tawaran Leon untuk bertemu.
__ADS_1
*C*hiren maafkan aku. Aku kembali ijin untuk meminjam suamimu. Aku janji ini terakhir kalinya dan aku akan menyudahi ini semua!
***
“Dah, Suamiku,” melambaikan tangannya.
“Tunggu!” Ketus Gala. Ia menunjuk pipinya, memberi kode pada Yara untuk memberikannya kecupan perpisahan.
Yara tersenyum. Ia pun mendekat ke arah Gala dan mengecup bibir suaminya. Gala terperangah. Pasalnya ia menunjuk pipinya, namun Yara malah mencium bibirnya.
“Asikdeh,” gumam Shanks yang memperhatikan keromantisan majikannya.
Gala berdehem. Pipinya memerah. Ia kemudian melempar pandangannya pada ke wajah Shanks. Tatapan itu sangat tajam sehingga Shanks segera menunduk kepala.
“Pergilah Suamiku. Aku akan selalu mengabarimu,” ucap Yara.
“Baiklah. Sampaikan salamku pada Oma.”
Yara mengangguk. Pria itu kembali masuk ke dalam mobil. Kendaraan pun melaju meninggalkan Yara yang masih berdiri di teras rumah Oma Amber.
“Yara, Cucuku!” panggil Oma Amber.
“Oma!”
Yara berlari dan memeluk omanya. Amber pun mengecup pipi Yara dan kembali memeluk wanita itu dengan sangat erat.
“Aku juga merindukan Oma.”
“Ohya mana Suamimu?”
“Baru saja pergi. Om Gala hanya mengantarku dan melanjutkan perjalanan menuju ke kantor.”
“Loh kenapa tidak mampir dulu sebentar?”
“Kata Om Gala, nanti saja pulang dari kantor, Om Gala akan kemari sekalian menjemputku.”
“Oh begitu. Eh, tapi kenapa kau masih memanggilnya dengan sebutan Om?” mengerutkan kening.
Yara tersenyum kecil. “Ehm, sebenarnya aku dan Om Gala memiliki panggilan lain.”
“Baguslah. Kamu jangan memanggilnya Om. Dia ‘kan suamimu,” protes Oma Amber.
“Aku biasanya memanggil Om Gala dengan sebutan, Suamiku,” ucap Yara tampak malu.
Oma Amber menatap Yara dengan tajam. Seketika lekukan di bibir Oma Amber tertarik lebar. “Ahh, manis sekali,” godanya.
Yara menjadi malu. Ia menyelipkan anak rambutnya di telinga.
“Lalu kita akan ke mana hari ini?” tanya Amber.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita piknik saja, Oma?”
Oma Amber menjentikkan jari. “Cemerlang! Oma suka piknik. Sudah lama sekali Oma tidak piknik, menghirup udara segar.”
“Baiklah. Aku tahu di mana tempat yang sangat bagus, pas dengan cuaca yang cerah.”
“Okey. Oma ke dapur dulu, memberitahukan pada pelayan supaya menyiapkan makanan yang enak untuk kita makan.”
Yara mengangguk.
Tak menunggu waktu yang lama, Amber kembali dengan segala perbekalan yang ada. Yara sampai tertegun karena melihat dua keranjang rotan yang lumayan besar, dijinjing oleh omanya.
“Astaga Oma. Kenapa banyak sekali? Oma mau memberi makan sekelurahan?”
“Ini untuk perbekalan kita. Oma menyuruh pelayan memasukkan macam-macam buah yang sehat. Karena kau harus mengonsumsi makanan sehat, supaya program kehamilanmu lancar.”
Yara tersenyum. “Oma bisa saja.”
Sopir telah menunggu di depan pintu. Saatnya mereka untuk berangkat. Pak Sopir membukan pintu untuk keduanya dan mereka pun menuju tempat piknik. Oma Amber terlihat sangat senang saat pergi berdua dengan Yara. Ini merupakan impiannya sejak lama. Namun karena Yara bersekolah di luar negeri maka mereka tak pernah menghabiskan waktu berdua.
Empat puluh lima menit berlalu. Mereka tiba di sebuah tempat yang dipenuhi rerumputan hijau. Ada banyak sekali orang yang berpiknik di sana. tempat itu sangat luas sehingga dapat menampung banyak pengunjung. Yara dan Oma Amber berjalan menuju sebuah pohon yang sangat lebat dedaunannya.
Mereka mengalas tikar di bawah pohon rindang itu, dan berteduh di sana. Pemandangan yang ada di depan mereka memperlihatkan sebuah danau yang sangat indah. Di atas danau terdapat beberapa perahu kecil yang siap di sewa jika ingin berkeliling danau. Mereka duduk di sana sembari menikmati makan siang yang lezat.
“Yara makanlah yang banyak supaya kamu sehat.”
“Iya, Oma.”
Mereka menikmati makanan itu dengan sangat lahap. Setelah Yara selesai mengunyah. Ia memandangi seorang anak kecil yang berlari di depannya. Anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu, terjatuh di tanah. Segera Yara berdiri dan membantu anak kecil itu untuk berdiri.
“Adik kecil, apa kau tidak terluka?” tanya Yara.
“I’m ok,” ucap anak itu singkat.
“Syukurlah. Apa kau sendirian?”
Anak kecil itu menggeleng.
“Kau bersama orangtuamu?”
“Ya. Aku bersama Mommy and Daddy,” menunjuk kedua orang yang sedang berlari menuju lokasi kejadian.
Yara menyipitkan matanya saat melihat sosok pria yang tak asing baginya.
“Om Leon?” gumamnya lirih.
To be continued ...
B**erikan dukungan kalian untuk Author 🥰🤗**
__ADS_1