
Sedari tadi Andro merasa gelisa dan tak tenang. Berkali-kali ia menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya. Hal yang dilakukan Andro, menarik perhatian Abigail yang sedang duduk berhadapan dengannya.
“Jika ingin pergi maka pergilah. Aku dan Abelle tidak apa-apa makan berdua,” tutur Abigail.
Andro menatap Abelle yang sedang melahap makanannya. Ia tak tega meninggalkan gadis kecil itu yang sedang bernafsu makan.
“Ayah akan pergi?” tanya Abelle.
“Tidak Sayang. Nanti saja setelah Abelle selesai makan.”
“Tapi Abelle sudah hampir selesai.”
Andro dan Abigail saling menatap. Keduanya paham jika Abelle tidak ingin Andro pergi.
“Abelle, Ayahmu ada urusan penting. Nanti kalau sudah selesai pasti Ayah Abelle kembali menemui Abelle,” jelas Abigail.
“Tapi, Ayah pasti tidak akan kembali.” Abelle tampak murung.
“Ayah janji pasti akan kembali menemui Abelle, meski Abelle sudah bobo. Percaya sama Ayah,” tersenyum menatap Abelle.
“Baik Ayah. Kau sudah berjanji, jadi tidak boleh mengingkari janjimu,” menyodorkan kelingkingnya dan dibalas Andro dengan menyilangkan kelingkingnya dengan Abelle.
“Iya, Sayang. Ayah hanya akan memastikan sesuatu. Jadi tunggulah Ayah,” mengecup dahi dan pipi Abelle. Andro segera beranjak dari tempat duduknya. Ia memandangi Abigail yang tampak menatapnya. “Aku akan pergi.”
“Baik. Hati-hati di jalan,” ujar Abigail.
Andro mengangguk. Meski mereka sudah tidak memiliki ikatan suami istri lagi, namun keduanya terlihat akur. Selagi masih ada Abelle, mereka tetap akan terhubung satu sama lain. Apalagi Abelle masih terlalu kecil dan gadis itu juga sedang menderita penyakit kanker otak stadium akhir.
“Halo, kau di mana?”
“Mas, kita bertemu saja di rumah kopi tempat biasa kita ketemu.”
“Apa kau tidak jadi berangkat?”
“Jadi, Mas. Setelah bertemu denganmu. Aku merasa tidak nyaman jika bertemu di bandara.”
“Baiklah. Aku segera menuju rumah kopi.”
“Iya, Mas. Hati-hati ya. Aku sudah dekat lokasi.”
“Baik.”
Tut tut tut …
Perasaan Andro semakin tak enak. Saat ia membuntuti kekasihnya dari rumah sampai tiba di apartemen elit, firasat buruknya tentang Anya semakin membumbung. Dadanya terasa sangat sesak. Ia berharap jika pemikiran buruknya tentang Anya itu tidak benar. Pasalnya, pria itu masih belum siap menelan pil pahit lagi. Sudah cukup baginya saat mantan istrinya berselingkuh dengan pria lain.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Andro akhirnya tiba di sebuah rumah kopi tempat biasa ia dan Anya bertemu. Saat memasuki tempat itu, jantung Andro berdebar-debar. Sedari tadi ia mengucapkan doa dalam hati, berharap tidak ada sesuatu yang buruk menimpanya.
“Mas, aku di sini,” melambaikan tangan.
__ADS_1
Sebagai artis papan atas yang begitu terkenal, Anya mengenakan pakaian tertutup. Mantel hoodie dan celana panjang jeans. Ia juga memakai kacamata, topi dan masker berwarna hitam sebagai penutup sebagian wajahnya. Anya selalu menyembunyikan identitasnya saat berada di tempat umum, kecuali kalau ia berada di club malam.
“Apa sudah memesan minuman?” tanya Andro.
“Belum, Mas. Aku menunggu Mas.”
“Tunggu sebentar, aku pesan dulu,” beranjak dari duduk dan menuju kasir.
Tak menunggu waktu yang lama Andro kembali dengan dua kopi di tangannya. Ia memberikan yang satunya pada Anya. “Ini minuman favoritmu.”
“Terima kasih, Mas.”
“Sama-sama.”
“Ohya, bagaimana harimu, Mas?”
“Hmm, lumayan padat dan sibuk.”
Anya mengangguk pelan. Padahal ia sudah tahu jika Andro pergi ke agensinya dan bertemu dengan manajer barunya.
“Ohya, apa kamu sudah mengganti manajer? Tadi aku menemui manajer lamamu,” tutur Andro jujur.
Anya sedikit terkejut. “Iya, Mas. Manajer lamaku telah berhenti. Aku juga tidak tahu alasannya. Tapi aku sudah menggantinya dengan manajer baru yang dipilihkan langsung oleh agensi.”
“Oh begitu.”
“Ehm, aku sebenarnya penasaran akan sesuatu. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Nya. Tapi … maklumlah laki-laki.”
“Penasaran apa, Mas? Mas Andro ‘kan bisa tanyakan padaku langsung.”
“Mas tidak enak. Ehm, lupakan. Ayo kita bahas yang lain saja,” ucap Andro mengalihkan pembicaraan.
Anya mengangguk dengan kaku. Sebenarnya ia juga tidak ingin membahas masalah itu lebih dalam lagi. Belakang punggungnya sudah dibanjiri keringat dingin. Ia mulai panik karena Andro mulai curiga padanya.
“Apa kau mendapatkan perannya?”
“Iya, Mas. Dan aku sangat senang. Malam ini kita akan berangkat ke Kanada. Dan besok akan mulai syuting di sana.”
“Selamat, ya. Kau pantas mendapatkan peran utama,” tersenyum kecil.
“Makasih, Mas. Aku minta maaf ya karena harus berpisah selama seminggu dengan, Mas. Aku pasti akan merindukan Mas Andro.”
“Iya, Mas juga.”
Entah mengapa respon Andro terhadap kalimat terakhir Anya, terlihat biasa-biasa saja. Tidak seperti dulu, ia pasti akan sangat mengekspresikan bagaimana perasaannya saat Anya mengucapkan kata rindu. Kali ini berbeda. Hati Andro terasa sulit untuk mengatakan jika ia juga akan merindukan Anya, meski mulutnya dengan lugas menjawab iya.
Pertemuan mereka berlangsung selama hampir setengah jam. Selama pertemuan mereka, keduanya hanya membahas masalah pekerjaan, lantaran Andro merasa suasana hatinya masih buruk untuk membahas hubungan mereka di masa depan. Padahal Anya berulang kali mengungkit tentang pernikahan mereka, namun segera Andro mengalihkan pembicaraan.
Anya mulai merasa jika Andro tampak berbeda dari biasanya. Hatinya menjadi gelisah. Namun ia tak berani mengatakannya pada Andro. Ia takut jangan sampai Andro membatalkan lamarannya dan memutuskan hubungan mereka.
__ADS_1
“Mas, sepertinya aku harus pergi,” ucap Anya.
“Iya, silahkan,” tutur Andro mempersilahkan.
Wajah Anya seketika berubah menjadi masam. Hanya begitu saja? “Mas … aku bilang akan pergi loh … “
“Iya, silahkan. Hati-hati di jalan,” ucap Andro masih belum menyadari maksud Anya.
“Tapi biasanya ‘kan, Mas memberiku kecupan,” lirih Anya.
Andro beranjak dari duduknya dan memberikan ciuman perpisahan untuk Anya. Ia hanya mencium kening Anya dengan durasi yang kurang dari satu detik. Sikap Andro sangat-sangat lain di mata Anya. Ia pun berlalu meninggalkan Andro. Sesekali ia menoleh ke belakang dan menatap wajah Andro. Pria itu tidak melirik kepergiannya dan hanya memandangi dinding dengan tatapan kosong.
“Apa Mas Andro menyembunyikan sesuatu dariku?” gumam Anya.
Andro tersadar dari lamunannya. Ia kemudian menuju mobil saat Anya telah berangkat menuju bandara. Ia kembali membuntuti Anya karena perasaannya semakin tak tenang. Batinnya seolah memaksa ia untuk mencari tahu kebenaran tentang Anya. Padahal ia sempat berpikir untuk membatalkan rencananya, memata-matai kekasihnya.
“Semoga saja pikiranku salah!” ketus Andro seraya menginjak pedal gas dengan kencang, sehingga mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
***
“Maaf, Tuan aku terlambat.”
Zian menatap Anya dengan sinis. “Apa kau sudah memutuskan kekasihmu?”
Anya ragu untuk menjawab.
“Anya … aku tidak akan mengulangi pertanyaanku!”
“I—ya, sudah.”
“Awas saja kalau kau berbohong. Aku memberimu kesempatan bertemu lelaki itu supaya kau mengakhiri hubunganmu dengannya.”
“Iya, Tuan.”
“Bagus! Kau hanya boleh menjadi milikku! Bukan pria lain. Mengerti?!”
“Aku mengerti.”
Dari kejauhan, seorang pria telah memperhatikan pembicaraan kedua orang itu. Cairan bening tak dapat lagi dibendung, sehingga tanpa disadari, air mata telah berjatuhan deras dari sudut mata pria yang tak lain adalah Andro. Ia benar-benar kecewa. Hatinya terkoyak dan serasa di cabik-cabik dengan halus.
Dan ternyata firasatnya tidak salah. Rumor tentang Anya dan Zian memanglah fakta. Andro merasa bodoh karena selama ini telah percaya pada wanita yang sangat ia cintai. Ternyata wanita itu adalah pengkhianat dan pembohong. Dengan tubuh yang lemas, Andro kembali ke dalam mobil.
“Brakkk!”
“Dunia benar-benar tidak adil!”
To be continued …
Terus beri dukungan buat Author supaya bisa semangat crazy up. Makasih semua ...
__ADS_1