
pagi ini, Bimo datang kekantor dengan tidak bersemangat.
fikiran dan hatinya selalu tertuju kepada sang isteri dan anak-anaknya.
Dimas dan Seila yang melihat itu, melempar pandangqn pada Seila begitu juga dengan Seila.
" kakak kenapa kok lesu gitu mukanya ?" tanya Seila.
Bimo hanya menggelengkan kepala seraya menyenderkanya di kursi kebesaranya.
"sampai kapan kamu akan menghukumku sayang" ucap Bimo dalam hati.
ia mengusap wajahnya kasar seraya mulai mengecek laporan- laporanya.
" Seila hari ini apa jadwal saya?" tanya Bimo formal.
" oh hari ini bapak ada meeting dengan klien dari kota Y dan bertemu di restauran X" ucap Seila seraya menyerahkan dokumen.
Bimo menerima dengan sedikit lesu ia merasa sebagian nyawanya tidak di sini.
Bimo menutup wajahnya dengan kedua tanganya kemudian tubuhnya bergetar hebat.
terdengar isak tangis disana
Seila dan Dimas yang melihat itu saling melempar pandangan.
"kakak kenapa apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Seila saat Bimo sudah sedikit tenang.
Bimo menghela nafas panjang sebelum memuai bercerita.
"jadi begini.. " Bimo menceritakan semuanya pada Seila dan Dimas berharap mereka berdua bisavsaling membantu
"lalu di mana sekarang kakak ipar" tanya Seila saat Nadine selesai bercerita.
"dia ada di rumah orang tuanya ingin sendiri katanya" ucap Bimo menunduk lemah.
"yang sabar ya bos semoga isteri bos segera mengetahuunya" ucap Dimas merasa ikut peihatin.
💕💕💕
Sementara itu di kediaman Hendrawan, papa Nadine merasa cemas karna sudah hampir dua minggu sang putri tak ada kabar.
ia sudah bertanya dengan sang asisten rumahnya Bimo, tapi juga tidak tau.
" pah coba hubungi lagi Nadinenya siapa tau aktif" ucap Mama Maya.
Papa Hendrawan hanya mengangguk dan mulai menghubungi Nadine.
tak lama, terdengar ada yang mengangkat sambungan dari seberang sana.
" halo Assalamu'alaikum" ucap seseorang dari sana.
"wa'alaikum salam Nadine, kau tidak apa-apa nak ?" terdengar suara Papa Hendrawan khawatir.
"iya pah Nadine baik-baik saja" ucap Nadine.
"nak kenapa kamu gak ada kabar dan kamu juga sudah tidak sering kesini lagi " tiba-tiba Mama Maya menyambar telepon
Nadine diam sejenak dia bingung harus jujur atau tidak karna ini masalah pribadinya.
" sayang kau masih di situ ?" tanya Mama Maya khawatir.
"eeh iya mah Nadine masih disini emm ok nanti selepas Nadine menjemput anak anak Nadine akan kesana" ucap Nadine.
__ADS_1
ia memutuskan untuk menceritakan masalahnya pada orang tuanya.
ini bukan lagi masalah berdua tapi ini sudah menyangkut hati orang tua mereka berdua.
jam sembilan pagi Nadine telah sampai didepan sekolah si kembar.
" mama!
mama!"ucap si kembar seraya berlari ke arah sang ibu
Nadine merentangkan tanganya seraya te4senyum.
"hai Cantik-Cantiknyya Mama kita pulang yuk ke rumah eyang" ucap Nadine seraya menggandeng tangan si kembar.
"ayuk mah" ucap si kembar dengan antusias.
merekapun masuk mobil dan mobil melaju mrninggalkan sekolah menuju kediaman orang tuanya.
setelah tiga puluh menit mereka sampai di rumah Papa Hendrawan.
mereka langsung di sambut oleh kedua eyang mereka.
"halo cucu kesayangan eyang" ucap Papa Hendrawan seraya menggendong Riana.
Begitupun dengan Raina yang juga di gendong oleh eyang putri.
"ehh bau acem mandi dulu sana sama Bi Yuli " ucap Mama Maya seraya nenurunkan sang cucu.
merekapun menurut dan segera nenuju kamar nereka setelah Bi Yuli di panggil oleh mama Maya.
"ada apa sebenarnya Nadine ?" tanya Papa Hendrawan setelah si kembar masuk ke kamar.
Nadine menghela nafas panjang sebrlum berucap..
ia merasa sakit hati saat menyebut nama itu.
mama Maya yang melihat itu segera menghampiri putrinya dan memeluknya.
" kenapa dengan Bimo Nadine?" ucap Papa hendrawan.
"Mas Bimo selingkuh pah " ucap Nadine.
JEDER
seperti tersambar petir di siang bolong Hendrawan dan Maya membeku seketika.
mereka tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh putri mereka.
"sayang pasti ini hanya salah paham " ucap Mama Maya lembut.
"aku fikir memang awalnya pasti aku yang salah tapi Mas Bimo sudah mengakuinya Mah" ucap Nadine bergetar menahan isak twngis.
"sudah-sudah lebih baik kamu istirahat dulu besok kita bahas lagi " ucap Mama Maya.
Nadine hanya mengangguk seraya berjalwn menuju kamarnya.
"pah ini harus segera di selesaikan" ucap Mama Maya.
Papa Hendrawan hanya mengangguk.
dua hari kemudian, Bimo datang kerumah Papa Hendrawan setelah sebelumnya di beri kabar lewat WA.
saat ini, Bimo sudah berada di ruang tengah bersama mertua dan isterinya.
__ADS_1
sementara si kembar di bawa ke taman belakang oleh Bi Yuli.
"ini sebenarnya ada apa Bim?" tanya Papa Hendra.
Bimo memandang isterinya sebentar kemudian mulai bercerita...
" begitu pah ceritanya" ucap Bimo yant kembali memandang sang isteri
Namun Nadine segera menatap keluar jendela.
" oh begitu tapi apa kamu punya bukti kuat ?" tanya Papa Hendra.
"saya akan usahakan mencari pah " ucap Bimo.
" kalau begitu pulanglah isterimu biarkan disini katanya ingin sendiri" ucap Mama Maya.
Bimo mengangguk pelan kemudian memandang sang isteri.
ada rasa rindu di hati Bimo setiap memandang wanitanya itu.
Nadine berdiri dan berlalu pergi tanpa bicara apapun.
ia masuk kamar dan menguncinya dari dalam.
Bimo hanya memandang punggung sang isteri hinnga hilang di balik pintu.
"pah apa Bimo boleh bicara sebentar dengan Nadine?" Bimo bertanya pada mertuanya
"Bimo sebainya kamu beri isterimu sedikit waktu" ucap Papa Hendrawan menasehati
"tapi pah saya sangat rindu sekali dengan Nadine pah tolong izinkan saya" ucap Bimo memohon.
"pah beri Bimo waktu untuk berbicara" ucapMama Maya.
"baik lah silahkan "Papa hendrawan melangkah menuju kamar sang puteri
Tok Tok Tok
pintu di ketuk tak lama suara pintu yang di buka dari dalam.
Nadine tampak terkejut karna yang mengetuk ternyata bukan sang papa melainkan suaminya.
"Nadine semarah apapun kamu sama suamimu jangan mengabaikannya" ucap Papa Hendrawan saat Nadine mencoba menutup pintunya kembali.
Bimo mengangguk seraya tersenyum saat sang mertua menepuk pundaknya dan berbisik.
" yang sabar ya Bim kau harus bisa meyakinkan puteriku kembali agar mempercayai dirimu" ucap Papa Hendrawan seraya berlalu pergi.
"mau bicara apa? " tanya Nadine saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Bimo tak menjawab ia malah langsung memeluk sang isteri dengan erat
"aku mohon biarkan aku memelukmu seperti ini aku janji hanya memelukmu tak lebih" ucap Bimo berbisik.
" entah mengapa Nadine nendadak menurut dan membiarkan sang suami meneluknya.
hingga beberapa saat, Bimo menangis sesenggukan seraya masih memeluk sang isteri.
" terimakasih" Ucap Bimo seraya melepas pelukanya dan kelyar dari kamar.
Nadine menatap tak percaya
BERSAMBUNG..........
__ADS_1