Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 12 : Rahasia Keluarga Rodderick


__ADS_3

Setibanya kedua pasangan suami istri di ruang makan, keduanya langsung disambut dengan tatapan panas oleh dua orang wanita yang tak lain adalah Kinan dan Amoera. Kinan sengaja mengajak Amoera makan malam bersama keluarganya karena ia ingin memamerkan calon mantu idamannya kepada Gala dan Yara.


Harapan Kinan tak sesuai realita. Ia malah dikejutkan oleh penampilan Yara yang begitu cantik, anggun dan tampak dewasa. Ia tak percaya jika Yara tumbuh sebagai gadis rupawan. Nyali Kinan menciut saat melihat tubuh proporsional milik Yara.


Sial! Aku tidak munafik, tapi bocah tengil itu lebih cantik daripada Amoera! Batin Kinan.


Gala masih memegang tangan Yara. Deheman Kinan membuat kedua tangan yang menyatu itu, kini terpisah. Gala menarik kursi untuk istrinya, dan itu sangat terlihat manis di mata orang-orang yang sedang duduk menghadap meja makan.


“Selamat datang di keluarga Rodderick,” sambut seorang pria yang sudah beruban dan tampak tua. Pria itu tak lain adalah Ayahanda Gala, Tuan Besar Zian De Vendant Rodderick.


Gala menatap Ayahnya dengan tatapan tajam. “Tumben kau pulang,” gumamnya pelan namun dengan nada yang sinis.


“Trima kasih,” menunduk kepala. Yara merasakan hawa dingin saat bergabung di ruang makan.


“Kita bertemu lagi, Yara.” Tersenyum kecil. Wanita yang menyapa Yara dengan ramah hanyalah Chiren.


Yara menunduk kepala sembari melemparkan senyum menatap Chiren.


“Oh jadi kau istri Gala?” tanya seorang pria yang duduk di samping Chiren. Ia adalah Leon Zack Rodderick, suami Chiren sekaligus juga adik kandung Gala.


Yara sekali lagi menunduk kepala dengan sopan, membalas ucapan Leon.


“Kau rupanya sudah berubah!” menatap sinis manik Yara.


Yara meremas jemarinya saat mendengar suara Kinan. Ia berusaha bersikap tenang. “Apa kabar, Mama?” tanya Yara melempar senyuman anggun.


Kinan terbelalak. Tak hanya Kinan, Amoera pun menganga tak percaya jika Yara menyebutnya dengan panggilan Mama.


“Mama? Oh maaf, aku lupa kalau kau adalah menantuku,” ucap Kinan sinis.


“Tidak mengapa. Nanti juga Mama akan terbiasa denganku.” Dengan tangan yang bergetar hebat, Yara memberanikan diri berbicara dengan Kinan. Gala pun yang melihat perilaku Yara tersenyum tipis.


Sial! Berani sekali dia berbicara seperti itu padaku! Batin Kinan.


“Hay Yara. Masih mengingatku?” tanya Amoera dengan senyuman kecut.


“Tentu saja. Mana mungkin aku lupa denganmu. Kau Tante Amoera ‘kan? Mantan tunangan suamiku? Senang melihatmu di sini.”


Degg!!


Amoera dikejutkan kembali dengan ucapan Yara. Pipi Amoera memerah, menahan malu. Bajingan! Lagi-lagi dia mempermalukanku!


“Yara, saya tidak menyangka kau akan berani seperti ini. Mengingat dulu, kau hanyalah anak yatim piatu yang di pungut Gala entah dari mana!” ketus Kinan.

__ADS_1


Gala menatap Yara. Ia kemudian memegang tangan Yara yang diletakkannya di atas paha. Rahang Gala telah mengerat, sehingga urat-urat kecil yang bersemayam dilehernya muncul dari balik kulit. Gala menatap Kinan dengan tajam. Tatapan itu diterima Kinan sehingga wanita tua itu langsung mengalihkan pandangannya.


Plakkk!


Semua orang melonjak kecuali Gala. Zian menepuk meja dengan sangat keras sehingga membuat orang-orang yang duduk di sana terdiam. Suasana tampak hening dan mencekam. Yara yang baru pertama kali makan bersama keluarga Rodderick pun ikut tercengang dengan perilaku Zian.


“Cukup bicaranya! Apa kalian akan terus mengobrol saat menghadap meja makan?! Di mana sopan santun kalian!”


Degg!


Ketika Zian telah berbicara, tidak ada yang berani menyela. Ya! Jelas saja karena ia adalah Tuan Besar Rodderick. Zian memiliki sikap tegas dan kejam. Ia mirip seperti Gala, namun bedanya Zian sama sekali tidak memiliki hati nurani terhadap siapapun, termasuk istri dan anak-anaknya. Sedangkan Gala, ia masih tergolong pria yang peduli dan perhatian pada anggota keluarganya.


Di mata publik, keluarga Rodderick adalah keluarga yang harmonis dan panutan. Namun kenyataannya, keluarga terpandang itu menyimpan banyak sekali rahasia yang sama sekali belum tersingkap. Jabatan, kekuasaan serta harta yang bergelimang membuat keluarga itu lupa dengan arti sebuah keluarga.


Hanya Gala-lah yang sadar akan hal itu. Ia berusaha memperbaiki keluarganya yang kacau, namun tampaknya itu sangat sulit jika kedua orangtuanya saja tidak mau mendukungnya. Kehidupan keluarga Rodderick sebenarnya tidak pantas disebut keluarga. Pasalnya, di dalam keluarga itu tidak ada kasih sayang dan rasa persaudaraan. Yang ada di sana hanyalah, bisnis, politik, kekuasaan dan harta.


Sangat disayangkan keluarga yang dikenal harmonis ternyata adalah keluarga yang porak poranda dan yang telah dibutakan oleh hal-hal duniawi. Hanya orang-orang mansion saja yang mengetahui sifat asli keluarga itu, serta beberapa orang yang dekat dengan mereka.


“Aku sudah selesai!” tutur Gala, beranjak dari tempat duduk. “Kau juga tampaknya sudah selesai. Ayo kembali ke kamar!” Tanpa mendengar ucapan Yara, ia langsung menarik tangan Yara dan berlalu dari tempat itu.


Yara menurut saja. Karena jujur saja jika gadis itu pun sangat tidak nyaman saat bersama dengan keluarga Gala. Tanpa berucap lagi, Yara langsung mengikuti Gala dari belakang. Sedangkan manik Kinan dan Amoera masih menatap tajam Yara yang telah berjalan meninggalkan meja makan.


“Lihatlah didikanmu pada anakmu! Dia bahkan tidak memiliki sopan santun!” celutuk Zian.


“Diam kau!” telak Zian membuat Kinan bungkam.


Begitulah kehidupan asli keluarga Rodderick. Zian dan Kinan hanyalah suami istri di atas kertas. Namun tingkah keduanya tidak mencerminkan layaknya pasangan suami istri. Mereka pun tidur terpisah selama berpuluh-puluh tahun. Seringkali Zian tidak pulang ke mansion karena ia memiliki wanita simpanan. Hal inilah yang dibenci Gala pada orangtuanya.


Makan malam itu berkesan buruk bagi Yara. Di dalam kamar, Yara tampak mengintip di perbatasan pintu kamar dan ruang kerja Gala. Ia melihat Gala yang sedang mengerjakan beberapa dokumen. Ingin rasanya ia menghampiri Gala dan bertanya mengenai keluarga Rodderick. Namun Yara mengurungkan niatnya.


“Sebaiknya jangan dulu,” gumam Yara.


“Kalau kau ingin masuk, ya masuk saja!”


Yara terperanjat. “Sepertinya Om Gala menyadari keberadaanku,” gumamnya. Ia pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruang kerja Gala.


Yara melirik seluruh tempat itu yang dipenuhi oleh rak-rak buku yang besar dan memiliki tinggi hampir lima meter. Ada juga tangga di sana untuk memudahkan jika Gala ingin mengambil buku. Ruangan itu sangat besar, bersih dan rapi.


“Ada apa?” tanya Gala masih dengan membolak-balik dokumen-dokumen di atas meja.


“Ehm, tidak ada,” menggeleng kepalanya.


“Jangan di ambil hati.”

__ADS_1


Yara mengerutkan kening. “Soal apa?”


“Aku tahu kau merasa janggal dengan perilaku keluargaku. Namun inilah faktanya. Kehidupan keluarga kami tak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana,” jelas Gala, tenang.


“Oh soal itu. Ehm, sebenarnya aku juga penasaran akan hal itu. Tapi aku tidak enak hati untuk menanyakannya pada Om.”


“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa akan hal ini. Ada banyak hal yang harus kau ketahui tentang keluarga Rodderick. Nanti saja aku jelaskan. Masih ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan.”


“Baiklah, Om.”


Yara berjalan meninggalkan Gala. Rasa kasihan hinggap dalam hatinya. Ia iba melihat Gala yang harus tegar menghadapi kerasnya kehidupannya. Yara sama sekali tak menyangka, lelaki dingin itu ternyata memikul beban yang sangat berat di pundaknya. Maka tak heran dengan sifat dingin Gala. Itu semua akibat dari kurangnya kasih sayang yang ia dapatkan dari kedua orangtuanya yang hanya memikirkan kekuasaan dan uang.


***


“Kau mau ke mana lagi?!”


“Bukan urusanmu!”


“Aku istrimu! Jadi itu hakku untuk tahu ke mana kau akan pergi!”


“Jika kau masih ingin menjadi bagian dari keluarga ini, maka diamlah dan jangan banyak bicara!”


Pertengkaran antara suami istri itu sangat sengit, mereka adalah Chiren dan Leon. Setiap hari mereka harus bertengkar dan terus bertengkar. Sudah menjadi hal tabu bagi orang-orang di mansion itu saat mendengar pertengkaran Leon dan Chiren. Namun tak satu pun dari mereka yang mencampuri urusan mereka. Kecuali Gala. Banyak kali Gala menghajar Leon karena selalu menyakiti Chiren.


Sebagai seorang istri, Chiren juga tak tega melihat Gala memukul Leon karenanya. Makanya Chiren selalu merahasiakan perlakuan Leon yang buruk terhadap dirinya. Dan malam itu, Chiren lagi-lagi diperlakukan kasar oleh Leon. Leon mendorong tubuh Chiren di atas ranjang sehingga wanita itu memekik kesakitan.


“Ahh, perutku!” jeritnya.


“Alasan saja kamu!”


“Aku benar-benar sakit, Leon. Apa kau tidak menghawatirkanku sedikitpun? Aku sedang mengandung anakmu!” ketus Chiren.


“Aku tahu! Tapi kau sudah tiga kali membunuh anakku!”


Degg!


“Aku tidak membunuh mereka. Hik … hik …” terisak. “Seharusnya kau sadar, Leon. Aku keguguran karena sikapmu yang membuatku stres!”


“Jadi kau menyalahkanku atas kecerobohanmu! Sudah cukup! Aku tidak mau bertengkar lagi denganmu. Aku muak dengan semua ini! Jangan menghalangiku. Aku mau keluar!” Leon keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras sehingga membuat Chiren melonjak.


To be continued ...


Masih dengan permintaan yang sama, jangan pernah bosan dengan cerita Author yaaa guys! Jika kalian suka, tinggalkan jejak cinta kalian dengan Like, Komen dan Vote. Makasih sebelumnya 🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2