
Drt drt drtt ...
Gawai Yara terus mengeluarkan getaran. Dengan malas, ia mencoba membuka matanya yang masih menyipit dan melihat si pemanggil. "Oma," gumamnya.
"Yara, Oma sangat senang. Selamat yaa, Sayang."
Tak paham dengan maksud Oma Amber yang tiba-tiba saja memberi selamat padanya tanpa alasan jelas.
"Selamat untuk apa, Oma?"
"Ahhh kamu, pura-pura tidak tahu saja. Oma sebenarnya marah padamu karena tidak memberitahu Oma secara langsung. Tapi tak apa, Oma tidak akan memarahimu," terkekeh.
"Oma ada apa sih? Aku tidak mengerti!" ketus Yara yang sudah mulai sadar dari alam bawa sadar.
"Shanks tadi menelepon Oma. Dia memberitahu kabar gembira pada Oma. Awalnya Oma khawatir karena keadaanmu. Tapi setelah Shanks mengatakan jika kau sakit mujur maka Oma menjadi senang."
Yara semakin tidak paham. "Sakit mujur?" gumamnya.
"Ahh, kau tak usah malu Yara. Oma tahu kok perasaanmu sekarang. Nanti Oma ke mansion kamu dan mengobrol lagi denganmu. Tunggu Oma ya."
Gadis itu beranjak dari atas ranjang dan meneguk air putih yang telah berada di atas nakas. Setelahnya, ia kembali menanggapi ucapan Omanya. "Ada apa sih Oma? Sakit mujur apa yang Oma maksud? Shanks memberitahu apa pada Oma?"
Dari balik telepon terdengar beberapa suara yang samar-samar sedang terkekeh.
"Aduh, Oma jangan buat aku penasaran deh! Aku tuh lagi sakit perut! Jadi jangan buat aku tambah puyeng," mendengus kesal.
Sedangkan gelak tawa dari balik telepon masih terdengar. "Memang begitu, Sayang. Apa lagi kau masih sangat muda. Biasanya wanita yang hamil di usia muda rentan sakit perut, hihih!"
Yara terbelalak bukan main. Ia mengerjapkan matanya sambil termanga. "Ha--hamil? Siapa yang hamil?!"
"Ya kamulah, hihih. Makasih ya, Yara. Karena sudah mau memberikan calon cicit pada Oma."
"OMA!! Siapa yang bilang aku hamil?! Melakukannya saja belum, apalagi sudah hamil?! Hamil anak jin?! Aku itu cuma sakit perut biasa karena sedang menstruasi! Ishhhh, ada-ada saja Oma!"
Deggg!!
Suara lantang dari balik telepon kini tak terdengar lagi. Keheningan mulai melanda. Amber yang tadinya sangat aktif kini bersikap pasif. Hati girangnya tiba-tiba menjadi loyoh. Bagaimana tidak, hal yang paling ia tunggu-tunggu ternyata hoax.
"Halo, Oma? Apa Oma mendengarku?"
"Ja--jadi kamu sakit perut karena menstruasi? Bukan karena hamil?" tanya Amber memastikan lagi, dengan harapan jika Yara tidak akan membenarkan pertanyaannya.
"Iya, Oma. Lagian siapa sih yang menyebarkan berita palsu itu!"
__ADS_1
"Tadi Shanks menelepon, Oma. Katanya kau sakit. Tapi dia menyuruh Oma untuk tidak usah khawatir karena kau sakit hamil. Jadi Oma sangat senang mendengarnya. Tapi ternyata Shanks hanya menyampaikan berita hoax," jelas Amber dengan lirih. Nada bicaranya melemah. Oma Amber tampak kecewa.
"Hadehh! Shanks sialan! Apa sih yang ada dipikirannya. Asal-asal saja menyampaikan berita!"
"Ya sudah, Oma tutup dulu teleponnya. Jangan dulu menelepon Oma, karena Oma masih syok. Jika kau ingin mendatangi Oma atau mengabari Oma, sebaiknya kau bawa kabar gembira untuk menjadi obat kecewa Oma padamu. Sampai nanti, Yara."
Tut tut tut ....
Sambungan telepon terputus. Amber sangat kecewa karena mendengar kabar palsu. Ia bahkan telah mengumpulkan semua pelayan yang ada di rumahnya hanya untuk memamerkan pada mereka jika cucunya telah hamil. Makanya saat bertelepon tadi banyak suara samar-samar yang terdengar. Namun ia langsung membubarkan pelayannya dengan hati terluka.
"Ada-ada saja kau Shanks. Aku akan memberikanmu pelajaran!" geram Yara.
Yara melirik nampan yang berisi makanan. Roti lapis bersama susu. Di atas nampan juga ada secarik kertas dengan tulisan tangan bertinta biru. Yara segara meraih kertas kecil itu dan membaca tulisan yang tertera di atasnya.
(Isi surat)
Aku akan lembur hari ini. Jangan menungguku. Jika sudah mengantuk tidurlah. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kalau sudah bangun jangan lupa makan dan minum obat. Kalau butuh sesuatu tekan tombol merah dekat ranjang untuk memanggil pelayan. Untuk kejadian semalam, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya ingin kau tetap sehat. Jangan sakit lagi. (Gala ♡)
Lekukan panjang terukir di pipi Yara. Jantungnya berdebar tak normal. Ia tak dapat menyembunyikan eskpresi bahagianya. Ia tersenyum lebar sembari menatap tulisan bertinta biru itu. "Apaan sih Om Gala. Pakai gambar hati segala," gumamnya tersipu malu.
Gadis itu bejingkrak kegirangan. Dalam hatinya di penuhi bunga-bunga cinta yang bertebaran. Pipinya memerah. Ia tak henti-hentinya menatap kertas kecil itu. Fokus maniknya terarah pada ukiran hati di samping nama Gala. "Sejak kapan Om jadi romantis begini," tersenyum. "Ahhh! Sudah gila aku. Kenapa jadi membayangkan Om Gala!" tersadar dari khayalannya.
Yara meletakkan kembali kertas itu di atas nakas, dan memakan sarapannya dengan lahap. Ia juga menenggak susu itu sampai habis tak tersisa setetes pun. Nafsu makannya kian bertambah. Wajah Gala sedang berkeliaran di kepalanya membuat gadis itu bahagia dan tersenyum.
"Halo, Om Gala ... "
"Ya. Ada apa? Bagaimana keadaanmu?"
"Masih lumayan sakit, Om."
"Kau sudah membaca pesanku?"
"Sudah. Makasih ya, Om. Aku juga minta maaf karena telah bandel padamu."
"Tak usah dibahas lagi."
"Iya, Om. Ohya ... Om di mana?"
"Aku lagi dalam perjalanan dan akan kembali sedikit larut. Tapi akan aku usahakan untuk kembali secepatnya."
"Baiklah Om."
"Ya sudah, aku lanjut dulu."
__ADS_1
"Om ... "
Gala hendak memutuskan panggilan telepon, namun ia terhenti saat Yara memanggilnya lagi.
"Iya, ada apa?" tutur Gala, lirih.
Degg!
Jantung Yara semakin memompa dengan kencang. Ucapan Gala begitu halus dan lembut.
"Halo, Yara? Ada apa? Apa kau kesakitan lagi?" nada suara Gala tampak panik.
"Tidak Om. Ehm ... aku hanya mau bilang ... "
Gala menunggu ucapan selanjutnya dari Yara.
"Makasih karena Om sudah peduli padaku dan menghawatirkanku," lirih Yara pelan.
"Aku suamimu. Jadi sudah kewajibanku untuk peduli terhadap istriku."
Yara semakin berjingkrak kegirangan sampai-sampai perutnya kembali merasakan nyeri. "Awhhh!" pekiknya.
"Yara?! Ada apa? Kau kesakitan lagi?"
"Hanya sedikit, Om. Aku tidak apa-apa," memasang wajah kesakitan.
"Jangan dulu terlalu banyak beraktivitas. Aku sudah memberitahu Jessica jika kau tidak akan ke kantor beberapa hari ke depan. Biarkan wakil direktur yang meng-handle jadwalmu."
"Iya, Om."
"Baiklah. Sampai nanti."
"Semangat Om!" teriak Yara dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Senyuman Yara kembali merekah. Bunga-bunga kecil tampak berhamburan di sekitarnya. Perasaan Yara tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa bahagia yang teramat sangat dirasakan hatinya. Jelas saja karena Yara merupakan gadis yang baru beranjak dewasa, gejolak asmara di hatinya semakin menggebu-gebu.
"Om Gala, kau memang sesuatu bagiku!" gumamnya tersenyum.
To be continued ...
Note :
Yang penasaran dengan visualnya Om Gala sama Yara, yuk intip di ig @stivaniquinzel. Jangan lupa di follow.
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian sebagai tanda dukungan untuk Author. Nantikan kisah selanjutnya yaa ... 🥰🤗