Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 56 : Mendadak Berubah


__ADS_3

Sepulangnya Gala dari kantor, Yara langsung menyuguhkan teh hangat dan cemilan yang ditaruh di atas talam. Gala tersenyum semringah saat melihat Yara membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan ringan itu.


“Semakin romantis saja, Istriku,” goda Gala.


“Untuk Suamiku tercinta,” menyodorkan.


“Terima kasih, Istriku.”


Yara mengangguk dan mendudukan tubuhnya di samping Gala. “Suamiku, ada yang ingin aku tanyakan?”


“Tanyakan saja,” menyeruput teh.


“Apa kau yang mengunggah video telanjang Amoera.”


Gala terdiam sejenak. Ia meletakkan gelas itu di atas nampan. “Hmm, lebih tepatnya lagi sih, si Shanks yang mengunggahnya,” ucapnya santai.


Yara melonjak. “Astaga! Kenapa Shanks mengunggah video itu? Bukankah itu berlebihan, Suamiku?”


“Tidak sama sekali. Aku menyuruh Shanks untuk mengunggah video itu supaya usahamu tidak sia-sia saat merekamnya. Aku ‘kan hanya menghargai usaha dan karyamu, Istriku.”


Yara menelan liurnya. “Demi apa, ternyata Suamiku punya kelainan!” gumamnya.


“Tapi aku menyuruh Shanks untuk menyensor bagian-bagian sensitif. Termasuk memotong videonya saat kau melabrak Amoera. Aku tidak ingin wajah Istriku yang cantik bagai bidadari dipandangi seluruh dunia! Aku mau, hanya aku saja yang memandangi Istriku,” tersenyum kecil.


Yara tersipu malu. “Ah! Jangan memujiku berlebihan.”


“Tapi memang faktanya begitu. Apalagi pas di video itu kau terlihat begal berkelahi dengannya. Dan kau tahu, Istriku? … Kau sangat keren di situ! Hanya aku yang boleh melihat kebegalanmu,” mencium leher Yara.


“Aduh, hentikan … geli ih,” rengek Yara.


Setelah memuji istrinya, Gala mulai menjalankan aksinya. Ia kembali menerkam tubuh Yara dan lagi-lagi meminta jatah. Dengan senang hati Yara melayani suaminya. Mereka pun kembali melakukan pergulatan yang lebih panas. Jelas saja karena keduanya sudah lihai dan lincah, tidak seperti pertama kali saat mereka berdua masih polos.


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kamar Leon dan Chiren, tampak terjadi ketegangan. Chiren yang baru saja pulang mansion dan mendapat ceramah dari sang suami yang tak lain adalah Leon.


“Tapi ‘kan aku ijin ke kamu tadi siang,” tutur Chiren.


“Memang benar. Tapi kenapa baru saja pulang? Aku sudah lama berada di mansion dan kau baru saja kembali entah dari mana!” geram Leon.


“Tadi aku ketemu sahabat lamaku, Leon.”


“Laki-laki mana lagi yang kau temui?”


“Aku tidak bertemu laki-laki. Aku bertemu dengan teman perempuanku dan anaknya!”


Leon menyipitkan matanya. “Siapa?”

__ADS_1


“Janetha,” ucap Chiren dengan nada pelan.


Seketika jantung Leon langsung bedegup kencang.


“Kau ingat teman lamaku yang aku ceritakan padamu pada saat kita baru saja menikah?”


Leon terdiam.


“Setelah lima tahun kita tidak bertemu, akhirnya kami dipertemukan lagi kemarin hari. Dan tadi siang aku mengajak Jenetha dan anaknya untuk makan siang. Kau tahu Leon, Janetha tidak memiliki suami karena pria yang menghamilinya dulu tidak bertanggung-jawab.”


“Ehm … ohya?” ucap Leon dengan kaku.


“Iya. Waktu kita menikah lima tahun lalu, Janetha tidak dapat menghadiri acara pernikahan kita dikarenakan ia telah hamil dan memutuskan untuk berangkat ke Paris dan menetap di sana sampai melahirkan. Kasihan sekali nasibnya. Janetha juga baru mengatakan padaku, pada saat kita mengikuti ujian nasional, dia sebenarnya telah hamil. Usia kandungannya saat itu sudah tiga minggu, tapi dia merahasiakannya padaku.”


Mendengar ucapan Chiren, membuat Leon sangat bersalah. Dalam benaknya terpikir, bagaimana ia harus menyikapi masalah itu saat Chiren telah mengetahui yang sebenarnya. Leon sangat takut jika Jenetha mengatakan yang sebernarnya pada Chiren. Karena jika itu terjadi maka Chiren pasti akan meminta cerai. Dan pastilah Gala dan Zian tidak akan tinggal diam.


“Bagaimana menurutmu Leon?”


“A—aku merasa bersalah!” ketusnya.


Chiren mengerutkan dahi. “Kenapa kau merasa bersalah?”


“Ma—maksudku, aku merasa kasihan dengan perempuan itu karena harus berjuang seorang diri dan menafkahi keluarganya tanpa seorang suami.”


“Aku juga berpikir seperti itu. Aku masih penasaran dengan pria brengsek yang menghamilinya tapi tidak bertanggung-jawab. Dulu, Janetha pernah bilang jika ia berkencan dengan seorang pria yang berasal dari keluarga terpandang …”


Leon melonjak. “La—lalu?”


“Nyaris saja dia memberitahuku tapi gagal karena dia harus mengurus sesuatu yang lebih penting. Jadi dia tidak sempat memberitahuku. Dan setelah itu, setiap kali kita bertemu di kelas, Janetha selalu menjauhiku sampai ketika dia berangkat ke Paris, dan hanya memberitahuku lewat pesan email.”


Leon menghembuskan napasnya lega.


“Semoga saja pria itu kena karma! Kalau perlu dia mati saja! Lelaki bajingan sepertinya tidak pantas lahir di dunia. Aku sumpahin dia menerima karma yang berlipat ganda sesuai dengan perbuatannya!”


Jantung Leon memompa dengan kencang. Ucapan Chiren begitu mengena di hatinya. Ia sampai tersedak karena menelan liurnya beberapa kali dengan kasar.


“Kalau kau di posisi Janetha, pasti kau akan merutuki lelaki sialan itu, dan menyumpahinya supaya mati saja!”


“Ehm … k—kau benar!” tutur Leon terbata-bata.


“Aku jadi emosi sendiri. Padahal ‘kan aku lagi hamil dan tidak boleh terlalu stres. Nanti kandunganku bermasalah,” mengusap perutnya.


“Kalau begitu kau istirahatlah,” menarik lengan Chiren dan memaksa wanita itu untuk berbaring di ranjang.


Chiren yang menyaksikan perilaku langka suaminya hanya terdiam membisu sembari menuruti segala perintah Leon. Ia terkejut karena sikap suaminya sangat tidak biasa dari sebelumnya.

__ADS_1


“Chiren, kau mau minum susu? Aku buatin ya?” tawar Leon.


“Tumben sekali,” tersenyum kecil.


“Tunggu sebentar ya. Aku buatkan susu untukmu,” berjalan menuju pintu. “Atau kau mau makan sesuatu? Biar aku beritahu koki untuk membuatkan untukmu.”


“Leon? Kau sehatkan?” tanya Chiren dengan heran.


“Te—tentu saja!” meraba dahinya menggunakan telapak tangan.


Dengan penuh tanda tanya yang besar di benaknya, Chiren hanya bisa menatap tubuh Leon yang baru saja menghilang dari balik pintu. Senyumannya merekah karena baru kali itu Leon bersikap manis padanya. Hati Chiren berbunga-bunga. Ia tak hentinya melekukan bibir lantaran perlakuan Leon.


Selang beberapa menit, Leon kembali dengan membawa segelas susu dan biskuit yang dikhususkan untuk wanita hamil. “Chiren, ini untukmu,” meletakkan nampan di atas nakas.


“Terima kasih,” tersenyum semringah. “Leon, kau tidak kesurupan setan romantis ‘kan?”


“Sama sekali tidak. Maafkan aku karena selalu menyakitimu,” ucap Leon dengan wajah penuh penyesalan.


“Kamu beneran Leon Rodderick ‘kan?” tanya Chiren memastikan. Ia sangat merasa aneh dengan kelakuan suaminya.


“Siapa lagi yang kau harapkan? Ini aku Leon, Suamimu. Calon Ayah dari bayi ini,” mengelus perut Chiren.


Tanpa disadari wanita itu, cairan bening telah menetes dari sudut matanya. Ia tiba-tiba menangis sesenggukan. Leon segera memeluk Chiren dan mengarahkan kepala wanita itu untuk bersadar di dada bidangnya. “Jangan menangis,” bisik Leon.


“Aku hanya … hiks … hiks .. senang, karena kau telah berubah,” lirih Chiren.


Leon terdiam. Tangannya dengan lembut mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Chiren masih tersedu sedan. Ia mengeratkan pelukannya.


“Mulai besok kau tidak usah keluar rumah. Aku khawatir dengan kesehatanmu dan calon bayi kita.”


Chiren mengangguk.


“Selesai aku bekerja, aku akan langsung pulang dan menemanimu di mansion. Kau jangan keluar lagi dan bertemu siapa pun. Apa kau paham?”


“Baiklah. Aku tidak akan ke mana-mana.”


“Bagus. Terima kasih telah menurut padaku,” tersenyum tipis.


“Sebagai gantinya, aku akan mengajak Janetha kemari. Karena minggu depan dia akan kembali ke Paris. Sebelum dia kembali, aku ingin bertemu dengannya sampai puas.”


Leon terdiam. Raut wajahnya menjadi sangat tegang. Bahkan jantungnya kembali berdebar secara tak normal.


Tidak boleh! Kalian tidak boleh ketemu!

__ADS_1


To be continued ...


Berikan dukungan kalian untuk Author 🥰🤗


__ADS_2