Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 20 : Kekasih Andro


__ADS_3

Masih pagi saja Yara dan Gala telah dikejutkan dengan tingkah jenaka mereka sendiri. Tadi malam setelah Gala selesai bercerita, Yara langsung tertidur. Seperti seorang ibu menceritakan sebuah dongeng pada anaknya yang kemudian tertidur, begitu juga dengan Yara. Saking seriusnya mendengar setiap cerita Gala secara mendetail. Ia akhrinya mengantuk dan langsung terlelap.


Tak hanya Yara, Gala pun tampak lelah sehingga ia mengantuk. Langkah Gala tiba-tiba menjadi malas untuk menuju sofa yang merupakan tempat tidur ternyamannya. Hal itulah yang menyebabkan keduanya tidur satu ranjang. Dan secara tidak sadar saat mereka tidur, mereka saling berpelukan. Siapa yang dapat menyangka ternyata kedua-duanya merasa nyaman akan hal itu sehingga keduanya terbangun dengan waktu yang tidak biasanya.


Dengan ekspresi penuh malu, Yara beranjak dari atas tempat tidur menuju kamar mandi. “Aku akan menggunakan kamar mandi lebih dulu,” tuturnya tanpa menatap wajah Gala.


Gala masih terdiam. Kejadian beberapa detik lalu masih membekas di benaknya. Siapa yang bisa melupakan kejadian langka seperti itu dengan secepatnya? Yang ada peristiwa itu akan terus menjadi hantu yang bergentayangan di dalam pikiran.


“Bisa-bisanya aku tidak memimpikan wanita itu saat tidur di ranjang. Biasanya aku selalu bermimpi hal yang sama,” gumam Gala merasa heran dengan dirinya.


Gala memanglah pria aneh. Ia lebih suka tidur di sofa daripada di tempat tidur. Alasannya karena setiap kali ia berbaring di ranjang, mimpi tentang Elyora terus mendatangi alam bawa sadarnya. Yang di mana wanita itu menolak Gala secara mentah-mentah dan lebih memilih sahabatnya, Ray, di depan mata kepalanya sendiri. Mimpi itu selalu hinggap dalam tidurnya dan itu sangat menyiksa batin Gala. Selama berpuluh tahun ia hidup, ia tidak pernah merasakan ketenangan saat beristirahat.


Hal itu yang menjadi alasan Gala memutuskan untuk tidur di sofa. Dan cara itu berhasil. Ia jarang sekali memimpikan Elyora jika tertidur di sana. Mungkin saja karena kalau tidur di sofa membuat Gala merasa tidak nyaman karena tidak leluasa bergerak sehingga ia tidak bisa tidur tenang dan akhirnya tidak dapat bermimpi. Gala lebih memilih untuk tidur tidak nyaman supaya ia tidak memimpikan wanita pujaannya yang telah meninggal.


***


“Baik. Trima kasih atas kerja sama, Anda.”


“Sama-sama. Saya menantikan berita bagus dari produk yang Anda tawarkan.”


“Trima kasih, Tuan Andro,” beranjak dari duduk dan segera meninggalkan ruangan wakil direktur.


Beberapa file di atas meja membuat Andro mendengus. Ia mulai meninjau dokumen itu satu-persatu. Beberapa menit kemudian ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Ia meraih telepon nirkabel di atas meja dan menekan tombol dua.


“Jessica, apa Direktur sudah ada di ruangannya?”


“Belum. Tuan,” jawan Jessica dari balik telepon.


“Kabari saya jika Nona Yara telah tiba.”


“Baik, Tuan.”


Andro meletakkan kembali gagang ponsel itu pada tempatnya.


“Kenapa Nona Yara belum saja tiba? Padahal ada beberapa hal yang harus diselesaikan Nona di kantor,” gumamnya.


Sudah hampir tiga jam wakil direktur menunggu kedatangan Yara. Pasalnya sudah ada dua kolega yang mengunjungi ruangannya untuk meminta tanda tangan kontrak dengan Yara. Andro tidak bisa sembarangan memberi ijin tanpa persetujuan direktur utama. Karena jam telah menunjukkan tengah hari, maka Andro menata kembali dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja dan hendak menuju kantin.


“Jessica?” panggil Andro saat melihat Jessica keluar dari ruangan Yara.


“Iya, Tuan?”


“Apa sudah ada kabar dari Nona Yara?”

__ADS_1


“Baru saja saya akan melapor pada Tuan.”


“Ada apa?”


“Nona Yara sepertinya akan datang pukul satu siang. Karena beliau bersama Tuan Gala mampir dulu di perusahaan induk Blackfire.”


“Baiklah. Kau serahkan pada Nona Yara beberapa dokumen yang sudah saya tandai di atas meja kerja saya. Katakan padanya jika berkas itu memerlukan persetujuan. Jangan lupa untuk mengingatkan Nona Yara untuk membaca dengan baik sebelum menandatanganinya.”


“Saya mengerti Tuan,” menunduk.


Andro berjalan meninggalkan Jessica dan menuju kantin. Setibanya pria itu di sana, ia langsung mengambil makanan dan membawa makanan itu di mejanya. Seorang wanita cantik seumuran Yara datang menghampirinya.


“Mas Andro,” panggil wanita itu sembari melemparkan senyum.


“Anya? Kenapa kau kemari?” tanya Andro, merasa heran saat melihat kekasihnya datang menemuinya di jam kerja.


“Aku kangen, Mas,” mengedipkan mata.


Andro tersipu. Ia menatap sekelilingnya dan tampak berhati-hati oleh karyawan yang sedang makan di sekitarnya. Andro merupakan lelaki tampan pujaan semua wanita yang ada di Lincoln Group. Tak hanya Gala saja yang menjadi idola mereka, Andro pun adalah pria idaman seluruh wanita yang bekerja di perusahaan Lincoln. Kedua pria itu memiliki daya tarik tersendiri. Gala dengan sifat dingin, cuek dan sulit ditaklukkan, sedangkan Andro dengan sifat hangat, ramah dan ceria.


“Anya, kau jangan datang secara terang-terangan seperti ini. Nanti aku akan menjadi sorotan hangat orang-orang kantor.”


“Ihh Mas Andro. ‘Kan nggak apa-apa. Toh, mereka semua sudah tahu hubungan kita,” tutur Anya blak-blakan.


“Tidak apa-apa. Yang penting aku bisa melihat Mas Andro.”


Andro kembali tersipu, kekasihnya itu selalu mampu membuat Andro tak bisa berkutik saat didekat Anya. Andro telah menjalin hubungan dengan Anya selama dua tahun. Dan Anya merupakan model sekaligus bintang film dari Sugar Entertaiment meski usianya masih delapan belas tahun. Sejak dini Anya sudah berada di agensi itu sehingga kemampuan beraktingnya sangat luar biasa. Ia menjadi rebutan para lelaki tanah air.


Anya bertemu Andro pertama kali saat di pengadilan dua tahun lalu. Di mana Andro sedang menjalankan sidang perceraian dengan istri pertama Andro. Ya, Andro adalah lelaki yang sudah menikah namun ia gagal dalam rumah tangganya. Ia menjadi duda saat berusia tiga puluh dua tahun. Sekarang usianya tiga puluh empat tahun, namun wajahnya masih begitu segar dan tampan.


Saat itu Anya juga sedang berada di kantor kejaksaan. Kebetulan Ayah Anya seorang hakim di sana, makanya ia mengunjungi sang Ayah. Dan dari situlah awal pertemuannya dengan duda keren, tampan dan idaman semua wanita.


“Apa kau memiliki jadwal sebentar malam?” tanya Andro.


“Iya. Sebentar malam jadwalku akan padat. Akan ada syuting untuk proyek baru.”


“Oh begitu.”


“Maaf ya Mas Andro. Lagi-lagi aku tidak ada waktu untukmu,” memasang raut masam.


“Iya tidak apa-apa. Nanti aku temani saja kau syuting.”


“Ahh, tidak usah, Mas! Aku tidak apa-apa sendiri,” tolak Anya.

__ADS_1


“Yakin?”


“Yakin dong,” tersenyum.


“Baiklah,” membalas senyuman Anya dengan manis.


Andro adalah pria yang sangat perhatian dan peduli. Karena gagal dalam membangun rumah tangga dengan mantan istrinya, ia pun belajar dari setiap kesalahan masa lalunya. Oh ya, Andro juga memiliki seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Anak itu hasil dari hubungannya dengan Abigail, mantan istrinya. Anya tahu akan hal itu, tapi Anya fine-fine saja, selagi mantan istri dan anak Andro tidak mengusiknya.


Drtt … drtt ..


Anya membelalakkan mata saat melihat nama kontak yang tertera di ponselnya.


“Angkat saja, tidak apa-apa kok,” tutur Andro.


Anya tersenyum kaku. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dari hadapan Andro. Melihat tingkah Anya yang aneh, Andro pun mengernyitkan dahi. “Kenapa dia tidak mengijinkanku mendengar percakapanya dengan si penelepon?”


Gadis itu mencari tempat aman. Ia menatap sekelilingnya. “Aman,” gumamnya.


“Halo, Tuan.”


“Aku di apartemenmu. Kemarilah dalam sepuluh menit!”


Tut tut tut …


Si penelepon memutuskan sambungan telepon. Jantung Anya pun berdegup kencang. Dengan raut wajah pias, ia segera menghampiri Andro yang masih duduk sambil menyantap makan siangnya.


“Mas, aku pergi dulu,” ucap Anya sedikit gugup.


“Ke mana? Siapa yang meneleponmu tadi?”


“Ehm, anu … itu .. ehm, manajer aku. Katanya ada pertemuan mendadak dengan sutradara,” tutur Anya berbohong.


“Oh begitu. Baiklah. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku.”


“Baik, Mas. Aku pergi dulu,” melambaikan tangannya.


Andro menatap belakang punggung Anya yang telah berlalu meninggalkannya. Ada rasa curiga yang menggerogoti pikirannya namun ia menghempaskan pikiran anehnya tentang Anya. Sementara Andro memandangi Anya dari belakang, Anya sekali-kali menoleh ke belakang dan melemparkan senyuman manisnya. Hal itu membuat Andro percaya jika Anya tidak membohonginya.


“Sial! Mau apalagi tua bangka itu di siang bolong begini?!” gumam Anya kesal.


To be continued ...


Berikan dukungan kalian untuk Author dengan meninggalkan jejak berupa like, komen dan vote. Makasih semua 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2