
kini Bimo yang berada di samping sang ister sedang menerima sebuah video.
buru-buru ia memutarnya tanpa melihat sekitar karena melihat cover dari video itu dan tulisan yang membuat ia sekuat tenaga menahan emosi.
"ANAKMU JADI PELAMPIASANKU"
begitulah pesan dari cover video tersebut
sementaraitu keluarga yang lain sedqng berada di luar ruang rawat.
ya Nadine sudah di pindahkqn di ruang rawat vvip satu jam yang lalu.
dan di dalam video tersebut tampak sang anak kembar tengah menjerit kesakitan karena di remas oleh kuku Meisa.
"awh ampun tante ampun" ucap si kembar
"bagus teruskan teriakan kalian sampai papah kalian menemuiku" ucap Meisa seraya tertawa puas.
"berengsek" teriak Bimo tanpa sadar karena ia membangunkan sang isteri yang ternyata sudah menatapnya tajam.
"lebih baik kau turuti saja permintaan wanita itu" ucap Nadine dingin"sebelum ia mrnyakiti anak-anaku" sambungnya.
"sayang apa maksudmu? kau rela melihatku menikah kembali? " tanya Bimo membelai rambut isterinya.
"jangan kan itu mas nyawapun akan aku korbankan demi malaikat kecilku" ucapnya menepis tangan suaminya "dan aku minta pisah dari mu karena aku tidak mau di madu" ucapnya seraya mengusap air matanya kasar.
"tidak itu tidak akan pernah terjadi" ucap Bimo tegas
"kau ingin anak-anak kita celaka? sampai s3karang saja anqk buahmu dan Papa belum juga menemukanya. " ucapnya
"aku janji sayang sebentar lagi aku akan membawa anak-anak kita pulang" ucap Bimo menggenggam tangan isterinya.
"sudah cukup aku sudah tidak tahan melihat anak-anaku terluka" teriak Nadine yang membuat semua orang yang berada di luar ruangan berhamburan masuk.
"kenapa ada apa ini? " tanya Mama Maya memeluk anaknya.di ikuti yang lain karena mendengar keributan dari luar
dan saat mereka masuk tampak kedua suami isteri itu sedang bersitegang
"sikembar dalam bahaya " ucap Nadine lirih seraya memeluk sang ibu
"maksudnya? " tanya Mama Maya tak mengerti.
"di sana " ucap Nadine semakin terisak dalam dekapan sang ibu.
semua orang mengikuti arah tangan Nadine yang menunjuk kearwh Bimo.
"sayang bicara yang jelas " ucap Mama Claudia
"didalam ponsel mas Bimo " ucap Nadine di sela isak tangisnya.
"di dalam ponsel mas Bimo tadi aku melihat jelas si kembar sedang berteriak ketakutan Ma" ucap Nadine pada akhirnya.
"Ya Allah jadi kamu melihat semuanya?" tanya Bimo
"video apa Bim coba papa lihat " ucap Papa Hendrawan
"ini pah "Bimo segera memberikan ponselnya pada papanya.
segera Papa Hendrawan memutar Video tersebut darahnya mendidih seketika menyaksikan cucu kesayanganya di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
"pokoknya aku minta segera urus perceraian kita mas aku tidak mau menunggu lebih lama lagi " ucap Nadine.
"tidak aku tidak mau! " bentak Bimo
"heh kau jangan keras kepala ini semua juga demi anakmu "Nadine tak kalah sengit.
membuat suasana menjadi sangat tegang dan mencekam.
"sudah-sudah Nad kita bisa cari jalan keluar yqng lain " Papa Yusuf angkat bicara.
" tidak pah tidak ada seorang ibu yang sabar menunggu keadaan anaknya yang sewaktu-waktu bisa celaka" ucap Nadine mengurai pelukan dari ibunya.
lalu mencabut selang dari tanganya membuat darahnya menyembur seketika.
"Nad " pekik semua orang yang berada di dalam ruangan.
mereka semua panik melihat kearah tangan Nadine yang tampak bersimbah darah.
Nadine tersenyum kearah mereka semua seakan tak merasakan apapun
"aku tidak apa-apa luka ini hanya luka kecil saja tidak akan membuatku mati" ucapnya seraya terkekeh
"tapi jika sesuatu itu menimpa kedua putriku walaupun hanya menyentuh ujung rambutnya itu adalah luka terbesar yang di rasakan oleh sang ibu" ucapnya menatap tajam Bimo.
tak lama, ponsel Bimopun berdering dan tanpa aba-aba langsung di rampas oleh Nadine.
dengwn segera ia mengangkatnya
"halo" ucap Nadine
"halo bisakah aku berbicara dengan calon suamiku? " tanya wanita dari seberang sana
"oh ayolqh aku hanya menginginkan suamimu apakah kau akan memberikanya padaku? " tanya Meisa
"baik kau akan mendapatkanya " ucap Nadine.
"hahaha bagus lakukan tugasmu segera" ucap Meisa tertawa penuh kemenangan.
setelah itu Nadine mematikan ponselnya dan memberikanya pada Bimo.
" tidak aku tidak mau berpisah darimu sayang " ucap Bimo menggenggam tangan Nadine
"sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu" ucap Nadine beranjak pergi.
"kau mau kemana ? ucap Bimo menahan sang isteri.
"lepaskan aku! aku inhin menenangkan diri " sentak Nadine menrpis tangan Bimo.
"sayang kamu kan masih sakit " ucap Mama Claudia
"bukan fisiku yang sakit tapi ini " ucap Nadine memegang dadanya.
setelah itu Nadine memutuskan mrninggalkan rumahsakit dengan memesan taxi online
Bimo berusaha mengejar Nadine namun wanita itu sudah menghilang.
"mah pah kemana Nadine? " tanya Bimo yang terduduk lemas di teras rumahnya
"sabar sayang kita harus terus mencarinya" ucap Mama Claudia.
__ADS_1
🌸🌸🌸
sementara itu, di sebuah rumah mewah seorang wanita tengah memandang dengan ekspresi sulit untuk di jelaskan
"sejak kapan kau berselingkuh dengannya? " tanya wanita itu
"jawab! " bentak wanita itu yang berada di kursi roda.
"sejak setahun lalu" ucap Pria itu dengan ekspresi tanpa dosa.
"wah hebat sekali aktingmu" ucap wanita itu sinis lalu melajukan kursi rodanya.
"kita kerumah Mbak Alya dan mas Handoko sekarang bi tolong gendong inez ya" pinta Irene pada pembantunya.
"baik nyonya " ucap Bi Asih asisten rumah tangganya.
mereka akhirnya menuju rumah Handoko mengendarai mobil yang diantar supir.
lima belas menit kemudian, Iren trlah sampai di kediaman Handoko.
"assalamu'alaikum" ucap Irene
"wa'alaikum salam Iren tumben kemari ada apa? " tanya Bu Alya
merekapun akhirnya masuk kedalam rumah setelah Irene masuk, ia segera memeluk kakak iparnya sembari menangis sesenggukan.
"ada apa? " tanya Bu Alya pada adik tirinya itu.
lalu Irene menceritakan semua pada kakak iparnya membuat Bu Alya memegang dadanya seketika.
"tidak, itu tidak mungkin" ucap Bu Alya mengelak
lalu dengan tangan gemetar memberikan amplop coklat yang berisi gambar Meisa dan suaminya.
"awalnya aku juga tak menyangka tapi mas Adi sendiri yang mengakuinya
"Ya Tuhan apa ini" ucap Bu Alya lemas seketika
kemudian dengan tergesa-gesa Adi masik tanpa permisi
"mau apa kau? " bentak Pak Handoko melihat adik iparnya.
ya Pak Hando mrngetahui pembicaraan sang isteri dan adiknya.
dadanya sangat nyeri mendapati kenyataan jika puteri angkatnya ada main dengan pamanya
"mas mbak nanti dulu kalian marahnya kita harus selamatkan anak-anak itu" ucap Adi
"anak-anak siapa? " tanya Bu Alya bingung
"anak-anak dari orang yang tidak bersalah" ucap Adi
kemudian ia menceritakan semua yang ia dapat dari anak buahnya.
BERSAMBUNG.........
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
MATUR SUWUN
__ADS_1