Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 19 : Gala Tersiksa


__ADS_3

(Beberapa jam lalu sebelum Gala mendapat luka)


“Ikuti bajingan itu!”


“Baik, Tuan.”


Shanks melajukan kecepatan mobil setelah mendapat perintah dari Gala. Ia sesekali mencuri pandang di kaca spion dan memandangi raut Gala yang terlihat mematikan. Shanks tahu jika emosi tuannya sudah tak dapat di tahan lagi.


Selang beberapa menit tibalah mereka di sebuah hotel berbintang di ibu kota. Seorang pria yang tak lain adalah Leon, turun dari dalam mobil berwarna merah dengan seorang wanita berparas cantik serta memiliki bentuk tubuh bahenol. Wanita itu adalah selingkuhan Leon. Sudah beberapa kali Leon dipergoki Chiren dan Gala namun lelaki itu tak kunjung tobat.


Semenjak kepulangan Leon ke mansion, Chiren sudah curiga jika Leon pasti akan bertemu dengan wanita simpanannya. Karena sudah tak tahan dengan perlakuan Leon, Chiren pun sebagai istri sahnya mulai bertindak. Ia meminta bantuan kakak iparnya untuk membuntuti Leon setelah Gala dan suaminya menyelesaikan urusan di kantor.


Gala turun dari dalam mobil dan mamasuki hotel. Ia melihat Leon yang telah lebih dulu masuk ke dalam lift bersama wanita simpanannya. Gala pun menyusul. Dengan rahang yang mengerat, Gala terus berjalan sampai ia tiba di sebuah kamar di lantai tujuh belas, tempat Leon dan wanita itu berada.


“Sayang, kau akan menginap ‘kan malam ini?” tutur wanita itu memelas, sembari mengusap lembut dada bidang Leon.


“Tentu saja, Sayang.”


“Bagaimana dengan istrimu?”


“Kau tenang saja. Aku mengatakan pada Chiren jika aku akan lembur bekerja dan tidak akan pulang malam ini. Dia pun percaya, hahah!” terkekeh.


Wanita itu pun tergelak. “Ceraikan saja istrimu, Sayang. Lalu menikahlah denganku. Apa sih yang kurang dari tubuhku ini?” menggoda Leon sembari melepas perlahan pakaiannya.


Leon tersenyum kecut dan memandangi tubuh sempurna wanita yang ada di depannya. Leon kemudian langsung menerkam tubuh selingkuhannya dan menyantap wanita itu dengan brutal. Perzinahan pun kembali terjadi. Dengan tidak memiliki rasa bersalah terhadap Chiren, Leon tetap melancarkan aksinya dengan mencumbui wanita lain.


Kedua orang itu bersenang-senang dan saling memuaskan dahaga mereka. Hubungan mereka tidak didasari cinta, melainkan nafsu yang membara. Keduanya hanya saling membutuhkan untuk memuaskan hasrat mereka yang tak ada habis-habisnya. Tapi memang benar yang dikatakan pepatah. Manusia tidak pernah puas.


Puncak kenikmatan mulai menghampiri. Leon melajukan hentakannya dengan beringas sehingga wanita itu mengeluarkan suara nyaring yang tak karuan dengan tersendat-sendat. Mereka sangat menikmati gairah mereka sehingga tidak menyadari jika seseorang telah masuk ke dalam kamar itu.


Bukkkk!!


Sebuah tinju melayang di wajah tampan Leon sehingga pria itu terpental dari atas ranjang menuju lantai.

__ADS_1


“Ahhhhhh!” teriak simpanan Leon dan segera meraih selimut untuk membalut tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang.


“Sialan!” umpat Leon, mencoba mengangkat tubuhnya yang masih berada di atas lantai.


Gala mengeratkan rahangya. “Bajingan kau!”


Bukkk!


Pukulan ganas kembali menghantam wajah Leon. Belum sempat Leon berdiri, ia telah menerima serangan mematikan bertubi-tubi dari Gala.


“Berdiri kau!” menarik paksa tubuh Leon.


“Apa yang kau lakukan di sini?!” ketus Leon dengan napas yang terengah.


“Biadab kau!” tak menjawab pertanyaan Leon, Gala kembali meninju wajahnya.


“Tuan, hentikan!” celutuk Shanks, menghentikan pertikaian sengit kakak beradik itu.


Gala tetap mengamuk dan ingin menghajar Leon lagi. Namun Shanks tetap menahan Gala. Karena sebelumnya, Gala telah berpesan pada Shanks untuk menghentikannya jika ia sudah kehilangan kendali. Hanya Shanks yang bisa menghentikan amukan brutal Gala.


Bukkkk!


Dengan sisa kekuatan yang Leon miliki, ia melakukan serangan balik di wajah Gala. Namun Gala tidak membalas karena Shanks telah menahan kedua tangannya. Sedangkan wanita simpanan Leon telah memakai pakaiannya dan menarik tubuh Leon, menjauh dari pandangan Gala sebelum Singa mengamuk kembali.


Gala melepas paksa eratan tangan Shanks. Ia mengusap wajahnya kasar dan menendang tepi ranjang dengan keras. “Kalau kau tidak menghentikanku. Aku sudah pasti akan membunuhnya!”


“Tuan memang hampir membunuhnya.”


Gala sebenarnya tipe pria yang tenang dan tidak mudah emosi. Sebelum ia melakukan tindakan, ia sudah terlebih dahulu mempertimbangkannya dengan matang. Karena dirinya tahu jika ia mulai bertindak menggunakan kekerasan maka tidak ada satu iblis pun yang bisa menghentikannya. Hanyalah kemurahan Tuhan saja yang membuat Gala mampu mengontrol emosinya, lewat kehadiran Shanks.


***


Kicauan burung di luar telah riuh terdengar. Cahaya samar-samar mulai nampak lewat jendela kaca yang hanya tertutup setengah tirai. Dua makhluk hidup masih terlelap dengan pulas di atas ranjang. Siapa lagi kalau bukan pasangan suami istri, Gala dan Yara. Jam telah menunjukkan pukul delapan pagi, namun kedua orang itu masih tertidur pulas.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya mereka bangun lewat dari pukul tujuh. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya mereka tidur bersama selama menikah. Sebenarnya kedua orang itu tidak sadar jika mereka terlelap dalam satu ranjang. Entah hal apa yang membuat Gala dan Yara khilaf.


Gala mulai terbangun. Ia mencoba membuka matanya yang masih sayu. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah tangan dan kaki yang menyilang di tubuhnya. Perlahan, Gala menatap samping kirinya dan ya! Ia kembali terperanjat saat melihat wajah Yara menyelundup di ketiaknya.


“Goshht!” ia tersadar jika lengan berototnya merentang di atas kepala Yara sehingga wajah gadis itu sepenuhnya berada tepat di bagian lekuk antara pangkal lengan dan badannya.


Wajah Yara tampak semringah saat berada di ketiak Gala. Pria itu tak enak hati mengganggu tidur Yara. Ia pun dengan perlahan memindahkan tangan dan kaki Yara yang menindih tubuhnya. Namun saat ia hendak memindahkan posisi kaki Yara, tiba-tiba tangan Yara kembali mendekapnya dengan erat.


Degg!


“Om jangan pergi,” lirih Yara.


Gala yang mendengar gumam Yara, terkejut bukan kepalang. Ia seketika menghentikan aktivitasnya dan membisu di sana. Bahkan napasnya pun di tahannya agar tidak merusak keheningan. Gala tak bisa menggerakkan lagi tubuhnya. Niat menatap wajah Yara pun diurungnya karena jantungnya akan semakin berdetak secara tidak karuan.


Gadis itu terus menyodorkan wajah mungilnya di ketek Gala. Napas Yara sangat terasa menembus pori-pori sehingga rasa geli menggelitik ketiaknya. Gala menahan rasa itu dengan setengah mati. Wajahnya memerah, bibirnya mengatup rapat. Sungguh, Gala sangat tersiksa dibuat Yara.


“Hmm, nyamannya!” gumam Yara lagi dengan menggesek wajahnya.


Rasa geli sudah berada di ubun-ubun. Jika wajah Yara bergerak lagi di sekitar area sensitif Gala, maka pria itu tak dapat menahan lagi gelak tawanya. Dan pasti itu akan membuat Yara terbangun. Jika Yara terbangun maka situasi canggung akan kembali melanda mereka. Tak hanya itu, harga diri Gala pun akan hilang, jika ia terbahak. Nanti Yara akan berpikir jika dirinya adalah pria gila.


Please don’t move anymore!! Batin Gala.


Beberapa menit terlewati dengan baik. Gala menahan diri untuk tidak membuat gerakan tambahan. Sedangkan Yara masih asik terlelap dengan menyiksa Gala. Pria itu masih mematung sampai ketika Yara kembali menggesek wajahnya di ketiak Gala. Dan akhirnya …


“Bwahaha!” gelak tawa Gala memecah keheningan.


Yara pun terbangun karena mendengar suara berat dan nyaring milik Gala. Betapa terkejutnya Yara saat melihat Gala berada di sampingnya. Dan lebih parahnya lagi posisi tangan dan kakinya menindih tubuh Gala.


“Ke—kenapa Om tidur di sampingku?” tanya Yara dengan malu.


Gala terdiam. Ia mencoba mengingat kembali, hal apa yang membuat ia satu ranjang dengan Yara.


Tadi malam aku …

__ADS_1


To be continued ..


Jangan pernah bosan untuk mampir dan tinggalkan jejak sebagai tanda dukungan untuk Author. Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2