
Sekitarnya tampak terbalik. Pandangan matanya menjadi buram dan lama-kelamaan berubah menjadi gelap gulita. Itulah yang dirasakan seorang pria yang baru saja mengalami kecelakaan mobil yang tragis. Pria itu yang tak lain adalah Leon menjadi tak sadarkan diri, sedangkan seluruh tubuhnya telah dibanjiri cairan kental berwarna merah.
Beberapa menit kemudian seorang pengendara mobil berhenti saat melihat sebuah truk yang menghadang jalanan. Pengendara itu segera turun dari dalam mobilnya. Ia mendapati sebuah mobil berwarna hitam telah berada di dalam jurang yang terjal. Pria itu terkejut bukan kepalang. Pasalnya, mobil itu telah penyok dan bagian depannya telah hancur.
Sangat mustahil ada yang selamat di dalam mobil yang telah rusak binasa seperti itu. Beberapa kendaraan lain terhenti lantaran terhadang kemacetan. Mereka pun telah menghubungi pihak berwajib dan melaporkan kecelakaan maut itu. Kebetulan seorang pria yang pertama kali menemukan keberadaan Leon, adalah seorang dokter yang baru saja kembali dari luar negeri.
Dokter itu langsung menghubungi ambulans. Sebelumnya ia telah melakukan pertolongan pertama, namun menurut pendapatnya kehidupan Leon tidak akan bertahan lama karena pendarahan yang banyak. Sebagai dokter ia juga tetap berpikir optimis. Siapa tahu ada keajaiban yang akan menghampiri Leon. Peluang kesalamatan Leon hanya satu persen saja.
***
“Ahhhhhh!” teriak Yara saat Gala menginjak rem dengan kencang sehingga tubuh keduanya terdorong kuat ke depan. Yara menatap Gala dengan heran. Raut wajah Gala menegang. Mulut dan manik lelaki itu terbuka lebar. Yara menjadi bingung saat melihat ekspresi Gala. “Suamiku, siapa yang meneleponmu sampai kau terkejut seperti itu?”
Gala masih terdiam. Keringat dingin mulai menyucur deras di dahinya. Tak menjawab pertanyaa Yara, Gala kembali menginjak pedal gas dan melajukan kendaraan dengan ngebut. Jantung pria itu berdetak secara tak normal. Hatinya menjadi sangat gelisah. Seorang yang menghubunginya adalah pihak rumah sakit.
“Suamiku … “ lirih Yara, panik.
“Leon kecelakaan!” ketus Gala masih dengan mengebutkan kendaraannya dengan gila.
Manik Yara langsung melebar. Netranya berubah warna menjadi agak kemerahan. Cairan bening menggenangi pipinya. “Om Leon … ke—kecelakaan?”
Gala dan Yara sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tak memakan waktu yang lama, keduanya tiba. Dengan tergesa-gesa mereka berlari menuju ruangan operasi. Lampu merah yang terletak di atas pintu masih menyala. Pertanda operasi darurat sedang berlangsung.
Mereka mencoba menghubungi Chiren, namun ponsel wanita itu tidak aktif. Sudah hampir tiga jam mereka menunggu di depan pintu. Gala sedari tadi tak tenang. Yara memeluk Gala dan mencium bahu suaminya. Ia tahu jika saat itu Gala sedang remuk dan hancur. Yang bisa Yara lakukan, hanya menenangkan suaminya sembari mengucapkan doa dalam hati.
“Kak Gala … “
__ADS_1
Gala dan Yara menatap sumber suara. Dengan segera mereka beranjak dari duduk dan menghampiri Chiren.
“Kak Gala … Le—leon … “ lirih Chiren. Ia sampai tak kuasa melanjutkan ucapannya karena dadanya terasa sesak dan sakit.
Yara langsung memeluk Chiren. Ia memahami bagaimana perasaan wanita itu. “Chiren, kau yang sabar ya.”
Chiren terisak dalam pelukan Yara.
Lampu merah telah berubah warna menjadi hijau. Tandanya operasi telah usai. Seorang dokter yang menangani Leon, keluar dari dalam ruangan bersama dengan tim medis lainnya. Melihat itu, Gala, Yara dan Chiren langsung menghampiri para medis.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Chiren lirih.
Dokter itu membuka maskernya. Chiren mengerutkan kening. Pria itu tak asing baginya. Ia merasa pernah bertemu dengan dokter itu, tapi ingatannya sangat buram lantaran yang dominan menguasai pikirannya hanya Leon seorang.
“Pasien mengalami banyak sekali pendarahan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain.”
“Saudara Leon telah berpulang. Semoga keluarga dapat diberi ketabahan,” menunduk kepala.
Chiren tersungkur ke lantai. Ia menegang dan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia memegang perutnya. “Ahhh, sa—sakit sekali!” pekiknya.
Gala dan Yara terbelalak.
“Dokter tolong adik ipar saya! Dia sedang mengandung!” ketus Gala.
Para medis langsung mendorong hospital bed yang terletak di sekitaran mereka dan dengan cekatan mengangkat tubuh Chiren mengarah ke atas ranjang dorong itu. Karena perutnya semakin sakit, ia pun tak sadarkan diri. Gala dan Yara panik bukan kepalang. Pikiran mereka mulai mengambang.
__ADS_1
“Ya Tuhan, selamatkan Chiren dan kandungannya!” gumam Yara.
Perawat membawa Chiren ke ruangan yang dikhususkan untuk pasien hamil. Yara mengikuti dokter dan beberapa perawat. Sedangkan Gala tinggal bersama para medis yang lainnya. Hatinya sangat remuk saat memasuki ruangan operasi. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Tubuh Leon telah terbaring kaku di atas ranjang.
“Leon, adikku. Malang sekali nasibmu,” gumam Gala.
Ia hanya bisa menatap mayat Leon yang telah ditutupi kain berwarna putih. Tangannya gemetar hebat saat membuka kain yang menutupi wajah Leon. Rasanya tidak sanggup untuk menyaksikan wajah Leon yang telah terbalut kain putih, namun untuk terakhir kalinya, ia ingin menatap wajah Leon dengan puas, agar bisa mengiklaskan adik kesayangannya.
“Arghhhh!” teriak Gala, histeris. Ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Netranya telah berubah warna menjadi agak kemerahan. Giginya mengerat. Urat-urat kecil mulai timbul di leher Gala. Rasa sakit hati yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, melanda Gala.
Wajah Leon telah hancur lebur. Hanya bagian bibirnya saja yang tampak utuh sehingga menampilkan bekas memar yang ditancapkan Gala saat mereka ada di bandara. Gala benar-benar menyesal karena telah memukul adiknya. Ia meringis di samping mayat Leon. Kakinya tak kuasa menahan berat tubuhnya sehingga ia terjatuh di lantai.
Ia menjerit dan memukul-mukul dadanya dengan keras. Ia tak mempedulikan lagi para medis yang telah menyaksikan tindakannya. Ia benar-benar lemah dan rapuh. Air mata terus mengalir dengan deras, bahkan ingusnya pun telah ikut berjatuhan. Tapi tidak dipedulikannya. Isak tangis Gala sampai menular kepada orang-orang yang ada di ruangan itu.
“Leonnnnnnnn! Hik … hik … hik … ! Ba---bangun! Aku akan memukulmu jika kau tidak menurut perintahku! Leonnnnn BAJINGAN KAU! Arghhhhhhh!” Gala terus meringis tak henti-hentinya.
Leon adalah orang yang sangat disayangi Gala. Sedari kecil mereka telah hidup bersama. Merasakan bagaimana pahitnya kehidupan dan takdir mereka. Jika Leon bersalah, selalu ada Gala di sisinya yang dengan senang hati membela Leon. Jika Leon kesakitan, ada Gala yang selalu mengobati dan merawatnya.
Dan bahkan saat Gala mengetahui hal brengsek yang dibuat Leon, ia segera turun tangan dan menyelamatkan adiknya. Meski ia sering memukul Leon karena sikap bejad adiknya, tapi sebenarnya itu merupakan suatu kepedulian yang besar dari Gala terhadap Leon. Hanya Gala yang memahami bagaimana adiknya.
Rasa peduli Gala kepada Leon lebih besar dari rasa peduli Zian dan Kinan. Malahan orangtua mereka tidak terlalu mengambil pusing dengan kehidupan mereka. Yang ada dipikiran orangtua mereka hanya popularitas, ketenaran, kekuasaan dan harta. Bisa dibilang mereka hanya memanfaatkan anak-anak mereka hanya untuk kepentingan mereka.
“Leonnnnn! Kenapa kau meninggalkanku? Aku sangat menyayangimu, Adikku. Jika kau pergi, maka hanya aku yang akan menanggung pahitnya takdir! Tanpamu, aku rasanya tidak akan sanggup! Hik … hik … hik …”
Leon telah pergi untuk selamanya, meninggalkan luka besar yang teramat dalam bagi Gala. Orang yang sangat ia sayangi dan lindungi, akhirnya telah berpulang kepada Sang Pencipta. Rasa sakit hati yang dirasakan Gala tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya ingin gila untuk menerima kenyataan pahit itu.
__ADS_1
To be continued ...