
siang itu Nadine tengah berada di kampis mengikuti kelas siang
ia tidak tahu jika Seila masuk rumah sakit karena Bimo belum memberitahunya.
jam tiga sore, Nadine baru keluar dari gedung kampus dan mendapat panggilan dari sang suami.
Nadime segera mengangkatnya setelah ia sampai pada pintu keluar.
"halo mas ada apa" tanya Nadine.
"halo sayang kau masih di kampus? " tanya Bimo pada sang isteri.
"iya mas memang ada apa? apa anak-anak baik-baik saja? " tanya Nadine karena ia mendadak merasa tidak tenang.
"kamu tenang saja anak-anak kita baik-baik saja mereka sedang bersama papa Hendra dan Mama Maya ini bukan tentang anak-anak tapi tentang Seila" ucap Bimo seraya menghela nafas.
"apa? apa maksudmu mas? "tanya Nadine bingung.
"Seila berada di rumah sakit" ucap Bimo hati-hati karena tidak ingin membuat sang isteri panik yang akanmembuat isterinya dalam bahaya.
karena Nadine sangat menyayangi adik iparnya itu
"kenapa? kenapa bisa Seila masuk rumah sakit? " tanya Nadine panik.
"ia mengalami kecelakaan di kantor tadi dan kita semua juga baru tahu jika Seila tengah mengandung sekaligus mengalami keguguran" ucap Bimo.
"terus bagaimana keadaannya" tanya Nadine cemas
ia kemudian keluar dari gerbang kampus menuju mobilnya.
"itu dia targetnya" ucap seseorang dari dalam mobil kemudian....
"Nyonya awas " teriak bodyguard. yang mengikuti kemana pun Nadine pergi
karena bimo tak mengizinkan sang isteri pergi sendiri agar tak terjadi hal-hal buruk
namun nahas mungkin ini memang sudah menjadi takdir dari Seorang Nadine Qiandra Hendrawan.
BRUKK!!
terdengar benturan yang sangat kuat yang membuat para mahasiswa berhamburan keluar untuk melihat apa ywng terjadi.
"Nadine!! " teriak Rara yan kebetulan keluar dari gedung kampus.
ia dan Dirga segera menghampiri sahabat mereka yang sudah berlumuran darah
"kalian tunggu apa lagi cepat hubungi ambulance" sentak Rara kepada para mahasiswa yang berkerumun di sana.
akhirnya setelah menunggu lima menit Rara baru tersadar jika sahabatnya menggunakan mobil untuk kekampus.
"astaga aku lupa kalau Nadine bawa mobil" pekik Rara seraya menepuk jidatnya.
"tapi beb ambulance pasti jauh lebih cepat sampai karena bisa di prioritaskan" ucap Dirga pada sang kekasih.
"ok kita panggil ambulance" ucap Rara
__ADS_1
tak lama, ambilance datang dan petugas ambulance segera membawa Nadine menggunakan tandu dan memasukanya ke dalam mobil.
sementara Rara dan Dirga mengikuti ambulance m3nggunakan mobil Dirga dan mobil Nadine di bawa oleh bodyguardnya.
lima belas menit mereka sampai di rumah sakit milik Bimo dan petugas ambulance segera membawa tubuh lemah Nadine ke atas brankar tempat tidur dan mendorongnya menuju ruang UGD.
sementara itu, Bimo yang sedang meting dengan Gentara Groub mendadak menghentikan meeting karena mendapat telefon dari seseorang.
"halo " ucap Bimo
"......"
"Apa!!" pekik Bimo keras yang membuat rekan bisnisnya tampak bingung.
"......"
"lalu bagaimana keadaan isteriku? " tanya Bimo
"......"
"baik saya segera kesana" ucap Bimo seraya menutup sambungan telefonya
"maaf Tuan Bagas meeting hari ini saya rasa cukup karena saya harus segera pergi" ucap Bimo.
" terserah anda ingin melanjutkan kerjasama atau tidak saya sudah tidak perduli"
Bimo lalu beranjak dari tempat duduk dan hendak pergi.
namun baru akan berdiri, ia di cegah oleh Tuan Bagas.
"tunggu saya rasa saya sangat tertarik untuk bekerjasama dengan anda Tuan" ucap Tuan Bagas seraya menjabat tangan Bimo.
"terima kasih" ucap Bimo seraya berlari menuju mobil yang di ikuti oleh Dimas dengan ekspresi bingung.
"ada apa? " tanya Dimas saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Bimo tak langsung menjawab ia menjalankwn mobilnya terlebih dahulu.
" isteriku mengslami k3celakaan kini ia berada di ruang UGD" ucap Bimo seraya menatap jalanan yang mulai padat karena ini adalah jam anak sekolah pulang kerumah.
"Ya Tuhan apa lagi ini"seru Dimas seraya mengacak-ngacak rambutnya.
setelah tiga puluh menit, Dimas dan Bimopun sampai di rumah sakit miliknya.
ia segera berlari memuju ruang dimana isterinya di rawat.
"suster bagaimana keadaan isteri saya" ucap Bimo saat melihat seorqng perawat keluar dari ruang UGD.
"silahkan masuk Tuan anda sudah di tunggu oleh Dokter Yuni di dalam. " ucap suster tersebut.
Bimo segera masuk kedalam ruang UGD
sementara Dimas menuju ruang Mawar dimana Seila berada.
karena Seila sudah di pindahkan keruang rawat sejak jam sepuluh tadi.
__ADS_1
"honay aku membutuhkanmu" ucap Seila seraya merentwngkan tangwnya ingin memeluk sang Suami.
Dimas tersenyum dan segera memeluk sang isteri mengecup puncak kepalanya.
"mungkin nanti saja aku memberitahu dirinya jika kakak iparnya mengalami kecelakaan"ucap Dimas dalam hati.
sementara itu,di ruang UGD Bimo melihat sang isteri masih belum sadarkan diri.
ia segera mendekati wanitanya dan membelai wajah yang tampak memucat tersebut.
"bagaimana Dok keadaan isteriku? " tanya Bimo menatap Dokter Yuni
"maaf Tuan kami sudah mengupayakan yang kwmi bisa tapi Tuhan punya rencana lain janin yang di kandung nyonya Nadine tidak bisa kami selamatkan" ucap Dokter Yuni yang m3nundukan krpalanya.
JEDER
tubuh Bimo bergetar dan merosot ke lantai begitu mendengar ucapanDokter Yuni.
"a-apa yang h-harus sa-saya lakukan Dok? " tanya Bimo terbata
ia tidak bisa membayangkan jika nwnti sang isteri sampai mendengar kabat ini pasti wkan sangat sakit.
tak lama trdengar seperti ada banyak orqng di luar ruang UGD
Bimo segera bqngkit dan keluar menghampiri mereka.
"mamah papah" ucap Bimo lirih dan langsung memeluk kedua orang tuanya
ia menqngis di dalam pelukan orang tuanya.
"kau yang sabar Bim kau tak boleh lemah karena isterimu membutuhkan sandaran untuk saat ini.
"Ya Tuhan anak dan menantuku masuk rumah sakit dan dua-duanya mengalamai kecelakaan dan kehilangan bayinya" ucap Mama Claudia lirih seraya memeluk sang suami.
"papa hua" si kembar yang mulai memahami situasinya menangis dengwn kencang.
Bimo yang m3nyadari itu segera memeluk si k3mbar mencoba menenqngkan mereka.
"cup sayang mamah baik-baik saja kita berdoa terus untuk mama ya " ucap Bimo segera mrmeluk si krmbar.
"iya pah " ucap si krmbar kompak.
"Bim kau sudah tahu diapa pelakunya? " tanya Papa Hendra yang tampak sangat emosi.
"sudah pah anak buahku sudah mendapatkan pelaku" ucap Bimo menghrla nafas.
"bagus kalau begitu jangan sampai pelakunya lolos" ucap papa Yusuf.
"iya pah aku tidak akan mrmbiarkan orang yang menyakiti keluargaku bebas begitu swja" ucap Bimo tersenyum mrnyrrigai.
tak lama, Dokter Yuni k3luar dari ruang UGD menghampiri Bimo dan keluarganya.
"Tuan Nyonya Nadine telah sadar" ucap Dokter Yuni tersenyum.
mereka semua segera masuk ke dalam ruangan secara bergantian karena mengikuti prosedur rumah sakit.
__ADS_1
BERSAMBUNG..........
JANGWN LUPA LIKE COMENT AND VOTE KARYA AUTHOR YA READERS BIAR AUTHOR MAKIN BERSEMANGAT BERKARYA