
Tok tok tok …
“Permisi Tuan dan Nona, makan malam sudah siap,” tutur seorang pria dari balik pintu.
“Baik,” balas Gala dari dalam kamar.
Gala masih duduk di tepi ranjang sambil menunggu Yara yang masih mengganti pakaian di walk in closet. Sebenarnya Gala boleh saja duluan ke ruang makan keluarga, namun ia tahu jika Yara pasti tidak akan nyaman untuk berjalan sendiri karena gadis itu masih trauma dengan perilaku Ibu Gala saat Yara masih kecil.
“Om Gala?!” teriak Yara masih dengan posisi di dalam ruang ganti pakaian.
Gala tak menyahut.
“Om …? Apa Om masih di sana?” tanyanya lagi.
“Bergegeslah. Kalau tidak, maka aku akan meninggalkanmu,” tukas Gala dengan raut datar.
“Iyaa sebentar. Satu menit sudah selesai. Jangan galak-galak dong!”
Tak lama setelah percakapan singkat, akhirnya Yara keluar dari dalam ruang ganti pakaian. Gala sampai tertegun melihat penampilan Yara yang sangat berbeda dari biasanya.
“Mau ke mana kau? Apa mau ke kondangan?” ucap Gala, sinis.
“Apaan sih! Katanya mau makan malam.”
Gala mengernyitkan dahi. Ia merasa heran dengan tingkah istrinya. Bagaimana tidak, Yara mengenakan gaun berwarna salem yang panjangnya sampai di telapak kaki dengan belahan panjang yang memperlihatkan paha mulus milih gadis itu. Gaun yang ia kenakan pun sangat ketat sehingga menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi. Bagian atasan gaun itu juga tampak terbuka sehingga menampilkan bagian dada dan lengan mungilnya. Tak hanya itu, ia sedkit membumbui wajahnya dengan riasan ala kadar.
“Bagaimana penampilanku? Cantik ‘kan Om?” tersenyum semringah sembari berputar-putar ria di depan Gala.
Pada awalnya, Gala menatap Yara dengan kagum. Namun setelah menyadari ada yang ganjal di pikirannya, ia pun merubah tatapannya menjadi tajam dan dingin. “Ganti pakaianmu dengan baju tidur.”
Yara membesarkan maniknya. “What?! Ke—kenapa? Apa kita tidak jadi makan malam?” memasang raut kecewa.
“Penampilanmu terlalu heboh hanya untuk makan malam di rumah.”
__ADS_1
Gadis itu terdiam. Ia seketika mencerna ucapan Gala. “Makan malam di rumah?” gumamnya sembari mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar.
“Cepatlah. Jangan lambat. Semua orang telah menunggu di ruangan makan.”
“Jadi dari tadi aku salah menerka? Aku kira kita akan makan malam di luar, dan nyatanya hanya di rumah saja?”
“Hmm,” mengangguk.
Yara membuang napasnya kasar. Wajahnya tampak kecewa. Sebenarnya ia malas untuk bertemu dengan keluarga Gala. Terlebih khusus Kinan, wanita yang menyandang status sebagai Ibu Gala. Yara tak akan pernah lupa dengan ucapan-ucapan pedas yang dikeluarkan mulut Kinan.
“Om, aku mau makan di kamar saja,” lirihnya.
“Tidak bisa. Ini adalah hari pertamamu di mansion ini sebagai istriku, sebagai Nyonya Muda keluarga Rodderick. Jadi kau harus menunjukkan sikapmu sebagai seorang istri dan sebagai wanita berpotensi. Supaya kau layak disebut sebagai Nyonya Muda Rodderick!”
Ucapan Gala lalu begitu saja di telinga Yara. Sampai detik ini pun ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang istri apalagi menyandang status sebagai istri muda Tuan Gala Zayn Rodderick dari Blackfire Company. Yara terdiam sembari menundukkan kepalanya. Ia meremas erat gaun yang ia kenakan. Ekpresi Yara cukup membuat Gala memahami apa yang dirasakan gadis itu.
Gala mendekat ke arah Yara. Ia menatap lekat istrinya dan memegang bahu Yara dengan kedua tangannya. “Tidak usah berpikir negatif. Tunjukkan pada mereka jika kau adalah wanita tangguh. Kau berbeda dari sepuluh tahun yang lalu, yang dengan seenak hati dapat diinjak-injak dan diremehkan. Aku mengirimmu ke luar negeri adalah supaya kau menjadi perempuan tegas, cerdas dan tentunya berkelas. Jangan minder hanya karena kau masih muda dan yatim piatu. Aku akan selalu berada di sisimu.”
“Om Gala, apa aku bisa berhadapan dengan Oma Kinan?” lirihnya.
“Mama, bukan Oma!”
“Memanggilnya dengan sebutan Mama pun terasa berat bagiku. Tapi akan aku coba.”
“Bagus! Itulah gadis sepuluh tahun yang ku kenal.”
Yara mengganti pakaiannya kembali. Ia teringat saat ia berusia sepuluh tahun, yang di mana ia selalu mengagumi, membanggakan sosok Gala. Bagi Yara kecil, Gala adalah seorang pria yang sempurna. Yang selalu ada untuknya di kala senang maupun sedih, yang selalu membelanya di saat seseorang merendahkan dirinya dan keluarganya.
Namun pemikiran baik tentang Gala berubah saat Yara dikirim ke luar negeri. Mengapa? Karena Yara tak menyangka jika dirinya akan diasingkan di negeri orang. Ia juga sempat syok saat Gala tidak ikut dengannya ke luar negeri dan tak mengabarinya selama ia di sana. Padahal Yara tidak mengetahui jika pria itu selalu berkunjung ke sana dan mengawasinya dari jarak jauh.
Mulai dari situlah rasa kebencian dan akar pahit merambat sampai di hatinya. Ia sangat membenci Gala dan selalu merutuki pria dewasa itu. Kehidupannya di negeri asing sangat pahit. Ia harus melewati berbagai problem kehidupannya dengan mengandalkan diri sendiri. Tidak bergantung orang lain. Namun dari situlah pribadi Yara mulai terbentuk. Ia menjadi gadis tegar dan mandiri. Meskipun sifat manjanya mulai tampak kembali saat ia mulai berhubungan lagi dengan Gala.
Berselang waktu beberapa menit, Yara kembali dari ruang ganti pakaian. Ia mengenakan dress sederhana namun tampak mewah terbalut di tubuhnya. “Sudah selesai.”
__ADS_1
Gala beranjak dari duduknya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, Gala keluar dari pintu kamar diikuti dengan Yara.
Di lantai tiga merupakan wilayah kekuasaan Gala, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menginjakkan kaki dengan sembarangan. Hanya asisten pribadinya dan kepala pelayan yang boleh ada di sana. Selain mengingatkannya untuk makan, kepala pelayan selalu membersihkan ruangan Gala. Seringkali kepala pelayan yang bernama Pak Angga membawa kedua anak buahnya untuk membantunya membersihkan seluruh lantai tiga sekaligus dengan membereskan kamarnya.
Gala menghentikan langkahnya saat menyadari jika sosok Yara telah tertinggal jauh di belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gadis itu sedang bergumam sendiri.
“Apa yang lakukan?”
Yara berlari ke arah Gala. “Aku sedang latihan.”
“Untuk apa?”
“Ya latihan berbicara saat bertemu Oma Kinan. Eh, maksudku Mama Kinan.”
“Bodoh.” Gala menatap tangan Yara yang tampak gemetar. Ia pun menjulurkan tangannya secara sukarela untuk dipegang Yara.
Yara membalas tatapan tajam Gala. Dengan ragu ia pun menerima uluran tangan Gala. Rasa nyaman dan tenang kembali dirasakannya. Aura Gala tidak berubah. Masih sama saat sepuluh tahun yang lalu. Saat di mana Yara merasakan ketenangan saat bersentuhan fisik dengan Gala. Mungkin perasaan dulu kembali menghampirinya.
Tangannya begitu keras namun lembut. Tidak berubah sama sekali.
Gala dan Yara berjalan menuju lantai satu dengan berpegangan tangan. Keduanya tidak menyadari jika sebenarnya mereka telah melakoni peran mereka sebagai suami istri. Melindungi dan terlindungi. Rasa keberanian Yara muncul saat ia bersama-sama dengan Gala.
“Om …” panggilnya lirih, membuat Gala menatap maniknya. Yara hanya memanggil nama Gala dengan lembut sembari tersenyum manis.
Wajah polos saat pertama kali bertemu dengan Gala kembali menghantui benak Gala. Tak hanya itu, ia juga melihat sosok Elyora di dalam diri istrinya. Wanita yang murah senyum dan periang. “Kau benar-benar mewarisinya,” tutur Gala.
“Mewarisi apa, Om?”
“Lupakan!” Gala menarik sudut bibirnya sehingga membuat lekukan tipis.
To be continued ...
Halo semua... Jangan pernah bosan untuk mampir yaa. Dukungan kalian akan sangat membantu Author 🤗🥰
__ADS_1