Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 66 : Pilihan yang Berat


__ADS_3

Leon menahan tangan kanan Janetha. Ia menatap wajah wanita itu dengan lekat. Mulutnya tak dapat mengeluarkan suara.


“Lepaskan tanganku. Biarkan aku dan anakku pergi dari kehidupanmu selamanya!”


“Mommy … apa Daddy tidak ikut?”


“Tidak, Sayang. Jika kau tidak ingin Mommy menangis maka jangan paksa Daddy-mu untuk ikut denganmu!”


Leonard terdiam. Ia menatap Leon dengan tatapan nanar. Ingin sekali dirinya memeluk Leon dan memaksa ayahnya untuk ikut pergi bersama mereka, namun melihat Janetha yang sedang terisak, ia pun mengurungkan niatnya. “Ayo, Mommy,” ajak Leonard dengan air mata yang berjatuhan.


Gala dan Yara merasa kasihan dengan Janetha dan Leonard, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa. Semuanya merasakan kepedihan akibat ulah Leon. Yang bisa mereka lakukan, hanya mengiklaskan kepergian Janetha dan Leonard. Sedangkan Leon tampak termangu sembari melepas cengkeraman tangannya.


Janetha dan Leonard telah pergi. Anak itu sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan nanar. Sungguh hati Leon sangat teriris saat melihat anaknya dan wanita yang ia sayangi telah pergi dengan luka yang begitu dalam. Ia menyesal, sangat-sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.


“Suamiku, apa Chiren akan baik-baik saja? Tadi aku melihat dia ke arah sana. langkahnya terlihat berat dan badannya seperti ingin terjatuh.”


Gala menatap Leon. “Kau yang buat keputusan sekarang juga. Kejar Chiren atau Janetha?” tutur Gala dingin.


Leon tampak bingung. Ia memandangi Janetha dan Leonard yang hampir tiba di pintu perbatasan. Dan yang boleh masuk di situ hanya penumpang yang akan berangkat. Pandangannya kemudian beralih menatap arah yang Chiren lewati. Pilihan yang diperhadapkan dengannya sangatlah berat. Ia harus membuat keputusan yang begitu rumit.


Di antara pilihan itu, ia harus mengorbankan salah satu. Memang harus ada hati yang terluka. Entah itu Chiren atau Janetha. Namun sebagai laki-laki, ia harus mampu membuat keputusan. Meski berat dan menyakitkan. Jika tidak demikian, maka ia akan terus terjebak dalam situasi seperti itu. Bukan hanya dirinya yang akan tersakiti, melainkan beberapa orang juga akan terkena dampak dengan keegoisannya.


“Jangan diam saja! Tentukan pilihanmu sekarang!” desak Gala dengan tegas.


“Aku tidak tahu harus mengejar siapa! Dua-duanya sangat penting bagiku!”


“Jangan egois! Meski berat kau harus tegas dan mampu memilih mana yang akan kau pertahankan. Jika tidak maka kedua-duanya akan pergi dari hidupmu untuk selama-lamanya!”


Peluh mulai menetes di dahi Leon. Pandangannya bergantian menatap dua arang yang berlawan. Mengejar Chiren yang adalah istri sahnya atau mengejar Janetha dan Leonard yang adalah orang yang tak kalah penting dalam hidupnya. Leon tiba-tiba berlari ke arah pintu perbatasan.


“Janetha!” teriaknya dengan keras.


Janetha menghentikan langkahnya. Ia semakin kencang mencengkeram tangan anaknya. Air matanya terus berjatuhan. Tak hanya Janetha, Leonard pun terisak. Hal itu sangat membuat Leon menjadi iba terhadap keduanya.


“Ada apa lagi?” tanya Janetha tanpa menoleh ke belakang.


“Aku … aku menyayangimu dan anak kita!”


“Berhenti memberikan harapan palsu! Kita memang tidak ditakdirkan bersama. Kau memiliki kehidupanmu sendiri, begitu juga denganku. Aku memiliki kehidupan sendiri! Aku dan Leonard tidak ditakdirkan untuk bersama denganmu. Jadi, berhentilah sampai di sini!”

__ADS_1


“Maafkan aku!” menunduk kepala.


Janetha menghapus air matanya dan membalikkan tubuhnya. Sehingga ia dan Leon saling berhadapan. Tergambar jelas di raut Leon jika ia benar-benar menyesali perbuatannya.


“Aku akan berhenti sampai di sini … “ ucap Leon lirih.


Janetha melebarkan maniknya. Hatinya kembali menerima tusukan duri yang teramat dalam. “Baguslah kalau kau mengerti keadaannya.”


“Aku akan membiarkanmu pergi. Namun satu hal yang harus kau ingat, aku tidak akan memutuskan hubunganku dengan anakku, darah dagingku sendiri. Aku akan membantumu membesarkan Leonard meski tak bersama-sama dengan kalian. Aku akan tetap mengawasi anakku dari kejauhan. Aku akan bertanggungjawab atas anak ini sepenuhnya!”


“Apa maksudmu? Apa kau akan menyiksaku secara perlahan? Aku tidak ingin lagi berhubungan denganmu. Aku tidak mengijinkan Leonard memanggilmu dengan sebutan ayah! Mulai saat ini kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun!”


“Jangan seperti itu, Janetha! Aku berhak atas anakku!”


“Berhenti berbicara seperti itu, seolah kau mengambil bagian dalam penderitaanku saat aku mengandung, melahirkan dan merawatnya sampai sekarang ini!”


Leonard menangis dengan tersedu-sedu. Ia menutup gendang telinganya dengan kedua tangannya. Anak itu tidak ingin mendengar perdebatan orangtuanya. “Mommy …. Hik … hik … Da—daddy! Berhentilah bertengkar. Aku takut,” lirih anak itu dengan suara pelan.


“Leonard, anak Daddy … maafkan karena aku telah gagal menjadi seorang ayah yang baik untukmu. Namun ijinkan aku menebus kesalahanku dengan cara, tetap menjadi Daddy-mu! Aku mohon jangan berhenti memanggilku dengan sebutan Daddy!”


Leonard terdiam. Ia mengangguk pelan sembari memeluk Leon dengan erat. “Aku sayang Daddy dan Mommy. Tolong jangan berpisah. Huhuhuhu!”


Leonard mengangguk. Janetha yang melihat itu hanya bisa menangis sesenggukkan. Perpisahan ini terasa berat baginya. Apalagi Leon dengan terang-terangan telah menunjukkan jika ia lebih memilih Chiren daripadanya. Namun Janetha menerima itu walau berat. Ia sadar akan posisinya. Ia hanyalah bagian dari masa lalu Leon, sedangkan Chiren adalah masa depan lelaki itu.


“Pergilah dan jangan melupakan Daddy. Tapi jika kau ingin membenci Daddy, maka lakukanlah. Daddy pantas dibenci.”


“Aku akan terus mengingat ucapanmu. Aku menyayangi Daddy dan telah memaafkan Daddy,” ucap Leonard sembari melempar senyum kecil.


Leon memeluk kembali anaknya. Ia menangis tersedu-sedu. Anak kecil seperti Leonard telah paham dengan situasi yang dirasakan kedua orangtuanya. Ia tak ingin melihat ayah dan ibunya menangis. Maka ia juga mengorbankan perasaannya untuk mengiklaskan Leon, ayahnya. Padahal anak itu sangat mendambakan kehadiran Leon dalam kehidupan mereka.


“Daddy mencintaimu,” mengecup kening Leonard.


Janetha memegang tangan Leonard dan berjalan meninggalkan Leon.


“Jaga anak kita dengan baik,” ucap Leon.


Wanita itu mengangguk pelan tanpa menoleh ke belakang. Air mata telah membanjiri pipinya. Rasanya ingin gila, namun inilah takdir cinta mereka. Leon hanya bisa menatap belakang punggung Janetha dan anaknya yang telah memasuki pintu. Bayangan keduanya telah hilang.


“Aku harus mengejar Chiren! Istriku, tunggulah aku! Aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan, asalkan kau jangan pergi dari hidupku!”

__ADS_1


Leon berlari sangat kencang.


“Leon tunggu! Kau kejar Chiren pakai mobilku,” ucap Gala.


Ia pun menerima kunci mobil Gala dan bergegas meninggalkan Gala dan Yara.


“Suamiku, semoga saja Chiren baik-baik saja.”


“Iya. Dan semoga saja ini keputusan tepat yang diambil Leon.”


“Aku kasihan dengan Janetha dan anaknya. Semoga Janetha bisa menemukan lelaki yang bisa menggantikan posisi Om Leon di hatinya.”


“Kau benar istriku,” memeluk Yara.


“Kisah cinta mereka sangatlah rumit. Semuanya tersakiti.”


“Dan semua karena ulah orangtuaku!”


Yara terdiam dan membalas pelukan Gala.


***


Seorang pria yang tak lain adalah Leon melajukan kecepatan kendaraannya di atas rata-rata. Matanya menjeling ke sana kemari, mencari mobil yang dikendarai Chiren. Ia melambung beberapa kendaraan yang ada di depannya. Leon menjadikan jalanan itu sebagai area balapnya. Ia tidak memikirkan nyawanya sama sekali. Yang ada di pikirannya hanya bayangan Chiren.


“Itu mobilnya!” ketus Leon saat melihat mobil Chiren yang terparkir di tepi jembatan. Pikiran Leon mulai berkecamuk. Pikirnya, Chiren akan bunuh diri. Ia segera menepikan mobilnya di belakang mobil Chiren.


Saat mendekat, ia menyadari jika plat mobil itu berbeda. “Aishhh! Sialan!” ketusnya memukul kemudi.


Leon kembali menginjak pedal gasnya dengan sangat kencang. Ia terus melirik ke arah jalanan, mencari mobil Chiren. Dari kejauhan Leon melihat ada cahaya yang sangat menyilaukan matanya. Cahaya itu ternyata berasal dari sebuah truk beroda delapan belas yang tampak oleng. Leon membunyikan klakson namun mobil itu semakin cepat melaju ke arahnya. Tiba-tiba …


DUARRRR!


BRUKKKK!


Apakah ini akhir hidupku? Batin Leon. Wajah dan tubuhnya telah bermandikan darah. Napasnya terengah dan hanya berhembus satu demi satu.


To be continued ...


Penasaran lanjutannya? Tulis pendapat kalian di kolom komentar dan jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian buat Author 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2