
Bertengkar dengan Kinan membuat kepala dan hati Yara lelah sehingga ia terlelap dengan mata sembab lantaran menangis. Saat itu jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore. Yara merasakan ada yang aneh dengan dirinya.
Yara melonjak saat menyadari jika ia habis menyatakan perasaannya pada Gala. Ia melirik segala penjuru ruangan itu mencari keberadaan sosok suaminya. Pipi Yara memerah karena membayangkan peristiwa yang ia alami beberapa saat lalu.
Karena tak menemui kehadiran Gala di sana, ia pun beranjak dari ranjang dan mencari Gala di ruangan kerja pria itu. Namun sosok Gala tak jua ditemukannya. Ia semakin merasa aneh dan mendongakkan kepala menatap langit kamar.
"Tunggu dulu! Aku merasa seperti ada yang aneh!" gumamnya dengan mengernyit.
Yara memutar otaknya, berpikir keras. Ia mulai mengingat aktivitasnya dari pagi yang mengunjungi makam mendiang orangtuanya lalu bertemu wanita aneh di jalan, kemudian kembali ke mansion dan bertengkar dengan Kinan.
"Sepertinya ada yang terlewatkan!" mengelus dagunya.
Yara kembali memutar ingatannya. Bayangan kejadian beberapa saat lalu terselip dalam benaknya. Yang di mana setelah bertengkar dengan Kinan ia menangis sesenggukkan di kamar dan seorang pria yang tak lain adalah Gala datang menghampirinya, menghibur laranya yang sedang piluh.
"Benar! Aku tidak salah ingat! Om Gala memang datang dan memelukku, bahkan bersumpah padaku!" gerutunya dengan ekspresi yakin. "Lalu ... kenapa aku berujung di atas tempat tidur? Apa setelah aku menyatakan perasaanku pada Om Gala, aku langsung ketiduran? 'Kan nggak masuk akal ya?"
Gadis itu benar-benar lupa dengan kejadian siang hari saat selesai adu mulut dengan Kinan. Ia tampak melewati sesuatu dan itu merupakan bagian penting yang hilang dalam ingatannya. Yara berjalan mondar-mandir di depan tempat tidur. Sesekali ia menggingit jemarinya.
Tiba-tiba ia melonjak kaget. Serpihan ingatan kembali menghampiri pikirannya. "Tidak mungkin!" ketusnya terkejut bukan kepalang. Matanya melebar sedangkan mulutnya menganga. Mimik Yara menunjukkan jika ia benar-benar tidak menyangka dengan ingatan yang hilang entah ke mana yang kemudian muncul kembali.
"Jangan bilang kalau aku hanya mimpi?!" terperangah. "Tapi aku merasa jika itu sangat nyata! Dari suaranya, sentuhannya, pelukannya!! Ahhhhh!" mengacak rambut.
Yara teringat jika selesai berurusan dengan Kinan, ia kembali ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan isak tangis kepedihan. Karena lelah menangis sampai tersedu sedan, ia pun mengantuk dan terlelap.
Sangat disayangkan ternyata kedatangan Gala dan pengakuan cintanya itu hanyalah mimpi belaka. Ada rasa kesal namun ada juga rasa lega karena itu cuma bunga tidur saja. Yara masih termangu seraya menatap bayangan dirinya di cermin.
"Tahu ah! Terserah saja, jadi malas aku!" gerutunya geram.
***
(Siang hari saat di kantor)
Tok tok tok ...
"Tuan, sudah saatnya," tutur Shanks mengetuk pintu kamar mandi karena sudah hampir dua puluh menit Gala belum beranjak dari sana.
Gala tak menyahut.
"Apa yang Tuan lakukan di dalam? Sudah lama sekali beliau tak keluar-keluar dari toilet. Apa jangan-jangan Tuan pingsan?!" gumam Shanks sedikit panik.
Tok tok tok ...
__ADS_1
Ketuknya lagi sedikit keras. "Tuan ... "
Ceklek ..
Gala menatap Shanks dengan tatapan tajam.
"Tuan, saatnya menghadiri meeting," tutur Shanks.
"Batalkan semua jadwalku hari ini. Aku punya urusan yang lebih penting," ujar Gala dengan wajah yang sudah kembali normal seperti sedia kala.
"Tapi Tuan, dewan direksi telah tiba di lokasi."
Gala kembali menyorot manik Shanks dengan sinis.
"Baik. Aku mengerti Tuan," menunduk kepala dan bergegas pamit dari hadapan balok es itu.
Nanti saja rapatnya. Aku punya rencana hari ini. Istriku adalah segala-galanya! Batin Gala
Gala rela membatalkan semua jadwalnya yang padat demi merencenakan sesuatu untuk Yara, istrinya. Ia pun memerintahkan Shanks untuk mengatur segala rencana yang telah ia pikirkan secara matang saat berada di toilet.
"Tuan, sudah aku sampaikan pada Sekretaris Jessica untuk mengosongkan jadwalmu," tutur Shanks yang baru saja kembali.
Gala menarik sudut bibirnya. "Malam ini akan ada pesta kembang api, bukan?"
"Aku tahu. Kau siapkan superyacht!" perintah Gala.
"Untuk apa Tuan?"
"Jangan banyak tanya dan lakukan saja perintahku!"
"Baik, Tuan."
Shanks berlalu dari hadapan Gala dan menghubungi seseorang lewat gawainya. Orang yang dihubunginya adalah salah satu pelayan keluarga Rodderick. Pria itu bertugas sebagai perawat superyacht atau kapal pesiar pribadi milik keluarga Rodderick.
Hal yang membuat Gala lama berada di toilet adalah memikirkan rancangan kejutan yang romantis untuk istrinya. Setelah merasakan gejolak asmara yang membara bagai kobaran api, kini Gala memantapkan hati untuk menjadikan Yara miliknya dengan utuh.
"Aku tidak tahu memulainya dari mana, tapi aku akan mencobanya!" gumam Gala.
Ia kembali ke meja kerjanya dan meraih tablet yang berlogo apel setengah gigitan. Gala tampak membuka aplikasi youtube dan mencari sesuatu di sana. Shanks yang telah selesai menelepon, melirik raut bosnya yang berkerut. Gala tampak bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Tuan?" panggil Shanks.
__ADS_1
"Hmm," sahut Gala tanpa menengok Shanks dan fokus menatap layar ipad-nya.
"Ada yang bisa aku bantu," tanya Shanks hati-hati.
"Ya! Aku sedang mencari referensi di youtube. Tapi sepertinya aku tidak menemukan yang tepat."
"Referensi apa Tuan?"
"Contoh kejutan romantis untuk kekasih!"
Degg!
Shanks menelan liurnya. Apa Tuan akan memberikan kejutan untuk Nona Muda? Ahh, si balok ini mulai manis dan romantis. Kok aku merasa geli-geli ngeri gitu ya?!
"Apa kau memiliki usul?" tanya Gala.
"Ehm ... anu Tuan ... aku ... "
"Sudah tak usah di lanjutkan lagi. Sia-sia aku bertanya pada orang yang juga tidak mengerti dan tidak memiliki pengalaman soal kejutan romantis!"
Shanks tertegun. "Eh ... Tuan benar," tersenyum kaku.
"Baiklah. Biar aku sendiri saja yang merancang konsepnya."
"Memangnya Tuan juga sudah berpengalaman?" tanya Shanks tanpa ragu sehingga membuat Gala menatapnya dengan manik yang melebar.
"Jangan meremehkanku, Shanks! Walau tidak berpengalaman tapi aku pernah membantu seseorang melamar kekasihnya dengan cara memberikannya kejutan romantis. Dan itu berhasil!"
Shanks melotot. "Apakah itu ... ?"
"Ya! Aku pernah membantu Ray melamar Elyora." Tatapan Gala beralih menatap tembok dengan nanar.
Shanks mengangguk pelan. Ia memang belum tahu banyak tentang kisah asmara rumit Gala yang terjebak dalam cinta segitiga dengan sahabatnya. Pasalnya, Shanks baru menjadi asisten Gala selama sepuluh tahun.
"Pasti itu sangat menyakitkan," lirih Shanks reflek. Seketika ia sadar dengan ucapannya. "Maaf Tuan, aku tidak bermak--"
"Santai saja. Itu adalah masa lalu. Aku senang saat wanita yang kucintai bahagia dengan pilihan hatinya. Meski ada rasa hancur, tapi begitu melihatnya tersenyum bahagia, rasa sakit itu seolah lenyap."
Kasihan sekali Tuan Gala. Tapi boleh juga, tak dapat ibunya, masih ada anaknya yang bisa disikat.
To be continued ...
__ADS_1
Maaf gaiss, sebenarnya hari ini Author libur. Tapi rasa tidak enak juga kalau tidak update dan menyajikan lanjutan episode untuk kalian yang sudah pada kepo hihihi. Ohya, Author tidak janji bakal Up 3 episode yaa, but ... nanti diusahakan 😘🥰