Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 53 : Kisah Pahit


__ADS_3

Banyak hal yang terjadi saat pertemuan Leon dengan Janetha. Leon kini telah menerima dan mengakui jika anak kecil itu adalah anak kandungnya. Ia pun telah mengungkapkan perasaannya yang selama ini tak dapat ia ceritakan kepada siapapun. Selama lima tahun hal itu membelenggunya, akhirnya ia bisa tenang dan lega.


Setelah Janetha luluh dan memaafkan Leon, ia pun memperkenalkan Leon kepada putranya sebagai ayah dari anak itu. Janetha sebenarnya masih kesal dan marah, namun demi sang buah hati yang merindukan sosok ayah kandung, ia pun memutuskan untuk berdamai dengan mantan pacarnya. Meski mereka berjanji untuk tidak membangun hubungan lebih karena mengingat Leon telah berkeluarga.


Siang itu Leon membuat janji temu dengan Janetha. Leon bermaksud untuk mengajak mereka untuk jalan-jalan bersamanya karena beberapa hari lagi Janetha dan anak itu akan kembali ke Paris. Janetha menyetujui permintaan Leon. Namun dengan syarat jika ia tidak akan ikut dengan Leon dan Leoanard. Ia sadar jika dirinya bukan siapa-siapa Leon dan tidak ingin menyakiti Chiren, sahabatnya.


Sebagai gantinya, Janetha menghubungi Chiren dan meminta bertemu. Sebenarnya ia tidak enak hati lantaran ia telah mengganggu rumah tangga Chiren, namun ia lebih tak enak hati jika pulang ke Indonesia tapi tidak bertemu dengan sahabatnya yang sudah hilang kontak selama lima tahun. Ada rasa bersalah yang sangat besar dalam hati Janetha.


Mereka pun akhirnya bertemu dan saling menceritakan kehidupan mereka masing-masing. Chiren banyak bertanya mengenai Janetha dan Leonard, sedangkan ketika Janetha balik bertanya tentang kehidupan rumah tangganya, hanya sedikit informasi yang ia berikan. Tentu saja karena ia tidak ingin Janetha mengetahui bagaimana perlakuan buruk Leon padanya.


“Kau menambahkan marga keluargamu di belakang namanya ya? Hmm, nama putramu sangat bagus. Hampir mirip dengan nama suamiku. Leon Zack Rodderick.”


Degg!


Janetha terkejut. Ia kembali menormalkan raut wajahnya.


Chiren aku benar-benar minta maaf. Takdir begitu kejam mempertemukanku dengan lelaki itu!


“Janetha?” panggil Chiren.


“I—iya?”


“Kok bengong. Apa kau mendengar ucapanku?”


“Iya, aku mendengarnya.”


Chiren tersenyum. “Aku jadi teringat saat kita SMA dulu. Kau banyak bercerita tentang lelaki yang mengencanimu. Sampai sekarang aku penasaran dengan pria itu.”


“Eh, iya … aku jadi lupa siapa pria itu,” ucap Janetha, berkeringat dingin.


“Ahh masa sih? Mana mungkin kau melupakannya,” goda Chiren.


Janetha tersenyum kaku. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “I—iya beneran.”


(Lima tahun lalu)


Janetha dan Chiren adalah siswi kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional. Keduanya telah bersahabat dari kelas satu SMA. Mereka bersekolah di tempat yang sangat elit, yang dikhususkan untuk anak-anak para pejabat saja. Namun Janetha bukan anak seorang pejabat tapi ia lolos, bersekolah di tempat itu karena mendapat beasiswa dari Blackfire Company.


Janetha adalah seorang siswi yang sangat cerdas. Ia tak kalah hebat dengan siswa-siswi lain yang pandai-pandai. Namun ia sering dirundung karena berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sederajat dengan yang lainnya. Kala itu pekerjaan orangtua Janetha hanya seorang pelukis biasa, namun lama-kelamaan karya orangtuanya mulai di kenal publik dan membuat mereka cukup terkenal.


Meski demikian, ketenaran keluarganya tak melebihi siswa-siswi lainnya yang memiliki latar belakang keluarga terpandang dan kaya raya. Kehidupan Janetha terselamatkan saat Chiren menjadi sahabatnya. Tak ada lagi yang merundungnya dan memojokkannya lantaran Chiren selalu menjadi pembelanya.


Tiga tahun mereka bersahabat baik. Sampai ketika, Janetha mengenal seorang pria dan berkencan dengan pria itu. Ia menceritakan hubungan asmaranya namun identitas pria itu tak diberitahunya pada Chiren. Ia masih merahasiakan identitas kekasihnya yang tak lain adalah Leon. Sudah enam bulan ia menjalin asmara dengan seorang anak konglomerat yang membiayai sekolahnya.


Sepulang sekolah, Janetha dan Chiren dijemput oleh sopir Chiren. Dalam perjalanan pulang, Janetha berniat untuk memberitahu siapa kekasihnya itu.


“Chiren ada yang ingin aku katakan padamu,” ucap Janetha tampak ragu.

__ADS_1


“Ohya? Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu,” tersenyum lebar.


“Kau duluan saja,” tutur Janetha.


“Tidak. Kau duluan.”


“Kau tahu ‘kan kalau aku sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Hubungan kami sudah berjalan selama enam bulan … “


“Ya! Dan sampai sekarang kau tidak memberitahuku siapa pria itu!” tukas Chiren, kesal.


“Aku akan memberitahu siapa pria itu.”


“Benarkah?” tersenyum semringah.


“Tapi ada syaratnya.”


“Apa syaratnya?” tanya Chiren dengan dahi mengernyit.


“Kau beritahu padaku dulu apa yang ingin kau katakan. Tampaknya kau sangat senang sekali.”


Chiren tersenyum kembali. Pipinya memerah. “Janetha … minggu depan kita akan mengikuti ujian.”


“Ya aku tahu. Lalu?”


“Selesai mengikuti ujian nasional aku akan menikah!”


Deg!


Chiren menggeleng. “Aku dijodohkan,” ucapnya berseri.


“Ya ampun, Chiren. Biasanya ya, kalau orangtua menjodohkan anaknya, si anak ini bakal kesal dan tidak memiliki semangat hidup. Lah kamu! Malah senang sekali. Memangnya kau tidak mau kuliah dulu ya?”


“Aku ingin. Tapi masalahnya Papaku sangat ngebet menikahkanku dengan lelaki itu. Memang sih umur lelaki itu sangat terpaut jauh denganku. Tapi dia sungguh tampan! Dan kau tahu siapa pria itu?”


Janetha menggeleng dengan raut wajah yang sangat penasaran. “Siapa dia?”


“Dia adalah Presiden Blackfire Company!”


Janetha melonjak hebat. “Ma—maksudmu, anak dari tuan besar Zian Rodderick? Kalau tidak salah namanya adalah tuan Gala Zayn Rodderick!”


“Right! Dia adalah calon suamiku.”


“Astaga!” terperanjat. “Kau sangat beruntung Chiren. Tuan Gala adalah idaman semua wanita di bumi!”


“Tapi katanya Kak Gala tidak mau menikah karena dia telah memiliki calon istri,” ujar Chiren dengan wajah yang kecewa.


“What? Apa perjodohan kalian dibatalkan?”

__ADS_1


“Tidak!” tersenyum kembali.


“Lalu?” Janetha semakin bingung.


“Katanya aku akan dijodohkan dengan adiknya, Kak Leon.”


Deg!


Raut Janetha tiba-tiba berubah menjadi kusut. Tergambar di wajahnya jika ia terlihat tidak senang saat Chiren mengatakan kalimat terakhirnya. “K—kak Leon?”


“Iya. Tak apalah, meski tidak jadi menikah dengan Kak Gala, tapi masih ada adiknya yang tak kalah tampan dan keren seperti Kak Gala.”


Hati Janetha menjadi hancur lebur. Ekspresi yang tadinya terlihat bahagia, kini berubah menjadi masam dengan seketika. Jelas saja karena kekasihnya adalah orang yang sama, yang akan menjadi suami sahabat terbaiknya. Bagai diiris pisau tajam, hati Janetha tercabik-baik teramat dalam namun tidak berdarah. Tanpa disadari Janetha, ujung matanya telah mengeluarkan cairan bening.


“Janetha? Kenapa kau menangis?” tanya Chiren.”


“Hiks … hiks … a—aku sangat bahagia. Hiks … hiks,” sesenggukan.


“Uhhh Janetha,” memeluk sahabatnya. “Kau sangat cengeng.”


“Aku terharu karena kau akan menikah,” mengusap air matanya. “Ohya, Chiren … aku harus ke suatu tempat. Bisa kau menurunkanku di sini?” pinta Janetha.


“Loh, mau ke mana? Kau belum mengatakan siapa kekasihmu, Jan!”


“Nanti saja. Aku buru-buru, Ren, Nanti saja ya,” ucap Janetha memelas.


“Baik kalau begitu. Tapi biar aku antar saja.”


“Tidak usah,” tersenyum.


“Yakin?”


“Iya.”


Dengan kecewa, Chiren menyuruh Pak Sopir menepikan mobil dan menurunkan Janetha.


“Chiren, sampai bertemu minggu depan,” melambaikan tangannya.


“Baiklah. Kau hati-hati ya,” membalas lambaian tangan Janetha.


Kedua orang itu masih saling menatap dan melambaikan tangan mereka. Janetha masih memandang mobil yang ditumpangi Chiren yang telah melaju meninggalkannya. Tatapannya begitu kosong. Air matanya kembali berjatuhan dari sudut matanya.


“Aku … hik ... hik,” terisak. “Tapi aku telah hamil, anak dari calon suamimu, Chiren!”


To be continued ...


Berikan dukungan kalian untuk Author 🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2