Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 9 : Sepuluh Tahun Lalu ~ Bertemu Kinan


__ADS_3

Gala menatap Amber dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Bisa kita bicara berdua?" tawar Amber.


Gala melempar pandang kepada gadis kecil yang berdiri di belakang Amber. Gadis itu mengintip dan memandangi wajah Gala dengan tatatan polos. Sesekali ia melempar senyuman kecil yang membuat Gala segera membuang wajahnya dari tatapan Yara.


"Tuan Gala? Apa boleh kita bicara sebe--"


"Baiklah," memotong ucapan Amber.


"Yara tunggulah di sini. Oma akan berbicara dengan Tuan Gala."


Yara mengangguk.


Amber menuntun Gala menuju ruang tamu yang terletak di tengah bangunan itu. Jantung Amber berdegup kencang. Karena ia tahu maksud kedatangan Gala ke rumahnya.


"Silahkan duduk, Tuan."


Gala mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Tuan mau minum apa?"


"Tidak perlu repot-repot."


"Baiklah." Amber meremas jemarinya dengan erat. "Tuan ... apa Tuan akan mengambil Yara?" tanyanya memberanikan diri.


Gala terdiam.


"Saya tahu jika ini sudah waktunya. Tapi saya mohon, ijinkan Yara tinggal bersama saya beberapa hari lagi," tutur Amber memelas.


"Sesuai dengan perjanjianku dengan Ray dan Elyora, aku telah setuju menikahi putri mereka. Namun ada syaratnya. Apa Ibu tahu syaratnya?"


Amber mengangguk.


"Aku akan menikahi gadis itu saat ia berumur delapan belas tahun. Tapi, mulai sekarang dia harus tinggal bersamaku. Dia sudah menjadi tanggung jawabku."


Deg!!


"Tapi Tuan Gala ... "


"Ibu, aku berencana untuk mengirimnya ke luar negeri dalam tujuh hari ke depan. Dia akan tinggal di sana dan bersekolah di sana. Ibu tahu 'kan jika calon istriku nanti haruslah wanita mandiri, cerdas dan tidak manja! Aku tidak bermaksud menjauhkanmu dari gadis itu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan calon istriku, yang nantinya akan menyandang gelar Nyonya Rodderick, memiliki sifat manja dan cengeng."


"Saya mengerti, Tuan Gala. Tapi Yara masih kecil. Kasihan kalau diasingkan di negara orang. Dia belum tahu apa-apa."


"Karena itulah aku akan menjadikannya mandiri sejak dini. Aku kira Ibu mengerti sampai di sini."


Amber menghela napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Baginya perkataan Gala memang ada benarnya. Secara Yara adalah calon istri dari sang presiden Blackfire Company. Keluarga Rodderick yang menjadi penguasa dunia bisnis. Sehingga siapapun yang akan menjadi bagian dari keluarga Rodderick harus memiliki potensi yang luar biasa dan tidak sembarangan.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan Gala. Saya akan memberitahu Yara pelan-pelan supaya tidak mengejutkannya."


Percakapan yang berselang hampir sepuluh menit, kini usai. Amber dan Gala kembali ke tempat Yara. Gadis itu sedang duduk sembari menunggu kedatangan kedua orang dewasa yang sempat meninggalkannya beberapa menit lalu.


"Apa sudah selesai?" tanya Yara.


"Iya Sayang." Amber menekuk kedua lututnya sembari mengelus puncak kepala Yara. "Cucuku, ada yang ingin Oma sampaikan padamu. Oma tahu kau masih terlalu kecil untuk memahami ini, jadi oma minta kau cukup dengar dan turuti. Nanti jika kau sudah dewasa, kau pasti akan mengerti."


Dengan binar mata yang begitu polos, Yara mengangguk, menyutujui ucapan Amber.


"Kau adalah calon istriku. Aku akan membawamu bersamaku, karena itulah pesan mendiang orangtuamu padaku!" tutur Gala Lugas.


Deggg!


Amber terkejut bukan kepalang. Kakinya yang ia tekuk tiba-tiba menjadi lemas sehingga ia tak kuasa menopang tubuhnya dan terjatuh di lantai.


"Tu--tuan Gala, bukankah kita sudah sepakat untuk jangan mengejutkan Yara," lirih Amber.


"Oma, ada apa? Kenapa Oma jatuh?" membantu Amber mengangkat tubuhnya.


"Yara cucuku maafkan Oma ... "


"Tidak apa-apa Oma. Aku tidak paham dengan ucapan Om Gala. Tapi aku akan menurutinya. Lagipula Ayah dan Bunda sempat bilang jika aku akan dititipkan pada seseorang yang akan menjadi suamiku nanti."


Amber lagi-lagi kaget. Yara begitu polos dan tidak memahami apa itu pernikahan.


"Hmm," mengangguk. "Oma jangan bersedih, aku pasti akan selalu mengunjungi Oma," tersenyum semringah.


Gala menatap wajah Yara. Ia melihat sosok Elyora yang bersemayam di dalam diri anak kecil itu.


"Om Gala, aku percaya Om Gala adalah laki-laki yang baik. Om Gala pasti bisa menjagaku 'kan?"


Gala mengangguk dengan reflek.


Yara tertawa sembari memegang kembali tangan Gala.


Aku tidak bisa menebak apa yang anak ini pikirkan. Aku sama sekali tidak menyangka jika dia akan langsung menyetujuinya tanpa membantah. Batin Gala.


Melihat reaksi Yara, Amber pun mulai mengiklaskan kepergian Yara. Hati Amber sebenarnya sangat pedih untuk membiarkan Yara beranjak dari rumah itu. Namun mau bagaimana lagi, mendiang anaknya pun sudah mengatakan sebelum Ray meninggal, jika kehidupan Yara sepenuhnya akan ditanggung Gala. Amber pun tak bisa membantah apalagi menolak. Ia hanya bisa mengiklaskan kepergian Yara dengan lapang dada.


"Oma, jangan bersedih. Aku pasti akan berkunjung sesering mungkin. Supaya Oma tidak kesepian."


Amber mengangguk sembari tersenyum. Tapi Yara, kau tidak memiliki waktu lagi untuk mampir kemari. Karena kau akan tinggal di luar negeri dan bersekolah di sana. Batin Amber.


Horeee akhirnya aku punya Ayah lagi. Walaupun Om Gala hanyalah teman dekat Ayah dan Bunda, tapi aku merasa jika Om Gala adalah seorang pria yang baik. Om Gala pasti bisa menjagaku seperti anaknya sendiri. Wahhh senangnya.


Pemikiran orang dewasa dan pemikiran gadis berumur delapan tahun memang sangatlah berbeda. Yang Yara tahu dirinya akan di asuh oleh Gala, dan akan diperlakukan sebagai anak oleh seorang pria dewasa itu, padahal kenyataannya adalah, gadis itu merupakan calon istri dari pria dewasa yang kaku dan beku.

__ADS_1


Pelayan rumah telah mengemasi semua barang-barang Yara, termasuk beberapa boneka kesayangannya yang dihadiahkan Ayah dan Bundanya. Saatnya bagi Yara untuk meninggalkan rumah Oma Amber.


Dalam hati, Amber menangis sesengukan. Namun ia tidak mau menunjukkannya di depan cucu kesayangannya. Yara, kembalilah dengan selamat. Jadilah wanita hebat, tangguh dan mandiri! Oma sayang Yara!


Mobil telah melaju meninggalkan rumah keluarga Lincoln. Yara tampak bahagia dan senang. Sepanjang perjalanan, ia tersenyum sembari memandang wajah Gala yang begitu tampan namun dingin.


"Om Gala?"


"Hmm."


"Aku janji aku tidak akan merepotkan Om Gala. Aku akan menjadi gadis baik dan penurut. Walaupun aku seringkali keras kepala pada orangtuaku dulu dan pada Oma Amber. Tapi kali ini aku akan dengar-dengaran pada Om Gala," tersenyum lebar sembari memegang tangan Gala.


"Bagus," mengelus puncak kepala Yara dengan kaku bagai robot.


Tak lama kemudian, tibalah mereka di kediaman keluarga Rodderick. Yara membuka jendela mobil dan melihat betapa besar dan luasnya halaman depan mansion itu. Terlihat dua kali lebih besar dari tempat tinggalnya dulu. Setelah mobil berhenti, Yara segera turun dan menggandeng kembali tangan Gala.


"Wahh besar sekali rumah Om Gala."


Masih dengan memegang tangan Gala, Yara berjalan sambil memikul ransel beruangnya, memasuki pintu mansion.


"Di dalam juga sangat besar," gumam Yara.


"Gala! Anak siapa yang kau bawah?" tanya seorang wanita dengan tiba-tiba. Wanita itu adalah Ibu dari Gala.


"Halo Oma," sapa Yara menunduk kepala.


Wanita itu terkejut hebat. "Apa?! Kau meyebutku apa? O--oma?! menepuk-nepuk pipinya yang tampak kencang dan bercahaya.


"Oma pasti Ibu dari Om Gala. Oma sangat cantik," puji Yara.


"Aku tahu aku cantik. Jangan panggil aku Oma! Panggil aku Nyonya Kinan atau Nyonya Rodderick!"


Yara melonjak. Ia langsung bersembunyi di belakang Gala saat melihat ekspresi wanita itu yang sangat mengerikan. "Om Gala ... " lirih Yara.


"Mama hentikan. Kau membuatnya takut! Ini Yara, dia adalah anak dari Ray dan Elyora. Dia adalah calon istriku di masa depan. Yara akan tinggal di sini beberapa hari ke depan!"


Deg!!


"Apa?!! Anak dari kedua temanmu yang meninggal karena virus mematikan?! Omaygat!! Gala apa kau tidak salah berucap? Kau bilang gadis ini calon istrimu? Hahaha! Jangan becanda kamu! Cepat bawah pulang kembali anak ini! Mama tidak ingin dia membawa virus menular di rumah kita!"


Yara mengeratkan cengkeramannya di celana Gala. Sungguh, Yara dibuat syok oleh Kinan.


"Mama cukup! Ini keputusanku. Tidak ada yang boleh mengganggu gugat! Keputusanku bersifat ultimatum!"


Deg!


To be continued ...

__ADS_1


Like, Komen dan Vote dari kalian sangat membantu Author 😘🥰


__ADS_2