Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)

Stuck With An Old Man (Tahap Revisi)
BAB 7 : Gadis Menggemaskan


__ADS_3

Gala melewati tubuh Yara yang telah mematung di depan pintu ruangan rapat. Ia melirik Yara dengan ujung matanya dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Yara hanya bisa pasrah sembari mengumpat dalam hati. Om sialan! Seenaknya saja memerintahku. Aku ‘kan bos perusahaan ini! Kenapa dia yang mengatur, cihh!”


Dengan penuh keterpaksaan Yara menarik langkah kakinya dengan berat. Wajahnya begitu kesal. Sesekali ia meledek Gala dari belakang dan tersenyum puas. Amber yang memperhatikan tingkah cucunya hanya menggeleng kepala sembari membuang napas kasar.


Saat Langkah Gala melewati ruangan direktur, Yara mengernyitkan dahi dan menghentikan langkahnya. “Om mau ke mana? Ruangannya di sini. Katanya ada yang ingin dibicarakan mengenai kerja sama?”


Gala berhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Yara yang sedang menatapnya penuh heran. “Kita bicarakan saja di rumah. Hari ini kita akan kembali ke rumahku dan tinggal di sana,” ucapnya kembali melanjutkan langkahnya.


Gadis itu terperanjat seraya melebarkan maniknya. "Pi--pindah rumah?”


Gala tak menggubris dan memasuki lift.


Yara beralih menatap Oma Amber yang berada di belakangnya. Ia segera berlari ke arah omanya dan memastikan ucapan Gala. “Oma, apa Oma mendengar ucapan lelaki tua itu? Dia bilang mau pindah rumah. Tolong katakan padanya jika Oma tidak ingin cucu Oma satu-satunya untuk pergi meninggalkan Oma! Ayo Oma katakan pada Om Gala!”


“Yara, Oma sendiri kok yang usulkan pada Gala kalau kalian boleh pindah rumah agar lebih leluasa melakukan sesuatu,” menarik sudut bibirnya.


“A—apa? Jadi Oma sendiri yang mengusir cucu Oma ini?!” ketus Yara dengan kesal.


“Bukan mengusir. Kalian boleh kok sekali-kali main di rumah Oma. Tapi sebaiknya kalau mau main ke rumah Oma harus membawa cicit. Kalau tidak, maka Oma tidak akan membukakan kalian pintu,” berlalu meninggalkan Yara.


Yara tampak frustasi. Ia mengacak rambutnya dan mengejar Amber. “Oma, tunggu! Omaaaa! Tega sekali Omaaa.”


Amber melambaikan tangannya saat ia dan Gala telah menaiki lift. Pintu lift telah terkunci sehingga Yara tidak sempat masuk ke dalam. Yara menggeram kesal dan menendang pintu lift itu berulang-ulang. “Arghhh! Bisa sinting aku lama-lama kalau Oma bersekongkol dengan Om Gala dalam kejahatan!”


Sementara dari kejauhan, tampak seorang pria memperhatikan Yara yang mengamuk di depan pintu lift. Pria itu tersenyum melihat tingkah direktur utama yang baru. Pria itu menghampiri Yara dan menyapanya.


“Pintu tidak akan terbuka walaupun Nona menendangnya berulang kali,” tutur pria itu.


Yara melirik sumber suara. Ia mengatur rambutnya yang acak-acakkan dan bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Siapa dia? Apa dia melihatku merengek pada Oma dan mengamuk di sini?


”Maaf karena saya lancang. Perkenalkan saya Andro, wakil direktur Lincoln Group. Tadi saya tidak sempat menghadiri rapat sambutan direktur baru karena mengurus beberapa hal."


Yara masih melirik pria yang kini berdiri tegap di depannya. Andro memiliki perawakan yang tampan dengan bola mata yang indah, alis tegas dan rapi, hidung yang menjulang dan bentuk bibir yang seksi. Tak hanya wajah, badannya pun begitu proporsional, tegap dan berotot sehingga membuat Yara tertegun.


Tampan sekali, ya Tuhan. Lebih muda dari Om Gala! Kenapa bukan dia saja yang menjadi suamiku! Ohh my goodness!!

__ADS_1


"Nona," panggil Andro.


Gadis itu masih tak menggubris.


"Nona ... ?" membuyarkan lamunan Yara menggunakan lambaian tangannya di depan wajah Yara.


"Oh, ehm ... Ada apa?" tanya Yara gelagapan.


"Apa ada yang salah dengan wajah saya?" menunjuk wajahnya dengan telunjuk.


"Oh ya tentu!" ketus Yara tanpa sadar. Wajahmu mengalihkan duniaku!


"Benarkah? Maaf telah membuat Nona risih dengan penampilan saya." Andro membalikkan badannya, membelakangi Yara dan mengatur kembali rambutnya yang agak berantakan namun terlihat keren. Ia juga mengusap wajahnya dengan tangan, karena pikirnya ada sesuatu yang membuat Yara terganggu.


"Pak, Andro?" lirih Yara.


"Iya, Nona? Panggil saja saya Andro." membalikkan badannya menatap Yara.


"Apa yang kau lakukan?"


"Saya hanya membenahi rambut dan wajah saya agar tidak mengganggu penglihatan Anda."


"Maksud Nona?" mengerutkan dahi.


"Tidak ada. Kau kembalilah bekerja."


Saat pintu lift telah terbuka, Yara langsung masuk ke dalam. Ia menjadi salah tingkah saat berbincang dengan Andro.


Oy oy oy!! Ke--kenapa dia masuk di sini! Bisa Pingsan aku jika berdekatan dengan pria ini!


"Boleh saya menggunakan lift bersama Anda?" tanya Andro tersenyum sehingga membuat tubuh Yara melemas.


"Tidak! Tidak bisa," menolak mentah-mentah.


Andro kembali dikejutkan lagi dengan ucapan Yara.

__ADS_1


"Baiklah Nona. Maafkan saya."


Yara terpaku membisu. Ia tak dapat mengontrol dirinya saat bersama dengan Andro. Ketampanan Andro membuat gadis itu salah tingkah. Hanya mendengar suara berat dan seksi Andro membuat jantung Yara berdebar-debar tak karuan.


Kalau begini, aku jadi bersemangat untuk pergi ke kantor setiap hari. Batin Yara.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Yara masih mematung di dalam lift dengan tatapan kosong lurus ke depan. Menyadari pintu lift terbuka, ia berjalan perlahan keluar dari dalam. Kakinya terasa berat untuk melangkah dan tubuhnya terlihat begitu lemas tak berenergi. Tiba-tiba kakinya terkilir dan jatuh. Untunglah seorang pria yang berdiri di depan pintu lift dengan sigap meraih tubuh Yara sehingga wanita itu jatuh di pelukan pria itu.


"Apa kau sakit?"


Yara sontak terkejut. Bagaimana tidak, pria yang meraih tubuhnya adalah pria yang sangat ia benci.


"Om Gala?!" gumamnya dengan manik melebar.


Gala menatapnya dengan tajam. "Kau terlihat sehat dan baik-baik saja," melepas tubuh Yara.


Bukkkk!!


"Aduhh p*ntatku!" pekik Yara mengurut bokongnya karena jatuh. "Om sialan! Kalau nggak niat nolongin jangan di tolong! Sekalian aja biarin aku jatuh dari awal! Dari pada di tolong tapi di banting lagi! Nggak ngotak!"


Deggg!


Gala menghentikan langkahnya. Ia mengepalkan jemari sembari menggertakan gigi. Gala tampak emosi mendengar ucapan makian Yara. Secara baru Yara yang berani memakinya secara terang-terangan seperti itu. Gala kemudian kembali menghampiri Yara yang masih terduduk di lantai depan lift.


"Ngapain lagi om ke sini? Mau meledekku? Iya?!" tukas Yara naik pitam.


"Jangan manja. Aku tidak suka wanita manja dan suka merengek! Berdirilah!" menjulurkan tangannya.


Hati Yara tiba-tiba melunak saat Gala menjulurkan tangan hendak membantunya berdiri. Tanpa berkata lagi, ia langsung menerima uluran tangan itu dan berdiri dari sana. "Aku tidak manja kok," lirihnya.


"Berhenti bersikap layaknya anak kecil. Kau adalah direktur utama peusahaan ini, kau juga adalah Nyonya Muda Rodderick! Jadi jangan bersikap lemah dan cengeng! Paham?!"


Reflek Yara mengangguk. Wajahnya terlihat begitu menggemaskan. Layaknya anak kecil yang sedang di marah ayahnya karena berbuat kesalahan.


Gala menelan salivanya saat wajah Yara berganti menjadi wajah wanita yang sangat ia cintai. Ia mengucek matanya dan menatap wajah mungil milik Yara dengan saksama. Sadarlah Gala! Dia bukan Elyora! Dia Yaraline! Bocah tengil, peniru wajah wanitamu!

__ADS_1


To be continued ...


Tetap stay ya gaiss dan berikan dukungan kalian untuk Author. Selamat melanjutkan ...


__ADS_2