Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 68 : Bagian yang Terlupakan


__ADS_3

Kabar duka telah terdengar sampai di telinga Kinan dan Zian. Kinan yang saat itu sedang bersama simpanan berondongnya di apartemen, langsung bergegas menuju rumah sakit. Sedangkan Zian masih berada di Kanada bersama wanita simpanannya, Anya. Zian pun bergegas meninggalkan negeri orang dan menuju tanah air.


Setelah dua jam meratapi kematian Leon, Gala berjalan meninggalkan ruangan operasi itu dan menuju ruang rawat Chiren. Bagai mayat hidup yang tak memiliki energi untuk bergerak, begitulah Gala. Langkahnya begitu lambat. Matanya tampak sembab lantaran menangisi Leon.


Di ruangan yang ditempati Chiren, terlihat Yara sedang duduk di kursi dan menggenggam tangan Chiren. Air matanya telah kering karena sedari tadi menangis. Ia menunggu kedatangan Gala selama dua jam sambil terisak. Ia terus berdoa dalam hati agar Chiren segera sadar.


“Istriku … “ panggil Gala yang baru saja membuka pintu.


Yara beranjak dan berlari memeluk Gala.


“Bagaimana keadaan Chiren?” tanya Gala dengan suara berat miliknya.


“Chiren belum juga sadar dari tadi. Tapi dokter kandungan telah memeriksa janinnya.”


“Lalu?”


“Kata dokter, kalau terlambat sedikit saja menangani Chiren, maka kandungannya tak bisa diselamatkan lagi. Tak hanya itu, Chiren juga akan berada di ambang kematian,” jelas Yara.


Gala menghembuskan napasnya.


“Untunglah dokter dengan cepat menangani Chiren sehingga dia dan calon bayinya selamat. Kata dokter tinggal menunggu Chiren sadar dan mereka akan memeriksa kembali tubuhnya.”


“Syukurlah,” tutur Gala. Tubuhnya melemas.


“Leon … “


Gala dan Yara saling bertatapan. Mereka segera menuju ranjang dan menghampiri Chiren yang sudah mulai sadar.


“Leon … Suamiku!” racau Chiren.


“Chiren, syukurlah kau sudah sadar,” ketus Yara tampak senang.


Wanita yang terbaring itu membuka matanya yang masih sayu. Ia melihat sekitarannya dan mencoba menegakkan tubuh. Yara membantu Chiren untuk duduk di atas ranjang.


“Yara … Kak Gala … “


“Jangan dulu memaksakan untuk bergerak,” ucap Gala.


“Leon mana? Dia baik-baik saja ‘kan?”


Gala terdiam.


“Aku baru saja bermimpi buruk. Aku mimpi jika Leon kecelakaan. Lalu, aku bertemu dengannya di tempat yang sangat gelap. Tapi anehnya di kegelapan itu, aku dengan jelas melihat bayangan Leon. Dia berkata padaku untuk tetap kuat, tegar dan melahirkan anak ini,” mengelus perutnya.


“Chiren kau harus tenang supaya kandunganmu baik-baik saja,” tutur Yara.

__ADS_1


“Iya. Aku ingin bertemu Leon. Aku ingin mengatakan padanya jika aku telah memaafkannya. Aku tidak akan meninggalkannya. Karena aku tahu jika dia telah berubah dan sangat mencintaiku,” ucap Chiren tersenyum kecil.


Sepertinya ingatan Chiren ada yang hilang. Bagian yang ia lupakan adalah saat ia datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar kecelakaan Leon. Tak hanya itu, ia juga lupa jika dokter telah mengatakan jika Leon telah meninggal.


“Kak Gala, Yara … di mana Leon? Apa dia di luar? Tolong panggilkan dia. Aku tahu dia pasti merasa bersalah untuk menunjukkan wajahnya padaku.”


Gala menelan liurnya. Dadanya kembali sesak. Cairan bening menggenangi pupil matanya. Yara pun demikian.


“Ohya, aku lupa kenapa aku bisa berakhir di tempat ini. Seingatku, aku sedang mengemudikan mobil dari bandara menuju suatu tempat,” ucap Chiren.


“Tunggu sebentar, aku panggilkan dokter dulu,” ujar Yara.


“Baik. Tolong sekalian panggilkan Leon,” tersenyum lebar.


Yara termangu. Ia tak tahu harus menanggapinya dengan cara apa. Ia hanya bisa menatap Chiren dengan nanar, setelah itu Yara berjalan keluar, menemui dokter. Sedangkan Gala masih terpaku membisu. Entah dengan bagaimana ia akan memberitahu Chiren.


“Kak Gala … apa Janetha telah berangkat?” tanya Chiren.


Gala mengangguk pelan.


“Aku belum bisa memaafkannya. Tapi aku menerima anak itu, karena dia juga adalah darah daging Leon. Aku juga tidak bisa egois karena anak itu pasti membutuhkan seorang ayah.”


“Chiren … “


“Ada apa, Kak?”


“Ya! Aku merasa sudah baikan. Aku bahkan sangat senang karena mendengar jika Leon mencintaiku dan memilihku. Walaupun masih ada rasa sakit hati atas pengkhianatan mereka, tapi aku iklas dan rela memaafkan Leon. Biar bagaimanapun juga, dia adalah suamiku. Aku ingin memulai awal yang baru dengannya. Masa lalu biarlah berlalu, aku mengharapkan masa depan yang indah bersama Leon dan anak ini,” menatap perutnya.


“Chiren, apa kau tidak mengingat kejadian beberapa jam lalu setelah pergi dari bandara?”


Chiren menggeleng.


“Saat kau mengemudikan mobil, apa kau tidak ingat peristiwa selanjutnya?”


Wanita itu menggeleng kepala lagi. “Aku hanya mengingat jika aku sedang mengemudi dengan perasaan yang kecewa dan sakit hati. Lalu setelah itu gelap. Aku terbangun dan sudah berada di ruangan ini.”


“Coba kau ingat lagi. Ada bagian yang hilang dari ingatanmu,” ucap Gala.


“Tuan Gala, jangan memaksa Nona Chiren untuk mengingat bagian itu. Otaknya dengan reflek menolak ingat, sesuatu yang sangat menyakitkan baginya.”


Chiren mengerutkan kening. “Maksud kalian, aku … lupa ingatan?”


“Nona Chiren, saya akan memeriksa keadaanmu sebentar,” ucap dokter wanita yang merupakan dokter kandungan Chiren.


“Ba—baik.”

__ADS_1


Setelah beberapa menit melangsungkan pemeriksaan, Chiren kembali menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar di kepala ranjang.


“Semuanya telah normal,” ucap dokter. Ia menundukkan kepala dan meninggalkan ruangan Chiren.


“Kak Gala … ada apa? Kenapa kau memaksaku mengingat sesuatu? Dan … kenapa dokter mengatakan kalau aku baru saja melupakan suatu bagian dari ingatanku yang sangat menyakitkan?”


“Kuatkan dirimu. Jika tidak kau akan kembali tidak sadarkan diri. Kemungkinan besar itu akan mempengaruhi kandunganmu. Bukankah kau bermimpi jika Leon mneyuruhmu tegar dan melahirkan bayi kalian dengan sehat?”


Chiren mengangguk. Entah mengapa hatinya bagai diiris belati padahal ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kak Gala, dadaku sangat sakit,” memegang dadanya.


“Jika kau belum siap mendengarnya, maka jangan memaksakan dirimu. Lebih baik kau tenangkan dulu pikiran dan perasaanmu. Siapa tahu otakmu bisa kembali mengingat kejadian yang terlupakan, sehingga aku tidak perlu mengatakannya padamu.”


“Aku akan baik-baik saja. Aku janji akan kuat dan tidak akan pingsan! Aku sangat penasaran hal apa yang aku lupakan. Apakah itu sangat sakit sekali sampai-sampai otakku menolak untuk ingat?!”


“Suamiku,” lirih Yara.


“Yara, jangan khawatir. Aku telah siap mendengarnya.”


Yara mengangguk pelan.


“Dengarkan aku baik-baik dan tetaplah tenang.”


“Baik, Kak Gala.”


Detak jantung Chiren terasa ingin melompat keluar dari dalam tubuhnya. Keringat dingin mulai membanjiri belakang punggung dan telapak tangannya. Tatapan Gala dan Yara begitu mengintimidasinya. Seolah hal yang dilupakannya sangatlah menyakitkan. “Ohya, sebelum kalian memberitahu padaku, aku ingin Leon ada di sini. Aku akan lebih kuat jika melihat Suamiku.”


“Itulah masalahnya!” celetuk Gala.


“Masalah apa?”


“Leon mengalami kecelakaan maut dan dia telah meninggal dunia dua jam yang lalu!”


DEG!


“Kak Gala, kau hanya mengulangi mimpiku saja! Hahah! Becandamu sangat-sangat tidak lucu, Kak!” ucap Chiren dengan bibir yang gemetar.


“Chiren sadarlah! Kau sudah mengetahui akan hal ini! Tapi kau menolak untuk ingat! Kau pingsan gara-gara mendengar kabar duka ini!”


“Tidak …. Tidak mungkin! Leon tidak mungkin meninggalkanku. Dia sendiri yang mengatakan jika dia mencintaiku dan ingin selalu bersamaku!” Chiren mulai merontah.


“Chiren … hik… hik … hik, kau harus kuat,” tutur Yara mulai terisak.


“Leon tidak mati ‘kan? Leon sedang di luar menugguku ‘kan? Leonnnn! Ayo masuklah, aku sudah memaafkanmu. Jangan merasa bersalah lagi,” ketus Chiren. Rautnya tampak pucat. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ekspresi wajahnya tampak kesakitan.


Gala tiba-tiba memeluk tubuh Chiren. namun wanita itu semakin merontah tak terkontrol. “Chiren, sudah kubilang tenangkan dirimu! Apa kau mau kehilangan anakmu lagi?!”

__ADS_1


“Huhuhuhu … Leonnnnn,” bibirnya gemetar hebat. Lehernya terasa tercekik. Bicaranya semakin tak jelas karena menangis tersedu-sedu.


To be continued ...


__ADS_2