Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 69 : Selalu Ada


__ADS_3

Setelah Gala meninggalkan ruang operasi, mayat Leon dipindahkan di ruang khusus yang telah disediakan karena mayat tersebut akan dimandikan dulu sebelum dibawa pulang ke kediaman. Seorang perawat wanita berlari terengah-engah menuju ruangan Leon dan di belakangnya tampak seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Kinan.


“Anakku!” gumam Kinan dengan raut kusut.


Selang beberapa menit, kedua orang itu tiba di lokasi.


“Nyonya, kita sudah sampai,” ucap perawat wanita itu.


Kinan menghentikan langkahnya di depan pintu. Jantungnya berdegup kencang. Perawat itu mulai membuka pintu sehingga Kinan dapat melihat dengan jelas sebuah ranjang yang di atasnya terbaring tubuh seseorang yang telah dibaluti kain berwarna putih. Di ruangan itu hanya ada satu ranjang saja.


“Katakan padaku kalau itu bukan Anakku, Leon!” celetuk Kinan masih tidak percaya.


Perawat itu tertunduk dan bungkam. Kinan pun mulai melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke dalam ruangan itu. Sesampainya di sana, ia menatap kain putih itu dengan nanar. Cairan bening tak dapat lagi dibendungnya sehingga mulai membasahi pipi wanita paruh baya itu.


Dengan perlahan, Kinan melucuti kain yang menutupi tubuh Leon. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Leon yang sudah tidak utuh lagi. Hanya bibir tipis Leon yang nampak, itupun menyisakan bekas memar di ujung bibir Leon. Tangan Kinan gemetar hebat. Tak hanya itu, bibirnya pun ikut bergerak dengan sendirinya saat melihat sosok Leon.


“Tidak … ini bu—bukan Leon, Anakku,” ucap Kinan pelan tak bertenaga.


Karena tubuhnya telah lemas, akhirnya Kinan tersungkur di lantai. Kepalanya berdenyut hebat. Ia meramas kepalanya dan menjerit kesakitan. “Arghhh! Shhhh! Sakit sekaliiiiii!” pekiknya.


Melihat Kinan yang telah menjerit dengan posisi tubuh yang telah berlutut di lantai, membuat perawat wanita itu panik bukan kepalang. Ia langsung berlari dan berniat membantu Kinan untuk mengangkat tubuhnya dari lantai. Namun saat perawat itu menyentuh Kinan, dengan segera Kinan menepis tangan perawat wanita itu.


“Jangan menyentuhku!” ketus Kinan.


“Ma—maafkan, saya Nyonya.”


Kinan berusaha bangkit berdiri. Meski lututnya masih bergetar, ia tetap memaksakan untuk berdiri dan kembali memandangi tubuh Leon yang terbaring kaku di atas ranjang kecil itu. Kinan menangis semakin menjadi. Awalnya ia tidak percaya jika itu adalah Leon, namun setelah melihat tanda lahir Leon yang terletak di bahu, maka Kinan mulai percaya.

__ADS_1


“Leonnnnnn! Bangun, Sayang! Kenapa kamu sampai seperti ini, huhuhu!”


Wanita itu menangis tersedu-sedu. Selama hidupnya, baru kali ini ia merasa sangat hancur dan patah. Seketika, penyesalan mulai menghampiri Kinan. Ia sangat menyesal karena semasa hidup Leon, ia tidak benar-benar melakoni perannya sebagai seorang ibu. Malahan ia seringkali tidak peduli jika anak-anaknya jatuh sakit.


Pikirnya, toh masih banyak uang yang bisa membayar pengobatan canggih dan pastilah anak-anakku akan segera pulih! Itulah Kinan. Ia sering meremehkan segala sesuatu dan bersandarkan pada harta duniawi. Akhirnya ia tersadar, dengan kematian anak bungsunya, Kinan merasa jika kekayaannya tidak bisa menghidupkan Leon kembali.


***


Tiga hari berlalu, kabar kematian Leon sudah tersebar di seluruh penjuru dunia. Seorang wakil Presiden Blackfire Company telah wafat karena kecelakaan maut. Berita hangat mengenai rahasia keluarga Rodderick yang telah disingkap Gala, kini sudah tertindih dengan kabar yang tak kalah panas, yakni kematian orang kedua terpenting di Blackfire.


Banyak sekali pengusaha-pengusaha yang berbelasungkawa dengan tragedi piluh yang menimpa keluarga Rodderick. Meskipun mereka masih tidak habis pikir dengan kehidupan palsu yang dijalani keluarga terpandang itu. Para dewan direksi membuat keputusan untuk mengadakan rapat darurat, yang akan membahas nasib dari perusahaan raksasa itu. Rapat darurat itu akan dilaksanakan tiga hari ke depan.


Hari itu, di ladang pekuburan khusus keluarga Rodderick, semua orang penting yang menghadiri upacara pemakaman almarhum Leon, telah kembali ke tempat mereka masing-masing. Namun beberapa orang yang merupakan keluarga inti, belum beranjak dari sana. Kinan masih menangisi kepergian Leon dengan tersedu sedan. Sedangkan Chiren hanya menatap pusara Leon dengan tatapan nanar.


“Istriku,” bisik Gala.


“Chiren, ayo kita pulang,” ajak Gala.


“Aku mau di sini sebentar, Kak.”


“Tapi sebentar lagi akan turun hujan. Langit sudah mendung.”


Chiren menatap cakrawala. Awan gelap mulai mengkungkung. Rintik hujan mulai berjatuhan dari langit. Ia kembali menatap pusara Leon sembari mengelus perutnya. “Suamiku, aku akan kembali lagi ke sini,” ucapnya lirih.


“Aku akan menemanimu, Chiren,” ujar Yara.


Chiren tersenyum kecil. Ia segera beranjak berdiri dan meninggalkan rumah baru suaminya. Begitu juga dengan Kinan dan Zian. Semenjak Leon meninggal, pasangan suami istri itu lebih banyak berdiam. Malahan mereka tak menegur sapa satu sama lain. Kinan dan Zian masing-masing membawa kendaraan. Sedangkan Gala, Yara dan Chiren berada dalam satu mobil.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Yara menatap Chiren. Air mata Chiren terus berjatuhan membasahi pipi mulusnya. Tak ada suara yang terdengar. Keheningan kembali melanda mobil yang ditumpangi mereka. Yara merasa sangat iba melihat Chiren. Di saat hubungan wanita itu bersama Leon mulai membaik, ternyata ajal Leon sudah menghampiri. Chiren sudah memaafkan Leon atas semua kebejatannya.


Namun Chiren terpikir kembali mengenai Janetha dan anaknya. Tentu saja mereka sudah mengetahui kabar kematian Leon.


“Kalau saja waktu itu aku tidak melarikan diri dari tempat itu, pasti Leon tidak akan mengejar dan mencariku! Pasti sekarang ini Leon masih tetap hidup!” gerutu Chiren.


Yara mendengar ucapan wanita itu. “Chiren, kau jangan menyalahkan dirimu. Kau tidak salah. Hanya saja memang Leon telah ditakdirkan untuk berpulang.”


Chiren tersenyum kecil dengan air mata yang masing berlinang.


“Kau harus kuat. Harta paling berharga yang ditinggalkan Leon adalah calon bayimu. Kau harus tetap hidup demi anak ini,” ucap Yara.


Chiren mengangguk.


“Benar yang dikatakan Istriku. Kau harus tegar Chiren. Masih ada aku yang akan membantumu membesarkan anakmu. Aku akan menganggap anakmu adalah anakku juga,” tutur Gala.


“Aku juga. Aku akan menganggap anakmu sebagai anak kandungku juga. Jadi kau tidak boleh berpikir jika kau sendirian,” tambah Yara.


Chiren mengangguk lagi. Ia tersenyum lebar menatap Yara dan Gala secara bergantian. “Aku sangat berterima kasih karena kau dan Kak Gala sangat peduli padaku dan anak ini.”


“Kita adalah keluarga,” ucap Gala.


“Aku sempat berpikir untuk kembali ke rumah orangtuaku, namun pikiranku berubah.”


“Jangan kembali. Anakmu sangat berharga bagi keluarga Rodderick. Anakmu akan menjadi pengganti Leon. Aku bersumpah, semoga anakmu laki-laki!” ketus Gala.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2