
Dalam perjalanan seorang anak kecil yang tak lain adalah Leonard terus merontah. Ia menangis tersedu sembari memberontak, memukul jendela kaca berulang-ulang. Janetha menjadi takut dengan sikap anak itu. Dengan terpaksa ia mencoba menghubungi Leon. Namun dua kali ia telepon, tak ada jawaban dari Leon. Ia lalu mengirim pesan singkat.
...Aku sedang di jalan menuju bandara dan Leonard sedang memberontak....
Satu kalimat itu ia kirimkan pada Leon. Dengan harapan jika Leon akan menyusul dan membantunya membujuk Leonard. Janetha terisak dalam diam. Ia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada Leonard, anaknya. Lagi-lagi Janetha melanggar kesepakatan yang telah ia buat bersama Gala tadi siang.
Setelah Janetha berlutut meminta ijin untuk mempertemukan Leon dan anaknya sebelum mereka berangkat ke Paris, Gala dengan tegas menolak. Gala tidak mengijinkan Leon untuk bertemu dengan Leonard lagi. Jika ia bersikeras mau mempertemukan mereka, maka terpaksa Gala mengancamnya dengan cara akan memberitahu pada Chiren semua kebenarannya.
Janetha pun menyerah. Ia tidak ingin lagi mengorbankan perasaan sahabatnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk tidak akan meminta Gala mengijinkan pertemuan anaknya dengan Leon. Tapi keadaan berubah. Sepanjang perjalanan, anak itu menjadi tak tekontrol dan meminta dirinya untuk bertemu dengan Daddy-nya.
Hal itu membuat Janetha melanggar janjinya lagi. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Leonard terus berteriak dan merontah dengan brutal. Cara satu-satunya yang terpikir di benak Janetha adalah Leon. Hanya pria itu yang bisa menenangkan amukan Leonard. Baru kali itu anaknya menjadi tak terkendali seperti itu.
“Sayang, tenanglah,” ucap Janetha.
“Ahhhhh! Aku mau Daddy!” rontak Leonard.
Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau Leon tidak membaca pesan yang aku kirim?
Selang beberapa menit, tibalah mereka di bandara. Pak sopir telah menurunkan barang-barang mereka. Sedangkan Leonard masih keras kepala tidak ingin turun dari dalam mobil.
“Leonard, ayo turun.”
“Tidak mau!”
“Tapi mobilnya sudah mau pergi.”
“Aku tidak mau pulang ke Paris. Aku mau bersama Daddy di sini! Pak sopir antarkan aku ke rumah Daddy sekarang!”
Janetha melonjak. Ia bingung harus membujuk anaknya dengan cara apa supaya anak itu mau mendengar perintahnya. Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk Leonard. Satu-satunya cara adalah mendatangkan Leon. Namun itu terasa tidak mungkin baginya. Karena Leon tidak mengabarinya sama sekali.
“Sayang, ayo turun. Daddymu akan kemari menjemputmu,” ucap Janetha beralasan.
Seketika anak itu terdiam dan menatap Janetha.
“Sini, Mommy peluk,” melebarkan tangannya.
“Apa benar Daddy akan kemari?” tanya Leonard.
“Benar, Sayang. Daddymu telah memberitahu Mommy lewat pesan.”
__ADS_1
Raut wajah Leonard kembali semringah. Dengan sigap ia memeluk Janetha. Ia pun turun dari dalam mobil. Janetha menarik napas dan membuangnya kasar. Ia sangat lega karena anaknya mau mendengar ucapannya. Meski ia tidak tahu lagi harus berbuat apa selanjutnya. Karena pikirnya, pastilah Leon tidak akan datang.
Drt drt drt …
“Halo … “ ucap Janetha ragu. Nomor itu tidak terdaftar dalam kontaknya.
“Di mana kau?”
Deg!
Suara itu milik Gala. Janetha terperanjat. “Aku ada di bandara.”
“Apa kau bertemu Leon?” tanya Gala dingin.
“Ti—tidak, Tuan.”
“Apa kau menghubunginya lagi?”
Janetha membisu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, ia memang menghubungi Leon tadi.
“Aku bertanya sekali lagi, apa kau menghubungi Leon lagi?!”
“Kau sudah tahu ‘kan akibat dari melanggar janjimu?”
“Maafkan aku, Tuan.”
“Aku akan memberimu kesempatan satu kali lagi. Kau harus menjauhi Leon. Kemungkinan besar dia akan menyusulmu di bandara. Pokoknya jauhi dia sebisamu. Kalau tidak, terpaksa aku akan memberitahu Chiren!”
Tut tut tut …
Ancaman Gala sungguh membuat Janetha panik bukan kepalang. Ada rasa senang karena Leon menyusulnya, namun ada juga rasa takut yang teramat sangat jika ia bertemu dengan Leon. Kalau itu sampai terjadi, maka Chiren akan mengetahui kebenarannya.
***
Seorang wanita yang tak lain adalah Chiren sedang mengekori sebuah mobil. rupanya ia berhasil membuntuti Leon. Rute yang mereka lalui berlawanan arah dengan perusahaan Blackfire. Wanita itu semakin curiga. Jantungnya memompa dengan cepat. Ia takut jangan sampai Leon kembali membohonginya dan bertemu dengan selingkuhannya.
Chiren melambatkan laju kendaraannya dan menjaga jarak dengan mobil yang ditumpangi Leon. Ia tidak ingin Leon mengetahui jika ia mengikutinya. Beberapa saat kemudian taksi yang ada di depannya telah berbelok arah. Chiren mengerutkan kening saat jalur yang mereka lalui ternyata menuju bandar udara.
“Kenapa dia ke sini? Siapa yang ingin ditemuinya?” gumam Chiren.
__ADS_1
Ia menepikan kendaraannya saat taksi telah berhenti. Dengan jelas ia melihat Leon turun dari dalam mobil. Chiren pun dengan segera turun dan kembali membuntuti suaminya. Tempat itu terlalu ramai sehingga ia nyaris kehilangan Leon.
“Kenapa dia terburu-buru begitu?”
Bukk!
“Awhhh!” pekik Chiren.
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja menyambarmu. Saya terburu-buru,” ucap seorang pria tinggi bertubuh kekar.
“Tidak masalah. Aku juga bersalah karena tidak memandangi jalan dengan benar.”
Pria itu menunduk dan bergegas meninggalkan Chiren. Saat Chiren hendak melangkah, tiba-tiba ia melihat sebuah kertas segi empat yang merupakan kartu nama yang dijatuhkan pria tadi. Ia sempat berpikir untuk mengejar pria itu namun Leon lebih penting. Ia pun memasukkan kartu nama itu di dalam tasnya.
“Aduh! Bagaimana ini? Aku kehilangan Leon!” berdecak kesal.
Chiren memandangi sekitarnya dan mencari sosok Leon. Ia menerawang dengan teliti namun ia tak dapat menemukan jejak Leon. Karena kelelahan, Chiren pun mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang telah disediakan untuk para penumpang yang menunggu jadwal keberangkatan.
Beberapa saat kemudian, Chiren kembali melanjutkan misinya, mencari Leon. Ia berjalan mengitari tempat itu tapi tak kunjung menemukan keberadaan suaminya. Chiren berjalan menuju utara, ia tampak melihat seseorang yang dikenalnya. Dengan ragu ia melangkahkan kakinya dan mendekat. Ia ingin memastikan siapa orang itu.
“Wanita itu tak asing bagiku. Dia mirip Janetha! Tapi tidak mungkin Janetha. Dia akan berangkat beberapa hari lagi. Tentunya dia pasti akan mengabariku jika dia akan kembali.”
Seorang anak kecil tiba-tiba muncul di hadapan wanita yang ia lihat. Chiren terkejut hebat. Ia mempercepat langkahnya dan memastikan lebih jelas lagi. Pasalnya anak kecil itu sangat mirip Leonard.
“Mereka memang terlihat sama. Tapi … apa benar mereka akan berangkat?”
Chiren mulai bertanya-tanya. Saat ia hampir sampai, seorang pria yang sangat dikenalnya muncul. Ia kembali terperanjat. “Le—leon,” lirihnya. “Mereka saling kenal? Tapi dari mana?”
Ia melihat jika Leon menekuk lutut sebelahnya dan menyamaratakan tingginya dengan Leonard. Mereka tampak membicarakan sesuatu. Chiren berjalan perlahan. Ia pura-pura duduk di sebuah kursi dan mengambil sebuah majalah yang terletak di atas kursi itu.
Chiren pun menutup wajahnya dengan bersandiwara membaca majalah itu. Jantung Chiren memompa dengan sangat kencang. Suara mereka semakin jelas kedengaran. “Aku bisa mendengar suara mereka dari sini.”
“Horeeee! Daddy datang!”
Deg!
"Daddy?!" gumam Chiren.
To be continued ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, dengan cara: Like, komen dan vote ya 🤗🥰