
Yara terbangun saat matahari mulai nampak memancarkan cahaya di balik jendela yang tertutup tirai berwarna ungu. Matanya tiba-tiba terbuka lebar saat wajah Gala kembali melintas di pikirannya. Maniknya ke sana kemari mencari sosok pria yang adalah suaminya.
"Ke mana dia?" gumamnya beranjak dari ranjang.
Tok tok tok ...
"Masuk."
Wanita tua berusia tujuh puluh lima tahun muncul dari balik pintu kamar Yara. "Oma kira kau belum bangun."
"Baru saja," masih memandangi keseluruhan ruangan itu, mencari keberadaan sosok Gala.
"Mencari suamimu?" tanya Amber sembari duduk di pinggir ranjang.
"Apa Om Gala sudah pergi?"
"Sekitar lima belas menit lalu."
Yara menghembuskan napasnya lega. "Untunglah."
"Apa kau menikmati malam pertamamu?" melemparkan senyum sembari menggoda cucunya.
Reflek, Yara membesarkan maniknya, menggeleng kepala dengan cepat dan melambaikan kedua tangannya. "Tidakkk!"
Amber terkekeh. Kemudian wanita tua itu menatap pakaian tidur Yara dan kembali memandangi gaun pengantin bersama pakaian dalam Yara yang porak poranda di lantai.
"O--oma salah paham! Aku ... "
"Sudah, tak apa-apa. Memang begitu kalau pengantin baru, sukanya malu-malu. Tapi Oma paham kok. Jadi jangan malu," tersenyum geli.
Yara mendengus kesal. Ia mengacak rambutnya dan membiarkan Amber menertawakan penampilannya. Bisa gila aku lama-lama!.
"Bersiaplah. Hari ini adalah hari penting bagimu. Oma akan mengadakan rapat bersama seluruh pemegang saham dan karyawan Lincoln Group."
"Lalu?" mengedikkan bahu.
"Oma akan mengumumkan penerus baru Lincoln Group. Oma sudah semakin tua untuk mengurus perusahaan itu. Lagi pula, Ayahmu mewarisi seluruh harta kekayaannya padamu termasuk perusahaan."
"Tapi Oma, aku 'kan belum siap. Kuliah aja belom! Rencanya sih aku mau balik ke Inggris. Mau kuliah di sana. Tapi nggak mau lagi hidup di bawa penjajahan keluarga Rodderick! Seperti keluarga kita kurang mampu saja!" memutar bola matanya, malas.
"Yara, dengarkan Oma. Sekarang bukan hanya kamu yang berhak atas dirimu. Kau sudah memiliki suami, jadi dia juga berhak atas dirimu. Oma yakin kalau Gala tidak akan membiarkan istrinya pergi."
"Ck! Sangat-sangat tidak adil!" berdecak kesal.
"Sudah, nikmati saja. Pacaran setelah menikah itu enak loh. Ada greget-gregetnya, ada romantis-romantisnya ada ... "
__ADS_1
"Hentikan Oma!" ketus Yara sehingga membuat kenangan yang mucul di benak Amber buyar dengan seketika. "Membayangkannya saja sudah membuatku hampir muntah," menggeliang geli.
"Oma 'kan berkata jujur apa adanya. Berdasarkan pengalaman Oma saat dijodohkan dengan Opamu dulu," memainkan kedua alisnya naik turun.
"Ishhh, kisah cinta Oma sangatlah berbeda denganku. Aku tidak akan pernah mencintai Om Gala. Pegang kata-kataku."
Amber kembali terkekeh. "Kau dulu mirip Oma. Oma sampai bersumpah di depan keluarga Opamu jika Oma tidak sudi untuk mencintai pria itu. Tapi, takdir berkata lain," tersenyum.
"Dasar Oma bucin!" ledek Yara.
"Iya dong. Walau Opamu telah tiada tapi sampai saat ini, detik ini, Oma masih sangat mencintai dan mengaguminya."
"Aishhh mulai lagi. Bucin sampai mati nih kayaknya! Tunggulah Oma, aku akan mencarikanmu jodoh. Giliran aku yang akan menjodohkanmu, haha!" tergelak.
"Tidak akan! Oma selalu setia dan akan tetap setia sama Opamu!" celutuk Amber.
Yara mendekat dan berbisik di telinga Amber. "Oma, bagaimana dengan Kakek Usman. Ituloh yang selalu mampir kemari, numpang minum kopi," mengedipkan kedua matanya, menggoda Amber.
Amber terperanjat. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak dibuat Yara. "Ya dewa, tolong jamah cucuku dari roh setan!"
Yara kembali tergelak sampai air matanya menetes. Kini Yara sudah tahu bagaimana cara mengendalikan Oma Amber. Sepulangnya dari Inggris, ia sering melihat Kakek Usman datang di sore hari menemui omanya. Ia berhasil membuat omanya kena serangan jantung. Tentu saja Amber terkejut, ia sama sekali tidak menyukai pria tua bernama Usman yang selalu numpang minum kopi dengannya di taman belakang.
"Hentikan. Becandamu tidak lucu ahh!" Amber pun menyerah. Ia menarik kakinya, berjalan meninggalkan Yara yang masih sibuk menertawakannya.
***
Para karyawan beranjak dari duduk mereka sembari menundukkan kepala saat direktur utama dan para pemegang saham memasuki ruangan rapat yang teramat luas. Yara berjalan mengikuti jejak Oma Amber dan beberapa pria wanita pemegang saham dengan langkah yang begitu cepat.
"Silahkan duduk," ucap Amber.
Semua yang berada di ruangan itu pun duduk tenang dan kembali mendengarkan ucapan direktur utama.
"Kalian sudah tahu 'kan kalau hari ini merupakan hari peralihan jabatan direktur utama kepada direktur yang baru?"
Semua mengangguk.
"Baik. Saat ini saya akan memperkenalkan seseorang yang akan menggantikan posisi saya sebagai direktur utama perusahaan Lincoln Group."
Yara berdiri saat Amber memberinya kode.
"Halo. Saya Yaraline Lincoln, biasa di sapa Yara. Senang berkenalan dengan kalian," menunduk kepala dan kembali duduk.
"Yara adalah cucu satu-satunya saya dan dia adalah pewaris tunggal keluarga Lincoln. Usianya memang masih sangat muda, namun dia memiliki keterampilan yang cakap dalam bidang bisnis. Keluarga Rodderick menyekolahkannya di luar negeri. Ohya jika ada dari antara kalian yang bertanya-tanya kenapa saya baru mempublis cucu saya dan kenapa Yara di sekolahkan oleh keluarga Rodderick, saya akan menjawabnya," menatap lekat manik Yara. "Sejak kematian anak-anak saya, mereka telah berpesan untuk menikahkan Yara dengan teman dekat mereka. Saat itu Yara masih delapan tahun. Tuan Gala Zayn Rodderick dari Blackfire Company menyetujui permintaan mereka dengan syarat mulai saat itu Yara menjadi tanggung jawabnya. Dan setelah sepuluh tahun kemudian saat Yara berusia delapan belas tahun, Tuan Gala kembali menepati janjinya dengan menikahi Yara, cucu saya."
Sementara Amber menceritakan alasan mengapa cucunya menikah muda, seorang pria bersetelan hitam dengan kacamata yang senada dengan pakaiannya tiba-tiba muncul di ruangan rapat itu. Semua orang terkejut bukan kepalang. Semua orang berdiri dan memberi hormat. Namun tidak untuk Yara.
__ADS_1
"Saya baru selesai dengan urusan saya, makanya saya terlambat," ucap pria itu dengan suara berat miliknya.
"Tidak apa-apa Tuan Gala. Selamat datang dan silahkan bergabung," ucap Amber.
Gala menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis yang tak lain adalah istrinya. Raut wajah Yara tampak kesal, ia bahkan tak melirik Gala sama sekali dan itu membuat Gala mengangkat kening sebelahnya.
"Yara, mana sopan santunmu," bisik Amber.
"Apaan sih Oma," berdecak kesal.
"Yara! Bersikaplah profesional. Sekarang kau adalah pemimpin perusahaan ini!"
Yara berdiri dengan terpaksa sembar memutar bola matanya malas. Ia tak menatap wajah Gala namun kepalanya tertunduk seolah memberi hormat.
Gala menghembuskan napasnya kasar. "Silahkan duduk semua," tuturnya.
"Saat ini saya memiliki informasi penting untuk kalian semua, bahwa Lincoln Group akan berada di bawah naungan Blackfire Company. Kalian sudah tahu 'kan alasannya apa. Lincoln Group akan berada di bawah kekuasaan perusahaan raksasa, Blackfire Company."
Semua orang yang medengar ucapan Amber melonjak. Mereka tampak senang jika perusahaan mereka ada dibawah kendali Blackfire Company. Perusahaan terbesar, ternama di dunia. Sudah banyak sekali perusahaan terkenal lainnya yang menjadi bagian dari Blackfire Company.
Gala yang merupakan presiden Blackfire Company, berdiri dari duduknya dan menunduk. "Mohon kerja sama yang baik dari kalian," ucapnya dingin. Sorot matanya pun begitu tajam melirik seluruh karyawannya sehingga membuat orang-orang itu merasa terintimidasi.
Gala pun memberi sambutan singkat padat dan jelas sehingga di sambut tepuk tangan yang meriah oleh karyawan Lincoln Group. Tak hanya Gala, Yara pun sebagai direktur utama Lincoln Group menyampaikan sepatah dua kata untuk bawahannya.
Tak sampai satu jam rapat berlangsung, Amber pun membubarkan semua orang yang ada di ruangan rapat.
Yara menatap tajam manik Gala, kemudian ia berlalu meninggalkan Gala dan Amber yang tampak berbincang.
"Cih, najis bisa satu instansi dengan om om!" gerutu Yara sembari berjalan menuju pintu.
"Nona Yara?"
Yara melirik seseorang yang memanggil namanya. "Siapa?" lirihnya menatap seorang pria yang tak lain adalah asisten pribadi Gala.
"Selesai rapat, Anda di suruh menghadap Tuan Gala di kantornya," tutur Shanks.
"Maaf, aku sangat sibuk!" tolak Yara.
"Tapi Nona, ini sangat penting. Apalagi Nona Muda sudah menjadi pemimpin perusahaan ini. Ada beberapa hal yang harus Nona ketahui saat bekerja sama dengan perusahaan raksasa Blackfire Company."
"Bodo!" melangkahkan kakinya dan berlalu meninggalkan Shanks.
"Tunggu! Kau jangan seenaknya pergi begitu saja, bocah!"
Yara tiba-tiba berhenti saat mendengar suara yang tak asing itu. Ia menyentak kaki dengan kasar sembari mengepalkan jemarinya. Om Gala sialan!
__ADS_1
To be continued ...
Tinggalkan jejak kalian dengan cara Like, Komen dan Vote yaa. Author bukan apa-apa tanpa dukungan kalian. Sarangheee 😘