Suami Dingin Itu Adalah Guruku

Suami Dingin Itu Adalah Guruku
PEMULIHAN


__ADS_3

kini mereka semua sedang berada di Ruang UGD mereka semua tampak diam m3mandangi Nadine yang barusaja sadar.


"mas kenapa aku ada di sini? " ucap Nadine seraya m3megang kepalanya.


"sayang tenanglah jangan banyak fikiran ya" ucap Bimo seraya mengelus sang isteri.


tiba-tiba bayangan kecelakaan terlintas di kepalanya dan Nadine langsung memegang perutnya yang m3mqng sudah sedikit membuncit itu.


ia merasa aneh karena perutnya masih rata karena setahu dia dirinya sudah memasuki kandungan dua bulan.


dan kanfunganya sudah sedikit menonjol dan sekarang tiba-tiba rata.


"mas.. " ucap Nadine yang menatap suami dan keluarganya.


"maaf " ucap Bimo lirih.


"apa maksudmu? " sentak Nadine.


"maafkan aku sayang karena belum bisa m3njadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak-anak kita" ucap Bimo lirih.


"mas bicara yang jelas jangan bertele-tele" ucap Nadine yang sudah mulai geram pada suaminya itu.


"kamu.. mengalami ke guguran sayang" ucap B8mo sangat pelan.


namun sang isteri masih bisa mendengarkanya.


"tidak ini tidak mungkon kau pasti bohong kan? " ucap Nadine histeris.


Bimo yang melihat keadaan sang isteri segera mendekat dan memeluk untuk menenwngkan sang isteri.


"sayang tenangkqn dirimu" ucap Bimo seraya memeluk tubuh Nadine.


"kenapa? kenapa ini semua bisa terjadi padaku mas kenapa? " tanya Nadine didalam p3lukan Bimo seraya memukul-mukul dada suaminya.


"sayang tenanglah tenangkan dirimu" ucap Bimo masih memeluk tubuh isterinya.


" tenang katamu? heh bagaimana aku bisa tenang ?aku itu kehilangan anakku mana mungkin sku bisa tenang"Nadie membentak dengan penuh emosi.


Bimo hanya diam samnil terus memeluk dan mengusap-usap punggung isterinya.


"apa salahku sampai aku harus kehilangan anak yang bahkan belum sempat aku lihat wajahnya" gumam Nadine yang berada di dekapan sang suami.


"sayang jangan seperti ini kasihan anak-anak dan suamimu kamu harus sabar dan kuat demi mereka" ucap Mama Maya seraya menunjuk Bimo dan si kembar.


Nadine menatap suami dan anak-anaknya secara bergantian.


"benar apa yang di katakan ibu mertuamu sayang kau harus kuat demi mereka" ucap mama Claudia mendekat dan memeluk sang menantu.


Nadine menatap anak-anaknya lalu merentangkan tanganya pada si kembar.

__ADS_1


"sini sayang peluk mama mama kangen" ucap Nadine.


mereka segera berlari dan memeluk mamah mereka dengan erat.


Nadine membalas pelukannya dan menciumi kepala anak kembarnya secara bargantian.


"mamah gak papa kan? " tanya Riana seraya mengusap wajah sang Mama.


"iya sayang mamah tidak Apa-apa" ucap Nadine tersenyum.


sebisa mungkin ia akan selalu ters3nyum pada anak-anaknya walaupun hati saat ini sedang hancur karena kehilangan calon anak ketiganya.


"Nadine benar yang di katakan suami dan Mamamu kau harus bersabar kau masih muda dan masih bisa mengandung kembali" ucap Papa Yusuf pada menantunya.


Nadine hanya diam tatapanya masih kosong ada goresan di hatinya yang masih menganga l3ba4 dqn dalam akibat kehilwngan calon anaknya.


entah bagaimana nanti ia melakukan pemulihan hatinya, ia tidak tahu.


setelah keluarganya pulang, ia merenung sendirian di dalam kamar rawat.


ia terus menatap dan m3ngelus perutnya berharap ini hanya mimpi semata.


tapi nyatanya ini bukan mimpi m3laonkan kenyataan yang harus ia hadapi.


kembali bulir bening meleleh dari bola indahnya tanpa bisa di cegah olehnya.


semakin lama, ia semakin larut dan tenggelam dalam lautan kesedihan.


ia berlari dan langsung mendekap sang isteri dengan erat.


"sudah ya sayang jangan menangis lagi mungkin Tuhan punya rencana indah di balik ini semua" icap Bimo membelai kepala sang isteri.


"siapa sebenarnya yang mencoba melenyapkanku mas? " tanya Nadine seraya menatap wajah sang suami.


Bimo hanya diam ia tidak ingin berbohong padavsang isteri namun, psikisnya masih terguncang dan masih belum pulih.


ia khawatir Nadine akan lebih dalam kesakitqnya jika tahu siapa orang yang sudah menyebabkan sang isteri keguguran.


"mas! " sentak Nadine yang membuat Bimo tersadar dari lamunanya.


"dia... " belum sempat Bimo menjawab, ada ketukan.


Bimo menghampiri pintu dan membukanya.


terlihat Rara dan Dirga tengah berdiri disana dan tersenyum saat pintu terbuka.


Ya Nadine kini telah di pindahkan keruang rawat vvip tepat di sebelah kamar Seila.


awalnya Mama Claudia ingin agar kamar mereka di satukan agar bisa memantau kesembuhan keduanya.

__ADS_1


NamunBimo menolak dengan alasan mereka akqn terus mengobrol jika di satukan.


"***3h kami masuk? " tanya Rara membuyarkan lamunan Bimo.


"eeh silahkan" ucap Bimo terbata seraya mempeesilahkan Rara dan Dirga masuk menemui isterinya.


"Nad" ucap Risa lirih seraya memeluk tubuh sahabatnya itu.


"loe gak papa kan maafin gue ya kalau aja gue lebih cepat membawa loe kesini pasti semuanya gak akan kayak gini" ucap Rara seraya memeluk sahabatnya.


"loe ngomong apa sih? " ucap Nadine seraya menepuk bahu sahabatnya.


"gue malah berterimakasih sama loe dan Dirga kalian emang sahabat terbaik gue" ucap Nafine seraya tersenyum.


merekapun mengobrol dan para pria menunggu di luar.


"oh jafi pak Bimo sudah tidak mengajar lagi jadi guru? " tanya Dirga.


"iya walaupun menjadi guru itu adalah impian saya daripada menjadi ceo tapi harus saya lakukan karena ayah saya sudah semakin tua dan saya anak satu-satunya" ucap Bimo seraya menghela nafas.


"eh iya kapan kalian ingin menikah? Risa dan Nadine sudah menikah dan punya anak masa kalian masih betah pacaran jangqn lama-lama pacaran gak baik" ucap Bimo menasehati.


"iya pak pasti nqnti jika waktunya kami wkan menikah" ucap Dirga tersenyum.


sore harinya, Nadine meminta sang suami ke taman rumah sakit dan di sanaternyata ada Seila dan Dimas yang berada di sana.


"kakak ipar" ucap Seila membuat Nadine dan Bimo mendekat.


"kalian sedang apa disini? " tanya Nadine.


"menghirup udara segar sambil melupakan kejadian buruk" ucap Seila seraya menitihkanair mata.


Dimas segera menepuk-nepuk pundaknya men3nqngkanhati Seila.


"sabar Seila kakak yakin sebrntar lagi kamu pasti juga akan di beri amanah seperti kami" ucap Bimo memberi semangat.


Nadine seketika juga bersedih.


Bimo yang mel8hat itu berjongkok di depan sang isteri.


"saba4 sayang kita sedang di uji" ucap Bimo seraya mengecup jemari sang isteri.


"tapi kata Dokter aku susah hamil lagi akibat benturqn keras itu" lirih Nadine.


"hei apa kau tidak mempercayai keajaiban tuhan? " tanya Bimo


"tapi kara Dokter.. " Nadine tak meneruskan kata-katanya saat jari Bimo menyentuh bibirnya.


"Dokter hanya manusia ia akan kalah dengan yqng menciptakan dunia ini" ucap Bimo tersenyum.

__ADS_1


Nadinepun ikut tersenyum dan akhirnya mereka mengobrol.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2