
Seorang wanita yang tak lain adalah Chiren, segera membalikkan badannya menghadap tembok. Ia melihat Amoera membawa Gala ke ruangan bioskop keluarga. Ia sedikit curiga dengan sikap Amoera. Chiren berjalan mendekat ke arah pintu. Ia mencoba mendengar percakapan mereka, namun ruangan itu kedap suara.
"Yara! Aku harus temui Yara. Firasatku buruk."
Chiren melangkahkan kakinya menjauh dari pintu dan mencari sosok Yara. Perasaannya buruk saat melihat Amoera bersama Gala. Ia tahu jika wanita itu adalah wanita yang licik dan bersekongkol dengan Kinan untuk memisahkan Gala dengan Yara.
Sebagai seorang wanita yang sedang mempertahankan harga diri dan rumah tangga, ia sangat paham bagaimana perasaan seseorang saat dikhianati. Dan perempuan jelmaan ulat bulu seperti Amoera sangat diwaspadai.
Chiren menyelusuri setiap sudut mansion. Napasnya terengah karena kelelahan berjalan mengitari tempat seluas itu. Sejenak, Chiren beristirahat di taman samping mansion. Ia kemudian melihat Yara yang sedang bercakap dengan seorang di telepon.
"Yara!" teriak Chiren, terengah.
Mendengar seseorang memanggilnya, Yara langsung menatap ke arah suara. Ia segera mengakhiri panggilan dan mendekat ke tempat duduk yang Chiren tempati. Yara mengerutkan kening saat melihat wanita itu bernapas tidak teratur.
"Ya ... Ya--yara!"
"Ada apa Chiren?"
"K--kau ... harus temui su--sua .."
"Atur napasmu, Chiren. Tarik napas hembuskan," mempraktikkan.
Chiren mengikuti ucapan Yara.
"Ya begitu. Jangan tergesa-gesa bicaranya. Kau atur dulu napasmu."
"Sudah lebih baik," tutur Chiren masih sedikit terengah.
"Ada apa Chiren? Kau seperti baru saja selesai lari sepuluh kilometer. Ada apa denganmu?"
"Aku mencarimu ke mana-mana."
"Kenapa mencariku?"
"Yara, dengarkan aku. Suamimu pergi bersama Amoera."
"Iya aku tahu," memutar bola matanya malas.
"Apa kau tahu juga kalau Amoera mengajak Kak Gala ke ruangan sepi?"
"Maksud kamu?" menaikkan alis setengah.
"Aku melihat Amoera mengajak Kak Gala masuk ke ruangan bioskop. Di tempat itu sangat sepi dan hanya ada mereka berdua!"
Yara membesarkan maniknya. Ia mengepalkan jemarinya dan mendengus kesal.
"Cepatlah ke sana! Aku memiliki firasat buruk tentangnya. Kau tahu 'kan jika Amoera adalah wanita yang sangat mendambakan Kak Gala. Aku khawatir jangan sampai Kak Gala dijebak oleh wanita ular beludak itu!"
"Ayo kita ke sana! Awas saja kalau Tante Gatel itu berani melakukan sesuatu pada suamiku! Kelar hidupnya!"
Chiren tersenyum melihat jiwa semangat Yara yang berkobar-kobar. Ia menjadi iri karena dirinya tak bisa menjadi seperti Yara yang berani memberantas perusak hubungan orang. Kalau saja Leon tak memberi dirinya digoda oleh wanita lain, pasti rumah tangga mereka akan tenteram dan harmonis.
Mereka tiba di depan pintu ruangan. Yara mengatur napasnya dan mencoba bersikap tenang. Ia juga tidak boleh gegabah langsung melabrak begitu saja sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri perbuatan menjijikkan Amoera.
"Chiren, tunggulah di sini. Kalau aku berteriak, segeralah kau masuk ke dalam karena pastilah aku membutuhkamu," ucap Yara.
"Aku mengerti," mengangguk.
Yara menarik gagang pintu dengan perlahan. Cahaya di dalam sana begitu remang dan redup, persis dengan pencahayaan di ruangan teater pada umumnya. Yara menjelingkan pandangannya ke segala penjuru arah ruangan itu. Maniknya melebar saat mendapati Amoera sedang melakukan hal tak senonoh.
Tanduk hitam Yara telah nampak. Tubuhnya seperti di kelilingi perapian yang menyala-nyala. Pemandangan panas di depannya membuat aura gelap dewa kematian menghampiri gadis itu. Ia segera menyalakan rekaman video di ponselnya dan mulai merekam perilaku bejad Amoera.
__ADS_1
Yara mendekat dengan tubuh yang telah dilingkari kobaran api. Ia mengeratkan rahangnya sembari mencengkeram jemarinya. Tak butuh waktu yang lama, ia tiba di tempat kejadian perkara.
PLAKKK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Amoera. Ia melonjak hebat saat melihat seorang perempuan telah berdiri di samping Gala dengan membawa gawai sebagai alat perekam.
"Perempuan j*lang!! Murahan! P*lacur tak berakhlak!"
Degg!!
PLAKKK!
Amoera tersentak saat menerima tamparan kedua.
"Yara ... " lirihnya kaget bukan kepalang.
"Aku tak menyangka jika kau adalah wanita rendahan. Bahkan lebih rendah dari binatang! Kau tak pantas disebut manusia! Wanita berkelas tidak akan menjual dirinya pada suami orang!"
"Istriku ... " panggil Gala dengan suara pelan. Ia mulai kehilangan kesadaran.
"Aku tahu kau memasukkan obat perangsang berdosis tinggi di minuman Suamiku!"
Amoera masih menganga dengan tubuh telanjang.
"Biarkan rekaman video ini yang menjelaskan ke publik bagaimana sifat asli dirimu!"
Seketika tubuh Amoera melemas. Masih dengan mata yang tebuka lebar dan mulut yang menganga. Langkah Amoera dimundurkannya dua langkah ke belakang. Hampir saja ia terjatuh namun segera ia membenarkan topangan kakinya.
"Ya--yara! Apa yang kau lakukan dengan ponsel itu?" lirihnya, lemas.
"Perempuan gila! Benar-benar menjijikkan dan tak tahu malu! Jadi begini kelakuan seorang Amoera ratu kecantikan yang menjabat sebagai CEO Sugar Group!"
Deg!
"APA?! Seenaknya saja wanita gatal sepertimu memerintahku!"
Gala menyaksikan kelakuan barbar istrinya. Ia tersenyum tipis namun tiba-tiba kesadarannya mulai melemah.
"Chiren! Chiren ... kemarilah!" teriak Yara.
"Aku sudah di sini dari tadi," ketus Chiren.
"Chiren, tolong pegang ponselku, aku harus memberikan pelajaran padanya!"
"Baik," mengambil ponsel Yara.
"Suamiku! Bangun! Suamiku! Tolong buka matamu!" Yara menggoyang tubuh Gala namum tak ada respon dari pria itu. Yara kemudian mengalihkan pandangannya pada Amoera yang sedang memakai pakaian. Tatapan Yara begitu tajam dan sadis.
Brukkk!
Amoera terjatuh di lantai lantaran menerima dorongan dari Yara.
"Gadis sinting! Kenapa kau mendorongku!" ketus Amoera, naik pitam.
Yara tak menggubris. Ia menarik kasar rambut Amoera sehingga wanita ular itu memekik kesakitan. "Awww! Rambutku! Dasar gila!"
"Kau bilang aku gila?! Memang! Sekarang rasakan amukan brutal dari orang gila!"
"Ahhhhh! Aduhhhhh tolong lepaskan!" jerit Amoera.
"Tidak akan! Aku sudah lama ingin menghajarmu! Dan akhirnya sekarang aku bebas menghajarmu sesuka hatiku! Kau tidak memiliki pembelaan di sini! ini akibat dari kegatalanmu menggoda suami orang dengan cara tak senonoh seperti ini! Kau pikir bisa menggoda suamiku dengan tubuhmu yang menjijikkan ini?!"
__ADS_1
Kalimat pedas menyambar hati Amoera. Bahkan ucapan Yara lebih menusuk dan sakit daripada menerima jambakan dari Yara. Amoera berusaha melepaskan tangan Yara dari rambutnya, namun tenaga Yara begitu kuat.
"Woy! Lepaskan! Apa kau Samson?! Tenagamu kuat sekali!" ketus Amoera.
Chiren yang menyaksikan kegilaan Yara, tersenyum puas sambil merekam. "Bagus Yara! Kau hebat! Ternyata kau punya bakat berkelahi! Aku mendukungmu Yara! Hempaskan si ulat keket itu!"
Yara semakin semangat menghajar Amoera. Pembawaannya seperti anak SMA begal yang sedang berkelahi melawan emak-emak rese. Tiba-tiba Ia berteriak saat Amoera menggigit pundaknya.
"Ahhhh!"
"Sudah kubilang lepaskan!" tukas Amoera dengan emosi membara.
Cengkeraman tangan Yara terlepas dari rambut Amoera. Giliran Amoera yang beraksi menjambak rambut Yara dengan keras.
"Sialan! Kau pikir bisa melawanku! Dasar lemah!" geram Yara.
Bukkk!
Yara menendang tubuh Amoera sehingga wanita itu kembali terdorong ke belakang.
"Plakkk!"
Untuk ketiga kalinya Yara berhasil mendaratkan tamparan bebas di pipi Amoera.
"Bagus Yara! Aku merekamnya loh!" teriak Chiren penuh semangat.
"Istriku, hentikan!" tukas Gala telah sadar.
Yara dan Amoera menatap Gala. Dengan segera kedua wanita itu menghampiri Gala yang duduk di kursi sedang memegang kepalanya karena masih berdenyut.
"Ulat bulu, cicak kudisan! Jangan dekat-dekat dengan Suamiku!" bentak Yara seraya menyenggol tubuh Amoera sehingga terhempas.
Amoera menggeram kesal. Ia beralih menatap Chiren yang masih asik merekam mereka. "Berhenti merekam! Kalau tidak aku akan membanting ponsel itu!" gertaknya.
"Coba saja kalau berani!" ledek Chiren menjulurkan lidahnya.
"Amoera!" geram Gala.
Wanita itu melonjak. Ia menatap Gala dengan wajah pias.
"Kelakuanmu sangat-sangat memalukan! Wibawamu sebagai CEO Sugar, lenyap seketika di mataku! Aku sama sekali tidak menyangka kau akan bertingkah sejauh ini! Mulai sekarang aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Dan juga aku akan membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaanmu. Akan kutarik semua sahamku!"
Deg!
Amoera terbelalak. Jantungnya seketika memompa dengan kencang. "Ga--gala ... tolong jangan lakukan itu. Aku mohon maafkan aku. Hiks ... hiks ... " terisak.
"Tidak ada kata maaf bagimu! Masih untung aku tidak melenyapkanmu di sini!"
"Aku akan dibuang dari keluarga, jika kau membatalkan kerja sama dengan Sugar!"
"Itu urusanmu!" mengepalkan jemarinya.
"Aku akan dibunuh oleh Papa! Hiks ... hiks ..."
Gala memicingkan maniknya. Rahangnya mengerat. Urat-urat kecil mulai bermunculan di leher dan dahinya. Ingin sekali ia menghajar wanita itu namun ia mengurungkan niatnya. Hanya laki-laki pecundang yang memukul perempuan. Begitu pikir Gala.
"Gala aku mohon maafkan aku! Aku akan dibunuh oleh Papaku! Apa kau tidak kasihan padaku?" memelas.
"Aku tidak peduli!"
To be continued ...
__ADS_1
Jangan bosan-bosan untuk membaca cerita Author receh ini ya guysss! Dan berikan dukungan kalian supaya tetap semangat update. Makasih semua 🤗🥰