
"Semuanya telah beres, Tuan."
"Bagus. Sedikit lagi istriku tiba. Kalian stand by di posisi masing-masing."
"Kami mengerti, Tuan."
Gala menatap sekelilingnya dengan lekukan di bibir tipisnya. Ia tersenyum puas saat melihat segala persiapannya telah sempurna. Gala mendongakkan kepala menatap langit malam yang ditaburi kilauan cahaya kecil. "Malam ini akan menjadi sejarah," gumamnya.
Mobil yang dikendarai Shanks telah memasuki dermaga. Beberapa pengawal Gala telah memberi kode ketika sang Nona Muda telah tiba di lokasi.
"Shanks, mau apa kita kemari? Siapa yang akan berangkat?" tanya Yara yang telah turun dari dalam mobil.
"Nanti Nona juga akan tahu. Ohya, bisa permisi sebentar, Nona?" memegang sepenggal kain berwarna hitam.
"Untuk apa itu?" tanya Yara yang sudah melihat kain tipis di tangan Shanks.
"Tuan Gala akan memberikan Nona kejutan. Jadi aku akan menutup mata Nona memakai kain ini."
"Oh begitu. Baiklah lakukan saja," memejamkan mata dengan tersenyum girang.
"Permisi Nona." Shanks mulai melingkarkan kain itu di mata Yara dengan hati-hati. "Apa Nona bisa melihat?"
"Tidak."
"Kalau begitu aku permisi lagi untuk menyentuh Nona."
"Silahkan."
Shanks mengarahkan tangan Yara untuk memegangi lengannya dan mulai menuntun langkah Yara dengan hati-hati. "Nona, lewat sini," ucapnya.
"Ini sangat gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa!" celutuk Yara dengan langkah yang begitu kaku.
"Percaya saja padaku, Nona. Aku tidak akan membiarkanmu lecet sedikit pun."
Yara menurut saja perkataan Shanks. Ia mulai memberanikan diri untuk berpijak di tanah. Sepatu hak tingginya sedikit mengganggu langkahnya, namun demi bertemu Gala, Yara rela keseleo beberapa kali.
Tibalah Shanks dan Yara di sebuah speed boat yang akan mengantar mereka ke kapal pesiar yang berjarak satu kilometer dari dermaga.
"Nona, boleh aku menggendongmu?" ijin Shanks.
"Untuk apa?" sedikit terkejut.
"Nona akan menaiki speed boat. Jadi untuk mempercepat waktu, maka aku akan menggendong Nona supaya tidak terjatuh atau terluka saat hendak melangkah ke kapal mini ini," jelas Shanks.
"Oh begitu? Baiklah."
Shanks mulai mengambil ancang-ancang untuk menggendong Yara. "Tuan, ijinkan aku menggendong istrimu. Aku tidak akan macam-macam," gerutunya.
Ia pun segera mengangkat tubuh semampai Yara dan segera menaiki perahu kecil itu. Saat sudah di atas speed boat, Shanks langsung melepaskan tubuh Yara dengan serba hati-hati.
"Shanks, kita mau ke mana?" tanya Yara lagi, semakin penasaran.
__ADS_1
"Kita akan menuju suatu tempat, Nona. Tuan Gala sedang menunggu di sana."
Yara kembali tersenyum semringah dengan mata yang masih tertutupi kain berwarna hitam. Bunga di hatinya semakin bermekaran memenuhi tempat itu. Yara benar-benar telah dibuat mabuk oleh cinta.
Setelah hampir lima belas menit dalam perjalanan, kini mereka tiba di sebuah kapal pesiar yang super besar dan mewah. Dari atas, Gala sudah melihat kedatangan istrinya. Tangga kecil telah turun secara otomatis dan siap ditapaki Yara dan Shanks.
"Shanks, apa kita sudah sampai?"
"Sudah, Nona. Saat ini kita akan menaiki tangga."
"Baik."
"Permisi lagi Nona."
"Silahkan."
Shanks mengarahkan tangan Yara untuk memaut selusur tangga. Dengan perlahan, Yara berjalan menapaki setiap anak tangga diikuti Shanks dari belakang yang berantisipasi.
Gala tersenyum lebar saat melihat kedatangan Yara dengan menggunakan gaun pilihannya. Ia pun segera memberi kode kepada Shanks untuk bergantian tempat. Asistennya pun menunduk kepala dan bertukar posisi dengan Gala. Kini bukan lagi Shanks yang berada di belakang Yara melainkan Gala.
"Biar aku tuntun," bisik Gala memegang pundak Yara.
Gadis itu terkejut saat mendengar suara berat disertai alunan maskulin milik Gala.
"O--om Gala," lirihnya, gelagapan.
"Shhttt. Aku suamimu, bukan om kamu," bisik Gala lagi.
Gala menuntun langkah Yara menuju lantai paling atas kapal pesiar itu. Dari sana mereka dapat melihat pemandangan laut malam serta langit malam. Tak memakan waktu lama, kedua orang itu tiba di sundeck.
Di atas sana sudah terdapat beberapa orang yang akan mengambil bagian dalam kejutan romantis yang direncanakan Gala terkhusus untuk istrinya. Langkah Gala terhenti saat tiba di lokasi.
"Apa sudah sampai?" tanya Yara.
"Sudah."
Gala perlahan membuka kain penutup mata yang melingkari kepala Yara. Setelah dilepasnya, mata Yara masih terpejam.
"Apa aku boleh membuka mataku?"
"Tunggu," hardik Gala.
Yara menurut dan masih memejamkan matanya.
Beberapa orang yang telah berdiri di sana mendapat kode dari Gala. Mereka pun segera bersiap memainkan alat musik di tangan mereka masing-masing.
Tiba-tiba alunan lembut instrumen biola mulai berdentum. Yara terperangah mendengar lantunan musik itu.
"Istriku, bukalah matamu."
Dengan pelan, Yara mulai membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tegas dan tampan milik suaminya. Seringai senyum langsung terlukis di pipinya.
__ADS_1
"Lihatlah sekelilingmu," tutur Gala.
Yara segera memandangi sekitarnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat jika dirinya ternyata berada di atas kapal pesiar yang mewah dan dikelilingi oleh samudera.
"Indah sekali!" ketus Yara sembari menatap pemandangan laut malam. Ia juga beralih menyorot para pemain biola yang sangat menghayati setiap alunan yang keluar dari alat itu.
Yara menatap wajah Gala sehingga pandangan mereka bertemu. Senyuman tipis yang terukir di wajah Gala membuat Yara ingin sekali memeluk pria yang sedang berdiri tegap di depannya.
"Ada lagi yang harus kau lihat," ucap Gala, meraih pergelangan tangan Yara dan membawa gadis itu di ujung sundeck.
"Apa itu?" tanya Yara penasaran.
Gala menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tiga, dua, satu!"
Letusan heboh kembang api mulai bertebaran di udara. Membuat wanita yang berdiri di lantai paling atas superyacht menggeliang hebat lantaran begitu terpukau dengan pemandangan langit yang ditebari kembang api.
"God! This is very beautiful!" ketus Yara dengan kagum.
Gala menarik sudut bibirnya saat melihat Yara yang tersenyum bahagia. Tawa yang dikeluarkan gadis itu, sukses membuat seorang Gala Zayn Rodderick takhluk dan tunduk. Gejolak asmaranya kembali berkobar bagai nyala api.
Kembang api itu meletus sedemikian rupa dan menghasilkan cahaya yang berwarna-warni. Ada warna merah, oranye, kuning, hijau, biru, ungu, dan perak. Kesemuanya itu semakin mempermolek cakrawala malam yang diterangi benda penerang.
"Apa kau suka?" tanya Gala.
Yara beralih menatap Gala yang berdiri tepat di sebelahnya. Posisi keduanya telah saling berhadapan. Tatapan Yara begitu nanar. Bola matanya mulai bekerlapan lantaran di landa rasa haru.
Gala tersentak saat Yara dengan tiba-tiba mengecup bibirnya. Maniknya melebar. Ia sangat terkejut mendapat ciuman kejutan dari istrinya.
"Aku tidak dapat mendeskripsikan dengan kata-kata bagaimana perasaan bahagiaku. Sekiranya dengan ciuman dariku, kau bisa memahami bagaimana dalamnya rasa bahagiaku," tutur Yara dengan sudut mata yang telah menjatuhkan cairan bening.
Gala masih syok. Sedangkan Yara kembali mengingat peristiwa pilu yang melandanya tadi siang saat bertemu Kinan. Ia merasa jika ucapannya pada Kinan telah terbukti, jika Gala memang benar telah memilihnya sebagai istri, bukan dengan paksaan, melainkan karena cinta.
"Bolehkah aku memanggil Om, dengan sebutan, Suamiku?" ijin Yara dengan berlinang air mata.
"Aku sangat nenginginkan panggilan itu, Istriku," menatap manik Yara. "Jangan menangis," menyeka air mata Yara.
Tak menunggu lagi, Gala langsung menyambar bibir berwarna merah muda mengkilap dengan perpaduan wangi stroberi dan karamel. Yara melingkarkan tangannya di leher Gala dan membalas ciuman suaminya.
Letusan kembang api dengan lantunan musik biola semakin memperdalam ciuman mesra pasangan suami istri yang baru merasakan getaran cinta. Lama keduanya bercumbu dengan begitu mesra.
"Aku mencintaimu, istri kecilku," lirih Gala seraya mengecup dahi Yara begitu dalam.
"Aku juga mencintaimu, Suamiku."
Keduanya saling bertatapan dengan lekat. Mereka tersenyum bahagia dan kembali melanjutkan ciuman hangat yang penuh keserasian. Kini durasi ciuman mereka lebih lama dari sebelumnya.
Setelah mengungkapkan perasaan masing-masing, Gala dan Yara merasa sangat lega, tenteram dan rahayu. Benih cinta keduanya telah bermekaran. Bagi mereka, dunia ini serasa milik berdua dan lainnya hanya mengontrak.
"Istriku, apa kau sudah siap?"
To be continued ...
__ADS_1
Tinggalkan jejak cinta kalian untuk Author 🤗🥰