
"apa tadi kau bilang? " tanya Bimo yang shok mendengar berita tersebut.
"hehehe iya Bim aku ingin merintis usahaku sendiri" ucap Dimas tersenyum kaku.
pasalnya ia adalah satu-satunya orang yang di percaya oleh Bimo menjadikanya asisten sekaligus tangan kananya.
"sudah-sudah kita masuk kedalam dulu nanti kita bahas lagi sekarang papa mau makan dulu" ucap Papa Yusuf seraya memasuki restaurant di ikuti Bimo dan yang lainya.
setelah sampai di dalam restaurant, mereka langsung memesan pesanan terbaik di restaurant tersebut.
tak lama, pelayan datang membawa pesanan mereka di tambah Desert box yang berada di tangan Seila.
"wah ini kau sendiri yang buat? " tanya mama Claudia seraya menerima Desert tersebut.
"hehe iya mah semoga Mama Suka" ucap Seila tersenyum manis.
Sementara itu Bimo dan Dimas tampak terdiam dan seperti terjadi perang dingin diantara mereka.
Papa Yusuf yang melihat itu merasa tidak tenang ia takut jika persahabatan mereka akan rusak hanya karena masalah perbedaan pendapat.
"emm Dim kapan kau akan memulai meresmikanya? " tanya Papa Yusuf memecah keheningan.
"emm mungkin enam bulan lagi pah" jawab Dimas tersenyum.
"baiklah srmoga kau bisa sesukses Bimo ya "ucap Papa Yusuf sembari menepuk pundak Dimas.
Dimas hanya m3ngangguk seraya tersenyum sementara Bimo hanya Diam.
setelah mereka makan siang, mereka memutuskan pulang
"aku jadi merasa bersalah pada Bimo " ucap Dimas lirih setelah mel8hat mobil mereka menghilang.
"sudahlah honey kau tidak perlu khawatir s3mua wkan baik-baik saja" ucap Seila seraya memeluk lengqn sang suami.
"lagipula aku malah bwngga padamu bisa merintis bisnis dari nol dan aku bwngga karena akulah yang mendampingimu saat kau merintis bisnismu" ucap Seila mengecup pipi suaminya.
"aku yang seharusnya berterimakasih padamu sayang karena kau mau menemaniku merintis bisnisku padahal kau dari~" belum sempat Dimas m3lanjutkanya Seila sudah meletakkan jari di depan bibir Dimas.
"sudah aku katakan jangwn membandingkanku d3ngan dirimu lagipula yang berada itu keluargaku bukan aku"Seila menghela nafas sebelum melanjutkan ucapanya" justru aku merasa beruntung bisa merintis bisnis yang sudah aku impikan sejak dulu" sambungnya seraya mengajak masuk kedalam restaurant.
Dimas hanya tersenyum mendengar penuturan sang isteri.
ia merasa sangat beruntung memiliki isteri sebaik Seila.
sementara itu di kediaman Bimo setelah sampai, Bimo segera masuk menggendong Raina yang tertidur di susul Nadine yang menggendong Riana.
mereka menuju kamar sikembar yang berada di lantai atas.
setelah sampai, ia dan Nadine membaringkan tubuh ana-anaknya secara perlahan agar tidak menggqnggu tidur si krmbar.
__ADS_1
kemudian mereka menuju kamar untuk beristirahat.
Nadine langsung menuju kama4 mandi untuk berganti pakaian santai.
sementara Bimo sedang melqmun di sofa kamarnya dan tak menyadari sang isteri yang sudah berdiri di hadapanya menggunakan kaos miliknya dan celana jeans pendek.
"kau kenapa? " tanya Nadine yang kini sudah duduk di pangkuan sang suami.
Bimo yang melamun, tampak terkejut saat mendapati sang isteri sudah berada di pangkuanya seraya tersenyum menatapnya.
"hemm sejak kapan kau berada di sini? " ucap Bimo lembut seraya mengecup telinga isterinya.
"sejak kau menatap j3ndela dengan tatapan kosongmu " jawab Nadine seraya mengecup bibir sang suami.
Bimopun membalas perlakuan sang isteri dan memperdalam ci**n tersebut.
mereka saling menatap saat keduanya telah melepaskan panggutan mereka untuk menghirup oksigen.
"kau itu kenapa mas dari tadi kau diam saja " ucap Nadine seraya memainkan jarinya di dada bidang suaminya.
"aku tidak apa-apa sayang " ucap Bimo seraya tersenyum menatap sang isteri.
"ya sudah kalau kau tidak mau bercerita " ucap Nadine yang hendak turun dari pangkuan sang suami.
"kau mau kemana? " tanya Bimo seraya menarik tangan sang isteri sehingga kembali ke posisi swmula.
"aku hanya merasa cemas siapa yang akan menggantikan Dimas jika ia benar-benar pergi dari perusahaanku" ucap Bimo menghela nafas
"kau tenang saja kau pasti bisa mendapatkan asistan seperti Dimas" ucap Nadine tersenyum
"aku tidak yakin bisa mempercayai orqng baru s3perti aku mempercaya Dimas" ucap Bimo m3nghela nafas berat.
"aku tahu kamu sangat sulit mrmprrcayai orang lain tapi kau kan punya filing gunakan filingmu dan terus berdoa pada Tuhan agar memberimu jalan keluar dari masalahmu" ucap Nadine
"wah isteriku ini semakin pintarcsaja" ucap Bimo seraya mengacak-acak rambut Nadine dengan gemas.
"siapa d7lu dong Nadine gitu loh" ucap Nadine tersenyum bangga.
kemudian Bimo mulai menyusuri setiap wajah sang isteri
ia mel**t bibir sang isteri sembari mengangkat tubuhya menuju tempat tidur.
Bimo me4ebahkan tubuh Nadine tanpa meleps ci**n dari bibir Nadine.
"bolehkan? " tanya Bimo meminta izin karena semenjak sang isteri keguguran ia belum menyentuhnya kembali.
Nadinepun hanya mengangguk seraya tersenyum m3natap wajah tampan sang suami.
Bimo yang mendapatkan izin dari san isteri segera melakukan
__ADS_1
"terimakasih sayang" ucap Bimo saat mereka sudah selesai melakukanya.
Nadine hanya tersenyum dan memejamkan mata.
sore harinya, saat Nadine tengah berada dibalkon kamarya ia mendengar ponselnya berdering.
Nadine segera menuju nakas dan mengankat panggilan yang ternyata dari Risa.
"hai Risa apa kabar loe kangen gue sama loe" ucap Nadine.
"hehehe gue baik Nad" ucap Risa seraya mengusap air matanya.
"loe kenapa Ris apa yang terjafi? " tanya Nadine saat tau sang sahabat menangis.
"gue gak papa Nad" ucap Risa seraya tersenyum
"loe gak usah bohong deh Ris " ucap Nadine.
Risa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bercerita pada sahabatnya itu.
"jadi perusahaan Roni bangkrut dan semua aset di sita? " tanya Nadine merasa iba.
"iyq Nad gue sekarang tinggal di kost kecil dan gue berniat akan kembali kenegara A untuk membeli rumah seharga seratus juta" ucap Risa sesenggukan.
"ok ok loe gak usah nangis jangan banyak fikiran kasian anak loe nanti" ucap Nadine.
Risa hanya mengangguk dan tak lama sambungan teleponpun di matikan.
Nadine menghela nafas setelah mendengar cerita sahabatnya itu.
Bimo yang baru keluar dari kamar mandi m3ndadak heran melihat Nadine yang termenung.
"kau kenapa sayang? " tanya Bimo menepuk pundak sang isteri.
Nadine tersenyum dan menceritakan semuanya pada suaminya.
"hmm kasihan juga ya Risa pasti memerlukan banyak biaya "ucap Bimo.
"emm bagaimana kalau kamu angkat Roni menjadi asistenmu? " ucap Nadine.
" tapi sayang~" belum sempat meneruskan kata-katanya, sudah di potong oleh Sang isteri.
"aku mohon sayang bwntu mereka aku tau kau tidak gwmpang percaya padanya "ucap Nadine dengan wajah memelas.
"baiklah aku akan mencobanya" ucapBimo tersenyum.
"terimakasih sayang" ucap Nadine seraya memeluk sang suami.
BERSAMBUNG......
__ADS_1