
Bola mata Yara melirik ke segala penjuru ruangan itu. Setelah ia menikah, hal pertama yang ia cari adalah Gala, namun ia belum menyadari akan hal itu. Sosok Gala kembali tak terlihat di kamar besar itu. Ia berjalan menuju ruang kerja Gala namun pria itu pun tak kunjung ketemu.
“Apa dia sudah pergi bekerja?” gumamnya.
Yara kemudian membersihkan tubuhnya dan mempersiapkan diri menuju ke kantor. Sebenarnya ia tak terbiasa akan hal itu. Namun mau bagaimana lagi, Yara merupakan direktur utama yang baru di perusahaan Lincoln Group. Dengan penuh semangat berapi-api, Yara mempercepat pergerakannya. Ia tersenyum lebar saat ada sesuatu yang melintas dipikirannya.
Motivasi terbesar Yara untuk segera cepat berangkat ke kantor supaya ia bisa bertemu dengan wakil direktur super tampan, yang tak lain adalah Andro. Sejak saat pertama kali berjumpa dengan pria itu, Yara merasakan ada sesuatu yang berbeda dari aura yang dikeluarkan Andro. Lelaki itu berhasil memikat hati Yara. Meski gadis itu tidak mengetahui, bahwa mungkin saja perasaannya hanya bersifat sementara. Atau bisa saja ia hanya merasa penasaran dengan lelaki bernama Andro.
“Okey! Semuanya telah sempurna,” menatap cermin sembari mengagumi dirinya sendiri.
Tok tok tok …
“Siapa?” tanya Yara dari dalam kamar.
“Saya Nona.”
“Ya, kamu siapa? Maksudnya namamu?” ketus Yara sedikit jengkel.
“Shanks. Asisten pribadi Tuan Gala. Beliau sedang menunggu Anda di bawah.”
“Ohyaya, aku ke sana sekarang.”
Yara keluar dari dalam kamar dan berjalan mendahului Shanks. Ia masuk ke dalam lift, sedangkan Shanks menggunakan tangga darurat.
“Semangat Yara! Ini adalah hari pertamamu bekerja,” gumamnya.
Sesampainya di bawah, ia mendapati Gala dan Leon sedang berbincang sesuatu. Penampilan Leon terlihat kacau dan sepertinya lelaki itu baru kembali ke mansion.
“Aku tidak akan segan-segan menghajarmu lagi jika terjadi sesuatu pada Chiren dan kandungannya!” gertak Gala.
Sementara Leon hanya berdiam sembari mengepal jemarinya. Wajah Leon terlihat kesal saat mendengar ceramah dari kakaknya.
Gala meninggalkan Leon yang masih menatap belakang punggungnya dengan tatapan tajam. Ia menghentikan langkahnya di depan Yara yang tampak keheranan. “Kita sarapan di luar saja,” ucapnya.
Yara mengangguk. Namun matanya masih tertuju pada seseorang yang berdiri jauh di belakang Gala.
“Jangan pedulikan dia,” tutur Gala, membuat pandangan Yara beralih dari Leon.
“Apa kalian bertengkar?”
Gala tak menggubris dan terus berjalan menuju depan mansion.
“Kenapa adik Om, terlihat kacau seperti itu?”
“Dia baru pulang dari klub malam. Jangan bertanya lagi, nanti aku jelaskan saat waktunya tepat.”
“Baik.”
Setibanya mereka di mobil, Shanks membukakan pintu untuk kedua orang itu. Mobil kemudian melaju meninggalkan mansion. Napas Yara terasa lega saat keluar dari lingkungan gelap yang mencekik lehernya. Keheningan kembali melanda, Yara mencari cara agar supaya ia bisa memecahkan situasi canggung saat di mobil.
“Apa Om akan mengantarku ke kantorku?” tanya Yara.
“Hmm,” jawab Gala.
Jawaban Gala kembali membekukan suasana. Seperti biasanya, Gala hanya berbicara seperlunya saja. Jika ia rasa tidak penting maka ia tidak akan membuka suaranya. Dan hal itu membuat Yara kesal. Padahal banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada Gala, namun karena melihat respon yang tidak memungkinkan, maka Yara harus menunda lagi rasa penasarannya.
Berselang beberapa menit, tibalah mereka di gedung pencakar langit, yang tak lain adalah perusahaan Lincoln Group. Shanks menghentikan mobil itu di depan pintu utama dan membukakan mereka pintu. Beberapa karyawan menyambut kedatangan presiden dan direktur utama mereka sembari menundukkan kepala.
Gala dan Yara menjadi pusat perhatian semua orang yang bersemayam di gedung itu. Mereka sangat mengagumi kedua pasangan suami istri yang sedang berjalan dengan penuh wibawa. Pembawaan mereka sangat berkarisma. Banyak wanita juga yang iri terhadap Yara. Karena sebelum Gala menikah, para karyawan wanita mengklaim Gala sebagai pria milik mereka. Atau bisa dibilang pacar satu untuk semua. Karena tidak ada yang bisa memiliki Gala seutuhnya, maka mereka sampai membuat keputusan bersama jika Gala adalah lelaki sejuta kaum hawa.
__ADS_1
“Om Gala ngapain ke sini? Bukannya Om Gala harus ke kantor Om?”
“Sebagai atasanmu, aku akan berada di kantor ini dalam beberapa hari.”
Yara terperanjat. “Kenapa?”
“Kau masih baru di sini. Aku akan berbaik hati mengajarkanmu bagaimana menjalankan sebuah perusahaan.”
“Ta—tapi ‘kan ada wakil direktur yang bisa membantuku.”
Degg!
Yara tak menyadari kalau ia keceplosan.
“Siapa wakil direktur di sini?”
Waduh gawat!
Yara terdiam.
“Biar saya bantu jawab, Nona,” ucap Shanks. “Wakil direktur Lincoln Group bernama Andro Trommler.”
Ahhh! Asisten sialan!
Gala tampak memasang wajah masam. Sedangkan Yara telah mengunci bibirnya rapat-rapat. Saat memasuki Lift, Yara menendang kaki Shanks sehingga lelaki itu tampak terkejut. Shanks menatap Yara dengan tatapan bingung tak terkatakan. Sedangkan mata Yara menyorot Shanks begitu tajam setajam silet.
Galak juga istri bos. Batin Shanks.
Setibanya mereka di kantor direktur, seorang sekretaris wanita menyambut mereka. “Selamat pagi Tuan dan Nona,” menunduk kepala.
“Pagi,” jawab Shanks dan Yara serentak.
“Permisi, Tuan dan Nona, ini ada beberapa dokumen penting yang harus ditinjau,” menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada Yara.
Yara menerima dokumen itu, sejujurnya ia tidak tahu harus meng-apakan berkas-berkas itu yang tampak membumbung di tangannya.
“Ini juga ada beberapa jadwal yang harus Nona hadiri. Yang pertama pukul sepuluh pagi, akan mengadakan rapat direksi dengan beberapa pemegang saham perusahaan, yang kedua pukul satu siang, mengadakan pertemuan dengan kolega dari perusahaan Elektro, dan yang ketiga pukul tiga sore, menghadiri pertemuan penting di Villa Anggrek, dan yang terakhir ..”
“Berhenti,” tukas Gala tiba-tiba.
Sekretaris itu pun terdiam.
“Seharusnya kau tahu jika direktur utama kita masih baru dan belum terbiasa dengan hal ini. Jadi usul saya, biarkan direktur menghadiri dua jadwal dulu untuk hari ini.”
“Baik, Tuan.”
Yara membuang napasnya kasar. Ia tak tahu jika pekerjaan seorang pemimpin perusahaan ternyata bukan hanya sekadar memerintah anak buahnya saja. Namun harus serba aktif dan produktif dalam memimpin perusahaan.
“Ribet sekali ternyata,” gumam Yara.
“Siapa namamu?” tanya Gala pada sekretaris wanita.
“Nama saya Jessica, Tuan.”
“Jessica tolong kau panggilkan wakil direktur untuk segera menghadap saya,” perintah Gala.
“Baik, Tuan.” Menunduk kepala dan berjalan keluar ruangan.
Senyuman Yara merekah saat Gala menyuruh Jessica memanggil Andro. Tak disadari gadis itu, jika Gala memperhatikan ekspresi centilnya.
__ADS_1
“Ehem!”
Senyuman Yara pudar saat mendengar deheman Gala.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Seorang pria dengan tubuh tegap, wajah tegas dan perawakan yang tampan muncul dari balik pintu itu.
“Permisi Tuan dan Nona,” ucap wakil direktur yang tak lain adalah Andro.
Gala menatap lelaki itu dengan tatapan membunuh. Oh jadi dia adalah wakil direktur Lincoln Group.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Andro.
"Ya. Kau gantikan istriku menghadiri beberapa jadwal. Nanti Jessica yang akan mengarahkannya."
"Baik, Tuan."
"Om Gala, aku tidak apa-apa. Sebagai direktur perusahaan ini aku harus menghadiri jadwal-jadwal yang sudah terstruktur. Biar nanti aku dan wakil direktur saja yang pergi. Aku rasa wakil ditektur dapat membimbing saya," jelas Yara, modus.
Gala menatap Yara dengan tajam hingga gadis itu tampak membuang wajahnya ke lain arah.
"Tidak! Ini adalah perintah. Kau akan menghadiri rapat direksi dan bertemu dengan kolega dari perusahaan Elektro bersamaku. Dan sisanya biar wakil direktur yang ambil alih."
Yara terdiam. Wajahnya tampak kesal. Gala benar-benar tak memberikannya ruang untuk bersama Andro.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," tutur Andro.
"Kembalilah bekerja."
Andro menunduk kepala memberi hormat kepada atasannya sebelum meninggalkan ruangan.
Gala melempar pandangnya ke wajah Yara yang masam. "Shanks keluarlah. Aku harus menyelesaikan sesuatu dengan istriku."
"Baik, Tuan."
Shanks meninggalkan ruangan. Hanya Gala dan Yara yang berada di ruangan itu. Yara mendengus kesal saat Gala dengan seenaknya memerintah semua orang.
Gala berjalan perlahan mendekat ke arah tubuh Yara. Dengan reflek, Yara menghindar namun kakinya terkilir sehingga ia hampir terjatuh. Gala langsung meraih tubuh mungil Yara, dan akhirnya Yara terjatuh lagi ke dalam pelukan Gala untuk kedua kalinya.
"Jika kau tidak berhati-hati maka kau akan terluka," ucap Gala sembari menyunggingkan bibirnya.
Gala kemudian membenarkan posisi Yara. Ia meraih dagu Yara dengan telunjuknya sehingga wajah Yara mendongak ke atas. Tatapan keduanya saling beradu. Jantung Yara kembali berdegup kencang. Apalagi Gala semakin mendekatkan wajahnya.
Gadis itu tak berkutik. Napas Gala menyambar kulit wajah Yara sehingga membuat tubuh Yara gemetar. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Yara. Betapa terkejutnya Yara saat merasakan bibir seksi milik Gala menyentuh bibirnya.
Deg!!
Deg!!
Tak hanya jantung Yara yang serasa mau copot, tapi jantung Gala pun demikian.
Dia mencuri ciuman pertamaku!! Batin Yara.
First kissku hanya untuk istriku! Batin Gala.
"O....om Gala," lirih yara dengan tersendat-sendat.
To be continued ...
Penasaran lanjutannya? Yukk tetap stay, dan tunggu notif updatenya. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian untuk Author 🥰🤗
__ADS_1