Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 47 : Gala Bertindak ~ Membuntuti


__ADS_3

Situasi semakin mencekam. Saat Gala bertindak, tidak ada yang berani bersuara. Amoera dan Yara berdiri tepat di hadapan Gala dengan kepala yang tertunduk. Sedangkan Chiren berdiri sedikit jauh dari kedua wanita itu. Tatapan Gala memicing.


"Kau!" mengalihkan pandang ke arah Chiren.


Menerima sorot mata membunuh dari Gala membuat Chiren tersentak. Tubuhnya reflek mendekat dan berbaris sejajar dengan Yara dan Amoera. Kini ketiga wanita itu berbaris rapi di depan Gala dengan kepala yang tertunduk.


Sesekali Amoera sesenggukan karena menahan isak tangis. Ucapan Gala sebelumnya, terngiang jelas di benaknya. Ia begitu takut jika Gala benar-benar membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahannya. Ia sangat tahu sifat Ayahnya.


"Ga--ga ... "


"SHUT UP!"


Deg!


Ketiga wanita itu terperanjat hebat. Gala menyorot Yara dan Amoera dengan seksama. Ia menggeleng kepalanya dan mendengus. Bagaimana tidak, penampilan kedua wanita itu sangat kacau dan amburadul.


Rambut Amoera bagai nenek gerondong yang tak menyisir rambut selama satu abad. Wajahnya pun telah bengkak dan memar akibat menerima pukulan dari Yara. Gaunnya yang berwarna putih telah dipenuhi bercak noda dan tampak usang. Bagian atas gaunnya juga telah sobek karena di keroyok Yara.


Tak hanya Amoera. Penampilan Yara juga terlihat amburadul. Rambut yang tadinya rapi tergerai ke belakang, kini sudah acak-acakkan seperti nenek gayung yang tidak pernah keramas bertahun-tahun. Gaunnya juga yang membela paha, kini sobek sampai membelah pinggang, akibat menendang lawannya.


"Coba lihat penampilan kalian! Beginikah kelakuan wanita-wanita berpendidikan seperti kalian?!"


"Si siput sawah ini yang duluan. Gatel kok nggak di garuk! Maunya digaruk laki orang!" cibir Yara.


"Enak saja! Kau yang tiba-tiba menyerangku! Dasar preman kampung!" balas Amoera tak kalah panas.


"Dari pada kau?! Ulat buku, cicak kudisan! Derajatmu sangat rendah! Masih binatang lebih beradab!"


"Apa kau bilang?!" menarik rambut Yara.


Bukkk!


Yara meninju wajah Amoera sehingga wanita itu langsung melepaskan cengkeraman tangannya. "Awhh!"


Plakkk!


Amoera membalas tinju Yara dengan tamparan yang keras.


"Ahh!" pekik Yara.


"Baik. Kalau kalian masih tak dapat mengontrol emosi kalian maka aku akan beri kalian kesempatan untuk saling menghajar habis-habisan! Chiren, kau yang jadi wasitnya!"


Ketiga wanita itu terperanjat. Mereka tidak menyangka jika Gala akan berkata seperti itu.


"Kenapa bengong? Ayo saling hajar!" desak Gala.


Yara dan Amoera kembali tenang dan menunduk kepala. Bagai anak-anak remaja yang sedang menerima hukuman dari Pak Guru, begitulah perilaku ketiga wanita itu.


"Kak Gala ... " lirih Chiren, hati-hati. "Apa salahku? Ke--kenapa aku ikut terseret?" tanyanya, polos.


Gala menyipitkan matanya. "Kau tidak tahu di mana letak kesalahanmu?"


Chiren menggeleng. Ia memang tidak tahu salahnya di mana. Setahunya, ia hanya membantu Yara untuk menghempaskan pelakor dan membantu Yara memegang ponselnya untuk merekam kegilaan Amoera sebagai bukti akurat.


"Salahmu adalah ... "


Chiren mendengar dengan seksama.


"Kau tidak memiliki kesalahan!"


Chiren menganga. Jawaban macam apa ini? batinnya.


"Hanya saja, karena kau berada di sini, maka kau juga harus ikut terkena percikan amarahku!"


Wanita itu mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Istriku ... "


Yara bergidik. Entah kenapa panggilan itu membuatnya merinding. Lantaran ia tahu jika Gala pasti akan menghukumnya. "I--iya, Suamiku."


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" tanya Gala, dingin.


"Maafkan aku, Suamiku."


"Kenapa meminta maaf?"


"Karena aku bersalah," lirih Yara, masih tidak berani menatap wajah Gala.


"Oh tidak sama sekali. Aku kagum padamu, Istriku. Kau ternyata cocok menjadi agen khusus Badan Intelejen. Kau punya bakat hebat soal penggerebekan. Kau tadi sangat keren saat masuk ke sini dengan membawa alat perekam."


Yara terbelalak. "Kau tidak marah padaku?" tanyanya lirih.


"Aku marah."


"Lalu kenapa memujiku?" mengerutkan dahi.


"Karena kau Istriku," menyunggingkan bibir.


Yara tersipu.


Situasi macam apa ini?! batin Chiren.


Lagi-lagi keduanya membuat orang-orang yang ada di tempat itu menjadi iri. Keduanya kembali merasa jika tempat itu hanya milik berdua. Amoera terlihat kesal. Api kecemburuannya sedang membakar hatinya. Ia tak bisa menebak pikiran Gala.


"Amoera!" ketus Gala.


"Ada apa Gala? Apa kau telah berubah pikiran dan tidak jadi membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaanku?"


"Keputusanku tak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Kau sudah mengenal karakter dan sifatku, bukan?"


Amoera kembali terdiam.


Wanita itu langsung berlutut dan memeluk kaki Gala. "Gala tolong jangan seperti ini. Berikan aku kesempatan. Aku tak akan mengulanginya lagi. Aku akan melakukan apa saja supaya kau tidak membatalkan kontrak dengan perusahaanku."


"Sudah kubilang. Keputusanku bersifat ultimatum!" menendang kakinya sehingga tangan Amoera terlepas.


"Ayo, Istriku!" menarik lengan Yara.


Gala dan Yara keluar dari ruangan itu dan menuju kamar. Ulang tahun Kinan, berkesan buruk bagi pasangan suami istri itu. Tak di sangka-sangka jika Amoera dengan berani menjebak seorang Gala Zayn Rodderick.


Untung saja Chiren sempat melihat Amoera yang membawa Gala ke tempat sepi. Berkat Chiren, Yara dapat menyelamatkan Gala tepat waktu. Jika terlambat semenit saja, maka Amoera pasti akan menodahi Gala.


Acara pun telah selesai. Semua tamu-tamu penting telah kembali ke peraduan mereka masing-masing. Sedari tadi Kinan mencari Amoera namun wanita itu tak kunjung kelihatan. Ia pun menanyakan pada pelayannya namun mereka tak tahu di mana Amoera.


"Gala dan Yara juga tidak kelihatan. Di mana mereka semua?" gumamnya.


"Tante ... "


Kinan melonjak saat melihat seorang perempuan yang berdiri di depannya. Wanita itu tak lain adalah Amoera. Kinan menyorot Amoera dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Ke--kenapa penampilanmu seperti gembel, Amoera?"


"Hiks ... hiks ... " terisak. Ia mendekat, hendak memeluk Kinan, namun segera Kinan memundurkan langkahnya.


"Jangan dekat-dekat," ucap Kinan.


"Tante ... aku di hajar Yara ... Hu hu hu," semakin terisak.


Kinan kembali terkejut. "Apa? Kenapa kau bisa di hajar si j*lang itu?"


"Ceritanya panjang Tante. Tapi sekarang bukan itu masalahnya."


"Lalu?"

__ADS_1


"Gala membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaanku. Dan di tambah lagi si wanita begal itu merekam tubuhku yang telanjang dan akan mengunggah video bugilku di media."


"Hah?! Jangan bilang kalau kamu sudah menjalankan rencanamu untuk meniduri Gala, tanpa sepengetahuan Tante?"


Amoera mengangguk pelan dengan wajah yang kusut. "Maafkan aku, Tante. Habisnya aku jengkel sekali sama Yara. Jadi aku hendak mempercepat rencanaku. Tapi malah gatot alias gagal total."


"Dasar bodoh! Kau seharusnya jangan gegabah, Amoera. Kau tahu sendiri jika keputusan Gala tak bisa di ganggu gugat. Bahkan Tante saja tidak bisa berbuat apa-apa jika Gala telah memutuskan sesuatu."


"Tante bantuin aku," memelas. "Aku takut jangan sampai Papaku mengetahui hal ini. Aku akan dibuang dari keluarga!"


Kinan tak menggubris. Ia juga bingung harus membantu Amoera dengan cara apa. Pasalnya, ia tak memiliki kuasa dalam mengendalikan Gala.


"Tente jangan diam saja," merengek.


"Tante lagi berpikir. Untuk sekarang kau kembali dulu ke rumahmu dan bersihkan tubuhmu yang terlihat gembel ini. Nanti kalau Tante sudah punya ide, Tante pasti akan kabari kamu."


Amoera mengangguk. "Baik, Tante. Aku pulang dulu."


***


Sedari tadi seorang pria sedang duduk di dalam mobil, menunggu sesuatu. Ia adalah Andro. Sudah hampir tiga jam ia berada di dalam mobil dan menunggu Anya. Ia sengaja datang diam-diam dan hendak membuntuti Anya.


Sebuah mobil putih melewati mobil Andro yang terparkir di pinggir jalan, dekat gerbang rumah Anya. Mobil itu adalah milik Anya. Segera Andro membuntuti Anya dari belakang. Kala itu jam telah menunjukkan pukul enam sore.


Selang beberapa menit mengikuti Anya dari belakang, tiba-tiba mobil itu berhenti di sebuah gedung apartemen yang elit. Anya memarkir mobilnya di basement dan diikuti Andro beberapa saat kemudian. Andro melihat Anya yang telah memasuki lift.


Dengan segera, ia menyusul Anya. Saat tiba di lobby, ia kehilangan Anya. "Ke mana dia?" gumamnya.


"Ayahhhhh!"


Andro menatap anak kecil yang sedang berlari menghampirinya. "Abelle?"


Gadis kecil itu memeluk Andro. "Ayah, aku kangen Ayah!"


"Abelle, sedang apa di sini?"


"Abelle tinggal di sini, Ayah."


"Ohya? Sejak kapan? Kenapa tidak beritahu Ayah?"


"Baru saja pindah hari ini. Aku kira, Bunda sudah kasih tahu ke Ayah."


"Belum, Sayang. Di mana Bundamu?"


"Aku di sini," ucap Abigail yang telah berdiri di belakang Andro.


"Abi, kenapa kalian pindah apartemen?"


"Kenzo mengajak kami untuk tinggal di apartemennya."


"Oh begitu," ucap Andro datar.


"Apa pacarmu juga tinggal di sini? Tadi aku melihatnya."


"Ke mana dia?"


"Bertemu dengan seseorang. Tapi orang yang ditemuinya memakai topi hitam dan masker. Jadi aku tidak tahu siapa orang itu," jelas Abigail.


"Ayah ... ayo kita makan malam bersama," ajak Abelle.


Andro dilema. Antara dua pilihan. Membuntuti Anya, atau memilih makan malam dengan putri semata wayangnya.


"Abelle, Ayah mungkin tidak bisa," ujar Abigail.


"Aku akan makan malam bersama kalian."

__ADS_1


To be continued ...


Tinggalkan jejak kalian dengan cara: Vote, Like dan Komen. Dukungan kalian akan sangat membantu Author. Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2