
Langit malam hari begitu tenang dan redup. Cahaya remang yang dipancarkan benda penerang dari atas membuat setiap insan yang menyorotnya akan merasa terpukau dengan keindahan semesta. Tak terkecuali seorang pria yang sedang duduk di atas balkon kamarnya.
"Ayah ... " panggil seorang anak kecil sembari mengucek matanya yang tampak sayu.
"Abelle, kenapa sudah bangun? Ini masih malam loh," tutur Andro, berjalan menghampiri putrinya.
"Bunda belum datang ya?" tanya Abelle sedikit memelas.
"Belum, Sayang. Mungkin sebentar lagi. Bundamu sangat sibuk, jadi tunggulah sedikit lagi."
"Baik Ayah," menuju ranjang.
Andro menatap belakang punggung putrinya. Ia kembali teringat ucapan Abelle yang membuat hatinya terluka. "Kalau saja penyakit boleh dipindahkan, maka aku akan menanggungnya untuk anakku."
Pintu apartemennya tiba-tiba berbunyi. Ia segera menuju pintu dan melihat siapa yang datang mengunjunginya malam-malam.
"Maaf karena langsung menerobos masuk. Aku tidak menyangka jika sandi apartemenmu belum diganti," tutur seorang wanita yang tak lain adalah Abigail.
Andro terdiam sejenak. Sandi pintu apartemennya merupakan tanggal, bulan dan tahun pernikahannya dengan Abigail dan itu memang belum diganti. Pria itu tampak malu namun ia mencoba menetralkan rautnya.
"Ehm ... aku ... sebenarnya aku ingin menggantinya tapi selalu lupa karena terlalu sibuk dengan pekerjaan," ucap Andro sedikit linglung.
"Begitu rupanya," menggaruk tengkuk lehern. "Apa Abelle sudah tidur?"
"Sudah. Tapi beberapa menit lalu dia terbangun dan menanyakan dirimu."
"Aku akan membawanya pulang," berjalan menuju kamar.
Tiba-tiba Andro menahan lengannya. Abigail menatap Andro dengan bingung. Pria itu pun tersadar dan melepaskan pegangan tangannya. "Maaf."
"Ada apa?" tanya Abigail.
"Bolehkah Abelle tidur di sini bersamaku? Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya dan masih ingin bersamanya."
Abigail terdiam.
"Tapi kalau memang tidak bisa, juga tidak apa-apa."
"Bukan begitu. Tapi Abelle tidak bisa tidur nyenyak tanpa melihatku di sampingnya. Sejak dia di kemo, dia menjadi sangat manja dan suka merengek padaku. Jadi Abelle tidak bisa tidur tenang sebelum melihatku pulang," jelas Abigail tak enak hati dengan Andro.
"Kalau begitu kau tidur di sini saja. Kau tidur bersama Abelle, nanti aku tidur di kamar lain."
Abigail berpikir sejenak.
"Tapi jika masih tidak bisa juga, tak apa-apa. Aku tidak akan memaksa."
"Baik. Aku akan menginap di sini."
Andro terkejut. Ia sempat berpikir jika Abigail pasti tidak akan mau. Tapi ternyata wanita itu menyetujui permintaannya. "Benarkah? Apa tidak apa dengan pacarmu?" tanyanya kaku.
__ADS_1
"Hmm ... Selagi dia tidak tahu, dia tidak akan marah. Soal dia biar aku yang urus. Kau tenang saja. Ohya, kau sendiri bagaimana? Aku tidak ingin menjadi pengganggu antara kau dan pacarmu."
"Aku juga sama denganmu. Selagi Anya tidak tahu, aku rasa akan aman-aman saja. Tapi pasti Anya akan mengerti jika aku menjelaskan padanya."
"Oh begitu. Hati-hatilah, umur delapan belas tahun masih labil." Abigail melangkahkan kakinya dan berlalu meninggalkan Andro.
Wanita itu menuju kamar tempat Abelle berbaring. Andro hanya bisa berdiri di depan pintu seraya menatap punggung Abigail yang telah menghilang dari balik pintu.
Suara doorbell kembali terdengar.
"Siapa lagi ini?" gumamnya melihat monitor kecil dekat pintu. "Anya!" ketusnya dengan manik melebar.
Andro bingung. Pikirannya mulai bergejolak. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi gaduh akibat kedatangan Anya. Andro juga tidak ingin Anya salah paham hanya karena ia menyuruh mantan istrinya menginap di apartemennya.
Doorbell terus berbunyi. Andro pun membuka pintu apartemennya.
"Mas Andro ... berapa sandi apartemenmu? Supaya aku tidak perlu menunggu di luar!" rengek Anya, langsung menyambar tubuh Andro. "Mas ... aku kesal!"
Andro memasang raut pias. Ia mengenduskan hidungnya dan mencium bau alkohol yang sangat menyengat di tubuh Anya. "Kau minum lagi? Bukankah sudah kuingatkan untuk jangan minum minuman keras!" bentak Andro.
Pipi Anya memerah. Matanya begitu sayu. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Andro dengan lekat. "Mas ... Aku tidak mendapatkan perannya! Padahal aku merasa jika aku pantas untuk memainkan peran itu."
Andro merangkul Anya dan mendudukkan wanita itu di atas sofa. "Jadi karena itu kau mabuk?"
Anya mengangguk. "Aku kesal pokoknya! Aku juga sangat marah pada lelaki tua itu! Katanya dia ingin membantuku untuk mendapatkan peran itu. Tapi apa?! Pria tua sialan itu bilang jika aku sudah tidak menarik seperti dulu lagi! Padahal aku sudah menuruti segala keinginannya!"
"Pria tua mana yang kau maksud?"
"Siapa?" mengernyitkan dahi.
"Namanya ... ehm tunggu ... kepalaku pusing," memegang kepalanya yang telah berdenyut. "Tuan Besar ... Tuan Z ..."
"Bicara yang jelas, Nya. Hey ... " menggoncang pelan tubuh Anya yang tampak sudah hilang kesadaran.
Anya pun tertidur di dada bidang Andro. Sedang, sepasang mata tampak mengintip dari pintu kamar. Abigail mendengar percakapan Andro dan Anya ia juga melihat Anya yang mabuk sedang bersandar di dada mantan suaminya. Hatinya tiba-tiba merasakan getaran hawa panas. "Siapa yang peduli!" menutup pintu dengan kasar.
***
Sepasang suami istri saling beradu tatapan. Masing-masing dari dalam hati mereka menyimpan sebuah perasaan yang tak bisa dikatakan. Entah kenapa bibir keduanya masih bungkam soal asmara. Siapa lagi kalau bukan Gala dan Yara.
Setelah melakukan adegan panas, keduanya hanya bisa saling menatap satu sama lain. Ada rasa canggung namun mereka berusaha untuk terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Yara segera turun dari pangkuan Gala dan segera menjauh dari tubuh pria itu.
"Maaf," tutur Gala tiba-tiba.
"Tidak tidak. Om tidak salah," ketus Yara memalingkan wajahnya.
"Aku ... tidak bisa mengontrol diriku."
"Aku juga, Om. Jadi bukan sepenuhnya salah Om. Aku tahu kok pasti Om Gala tidak sengaja."
__ADS_1
"Jangan lagi memanggil aku dengan sebutan Om. Aku suamimu," gertak Gala.
"Lalu aku harus memanggil, Om apa?"
"Terserah kau saja."
Yara berpikir sejenak. "Entahlah. Aku tidak tahu harus memanggil Om dengan sebutan apa."
"Suamiku, sayang, honey, darling atau Gala saja."
Degg!!
Yara terkejut hebat. "Panggilan macam apa itu?" gumamnya dengan pipi yang mengeluarkan rona merah.
"Ahhh lupakan!" mengacak rambutnya dan segera beranjak dari sofa. Gala berjalan menuju ruang kerjanya dengan keadaan hati yang tidak baik-baik saja. Ia terlihat kesal dengan dirinya.
"Suamiku!" ketus Yara.
Gala melonjak. Ia menghentikan langkahnya. Jantungnya kembali berdebar kencang.
"Aku rasa panggilan itu terlalu lebay deh! Apalagi
sa--sayang, honey dan sejenisnya," bergidik ngeri. "Ya sudah aku panggil Gala saja," gumamnya.
Gala yang tadinya merasa senang kini kembali emosi. Wanita itu memang belum paham dengan maksud Gala. Sebenarnya Gala telah memberi tahu perasaannya pada Yara secara tidak langsung, tapi Yara tidak peka sama sekali. Wajar saja karena Yara masih bocah kecil yang baru mengenal cinta.
Sedangkan Gala, si pria tua yang sudah lumutan akibat menunggu Yara sedari kecil. Gala juga sebenarnya belum tahu bagaimana menyampaikan perasaannya pada Yara. Maklum saja karena Gala pernah vakum dengan hal asmara. Ia juga baru pertama kali merasakan yang namanya pacaran setelah menikah.
Keduanya masih belum tahu mengontrol perasaan mereka. Yang satunya masih bocah yang baru beranjak dewasa, sedangkan yang satunya lagi, lelaki tua yang belum pernah berpacaran sama sekali. Keduanya memiliki keanehan masing-masing.
"Gala ... " panggil Yara.
Gala tak menggubris.
"Aku memanggilmu!" ketus Yara.
Masih tak mempedulikan Yara.
"Suamiku!"
Deg!
Gala reflek berhenti.
"Yara ... " mengepal jemarinya dengan rahang yang mengerat.
"Ada apa?"
"Jangan mempermainkanku!" ketus Gala.
__ADS_1
To be continued ...
Dukung Author lewat vote, like dan komen. Berikan juga hadiah jika kalian memiliki rezeki lebih. Makasih semua 🥰🤗