Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 45 : Godaan Panas


__ADS_3

Yara menatap wanita-wanita penggila harta itu. Tanpa berpamitan ia langsung saja meninggalkan mereka yang tengah sibuk mengurus kalung berlian itu. Bagai orang yang baru pertama kali melihat berlian, begitulah perilaku orang-orang itu, tampak udik dan norak.


Padahal mereka merupakan wanita-wanita berkelas. Perhiasan mereka sangat banyak dan tentunya memiliki harga di atas ratusan juta. Maklum saja, meski mereka bergelimang harta, namun kalung berlian seharga tiga puluh miliar itu merupakan edisi terbatas yang hanya ada dua di dunia.


Kinan beruntung karena ia memiliki satu dari antara dua model yang di edarkan di dunia. Apalagi yang satunya lagi milik Ratu Elisabeth. Wanita mana yang tak akan bangga jika dirinya memiliki benda yang sama dengan sang bangsawan.


Yara mengasingkan diri di ruangan sebelah. Di sana tidak terlalu ramai. Hanya ada Zian dan beberapa pria paruh baya yang sedang membicarakan sesuatu. Saat Yara hendak berjalan melewati para lelaki tua itu, ia tak sengaja mendengar perbincangan mereka.


Ia pun pura-pura mengambil anggur di meja dan sengaja berlama-lama di sana. Zian menatap Yara sekilas, namun ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah tiga pria di hadapannya. Zian melanjutkan kembali ucapannya.


"Malam ini aku dan Anya akan berangkat ke Kanada. Kita akan berlibur di sana selama beberapa hari," ucap Zian.


"Sekalian saja kita adakan syuting di sana. Aku sudah memberitahukan hal ini pada Anya," tutur seorang pria yang merupakan produser.


"Kau berikan saja perannya pada gadis itu. Lagi pula dia sudah kembali menurut padaku. Waktu lalu sempat ada percekcokan antara aku dan dia. Tapi sekarang sudah baikan," ujar Zian.


"Baik, kalau begitu. Aku dan sutradara akan pergi pukul sepuluh malam bersama tim. Tuan Besar dan Anya lebih dulu saja. Nanti kita bertemu di Kanada."


Zian mengangguk. Ia menenggak anggurnya sampai habis.


Yara mengerutkan keningnya. "Anya? Siapa dia? Kenapa Papa akan berlibur dengannya? Dan tadi ... Papa bilang jika ia sempat berselisih dengan gadis bernama Anya."


Rasa penasaran Yara terhadap gadis bernama Anya sudah membumbung. Pasalnya, ia mengingat kalau Gala pernah mengatakan jika Zian memiliki simpanan yang seumuran dengannya dan dua lagi tiga tahun lebih muda dari Gala.


"Tunggu dulu! Aku melewatkan sesuatu!" gumam Yara. Serpihan bayangan beberapa waktu lalu terbesit dalam benaknya. Saat ia meminjam kendaraan Zian dan kemudian seorang wanita yang pernah bertubrukan dengannya di kantor, tiba-tiba menyalib mobil Zian yang dikendarainya.


Seketika otak Yara menjadi kacau. Ia berusaha menenangkan diri dan mengaitkan semua kejadian waktu lalu dengan ucapan Zian beberapa saat lalu. Perlahan semuanya mulai terhubung. Namun yang menjadi pertanyaan di benak Yara, kenapa gadis yang bernama Anya itu datang ke kantornya.


"Siapa yang dia temui di kantorku?"


Yara bergegas meninggalkan ruangan itu dan menuju taman samping mansion. Saat ia hendak mendudukkan tubuhnya di kursi, tiba-tiba matanya tak sengaja melirik sebuah majalah yang terletak di meja. Tampilan depan majalah itu adalah gambar yang tak asing bagi Yara.


"Anya Crystal?! Seorang model sekaligus selebriti yang sedang naik daun!" ketusnya, membaca cover majalah.


Manik Yara melebar. Satu demi satu serpihan puzzle mulai terhubung. Sedikit lagi teka-teki itu akan terpecahkan. Tidak di sangka-sangka jika Yara akan terhubung dengan masalah keluarga Rodderick. Mungkin saja itu merupakan tanda baginya untuk menjadi penengah.


"Sekarang aku harus cari tahu maksud kedatangan gadis itu di kantorku! Hmm, tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin juga 'kan aku bertanya langsung padanya? Kenal saja tidak! Apalagi dekat?! Di sangkanya aku sok kenal sok dekat sama dia!"


Yara memutar otaknya mencari solusi. Ia sebenarnya merasa tidak enak untuk ikut campur dengan masalah keluarga Rodderick. Namun ia juga berpikir jika dirinya sudah menjadi bagian keluarga Rodderick. Apalagi ia sudah mencintai Gala. Hatinya terasa diiris saat melihat Gala yang menyimpan begitu banyak luka.


"Jessica! Aku harus tanya Jessica! Siapa tahu saja dia tahu mengenai Anya."


***

__ADS_1


"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Gala.


"Hmm, aku rasa kita lebih aman berbincang di sini," ucap Amoera.


Wanita itu membawa Gala di sebuah ruangan besar yang tak lain adalah ruangan tempat menonton alias bioskop. Tempat itu sangat sunyi dan hanya ada mereka berdua.


"Aku tak ingin berbasa-basi. Jadi langsung saja ke intinya, mengenai produk waktu lalu."


"Baik. Tapi sebelumnya mari kita bersulang," memberikan gelas berisi anggur.


Gala menerima gelas itu dan bersulang dengan Amoera. Seringai licik muncul di wajah gadis itu. Sepertinya ia merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Gala. Ia menunggu sampai Gala meminum anggur itu.


"Bagaimana dengan produk perawatan wajah itu? Apa kau sudah memperbaikinya?"


"Sudah. Rencananya tadi aku akan membawa proposalnya padamu untuk kau tinjau. Namun aku meninggalkannya di mobil."


"Jelaskan saja intinya," menggoyang gelas berisi anggur dan mencium aromanya.


"Jadi begini, aku sudah mengubah targetnya dan juga telah mengeluarkan produk yang sama untuk para pria. Pokoknya semua yang diusulkan Nona Yara telah aku pertimbangkan. Dan apa yang dia ucapkan memang ada benarnya. Jadi aku memutuskan mengikuti semua usulnya."


Gala menarik sudut bibirnya saat mendengar Amoera menyetujui ide istrinya. "Ya! Memang seharusnya kau mengikuti sarannya. Maka itu akan menguntungkan Sugar dan juga Blackfire."


Amoera tersenyum kecut. Ia hanyalah bersandiwara di depan Gala agar pria itu mau berbicara dengannya lebih lama. Dalam hati Amoera, ia merutuki Yara. "Aku sangat berterima kasih pada Nona Yara, tapi juga berterima kasih padamu karena memiliki istri yang cerdas."


Amoera semakin panas dan serasa ingin meledak. Ia berusaha mendinginkan kepalanya supaya Gala tidak curiga dengan rencana liciknya. Ia tak ingin Gala mengetahui jika ia sangat benci pada Yara.


"Ayo bersulang," tutur Amoera mengangkat gelasnya.


Kedua orang itu bersulang. Amoera sangat menantikan Gala untuk menyicip anggur itu. Sepertinya ia telah menaruh sesuatu di dalam sana. Gala mencium aroma anggur itu dan mulai meneguknya. Seringai licik terlukis di wajah Amoera.


Bagus! Terget masuk jebakan! Ayo habiskan, Gala! batin Amoera.


"Rasanya aneh," tutur Gala.


"Ohya?" meneguk anggurnya. "Sama sekali tidak. Mungkin hanya perasaanmu saja."


Gala memperhatikan gelas itu. Tiba-tiba pandangannya mulai berbayang dan buram. "Aku merasa aneh dengan kepalaku!" Gala menjatuhkan gelas itu dan meremas kepalanya. "Badanku terasa panas!"


"Gala! Ada apa?" teriak Amoera pura-pura panik. Ia mendekat ke arah Gala dan dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya.


Tubuh Gala terasa terbakar. Denyut jantungnya memompa dengan kencang. Ia melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemeja di bagian atas. Amoera mulai mengusap pundak Gala dengan lembut dan menggoyangkan dadanya di depan wajah Gala.


Melihat tubuh montok Amoera, Gala merasa tergiur dan tak dapat mengontrol hasratnya. Bagai orang yang tidak minum selama berhari-hari, begitulah yang dirasakan Gala. Tenggorokannya terasa sangat gersang. Ia membutuhkan sesuatu sebagai pemuas dahaganya.

__ADS_1


"Gala ... " lirih Amoera. Ia tiba-tiba duduk di pangkuan Gala. Kakinya di lebarkan agar paha mulusnya nampak.


Gala mendorong tubuh Amoera. "Apa yang kau lakukan!"


Wanita itu segera melepas pakaiannya sehingga hanya tersisa bra dan ****** ***** berwarna merah muda. Gala terperanjat melihat tubuh Amoera. ingin rasanya ia segera menerkam tubuh seksi itu, namun ia masih memiliki akal sehat.


"Gala ... lakukan sesukamu dengan tubuhku!"


Gala menelan liurnya yang hampir meleleh. Segera ia memalingkan wajahnya menghadap ke tembok agar pikiran mesumnya teralihkan. "Tidak! Aku memiki istri!"


"Tidak apa-apa, Gala. Aku bisa memuaskanmu lebih dari istrimu," tersenyum lebar.


Obat perangsang mulai bereaksi. Gala merasakan jika tubuhnya tak bisa menolak tawaran yang menggiurkan itu. Namun wajah Yara selalu terlintas di benaknya.


Amoera kembali mendekat, ia kemudian melepas semua pakaiannya. Kini tubuhnya telah bertelanjang bulat. Ia mulai menyentuh tangan Gala dan mengarahkan tangan Gala di tempurung kenyal dan super besar miliknya. Gala masih memalingkan wajahnya dengan mata yang terpejam. Lelaki itu menahan nafsunya sekuat tenaga.


"Shhhh, mmmm," desah Amoera.


PLAKKK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Amoera. Ia melonjak hebat saat melihat seorang perempuan telah berdiri di samping Gala dengan membawa gawai sebagai alat perekam.


"Perempuan j*lang!! Murahan! P*lacur tak berakhlak!"


Degg!!


PLAKKK!


Amoera tersentak saat menerima tamparan kedua.


"Yara ... " lirihnya kaget bukan kepalang.


"Aku tak menyangka jika kau adalah wanita rendahan. Bahkan lebih rendah dari binatang! Kau tak pantas disebut manusia! Wanita berkelas tidak akan menjual dirinya pada suami orang!"


"Istriku ... " panggil Gala dengan suara pelan. Ia mulai kehilangan kesadaran.


"Aku tahu kau memasukkan obat perangsang berdosis tinggi di minuman Suamiku!"


Amoera masih menganga dengan tubuh telanjang.


"Biarkan rekaman video ini yang menjelaskan ke publik bagaimana sifat asli dirimu!"


To be continued ...

__ADS_1


Berikan cinta kalian untuk Author receh ini 🥰🤗


__ADS_2