
Yara masih tidak habis pikir dengan tingkah Gala. Tiba-tiba saja lelaki itu bersikap manis di depannya. Padahal ia sudah pasrah jika Gala akan memarahinya habis-habisan. Ia tak menyangka jika respon Gala akan jauh dari ekspektasi pikirannya. Di dalam mobil kembali terjadi keheningan. Sikap Gala yang manis seketika berubah drastis saat mereka menaiki mobil. sikapnya kembali dingin dan cuek sehingga membuat Yara bertanya-tanya dalam hatinya.
Lelaki yang sangat misterius! Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Perilakunya cepat sekali berubah. Apa dia berkepribadian ganda?
Kecepatan mobil berkurang saat memasuki gerbang mansion. Sedari tadi Gala tak berbicara padanya. Yara menatap wajah Gala yang tampak lurus ke depan dengan ekspresi datar. Shanks membukakan pintu dan Gala lebih dulu turun tanpa menunggu Yara. Pria itu berjalan dengan Langkah yang panjang dan cepat sehingga Yara tertinggal jauh di belakangnya.
Saat memasuki kamar, Yara sempat behenti di depan pintu, ia mengatur napasnya yang terengah akibat mengejar Gala. Entah kenapa di dalam hati Yara terasa ada sesuatu yang janggal. Ia merasa bersalah pada Gala, namun ia tak mau mengakui jika dirinya bersalah. Begitulah wanita, tak ingin disalahkan walaupun telah berbuat kesalahan.
Yara membuka pintu kamar. Perlahan ia masuk ke dalam tanpa bersuara. Dilihatnya Gala sedang membuka setelan jas yang dikenakannya. Gala masih dingin dan cuek. Yara merasa kesal karena tidak diperhatikan oleh pria itu. Ia pun duduk di pinggir ranjang sembari menatap Gala yang sedang melakukan aktivitasnya. Tatapan Yara begitu dalam dan sinis.
“Om!” panggil Yara dengan nada tinggi.
Gala tak menggubris.
“Apa Om budek?” ketusnya lagi dengan menyumbingkan bibirnya.
Gala masih tak menghiraukan.
Yara tampak begitu kesal. Ia pun langsung menghampiri Gala yang sedang membuka dasinya. Gala terkejut saat Yara menahan lengannya sehingga aktivitasnya terhenti. Ia hanya melihat wajah Yara sepintas dan melepaskan tangan Yara dari lengannya. Gala kembali melanjutkan kegiatannya.
Sikap Gala lebih membuat Yara sangat-sangat kesal. Suhu tubuhnya mulai memanas dan hasrat ingin menghajar Gala mulai membara di benaknya. Baru kali itu ia di acuhkan oleh orang lain. Kehadirannya di sana sama sekali tak dianggap ada oleh Gala. Yara pun menyentak kakinya dan menjauh dari hadapan Gala.
“Apa ini merupakan hukuman lelaki tua itu padaku?! Ishh, bodohnya aku! Kenapa juga aku peduli. Memalukan sekali diriku meminta perhatian darinya! Jijik!” Yara merasa emosi dengan dirinya sendiri. Ia bertanya-tanya untuk apa dirinya mengemis perhatian Gala.
Sebenarnya Yara sudah memiliki perasaaan simpati pada Gala namun ia tidak menyadari hal itu. Sikapnya yang tiba-tiba ingin diperhatikan Gala adalah wujud dari perasaannya yang terdalam, namun logika selalu menentangnya. Perhatian kecil dari Gala pada saat mereka menghadiri acara yayasan membuat Yara terbawa perasaan sehingga membuat Yara merasa benci karena tidak lagi diperlakukan secara baik oleh Gala.
Tak berlangsung lama di kamar mandi, Gala keluar dengan handuk yang melingkari pinggangya. Ia mendapati tubuh Yara yang telah terbaring di ranjang masih dengan memakai sepatu heels-nya. Gala mendekat dan berniat untuk melepas sepatu itu, namun ia tersadar jika dirinya masih dalam mode hening dengan istrinya. Ia menatap tubuh Yara dengan seksama, seketika bayangan senyum Yara pada Andro tergambar jelas diingatannya sehingga membuat pria itu memalingkan wajahnya dari Yara.
Waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sedari tadi ia duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan tangannya di dada. Sosok wanita yang tak lain adalah Yara masih terlelap dengan pulas di ranjang. Gala menatap wajah Yara yang sebagian tertutup rambut. Tatapan itu begitu lekat. Entah apa yang dipikirkan Gala tentang istrinya.
Tak lama kemudian Yara terbangun. Ia menyeka liurnya yang belepotan di sekitar bibir. “Huayemm,” merenggangkan badan. “Astaga!” celutuknya saat melihat Gala yang duduk tenang di sampingnya. “Om Gala? Apa kau sudah tidak marah lagi padaku?” tanyanya hati-hati.
“Aku tidak marah padamu,” tutur Gala datar.
“Lalu kenapa Om mengacuhkanku tadi?”
“Aku hanya tidak mood bicara.”
Yara terdiam. Om Gala unik juga. Ia tersenyum kecil. Hatinya terasa tenang dan lega.
“Mandilah. Kita akan makan malam di luar.”
__ADS_1
Yara melonjak kegirangan. “Yess!” segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Betapa Bahagia hatinya saat Gala mengajaknya makan malam di luar.
“Jangan lama-lama. Nanti aku berubah pikiran.”
“Setengah jam! Oh tidak, lima belas menit!” teriak Yara yang sudah menghilang dari balik pintu.
“Lima menit!” celutuk Gala.
Yara terperanjat. Ia tak menyahut dan segera membersihkan tubuhnya secepat kilat. Waktu yang diberikan Gala sangatlah singkat. Ia ingin memprotes namun ia mengurungkan niatnya karena tak ingin Gala berubah pikiran.
***
Di sebuah restoran bergengsi di ibukota tampak begitu ramai dan dipadati oleh orang-orang elit dari kalangan atas. Gala telah memesan sebuah ruangan khusus untuk ia dan istrinya. Di ruangan itu memiliki jendela kaca bagai dinding yang memperlihatkan keindahan malam kota Jakarta.
“Silahkan, Tuan,” tutur pelayan wanita mempersilahkan Gala masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
Sambil menunggu Yara yang ijin ke toilet, Gala mulai meneguk anggur merah seraya menatap jendela kaca itu. Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya dari jendela kaca. “Cepat sekali dia kembali,” gumam Gala.
Pintu terbuka.
“Kau sudah kem—” menjeda ucapannya saat melihat orang yang datang itu bukanlah Yara.
“Maaf menganggu makan malammu, Gala,” tersenyum kecil.
Wanita yang adalah Amoera itu mengangguk. “Ya. Aku bertemu kolegaku. Tapi aku melihat kau masuk di ruangan ini sendirian jadi aku kemari. Ohya di mana Yara?”
“Sedang di toilet.”
Amoera tersenyum kecil. Ia dengan tidak tahu malunya langsung duduk di kursi yang disediakan Gala untuk Yara. “Gala, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
Gala menggoyang gelas yang berisi anggur. “Bisa kau katakan lain waktu saja. Aku dan istriku akan makan malam.”
Ucapan Gala membuat raut Amoera kecut. Ia memutar bola matanya, malas. “Tapi ini menyangkut Yara, istrimu!”
Lelaki itu langsung menatap Amoera dengan tatapan serius. “Ada apa dengannya?” tanyanya penasaran.
“Apa kau mencintainya?”
Gala terdiam sejenak.
“Apa kau benar memiliki hati padanya?”
__ADS_1
“Mengapa kau bertanya seperti itu?”
Amoera mendekat ke arah Gala, membuat pria itu memundurkan langkahnya ke belakang. “Ada apa denganmu?” tanyanya dengan nada tinggi.
Tatapan Amoera begitu menggoda. Ia bahkan memakai pakaian yang sangat seksi yang tengah memperlihatkan belahan dadanya yang padat dan berisi. Sedangkan bawahannya hanya terbaluti rok mini yang memperlihatkan paha mulus tak bercacat miliknya. “Gala ... ” lirihnya hendak mendekatkan bibirnya ke arah bibir Gala namun tiba-tiba ponsel Gala berdering, membuat Amoera segera menghentikan pergerakannya.
Gala segera menjawab panggilan telepon dari nomor yang tak terdaftar di kontaknya.
“Halo, Om!” suara dari balik telepon yang tak asing membuat Gala segera mengetahui pemilik suara itu.
“Kenapa kau lama sekali kembali?” ketus Gala.
“Aduh Om, tolong aku! Ini benar-benar darurat!”
Degg!
Gala tiba-tiba menjadi panik. “Apa yang terjadi?! Apa yang darurat?”
“Om Gala, aku … aku ..”
“Kamu kenapa?!” Gala semakin panik.
Suara Yara tiba-tiba tidak terdengar lagi. Panggilan telepon terputus.
“Halo! Yara!!” panggil Gala, nyaring. “Sial!” umpatnya segera bergegas menuju lokasi Yara.
“Gala tunggu!” menahan pergelangan tangan Gala.
Pria itu mengarahkan pandangannya ke arah wajah Amoera. “Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu. Istriku sedang membutuhkan bantuanku!” melepas paksa genggaman tangan Amoera.
“Tapi …”
Gala langsung meninggalkan Amoera.
Hati Amoera kembali memanas. “Selalu saja si ****** itu menghalangiku!”
Brukkk!
Wanita itu menendang kaki meja dengan keras sehingga gelas anggur bekas minuman Gala jatuh di lantai dan serpihan kaca bertebaran di mana-mana. Niat Amoera untuk mencium Gala tertunda karena Yara menelepon suaminya dengan tiba-tiba. Amoera memiliki niat buruk pada Gala. Ia bermaksud untuk menggoda Gala menggunakan tubuhnya supaya Gala menjadi miliknya dengan utuh.
“Kali ini gagal, tapi akan kupastikan lain kali, aku akan berhasil membuat Gala tidur denganku! Tunggulah kau gadis rendahan! Cuih!” meludah.
__ADS_1
To be continued ...
Tetap tinggalkan jejak kalian lewat like, komen dan vote yaaa. Makasih semua 🥰🤗