
Sambil menunggu kepulangan Gala dari kantor, Yara menonton televisi untuk menghilangkan rasa bosannya karena sudah hampir satu hari ia berada di kamar. Ia ingin sekali keluar dari dalam kamar namun s*langkangan Yara masih terasa perih jika terlalu banyak berjalan. Jelas saja karena tadi malam Gala menghajarnya habis-habisan di ranjang.
Sudah empat film yang ia tonton. Dan semuanya bergenre aksi dan lebih ke agen-agen yang menjalankan misi. Yara tidak terlalu suka menonton film yang berbau romantis dan tentang asmara-asmara. Di film ke lima yang ia tonton ada beberapa adegan ranjang yang panas. Biasanya kalau ada adegan seperti itu, Yara selalu melewatkannya. Namun kali ini, ia malah menyaksikan adegan panas itu dengan seksama.
Melihat itu, Yara menjadi senyum-senyum sendiri. Ia mengingat peperangannya dengan Gala tadi malam. Perasaannya kembali berbunga-bunga lantaran wajah seksi Gala yang begitu menggoda dan menggiurkan. Apalagi saat suara lembut Gala yang menyambar halus di telinganya membuat wanita itu kembali bergairah. Kecupan hangat suaminya saat selesai melepas kenikmatan, terbesit dalam benaknya.
“Ahh! Sudah tidak waras aku! Kenapa aku jadi kepikiran malam pertamaku dengan Om Gala?! Haduh film ini benar-benar sesat! Mana Suami belum pulang lagi,” gumamnya.
Yara mematikan televisi dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Langkahnya sedikit tertati dan kedua kakinya tampak mengangkang. Ia hendak membersihkan tubuhnya karena sebentar lagi sang suami tercinta akan kembali dari kantor. Yara ingin tubuhnya segar dan wangi supaya cinta Gala lebih bertambah besar, sebesar angkasa. Sedari tadi wajahnya tak henti-hentinya tersenyum semringah.
Jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Gala dan Shanks pun telah kembali ke mansion. Setibanya di kamar, ia mendapati Yara yang sedang menyisir rambut di depan cermin. Gala tersenyum kecil, dan tiba-tiba menyambar istrinya dengan pelukan dari belakang.
“Aku kangen kamu,” mengecup leher Yara.
Wanita itu tersenyum dan sedikit menggeliang karena Gala menyentuh lehernya berulang-kali. “Suamiku, kau mengagetkanku saja.”
Gala mengendus. “Ehhmm, wanginya Istriku.”
“Iya dong. Aku ‘kan sudah mandi. Kau mandilah, Suamiku. Kau bau,” ledek Yara menjepit hidungnya.
“Ahh masa sih?” mencium ketiaknya.
Yara terbahak. “Hahah, kau lucu sekali, Suamiku.”
“Kau berbohong rupanya. Aku tidak bau kok! Coba sini kau cium,” menyodorkan ketiaknya di hidung Yara.
“Ihh jorsek,” rengeknya. Namun ia dengan senang hati mencium ketiak suaminya. Jelas saja karena ketiak Gala merupakan area favoritnya. Ada daya tarik tersendiri dengan ketiak Gala yang membuat Yara klepek-klepek.
“Tuh ‘kan, kau malah mengendusnya, haha!” ketus Gala.
“Habisnya keringatmu wangi,” menggesek wajahnya di sana.
“Sudah ah! Geli rasanya,” ucap Gala menarik ketiaknya dari wajah Yara.
“Ya sudah mandi sana.”
“Istriku … “
“Apa?”
“Mau mandi bersamaku?” goda Gala sembari melepas pakaiannya.
“Enggak ah! Aku sudah mandi.”
“Mandi lagi biar tambah bersih dan wangi,” menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
Gala merencanakan sesuatu yang licik dibalik ucapannya. Tentu saja karena ia ingin menikmati lagi tubuh istrinya. Secara Gala telah merasakan bagaimana nikmatnya liang itu. Gala menjadi ketagihan dan ingin meminta jatah lagi dan lagi.
“Ayo dong, Sayang,” memainkan alisnya,
“Pasti kau menginginkan lagi,” memutar bola matanya malas. Padahal ia juga ingin merasakan hentakan Gala namun bibirnya sangat gengsi untuk mengucapkan.
“Apa masih sakit?”
“Lumayan. Tapi sudah tidak apa-apa kalau mau dimasukin lagi!” ucapnya ceplos. “Ups!”
Gala tersenyum lebar. Ia langsung menggendong tubuh Yara ala bridal style. Pipi Yara memerah, ia dengan segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena ia sangat malu saat mengatakan isi hatinya yang sebenarnya. Sejak tadi gairahnya telah membumbung akibat menonton film aksi yang ada adegan ranjang panas.
Tak memakan waktu yang lama keduanya pun telah berada di kamar mandi dengan tubuh yang polos tanpa sehelai pakaian. Gala mulai melancarkan aksinya dan membuat tubuh Yara bergetar karena merasakan sentuhan-sentuhan hangat darinya. Setelah puas menyelusuri setiap inci tubuh Yara, ia kemudian memasukkan basokanya dengan hati-hati.
Yara menahan kembali rasa sakit itu, namun sudah tidak terlalu sakit seperti malam pertama. Keduanya pun sudah sedikit mahir dalam becinta. Tak sia-sia Yara menonton film panas tadi sore karena ia sudah tahu pose-pose apa saja supaya suaminya tidak merasa bosan dengan gaya monoton.
“Sayang, kau tampak lincah dalam mengganti pose. Apa kau beguru pada Shanks?”
“Tidak, Suamiku. Aku tadi lihat di televisi.”
“Jadi kau sudah memiliki hobi baru, menonton film biru?” goda Gala tersenyum tipis sambil memaju mundurkan Leher Jerapahnya.
“Ti—tidak, Suamiku. Ahh … aku … shhh …”
“Bicara yang jelas Istriku,” melajukan hentakannya sehingga membuat Yara lebih tersendat-sendat dalam berucap.
“Oh, itu flashdisk yang diberikan Shanks padaku.”
Permainan mereka cukup lama. Lebih lama dari malam pertama. Kali ini Gala memang menguras tenaga Yara habis-habisan. Ia memuaskan nafsunya yang sudah bergejolak sejak ia di kantor. Wajah Yara selalu terngiang di benaknya saat bekerja. Ia bahkan kurang fokus memimpin rapat lantaran mengingat Yara. Dan sekarang Gala benar-benar melampiaskan b*rahi pada istrinya.
***
Plakkk!
“Ahh!” pekik seorang perempuan.
“Dasar bodoh!” melempar selembar kertas di wajah wanita itu.
“Papa! Kenapa kau menamparku tiba-tiba?” tanya perempuan itu yang tak lain adalah Amoera.
“Coba jelaskan maksud dari surat ini?!” ketus Richard dengan emosi yang menggebu.
Amoera meraih selembar kertas yang jatuh ke lantai. Betapa terkejutnya ia saat membaca isi surat itu yang ternyata adalah surat dari Blackfire Company. Maniknya melebar, jantungnya berdebar-debar tak karuan. “I—ini adalah … “
“Mulai sekarang kau bukan lagi anakku!” celetuk Richard.
__ADS_1
Deg!
“Pa-papa? Tidak serius ‘kan?” lirih Amoera.
“Sekarang juga, kau angkat kaki dari rumah ini! Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini!”
Amoera tersentak. Tubuhnya melemas sehinga ia tersungkur di lantai. Cairan bening mulai berjatuhan di sudut matanya. “Papa … “
“Papa sangat-sangat kecewa denganmu! Bisa-bisanya kau berbuat tak senonoh seperti itu, Amoera! Papa menyekolahkanmu setinggi-tingginya agar kau menjadi wanita cerdas dan berwibawa. Tapi apa ini?! Selain merugikan perusahaan, kau juga melakukan perbuatan hina dan *******!”
“Ma—maksud Papa?”
“Jangan pura-pura bodoh kau! Apa kau pikir Papa tidak tahu apa yang kau lakukan pada Tuan Gala?!”
Deg!
Jantung Amoera seketika berhenti memompa. Video itu … Apa Yara telah menyebarkannya?
“Papa hentikan!”
“Mama diam dan jangan ikut campur! Kalau ikut campur maka Mama juga siap-siap angkat kaki dari rumah ini!”
Ibu Amoera ikut terdiam. Ia merasa sakit hati melihat anak satu-satunya diperlakukan buruk oleh Richard. Namun mau bagaimana lagi, Amoera memang telah membuat Richard marah besar. Bukan hanya karena kontrak dengan Blackfire yang dibatalkan, namun juga karena merasa malu dengan perbuatan Amoera yang tak terpuji.
“Mama, tolong Amoera, Ma … “ lirih Amoera dengan tesedan.
Sintia menggelang kepala dengan air mata yang telah berlinang. Ibunya bahkan tak memiliki kuasa untuk menolongnya. Apalagi jika Richard telah bertindak, tidak ada satupun yang bisa menghentikan pria itu. Sintia juga tidak ingin diusir oleh Richard, maka ia bermain aman, dengan cara tidak ikut campur dengan kasus Amoera.
Wanita paruh baya itu juga tidak ingin hidup miskin dan melarat. Satu-satunya cara agar tetap aman, adalah supaya tidak ikut campur. Padahal hati seorang ibunya telah merontah dan ingin membantu putrinya.
“Kau tahu, Amoera … videomu telah tersebar dipublik! Akibat dari perbuatan j*langmu, saham perusahaan telah anjlok! Tidak ada lagi yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita!”
“Maafkan aku Pa … semua ini gara-gara gadis si—”
“Cukup! Kau tidak usah menyalakan orang lain! Jelas-jelas kau yang bersalah di sini! Apa kau pikir dengan kata maaf bisa mengembalikan nama baikmu dan nama baik keluarga kita? Apa kau pikir dengan mengucapkan maaf bisa memulihkan saham yang telah lenyap?!”
Amoera terdiam. Ia menangis dengan sesenggukkan. Begitu juga Sintia, ibunya.
“JAWAB!” gertak Richard.
Amarah Richard semakin membumbung. Kepalanya serasa ingin meledak lantaran amarahnya yang sudah tak terkendali lagi.
“Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi! Aku tidak ingin melihat wajahmu! Kau benar-benar aib keluarga ini!”
Deg!
__ADS_1
To be continued ...
Berikan dukungan kalian buat Author 🤗🥰