Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 28 : Om Gala Viral!


__ADS_3

Tatapan sinis serorang wanita terarah pada Chiren yang baru saja memasuki mansion. Ya! Dialah Kinan. Awalnya Kinan sangat menyukai Chiren lantaran keluarga Chiren adalah keluarga terpandang dan kaya raya. Namun saat Orangtua Chiren mendapatkan skandal, saham keluarga Chlark anjlok dan menurun drastis.


Di tambah lagi, Chiren sudah tiga kali keguguran. Hal itu membuat Kinan menjadi benci padanya. Namun saat keluarga Chlark kembali sejahtera, Kinan menunjukkan sisi manisnya terhadap Chiren. Padahal sebelumnya ia selalu menekan gadis itu dan selalu membenarkan perilaku kejam Leon pada Chiren.


"Baru pulang ya? Dari mana saja kamu? Tidak bagus loh wanita hamil berkeliaran malam-malam. Nanti keguguran lagi!" sinis Kinan.


"Aku baru saja dari rumah Mamaku."


"Oh begitu. Hmm, asalkan saja perkataanmu benar. Jangan sampai kau mendapat skandal seperti orangtuamu dulu. Nanti reputasi keluarga Rodderick hancur lagi!" cibir Kinan, tajam.


"Ternyata Mama belum berubah ya? Waktu lalu Mama bersikap manis padaku karena keluargaku telah membuktikan bahwa skandal itu tidak benar! Sekarang apalagi sih yang membuat Mama berubah?" Chiren sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Tidak ada. Ya sudah, kamu lanjutkan kembali aktivitasmu," berjalan keluar mansion seraya mengebas rambutnya dengan angkuh.


Chiren mendengus. Kinan begitu dingin padanya. Wanita paruh baya itu pun pernah mengatakan jika Chiren dikutuk melalui kandungannya. Karena sudah tiga kali keguguran. Hal itu sangat menyakitkan hati Chiren. Namun karena rasa cintanya yang tulus pada Leon, ia pun tak ingin berpisah dari lelaki itu dan berusaha betah tinggal bersama keluarga Rodderick.


Hal lain yang membuat Chiren tak ingin meninggalkan rumah itu karena sikap Gala yang begitu peduli padanya. Bisa dibilang hanya Gala yang memiliki akal sehat serta hati malaikat di rumah besar itu. Walau sikapnya dingin namun Gala memiliki hati yang hangat, terlebih pada keluarganya.


Chiren menjadi tak enak hati pada Gala, jika ia menceraikan Leon serta meninggalkan kediaman keluarga Rodderick. Ia pun menahan diri dan hanya bisa berharap jika Leon dan Kinan akan bersikap baik padanya. Ia juga selalu berdoa supaya keluarga Rodderick menjadi keluarga yang utuh.


"Chiren?" panggil Yara yang telah berdiri di depan lift sedari tadi.


"Yara ... sejak kapan kau di sana?"


"Sejak tadi. Maaf karena telah mendengarkan percakapanmu dengan Nenek Lampir itu."


Deg!!


Chiren terbelalak. "Ne--nek lampir?"


"Hmm," mengangguk. "Mama Kinan cocok disebut Nenek Lampir! Udah tua, galak lagi!"


Hujatan Yara pada Kinan semakin membuat Chiren terperanjat. Ia tak menyangka jika gadis polos itu memiliki mulut yang teramat pedas.


"Yara, pelan-pelan, nanti Mama mendengarmu," bisik Chiren.


"Tidak apa-apa. Lagian Mama sudah pergi. Aku tuh emosi sebenarnya melihat Nenek Lampir itu! Pengen rasanya aku masukin ke dalam karung dan melemparnya ke sumur. Tapi sayangnya, aku tidak berani!"


"Peff-bwahaha!" gelak tawa Chiren menggelegar. Ucapan Yara benar-benar membuatnya terhibur. Apalagi saat melihat gerak tubuh Yara yang ikut memperagakannya. "Aku tak menyangka loh, ternyata kau somplak juga, hahah!"


"Hehe," terkekeh kaku sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Makasih Yara. Kau sudah membuatku tersenyum. Sudah lama sekali aku tidak tertawa lepas seperti ini. Tapi kehadiranmu sangat menghiburku."


Kasihan juga Chiren. Sepertinya dia kesepian. Batin Yara.


"Kau mau ke mana?" tanya Chiren.


"Aku hanya bosan saja satu hari di kamar terus. Jadi aku putuskan untuk turun ke bawah, mencari udara segar di sekitaran mansion."


"Mau aku temani?" tawar Chiren.


"Boleh. Apa kau tidak sibuk?"


"Tidak juga. Aku juga ingin menghirup udara segar di luar."


"Oh begitu."


Kedua wanita itu berjalan keluar mansion, menyusuri setiap sudut gedung itu yang sangat besar dan luas, bagai lapangan sepak bola. Sambil berjalan, Chiren menceritakan semua hal yang terjadi padanya. Mulai dari awal perjodohannya dengan Leon, sampai pada kehidupan rumah tangganya yang begitu rumit.


Yara mendengar segala keluh kesah Chiren. Ia merasa iba dengan wanita itu. Pasalnya ia sudah tahu jika Leon memanglah menghianati wanita itu. Tapi bibirnya seolah tak tega mengeluarkan kata-kata yang nantinya akan membuat hati Chiren semakin teriris.


"Bagaimana denganmu?" tanya Chiren, membuyarkan lamunannya.


"Aku?"

__ADS_1


"Iya. Bagaimana kau bisa menikah dengan Kak Gala."


"Aku juga dijodohkan sejak delapan tahun."


"Benarkah? Pantas saja Kak Gala menolak keras jika Papa akan menjodohkannya dengan seseorang. Ternyata kaulah alasannya," tersenyum kecil.


"Aku juga sebenarnya tidak mau menikah muda. Usiaku masih delapan belas tahun, sedangkan Om Gala sudah tiga puluh delapan tahun. Jauh sekali bukan?" membuang napasnya kasar.


"Tapi aku melihat kalian berdua begitu serasi kok. Om Gala juga terlihat sangat mencintaimu."


Degg!!


Hati Yara bergejolak.


"Yara, ada lagi yang harus kau tahu. Tapi kau jangan cemburu ya."


"Iya. Apa itu?"


"Sebenarnya aku dijodohkan dengan Kak Gala, bukan dengan Leon. Tapi Kak Gala tidak mau dan malah menolakku mentah-mentah. Tapi kau tenang saja, aku tidak mencintai Kak Gala, aku hanya mencintai suamiku."


"Oh itu, aku sudah tahu kok. Om Gala sudah menjelaskan padaku."


"Syukurlah kalau begitu. Aku tak jadi mengkhawatirkan perasaanmu."


"Heheh," terkekeh pelan. "Ohya, berbicara tentang Om Gala ... aku ingin menanyakan suatu hal padamu."


"Tanyakan saja."


"Apa betul Om Gala pernah bertunangan?"


Chiren memanyunkan bibirnya seraya mendongakkan kepala. "Hmm, sepertinya tidak pernah. Setahuku Kak Gala tidak pernah memiliki kekasih, apalagi tunangan."


"Ohya? Tapi ... si Tante Montok tak beradab itu mengaku sebagai mantan tunangan Om Gala. Dan kau tahu aku sangat kesal padanya!" memasang raut kusut.


"Tante Montok tak beradab? Siapa lagi maksudmu, Yara?"


Chiren menautkan keningnya. Ia mulai memutar otaknya, berpikir sedikit keras, menebak siapa wanita yang dimaksud Yara. "Apakah wanita itu adalah Amoera?"


Yara tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Hah, benar! Dia orangnya."


"Hahah, kau memang hobi menamakan musuhmu ya," terbahak.


"Habisnya aku kesal sekali padanya! Ingin ku kempiskan dada dan bokongnya yang mengembang itu, supaya dia tahu rasa!"


"Pef-bwahah! Hentikan Yara. Kau sungguh membuatku sakit perut karena terbahak," mengatur napasnya. "Amoera memang pernah dijodohkan sama Kak Gala, tapi tidak sampai bertunangan. Alasannya karena Kak Gala menolak Amoera. Kak Gala tidak sembarangan menerima perjodohon. Kalau aku tidak salah ingat, Kak Gala sempat mengatakan jika dia sedang menunggu seseorang, dia juga telah terikat janji dan harus menepati janji itu."


Yara tiba-tiba menarik sudut bibirnya.


Sementara Yara dan Chiren sedang berbincang di samping mansion, tampak seseorang sedang kebingungan mencari sesuatu. Dengan terengah-engah ia kembali turun menggunakan lift. Rautnya begitu panik dan khawatir. Pria itu adalah Gala. Ia mencari sosok istrinya yang tak kunjung kelihatan di dalam kamar.


"Di mana dia? Kenapa dia tidak mengabariku kalau pergi?!" gumamnya.


Shanks berjalan menghampiri Gala yang telah kembali dari dapur. "Di sana juga tidak ada, Tuan. Apa Tuan sudah mencoba menghubungi Nona?"


"Sudah. Tapi dia tidak membawa ponselnya. Pergi periksa rekaman cctv!" perintah Gala.


"Baik Tuan."


Saat Shanks hendak menuju ruang kontrol cctc, tiba-tiba dua wanita penghuni mansion muncul di depan kedua pria itu.


"Om Gala sudah pulang? Kenapa wajah Om terlihat panik?" tanya Yara, bingung.


Melihat sosok Yara membuat Gala membuang napasnya kasar. "Huh! Dari mana saja kamu?"


"Aku mengobrol bersama Chiren sambil mengelilingi mansion."

__ADS_1


"Apa perutmu sudah tidak sakit lagi?" tanya Gala.


"Sudah mendingan."


"Bagus."


Drtt drtt drtt ...


Yara melirik saku celana Gala. "Om, ponselmu bergetar."


"Biarkan saja."


Tak lama setelah itu, giliran ponsel Shanks yang bergetar. Ia pun meminta permisi dan menjawab panggilan telepon.


"Yara, Kak Gala, aku masuk ke dalam kamar dulu."


"Baik Chiren."


"Apa Leon masih berlaku kasar padamu?" tanya Gala, menghentikan langkah Chiren.


"Tidak, Kak. Leon sudah semakin baik dan peduli padaku," ucap Chiren, bohong.


"Jangan berbohong."


Chiren terdiam.


"Maafkan adikku karena selalu memperlakukanmu dengan buruk," ucap Gala dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Eh, tidak apa-apa, Kak. Jangan meminta maaf. Kak Gala tidak bersalah."


"Tetap saja aku merasa gagal menjadi seorang kakak."


Chiren terdiam kembali.


"Ya sudah, kembalilah ke kamarmu dan istirahat yang cukup. Jaga calon keponakanku dengan baik."


"Baik, kak," menunduk kepala dan berjalan menuju kamarnya.


Di seberang sana, Shanks menatap ponselnya dengan manik yang membesar. Bola matanya serasa mau lepas dari dalam mata. Ia terkejut bukan kepalang saat melihat sesuatu di layar ponselnya. Ia bergegas menuju Gala yang sedang berbicara dengan Yara.


"Tuan! Gawat!!" ketus Shanks.


Gala dan Yara melirik Shanks dengan tatapan heran.


"Apanya yang gawat?" tanya Yara.


"Je--Jessica baru saja meneleponku dan mengatakan jika Tuan sedang viral! Dan aku membuka semua akun sosmedku dan isinya adalah wajah, Tuan!"


"Santai saja. Aku memang selalu viral," tutur Gala santai.


"Tapi kali ini viral yang berbeda, Tuan!"


"Apa sih, Shanks! Kau membuatku penasaran saja!" celutuk Yara sembari menarik ponsel milik Shanks.


Degg!!


"Astaga!!" ketus Yara terkejut hebat saat melihat layar ponsel Shanks.


"Ada apa dengan ekspresi kalian berdua?!" tanya Gala dengan mengernyitkan dahi.


"Om Gala ... " lirih Yara masih dengan menatap ponsel Shanks. "Se--sejak kapan kau menjadi brand ambassador softex daun sirih?!"


Degg!!


To be continued ...

__ADS_1


Jika suka dengan ceritanya berikan dukungan lewat vote dan hadiah. Ohya, bantu Author juga untuk mempromosikan novel ini, karena masih sepi pembaca. Makasih semua 🥰🤗


__ADS_2