Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 30 : Serangan Balik


__ADS_3

Gala bergegas menuju kamar mandi dengan membawa baju ganti di tangannya. Kalimat terakhirnya membuat ia dan Yara kembali merasakan canggung. Ada rasa malu tak karuan yang menggerogoti hatinya. Namun apa yang Gala ucapkan memang murni keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.


Gala merendam tubuhnya ke dalam bak mandi yang berisi air hangat. Ia memejamkan matanya dan berusaha rileks. Hari itu benar-benar membuatnya lemas. Di tambah lagi dengan berita viral yang telah heboh di berbagai platform sosial media. Benar-benar hari yang padat dan penuh kejutan.


Lama ia berendam, sampai kulitnya yang putih berubah warna menjadi agak kemerahan. Ia segera membilas tubuh bak atletis itu. Setelahnya, tak lupa juga ia membersihkan wajah dengan produk perawatan kulit yang biasa ia gunakan. Wajahnya terlihat awet muda dan berseri, layaknya lelaki berumur delapan belas tahun.


"Ah sial! Sejak kapan ini muncul?" mendekatkan wajahnya di cermin saat melihat satu titik jerawat muncul di dahinya. "Sangat mencolok lagi! Kepercayaan diriku akan berkurang saat jamur sialan ini muncul!"


Gala tampak heboh di depan cermin. Ia terus mengusap wajahnya, terlebih di bagian yang ditumbuhi jerawat. Walau ia tahu jika jamur itu tidak akan hilang seketika hanya dengan mengusap dahinya secara brutal menggunakan perawatan wajah.


"Aishhh! Menjengkelkan! Bagaimana kalau Yara melihat jamur ini? Apa dia akan merasa jijik dan akan menjauhiku?!" berdecak kesal.


Setelah lama bergulat dengan bayangannya di cermin, ia pun membilas wajahnya menggunakan air. Perasaannya masih kesal dengan kahadiran satu titik jerawat yang tumbuh tepat di dahinya. Gala tipe lelaki yang sangat peduli dengan penampilan. Apa terlebih wajahnya. Ia akan menjadi gila jika wajahnya terkena sesuatu yang akan merusak ketampanannya. Walau itu hanya setitik noda saja.


Dengan wajah masam, Gala keluar dari dalam kamar mandi. Ia menuju cermin dan menyisir rambutnya yang berantakan. Sepasang mata memperhatikan lelaki itu yang tengah merapikan Rambutnya. Yara tersenyum kecil sembari bergumam pelan. "Tampan sekali, Om Gala," pujinya dengan ekspresi takjub. Tanpa disadari Yara, Gala telah memperhatikan tatapannya yang memantul di cermin.


Gala menyunggingkan bibirnya dan mulai menebar pesona. Ia sengaja memperlambat gerak-geriknya agar bisa melihat bayangan Yara yang tampak mengaguminya dalam diam. Kepercayaan diri Gala begitu berapi-api sampai ketika ia tak sengaja melirik wajahnya. "Cihh! Sial!" umpatnya. "Kenapa jerawat ini muncul disaat yang tidak tepat?!"


"Om Gala ... " panggil Yara.


Gala menoleh. "Ada apa?" mengatur suaranya sehingga terdengar keren dan seksi.


"Apa Om capek?"


"Ehm ... tidak juga. Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Gala menautkan alis.


"Aku kira Om capek. Padahal aku berinisiatif ingin memijat, Om."


"Ya aku capek!" ketus Gala, reflek. Ia segera duduk di sofa dan menatap Yara yang memandanginya dengan raut bingung. "Ayo pijat bahuku. Leherku terasa sakit," merenggangkan lehernya sehingga terdengar bunyi seperti tulang yang retak. "Aduh leherku keram!" pekiknya, bersandiwara.


"Tadi Om bilang ... "


"Kau salah dengar. Ayo cepat pijat! Kau harus menjadi istri yang baik."


Yara melekukan bibirnya. Ia segera menuju sofa, tempat Gala duduk. Perlahan ia mulai menyentuh bahu Gala dengan hati-hati. "Om, aku masih pemula. Tolong katakan apa yang Om rasakan."


"Enak!" ketus Gala.


"Ma--maksudku, kalau pijatanku tidak terasa di bahumu, maka aku akan lebih menekannya supaya terasa."


Gala memerah. "Ehem! Kau terlalu lembek. Lebih ditekan sedikit," menindih tangan Yara yang sedang memijatnya.


Yara tertegun saat melihat telapak tangan Gala menyentuh punggung tangannya. "Apakah ini sudah terasa?" lirihnya.


"Lumayan."


Gadis itu mulai menggerakan tangannya ke atas ke bawah dengan menekan bahu Gala. Yara tampak kesulitan lantaran tubuh Gala benar-benar keras dan berotot. Ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya namun nyatanya hal itu masih belum terasa bagi Gala.


Sebenarnya pria itu hanya modus saja. Dari awal niatnya memang bukan untuk dipijat karena capek atau lelah, melainkan hanya ingin berada di dekat Yara. Dan dengan senang hati Yara melakukan pekerjaan itu.

__ADS_1


"Awhh, sakit!" jerit Gala.


"Maaf Om, aku tidak sengaja," ucap Yara panik. "Aku akan lebih berhati-hati lagi."


Gala menyunggingkan bibirnya. Jelas saja ia hanya berpura-pura. Ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Bagi Gala pijatan Yara tidak berasa sama sekali. Malahan menurutnya, Yara hanya seperti mengusap lembut bahunya saja.


"Om, apakah sudah mendingan?"


"Belum. Mungkin sedikit lagi."


Yara melanjutkan aktivitasnya. Ia terlihat sudah kelelahan sampai dahinya mengeluarkan peluh. Sepuluh menit berlalu. Yara sudah tak sanggup lagi mengurut bahu Gala. Tangan gadis itu terasa pegal. Ia pun mendudukkan tubuhnya di samping Gala.


"Kenapa berhenti?" tanya Gala.


"Ahh Om curang! Pasti Om sengaja 'kan mengerjaiku?"


Gala menarik sudut bibirnya. "Siapa yang mengerjaimu? Aku memang beneran pegal kok. Ayo cepat lanjutkan. Kalau nolongin jangan setengah-setengah."


"Nggak ahh. Sekarang aku yang capek," membuang napas, kasar.


Gala kembali tersenyum. "Mau aku pijit?"


Yara menatap wajah Gala. Senyumannya begitu manis tapi berkesan nakal bagi Yara. "Tidak! Trima kasih!"


"Katanya kamu capek," goda Gala.


"Ahh, Om, hentikan. Ekspresimu membuatku takut."


"Tuh 'kan benar. Om mulai nakal!" ketus Yara sedikit merengek membuat Gala ingin menyubit pipinya yang kenyal itu.


"Sejak kapan aku nakal. Aku pria berwibawa dan selalu menjunjung tinggi martabatku sebagai lelaki sejati. Aku tidak akan sembarangan menyentuh wanita jika wanita itu belum terikat hubungan yang sah dan intim denganku."


"Benarkah? Tapi banyak rumor yang beredar tentang Om, kalau Om selalu gonta ganti pasangan!"


Gala menatapnya tajam. "Kata siapa, hah? Siapa yang memberitahumu? Aku akan menyumbat mulutnya dengan cabe dan menuntutnya karena telah menyebarkan berita hoax serta telah mencemarkan nama baikku!"


Degg!


Yara terperanjat. Jelas saja mimiknya langsung berubah panik. Ia hanya mengarang cerita saja dan bermaksud ingin meledek Gala. Namun hal itu hanya membuatnya terjerumus ke dalam lubang yang ia gali.


"Cepat katakan?!" desak Gala.


Yara menggeleng kepala dengan cepat. "Tidak tahu."


Gala menatapnya lekat. "Jangan bilang bahwa kau yang menyebarkan berita tidak benar ini?!"


"Ti--tidak kok, Om. Cuma ke Om saja kok! Aku tidak mengatakannya pada siapa-siapa! Sumpah," mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.


Gala tersenyum licik. "Oh jadi benar, kau yang mengarangnya?" mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Yara tak berkutik. Ia semakin panik. Aishhh! Kenapa pakai acara keceplosan segala sih!


"Ini hukuman karena kamu telah berprasangka buruk padaku!" menarik hidung Yara.


"Ahhh! Sakit, Om! Aduhh duhh duhh!"


"Hahaha!" Gala tergelak lagi.


Hidung Yara tampak memarah. Ia mengelus hidung mancungnya dengan pelan dan merengek bagai anak kecil. Tak lama kemudian, sesuatu yang licik menyambar kepalanya. "Aku akan membalasnya!" gumamnya seraya menatap sinis ke wajah Gala yang sedang terbahak.


Yara berdiri dari tempat duduk dan tiba-tiba menyambar tubuh Gala. Ia mengacak rambut Gala dan mencubit pipi Gala sekuat tenaga.


"Hey, apa yang kau lakukan! Hey hentikan!" ketus Gala mencoba menghentikan amukan Yara.


"Hahah! Rasakan, Om," ledek gadis itu.


Tanpa disadari Yara tubuhnya telah berada di pangkuan Gala sehingga membuat pria di depannya tertegun. Deru napas Yara telah menembus pori-pori leher Gala. Debaran jantung Gala semakin berdetak tak karuan. Suhu tubuhnya kembali memanas.


"Emang enak, hahah!" ketus Yara lagi.


Gala berhenti menghadang tangan Yara yang masih meremas pipinya. Ia fokus menatap wajah Yara. Pandangan keduanya bertemu. Yara pun melepas cubitannya. Ia tersadar jika dirinya telah duduk dipangkuan Gala dengan posisi tubuh saling berhadapan.


Degg!


Perasaan apa ini?! Batin Yara.


Gadis itu hendak mengambil ancang-ancang untuk berdiri, namun Gala segera menahannya supaya tetap berada dipangkuan Gala.


"Om Gala ... " lirih Yara terkejut bukan main.


"Shhht!" menaruh telunjuknya di bibir Yara. "Jangan sebut aku Om ... "


Suara yang berat dan lembut, seakan menghantam keras tubuh Yara sehingga badannya melemas. Ia tak dapat berkutik sedikit pun. Gala telah mengancing erat tubuhnya dengan kedua tangan berotot milik Gala.


Pria itu kemudian menyentuh pipi mulus Yara. Tangannya mulai menarik pelan dagu Yara sehingga tinggal beberapa senti saja bibir keduanya akan bertemu. Dengan reflek, Yara memejamkan matanya.


"Yara ... " lirih Gala.


Cup ...


Dan akhirnya bibir tipis keduanya saling menaut. Debaran jantung keduanya semakin memompa kencang. Suhu tubuh keduanya naik drastis sehingga berasa ingin meledak. Perlahan Gala menjulurkan lidahnya, berusaha menerobos masuk ke dalam sana.


Yara tersendat karena baru pertama kali ia melakukan atraksi bibir. Tak hanya Yara, Gala pun sebenarnya masih meraba-raba saja. Dan ia tampaknya telah siap menerima pukulan brutal dari Yara. Namun nyatanya, Yara pun tampak menikmati itu.


Apa ini yang disebut berciuman orang dewasa? Batin Yara.


Ternyata begini rasanya berciuman. Lumayan juga. Batin Gala.


To be continued ...

__ADS_1


Berikan dukungan kalian untuk Author dengan cara memberi like, komen, vote. Boleh juga hadiah ... Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2