
“Ahhhh! Sakittt!”
Suara teriakan keras itu membuat seorang pria terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya yang masih menyipit. Dengan samar, ia melirik seorang perempuan yang telah duduk di atas ranjang dengan wajah yang tampak mengeluarkan keringat. “Istriku, kau mengagetkanku,” lirih Gala.
Yara mengintip tubuhnya dari balik selimut tebal. Tubuhnya sama sekali tak mengenakan apa pun dan hanya tertutup bad cover. “Aduhh, sakit,” pekiknya saat menggerakkan pahanya.
“Apa sakit sekali?” tanya Gala.
Yara mengangguk pelan.
“Sini peluk.” Gala memeluk tubuh Yara dan mengecup puncak kepala istrinya.
“Suamiku, apa aku akan mati?”
“Kenapa bertanya seperti itu? Kau tidak akan mati!”
“Tapi aku merasakan sakit yang teramat sangat di kemaluanku.”
“Maafkan aku, Sayang. Aku sudah berhati-hati, namun punyamu sangat sempit. Aku saja hampir tidak bisa menemukan lubangnya.”
“Habisnya, anu-mu besar sekali, Suamiku. Aku sampai pingsan berapa kali!”
Yara kembali membayangkan bagaimana besar dan panjangnya kepunyaan Gala. Ia pun sampai pingsan tiga kali karena tak kuasa menahan rasa sakit saat Leher Jerapah milik Gala menerobos masuk ke dalam liangnya. Malam yang telah lewat, sangat berkesan bagi suami istri itu. Keduanya baru saja saling membuka segel.
“Aku penasaran,” ucap Gala sembari memasukkan kepalanya ke dalam selimut dan memeriksa sesuatu di dalam sana.
“Suamiku, apa yang kau lakukan?”
“Jangan bergerak, Sayang. Tadi malam sangat gelap, jadi aku tidak bisa melihat letak lubang sakralmu.”
Yara menggeliang saat Gala menyentuh kepunyaannya. Rasanya sedikit sakit. “Ahhh!”
“Sayang, ini berdarah!” ketus Gala auto panik.
“Tentu saja. Kau baru merobek sesuatu di sana. itu tandanya aku sudah tidak perawan lagi, karena kau sudah membuka segelnya.”
Gala sedikit tenang. Namun hatinya masih takut karena melihat noda darah yang telah berserakan di kain yang menjadi alas kasur mereka. Kain itu berwarna putih sehingga bercak darah sangat jelas nampak.
“Akhirnya aku telah merasakan bagaimana nikmat dunia yang diceritakan Shanks,” gumam Gala tersenyum.
“Suamiku, bisakah kau pindah dari sana? Aku malu!”
“Iya, sebentar lagi.”
Yara memerah. Pasalnya kepala Gala masih berada di sela kangkang Yara. Gala masih asik memperhatikan bagaimana bentuk dan rupa dari pusaka milik istrinya. Pria itu kembali mengingat kejadian tadi malam, yang di mana ia sukses memasukkan Leher Jerapahnya ke istana suci milik Yara.
(Kejadian Tadi Malam)
__ADS_1
Gala segera membawa tubuh Yara menuju ranjang dengan masih mencumbui istrinya itu. Tampak Gala tak kuasa menahan hausnya. Ia segera melepaskan pakaiannya dan kemudian melucuti piyama tidur Yara. Mereka pun sudah tak mengenakan apa-apa di tubuh. Sebelum melanjutkan aksinya, ia terlebih dahulu meredupkan cahaya yang ada di kamar.
Ia sengaja menggelapkan ruangan itu agar ia tidak melihat wajah Yara yang kesakitan. Gala tak tega melihat ringisan Yara, namun ia juga tak bisa berlama-lama untuk membelah durian. Karena sudah beberapa kali ia gagal memperkosa istrinya. Dahaganya semakin merontah-rontah karena belum terpuaskan. Di tambah lagi efek obat perangsang rupanya masih aktif mengalir dalam tubuhnya.
Yara menjerit saat Gala dengan paksa mendorong suntik tumpul ke dalam gerbang sucinya. Ia berusaha menahan perih namun bibirnya terus mengeluarkan pekikan. Tak lama setelah itu, Yara tak sadarkan diri.
Gala pun menjadi panik luar biasa.
"Istriku ... bangun!" teriak Gala berulang kali.
Beberapa menit kemudian, Yara tersadar saat mendengar panggilan Gala. "Aku tidak apa-apa."
Gala kembali melanjutkan aksinya. Namun Yara kembaki tak sadarkan diri selama tiga kali. Gala semakin takut dan panik. Ia menggoncang tubuh Yara sambil memanggil-manggil istrinya. Yara pun kembali tersadar. "Maafkan aku, Suamiku. Aku sangat lemah," ucapnya.
"Aku yang salah karena telah memaksamu."
"Tidak tidak. Aku sudah tidak apa-apa. Silahkan lanjutkan," pinta Yara.
Kali ini Gala lebih berhati-hati. Yara meringis. Gala yang mendengar jeritan Yara, langsung memberikan lengan berototnya untuk di gigit Yara.
“Kau bisa menggigit pergelangan tanganku. Walaupun rasa sakit yang kau rasakan berbeda dengan rasa sakit saat digigit, namun setidaknya aku bisa merasakan bagaimana sakitnya menahan perih.”
Gala dan Yara saling berbagi rasa sakit. Yara dengan sekuat tenaga menggigit tangan Gala, sedangkan pria itu dengan semampunya memasukkan punyanya ke dalam liang gelap milik Yara. “Bertahanlah sedikit lagi, Sayang. Ini akan masuk sepenuhnya.” Mendorong keras Leher Jerapahnya.
Degg!
Tubuh Yara bergetar hebat. Sesuatu yang raksasa telah memasuki gerbang suci dengan sepenuhnya. Akhirnya Yara telah menerima kunjungan pertama. Rasa sakit yang teramat sangat dirasakan Yara. Ia sampai meneteskan air mata haru dan kebahagiaan.
“Iya, Suamiku. Aku sudah merasakannya,” terengah-engah.
Gala perlahan memaju-mundurkan benda pusakanya sehingga membuat napas Yara memburu. Ia juga mengeluarkan suara yang membuat Gala semakin terangsang dan bersemangat. Dan akhirnya mereka tiba di puncak gunung Everest, setelah lama mendaki dengan susah payah sampai bermandikan keringat.
Gala mengecup dahi Yara begitu dalam dan penuh penghayatan. “I love you, My Wife!”
***
“Di mana ini?” memegang kepalanya yang terasa perih.
Lelaki itu menatap sekelilingnya. Ia sama sekali tak mengenal tempat itu. Ia berusaha berdiri dari atas tempat tidur, namun ia masih tidak bisa bergerak lebih. Tangan kanannya juga tampak cedera dan dibalutkan kain kasa. Pria itu adalah Andro.
“Minumlah ini. Kau pasti akan membaik,” ucap seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Abigail.
Andro terkejut saat melihat sosok mantan istrinya. “Sedang apa kau di sini? Tidak! Maksudku, ini di mana?”
“Kau ada di apartemen Kenzo. Tapi tenang saja. Dia tidak tinggal di sini. Hanya aku dan Abelle di sini.”
Pria itu kembali memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Abigail membantu mengangkat tubuh Andro sehingga ia duduk bersandar di ranjang. “Abi, kenapa aku bisa ada sini?”
__ADS_1
Abigail meminumkannya air yang telah dicampurinya obat. Andro segera meneguk habis air ramuan itu.
“Apa kau tak ingat kejadian semalam?”
Andro terdiam. Ia mencoba mengingat peristiwa semalam yang membuat dirinya sampai berujung di apartemen Kenzo. Serpihan ingatan mulai bermunculan. Ia mengingat jika ia telah memergoki Anya dan selingkuhannya. Setelah itu ia menuju bar dan mabuk di sana. Selebihnya ia tak ingat lagi.
“Kau meneleponku tadi malam. Suaramu sangat berbeda dengan biasanya. Kau memberitahuku alamatmu, dan dengan segera aku menjemputmu dengan keadaan yang sudah tak sadarkan diri. Beberapa orang bar membantuku mengangkatmu masuk ke dalam mobil. Juga tanganmu sudah terluka dan mengeluarkan banyak darah,” jelas Abigail.
Andro memegang kepalanya yang kembali berdenyut. Bayangan wajah Anya dan Zian, bergentayangan terus di benaknya. “Shhh!” desisnya.
“Kau tak apa-apa?”
“Kepalaku sangat sakit.”
“Aku tak menyangka kau akan melakukan hal ceroboh seperti ini! Sudah tahu kalau kau sangat lemah dengan minuman keras. Tapi kau memaksa tubuhmu untuk mengonsumsi alkohol yang berlebihan. Apa yang membuatmu menjadi gegabah seperti ini?”
“Bukan urusanmu!”
“Sudah menjadi urusanku, karena sejak tadi malam kau berada di tempat tinggalku. Aku yang mengurus dan merawat lukamu!”
Andro terdiam. Ia sadar jika secara tidak langsung ia membutuhkan pertolongam dari Abigail, saat ia memutuskan untuk menelepon mantan istrinya tadi malam. “Terima kasih sudah peduli padaku,” ucapnya dingin.
“Jangan salah paham. Aku melakukan ini karena tidak ingin Abelle bersedih jika mengetahui Ayahnya mabuk dan terluka!”
“Jangan beritahu Abelle.”
Abigail mengangguk. “Apa kau bertengkar dengan kekasihmu?”
“Aku akan membatalkan lamaranku dan memutuskannya!”
Wanita itu sontak kaget. “Kenapa?”
“Dia mengkhianatiku dan berselingkuh dengan seorang pria yang sangat berkuasa di negeri ini. Aku tidak bisa melawan pria itu. Jadi aku memutuskan untuk melepaskan Anya.”
Entah mengapa, mendengar cerita pengkhianatan membuat hati Abigail tergelitik. Ia kembali mengingat kejadian dua tahun lalu saat Andro memergokinya dengan Kenzo. Ada rasa bersalah yang besar dari lubuk hati terdalam wanita itu. Ingin rasanya ia meminta maaf pada Andro, namun gengsi tinggi menjadi tembok penghalang baginya untuk mengakui kesalahan.
“Jangan merasa simpati padaku. Aku baik-baik saja.”
“Ba—baguslah kalau begitu.”
“Aku akan pergi sebelum Abelle terbangun. Aku tidak ingin dia melihat tampangku yang berantakan seperti ini.”
Abigail segera menahan tangan Andro. “Tinggalah sampai kau sembuh total,” ucapnya reflek.
Andro menatap tangannya yang digenggam Abigail. Dengan segera wanita itu melepaskan cengkeramannya. “Maaf.”
“Aku tidak mau tinggal di tempat tunanganmu. Aku masih punya harga diri!”
__ADS_1
To be continued ...
Dukungan kalian akan sangat membantu Author 🤗🥰