Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 62 : Curiga


__ADS_3

Ucapan Gala tadi siang terus bergentayangan dalam benak Janetha. Ada rasa bersalah yang teramat dalam yang ia rasakan. Pasalnya, ia telah melanggar janji yang telah ia dan Gala sepakati. Sambil mengemasi barang-barangnya, bulir air mata mulai menggenangi pipinya.


“Mommy?” panggil Leonard.


Tak ada sahutan dari Janetha.


“Mommy!” panggil Leonard dengan keras.


Janetha sedikit kaget. Ia segera menghapus cairan bening yang memenuhi pipinya dan menatap Leonard. “Iya, Sayang?”


“Apa kita akan pindah tempat?”


“Ehm … Kita akan kembali ke Paris,” jawab Janetha jujur.


“Why? Aku tidak ingin kembali, Mommy!” ketus Leonord.


“Kita harus kembali, Sayang. Mommy memiliki pekerjaan di sana.”


“Tapi kenapa harus kembali sekarang? Pokoknya aku tidak mau pergi! Aku mau tinggal di sini bersama Daddy!”


Janetha menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Ingin sekali ia berteriak pada anaknya dan menjelaskan bagaimana situasinya sekarang. Namun ia mengurungkan niatnya. “Sayang, dengarkan Mommy. Tempat kita bukan di sini. Dan Daddymu tidak bisa bersamamu selamanya. Kau akan mengerti jika kau telah besar.”


“Tidak! Kenapa hanya aku yang seperti ini? Teman-temanku memiliki Daddy yang tinggal bersama dengan mereka.”


“Karena kau berbeda dengan mereka,” ucap Janetha lirih.


“Berbeda? Apa yang berbeda? Aku dengar-dengaran sama Mommy. Aku tidak pernah berbuat nakal dan menyulitkan Mommy, tapi kenapa Mommy menghukumku seperti ini? Kenapa Mommy harus memisahkan aku dengan Daddy?”


Jantung Janetha berdebar kencang. Ucapan Leonard bagai anak panah yang menusuk hatinya. Ia tidak menyangka anak sekecil itu dapat berpikir demikian. Seketika Janetha diam seribu bahasa. Entah dengan cara bagaimana ia menerangkannya pada Leonard. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Mommy! Kenapa diam saja? Kita tidak jadi pulang ‘kan?” tanya anak itu penuh harap.


Janetha tak menggubris. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya, mengemasi semua pakaian mereka. Ia melihat jika Leonard telah melangkahkan kaki menuju sofa. Anak itu terdiam dengan raut wajah cemberut. Janetha kembali menangis, ia tidak tega melihat anaknya bersedih lantaran menginginkan Daddy-nya.


***


Di salah satu restoran terbaik di ibukota, sepasang suami istri tampak menikmati hidangan makan malam mereka. Tempat itu telah di pesan khusus oleh Leon untuk ditempati dirinya dan Chiren. Sikap Leon benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Tentu saja karena ia menyembunyikan sesuatu dari istrinya.


Dalam hati Leon yang paling dalam, ada rasa bersalah karena telah menyakiti Chiren. Ia tersadar dengan apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia sadar jika selama ini, Chirenlah yang selalu ada di sisinya. Chiren yang selalu sabar menghadapi perilakunya yang kejam.


Leon akui jika hal buruk yang menimpa kandungan Chiren itu merupakan perbuatannya. Ia selalu main wanita di belakang Chiren dan bahkan sering bertindak kasar terhadap istrinya. Ia menatap wajah cantik Chiren yang duduk berhadapan dengannya. Wanita itu sangat anggun dan cantik.


Betapa bodohnya aku selama ini! Dia benar-benar cantik melebihi perempuan-perempuan penghiburku. Aku selalu menyakitinya namun dia selalu sabar menghadapi sikapku. Maafkan aku Chiren. Aku telah menyia-nyiakan cintamu dan perhatianmu. Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan sahabatmu, tapi ada satu hal yang tidak bisa menjauhkanku dengannya. Hal itu adalah ikatan yang sangat kuat. Aku menyayangi anak itu.


“Leon … kenapa menatapku seperti itu?” tanya Chiren tiba-tiba sehingga membuat Leon buyar dari lamunannya.


“Kau sangat cantik,” ucap Leon memuji istrinya.

__ADS_1


Chiren tersipu malu. Rona merah bermunculan di pipinya.


“Makanlah yang banyak supaya kau dan calon anak kita sehat walafiat.”


Chiren mengangguk. “Kau sangat manis, Leon. Semoga saja kau benar-benar telah berubah, bukan karena ada sesuatu yang kau rahasiakan dariku sehingga kau bersikap manis seperti ini.”


Deg!


Leon melonjak. “Ehem! Tidak.”


Drt drt drt …


“Ponselmu bergetar,” ucap Chiren.


Leon menatap gawainya. Ia mendapati nomor Janetha yang menghubunginya. Leon mematikan layar sehingga getaran berhenti.


“Kenapa tidak dijawab?”


“Tidak penting.”


Drt drt drt …


Telepon genggamnya kembali bergetar. Leon menjadi risih. Ia kembali mematikan layar ponselnya.


“Tidak apa kalau kau mengangkatnya. Mungkin saja itu sangat penting,” tutur Chiren.


“Ahhh, jangan menggombal. Kau sangat mengerikan,” ledek Chiren.


Sebuah notifikasi masuk. Leon merasa sangat kesal sehingga ia berniat untuk mematikan ponselnya. Namun pesan singkat dari Janetha yang tampil di layar depan ponselnya membuat perhatiannya teralih. Meski hanya sekilas, pesan singkat itu mampu membuat Leon mengurungkan niatnya untuk mematikan ponselnya secara total.


Leon kemudian membaca pesan yang dikirimkan Janetha. Maniknya kembali melebar saat membaca pesan itu. Walaupun hanya beberapa kata yang membentuk satu kalimat, namun itu mampu membuat Leon panik. Dengan reflek ia beranjak berdiri dari duduknya. Chiren yang melihat tingkah Leon menjadi heran.


“Ada apa?” tanya Chiren.


“Chiren, aku harus ke kantor. Gala tiba-tiba mengirimkan pesan karena aku tidak mengangkat telepon darinya. Ada hal penting yang harus diselesaikan di kantor malam ini juga.”


“Oh begitu? Baiklah,” ucap Chiren tampak kecewa.


“Kau makan yang banyak. Aku tinggal dulu,” berlalu meninggalkan Chiren.


Chiren menatap bahu lebar Leon dari belakang. Ia sedikit kecewa karena ia harus ditinggalkan Leon disaat makan malam romantis mereka. Padahal Leon mengatakan tadi bahwa tidak ada hal yang lebih penting selain istrinya. Nyatanya, itu semua hanya pemanis di bibir saja.


“Loh kenapa kembali?” tanya Chiren saat melihat Leon telah berdiri kembali di hadapannya.


“Aku akan pergi naik taksi saja. Kau bawalah mobil untuk pulang ke mansion,” menyodorkan kunci mobil.


“Baiklah. Kau hati-hati di jalan,” ucap Chiren.

__ADS_1


“Kau juga, hati-hati saat mengemudi. Jangan ngebut-ngebut,” tutur Leon.


Chiren mengangguk. Ia kembali tersenyum semringah. Walah hanya perhatian kecil, tapi itu sukses membuat Chiren berbunga-bunga. Jelas saja karena selama ini Leon tidak pernah peduli dengannya. Makanya saat Leon mengucapkan kalimat singkat yang berisi perhatian, wanita itu langsung klepek-klepek, seperti baru merasakan cinta saja.


Drt drt drt …


“Halo, Kak Gala?”


“Chiren kau di mana? Apa kau bersama Leon?” tanya Gala dari balik telepon.


“I—iya tadi. Beberapa detik yang lalu.”


“Maksud kamu?”


“Leon sudah pergi saat menerima pesan singkat dari Kak Gala.”


“Pesan singkat? Apa maksudmu?”


Chiren mengerutkan kening. “Bukannya Kak Gala menghubungi Leon untuk segera ke kantor ya?”


Gala terdiam.


“Halo … Kak Gala?”


“Kau di mana sekarang?”


“Aku ada di restoran Seafood.”


“Apa kau dan Leon makan malam di sana?”


“Iya Kak.


"Baiklah kalau begitu. Langsung pulang ke mansion saja dan jangan bertemu siapa pun lagi!”


Tut tut tut …


Gala mematikan sambungan telepon. Chiren menjadi sangat bingung. Ia mulai curiga. Perasaannya berkecamuk antara percaya atau tidak percaya dengan ucapan Leon. Hal itu dikarenakan cara berbicara Gala saat meneleponnya. Ia curiga jangan-jangan Leon kembali membohonginya.


“Kenapa seolah-olah Kak Gala bingung saat aku mengatakan jika dia mengirimi pesan pada Leon? Ada yang tidak beres. Hatiku menjadi tak tenang.”


Chiren memandangi kunci mobil di atas meja. Dengan segera ia meraih kunci mobil dan beranjak meninggalkan tempat itu. Tak lupa juga ia meninggalkan beberapa lembar uang tunai untuk membayar makanan yang telah mereka pesan.


“Aku harus mencari tahu!”


To be continued ...


Berikan dukungan untuk Author dengan cara vote, like dan komen 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2