Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 51 : Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

Sejak dalam perjalanan sampai tiba di kantor, raut wajah Gala tak henti-hentinya mengeluarkan senyuman. Peristiwa tadi malam melekat erat di pikirannya sehingga secara tidak sadar, ekspresi wajah yang ia keluarkan tidak seperti seorang Gala Zayn Rodderick pada umumnya yang cuek, datar dan garang.


Sedari tadi, Shanks rupanya telah memperhatikan tingkah aneh atasannya. Namun ia enggan untuk bertanya. Shanks menerka-menerka, penyebab cairnya si balok es yang ada di depannya. Shanks mengerutkan dahi dan mengusap dagunya. Pria itu tampak memutar otaknya, berpikir keras.


“Shanks!”


“Iya, Tuan?”


Gala duduk di singgasananya dan memutar-mutar badannya di tempat duduk itu. “Tidak sia-sia aku berguru padamu,” ucapnya, semringah.


Shanks mengernyitkan dahi. “Maksud Tuan?”


“Sekarang kau jujur padaku, Shanks,” menatap tajam manik Shanks. “Apa kau sudah pernah bercinta dengan wanita?!”


Asisten pribadinya melonjak. “Be—belum pernah, Tuan.”


“Hmm, cukup hebat. Untuk pria tua seperti kau yang belum berpengalaman. Kau telah memberikan tips yang sangat bermanfaat untukku.”


“Apa, Tuan berhasil?” lirih Shanks, tampak ragu bertanya.


“Ya! Misi memperkosa istri, sukses!”


Shanks tiba-tiba berjingkrak ria. “Yes!” mengepal jemarinya.


“Kenapa kau senang? Aku yang menjalankan misi, kok jadi kau yang bersemangat?!”


“Maaf, Tuan. Aku terlalu Bahagia karena Tuan sudah tidak perjaka lagi,” jujur Shanks.


Gala menatapnya dengan sorot mata membunuh. “Apa maksud ucapanmu?”


“Tidak ada maksud apa-apa, Tuan. Aku senang karena akhirnya Tuan sudah menemukan kebahagiaan Tuan. Semoga Tuan Gala dan Nona Yara segera diberi keturunan.”


Gala menarik sudut bibirnya dan mengaminkan ucapan Shanks dalam hati. “Kau belajar dari mana, Shanks? Selain menonton, aku yakin kau pasti belajar pada pakar.”


“Aku belajar otodidak, Tuan. Dan waktu lalu aku sempat memiliki gebetan, tapi tidak sampai pacaran. Hanya pendekatan saja. Tapi ternyata perempuan itu bekerja di club malam sebagai wanita penghibur. Dia juga yang banyak memberitahuku soal bercinta.”


Gala menyipitkan matanya menatap Shanks. Tampaknya lelaki itu curiga dengan Shanks karena asistennya itu baru saja memberitahu Gala jika ia punya gebetan wanita penghibur.


“Ada apa dengan tatapan, Tuan? Su—sumpah, Tuan, aku tidak menyerahkan kehormatanku pada perempuan itu. Saat aku tahu pekerjaannya, aku langsung memblokir kontaknya. Aku tidak sampai wik wik denganya. Aku berani bersumpah Tuan,” jelas Shanks panik bukan kepalang.


Seperti anak remaja yang sedang diinterogasi emaknya, begitulah perilaku kedua lelaki dewasa itu.


“Aku hanya menatapmu, Shanks. Kenapa kau sudah berpidato panjang lebar padaku?”


“Tatapan Tuan, membuatku berpikir jika Tuan mencurigaiku. Makanya aku berusaha menjelaskan secara rinci."


“Tidak perlu. Aku tidak peduli dengan kisah asmaramu. Kau mau bercinta dengan kupu-kupu malam kek, atau sama nenek-nenek gayung sekalipun, I don’t care! That’s your business, not mine!”


“I understand, Sir.”


“Good.”

__ADS_1


***


Siang itu, Chiren hendak menuju suatu tempat. Ia memelankan laju mobilnya saat melihat mobil milik suaminya terparkir di sebuah taman bermain anak-anak. Chiren pun segera menepikan mobilnya.


“Aku tidak salah lihat. Itu memang mobilnya Leon. Tapi sedang apa dia di tempat ini?” gumam Chiren.


Wanita itu pun berjalan menuju taman itu. Ia menjelingkan matanya ke segala arah namun sosok Leon tak ditemuinya. Chiren kembali ke dalam mobil dengan rasa penasaran yang mengganggu fokusnya. “Ah sudahlah, nanti saja aku tanyakan padanya.”


Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa menit ia tiba di sebuah tempat makan berciri khas Jepang. Seorang wanita cantik tampak melambaikan tangannya saat melihat sosok Chiren yang sedang berjalan memasuki restoran.


“Chiren,” ucapnya pelan.


Chiren dan Janetha saling berpelukan karena mereka baru saja bertemu sejak lima tahun lalu.


“Janetha, kau makin cantik saja,” ucap Chiren, memuji wanita bertubuh semampai itu.


“Kau juga, Chiren. Kau masih seperti dulu. Cantik dan anggun.”


“Ah kau bisa saja. Bagaimana bisnismu di Paris?” tanya Chiren.


“Lumayan lancar.”


“Syukurlah. Aku sangat khawatir karena kau pergi begitu saja tanpa mengabariku. Aku hanya menerima email darimu yang begitu singkat. Kau baik-baik saja ‘kan?”


Janetha mengangguk sembari melemparkan senyum pada Chiren. “Maafkan aku. Waktu itu aku mengalami masalah yang cukup rumit. Dan mendadak ke luar negeri untuk melanjutkan hidupku di sana.”


“Kenapa kau tak cerita padaku? Kita ‘kan sudah sahabatan dari SMA. Apa kau masih meragukanku?”


“Kenapa? Ayo cerita dong.”


“Tidak apa-apa,” menggeleng kepalanya. “Ohya bagaimana rumah tanggamu?”


Seketika Chiren terdiam. Rautnya berubah menjadi murung. “Baik-baik saja,” tuturnya, datar.


“Syukurlah. Sekali lagi maafkan aku karena tidak dapat menghadiri pernikahanmu dengan suamimu. Lima tahun lalu memanglah sangat berat bagiku. Tapi kau tenang saja. Aku sudah lebih baik sekarang.”


“Tidak masalah, Janetha. Lagipula tidak ada yang berubah padaku.”


“Di mana anakmu?”


Chiren tersenyum kecil. “Aku belum memiliki anak. Sudah tiga kali aku mengandung dan keguguran. Dokter menyarankanku untuk istirahat selama tiga tahun. dan tahun ini aku sedang mengandung untuk yang keempat kalinya.”


Janetha sontak kaget. Ia menjadi tidak enak hati pada sahabatnya itu. “Ma—maafkan aku karena telah lancang, Chiren.”


“Jangan selalu meminta maaf. Kau tidak ada salah, hehe,” terkekeh.


“Semoga saja kau dan calon bayimu selalu diberikan kesehatan,” ujar Janetha merasa iba.


“Amin.”


Kasihan juga Chiren. Ternyata dia lebih tersiksa daripadaku. Batin Janetha.

__ADS_1


“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menikah?”


Janetha menggeleng kepala. “Tapi aku sudah memiliki anak.”


“Hah, gimana gimana? Aku tidak paham,” tanya Chiren kaget.


“Iya. Aku belum menikah tapi aku sudah punya anak.”


“Lah, bagaimana bisa Janetha? Siapa laki-laki yang menghamilimu tapi tidak bertanggung jawab?!” Chiren tampak kesal.


“Sudahlah lupakan. Aku tidak ingin mengingat kejadian pahit itu. Aku sudah cukup bahagia dengan putraku sekarang,” tersenyum.


“Lalu berapa usia anakmu?”


“Lima tahun.”


“Apa karena itu, kau berangkat ke luar negeri lima tahun lalu?”


Janetha mengangguk. “Aku sebenarnya telah hamil tiga minggu, saat ujian nasional sementara berlangsung. Tapi aku tidak memberitahumu. Aku takut kau akan memarahiku, jadi aku menyembunyikan kehamilanku padamu dan pada kedua orangtuaku. Aku sempat berpikir untuk menggugurkan kandunganku dan ingin mengakhiri hidupku. Tapi aku berusaha tegar dan kuat.”


“Astaga Janetha! Kenapa kau tidak cerita padaku! kisahmu sungguh memilukan.”


“Aku sangat bodoh waktu itu karena berpikir tumpul. Orang lain sangat mengingini seorang anak, tapi aku malah ingin membunuh anakku sendiri. Tapi aku sangat menyesali perbuatanku waktu itu. Untung saja seseorang datang menguatkanku.”


Chiren ikut bersedih dengan cerita Janetha. Ia tidak tahu jika sahabatnya itu telah mengalami depresi yang sangat berat lima tahun lalu. Janetha adalah gadis cantik dan cerdas. Orangtuanya adalah seorang pelukis yang cukup terkenal, namun latar belakang keluarganya tak sama elit dengan keluarga Chiren.


Janetha seringkali minder untuk berteman dengan Chiren. Tapi Chiren menerimanya dengan sangat baik. Mereka pun bersahabat sejak mereka kelas satu SMA. Janetha memiliki cita-cita sebagai desainer. Untuk itulah ia memutuskan tinggal di Paris, supaya ia bisa mewujudkan cita-citanya, walau saat itu ia sedang mengandung bayi dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab.


“Aku ingin melihat anakmu. Di mana dia?”


“Tadi bersamaku. Tapi …”


“Tapi?”


Janetha menatap Chiren dengan lekat. “Aku menitipkannya di taman bermain.”


“Oh begitu. Siapa nama anakmu?”


“Leonard Zark Rode--,” menjeda ucapannya. “Leonard Zark Davis, tapi akrab dipanggil Leo.”


“Kau menambahkan marga keluargamu di belakang namanya ya? Hmm, nama putramu sangat bagus. Hampir mirip dengan nama suamiku. Leon Zack Rodderick.”


Degg!


Janetha terkejut. Ia kembali menormalkan raut wajahnya.


Chiren aku benar-benar minta maaf. Takdir begitu kejam mempertemukanku dengan lelaki itu!


To be continued ...


Berikan dukungan kalian untuk Author 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2