Suami Dingin Itu Adalah Guruku

Suami Dingin Itu Adalah Guruku
KEKECEWAAN RARA


__ADS_3

"iya sih mas aku tahu perasaan Rara pasti merasa tersinggung dengan ini semua tapi kan niat kita baik" ucap Nadine pada sang suami.


Bimo menoleh seraya tersenyum menatap sang isteri.


"niat kita memang baik sayang tapi akan menjadi berbeda di mata orang lain karena pemikiran dan anggapan setiap orang itu berbeda " ucap Bimo.


Nadine menghela nafas mendengar penjelasan sang suami.


memang semua yang di katakan suaminya itu benar


"semoga semua baik-baik saja ya mas " ucap Nadine seraya menghela nafas.


"aamiin" ucap Bimo dan kembali fokus menyetir kembali


setelah sampai di rumah mereka berdua menghampiri anwk-anwk yang sedang bermain dengan orang tua mereka.


"papa mama" ucap Riana girang.


"sayang nih mama bawain choco lava kesukaan kalian" ucap Nadine menyerahkan bungkusan plastik pada anak-anaknya


" yee thanks mom " ucap Riana menyambarnya dari sang mama.


"sama sama sayang yasudah kalian makan ya ingat jangan bergadang besok sekolah" ucap Nadine mengusap kepala anaknya dengan lembut.


sesampainya di kamar Bimo memutuskan untuk mandi dulu.


sedangkan Nadine sedang berada di dapur menyerahkan sesuatu pada bi Mur.


setelah lima belas menit, Bimo keluar kamar mandi bersamaan dengan Nadine yang sudah berada dalam kamar.


"mas sudah mandi? kalau gitu aku mandi dulu ya? " ucap Nadine seraya masuk ke dalam kamar mandi.


"belum di jawab sudah di jawab sendiri" gumam Bimo seraya menggeleng gelengkan kepala.


selesai mandi, Nadine segera berganti dengan baju tidur dan menghampiri suaminya.


Bimo yang sedang duduk seraya membaca serius di kejutkan dengan sang isteri yang tiba-tiba duduk di atas pangkuanya.


"hmm pasti ini ada maunya " ucap Bimo seraya terkekeh kecil.


"ish memangnya gak boleh ya kalau aku manja sama kamu? " ucapNadine mendegus kesal


"hehe gitu aja marah nanti cantiknya ilang lho tentu saja boleh sayang malah aku seneng kamu manja sama aku"ucap Bimo memrluk sang isteri.


Nadinepun membalas pelukan suaminya hingga mereka sama terhanyut dalam suasana hati yang saling mencintai.


"mas aku bolehkan buka butik? " tanya Nadine.


" tuhkan pasti ada maunya " ucap Bimo seraya mencubit kedua pipi sang isteri.


"awh sakit mas " rengek Nadine.


"cup cup cup sayabg jangan nangis ya" ucap Bimo yang langsung mendapat geplakan dari sang isteri.

__ADS_1


"memangnya kamu mau buka butik yang seperti apa? " tanya Bimo karena ia tidak mau berdebat dengan sang isteri yang ujung-ujungnya ia harus mengalah.


"baju kantor aja mas supaya kariyawan mas bisa membeli bajunya di butik aku" ucap Nadine.


"hmm boleh juga restauran dan butik kamu berdampingan dengan kantor mas jadi kita akan selalu bersama" ucap Bimo tersenyum.


Nadine membalas senyumanya dan malam ini mereka bisa beristirahat dengan tenang.


pagi harinya, seperti biasa Nadine menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya.


setelah mengantarkan anak-anaknya sekolah, ia langsung menuju restaurant miliknya.


sesampainya di sana, Nadine menuju ruanganya dan langsung duduk di kursi kebesaranya.


ia tersenyum bahagia kini ia tak menyangka akan memiliki restaurant dan sebentar lagi akan membuka butiknya.


ia tak bisa membayangkan jika ia dulu benar-benar di ceraikan oleh suaminya mungkin ia akan menjadi wanita terbodoh di dunia ini karena melepaskan pria setulus Bimo.


lamunanya buyar saat ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.


"halo "ucap Nadine


"halo Nad loe sibuk? " ucap suara di seberang sana yang twmpak lirih.


"Risa loe kenapa? loe sakit? " tanya Nadine.


"gue baik-baik aja kok gue pengen ngomong sama loe loe ada waktu? " tanya Risa.


"ada loe kesini aja" Ucap Nadine


tak lama, Risa datang sendiri karena baby Axel di titipkan babysiter di rumah.


"ada apa Risa? " tanya Nadine saat mereka sudah berada di ruangan Nadine.


Risa menghela nafas sebelum bercerita


FLASBACK ON


setelah Nadine dan Bimo pulang, Risa dan Roni memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan beristirahat.


"tadi kamu sama Nadine kenapa sayang?" tanya Roni.


'tadi Rara kesini beb dia marah-marah sama aku sama Nadine dia kecewa sama aku aku takut" ucap Risa seraya terisak


ia benar-benar takut akan di benci oleh saudaranya itu.


"tenanglah sayang aku yakin Rara tidak akan setega itu" ucap Roni memberi semangat.


tak lama, ponsel Risa berdering tanda panggilan masuk


Risa segera mengangkatnya lalu dengan cepat panggilan di matikan.


taklama, pesan masuk "aku kecewa" tulis pesan tersebut yang tak lain dari Rara.

__ADS_1


DEG.


jantung Risa serasa mau copot menerima pesan tersebut.


"sudah sayang jangan khawatir mungkin Rara butuh waktu sendiri" ucap Roni menenangkan sang isteri.


"aku tahu Rara orangnya seperti apa ia sangat sulit memaafkan orang lain dan butuh waktu lama untuk menyembuhkan lukanya jika sedang kecewa " ucap Risa terisak "aku takut Rara akan membenciku"ucapnya lagi.


Roni segera memeluk sang isteri dan menenangkanya


"sudah sayang tenang lah" ucap Roni.


karena kelelahan Risa akhirnya tertidur dalampelukan sang suami.


Roni segera merebahkan tubuh sang isteri dan menyelimutinya.


ia juga merasa bersalah karena ia yang melarang sang isteri untuk tidak bercerita pada keluarganya.


Roni fikir, ia bisa menangani masalah ini sendiri tanpa bantuan orang lain.


namun kenyataanya semua tak seindah ekspektasunya.


FLASHBACK OF.


"lalu solusinya bagaimana? " tanya Nadine


"gue juga bingung Nad jujur gue takut bqnget kwlo Rara bakalan ngebenci gue" ucap Risa lirih.


"loe tenang aja itu gak akan pernah terjadi karena bagaimanapun kalian itu saudara yang sampai kapanpun tak bisa dipisahkan " ucap Nadine.


"iya Nad mudah-mudahan saja ya omongan loe bener gak kebayang sih gimana nasib gue kalo sampai benar gue di musuhin sama saudara sendiri nyeseknya kek apa? " ucap Risa menghela nafas.


akhirnya mereka berbincang-bincang seperti biasa dan obrolan mereka harus terhenti karena Nadine harus pergi ke kampus.


"Ris gue duluan ya" ucap Nadine melambaikan tangan


" iya Nad terimakasih sudah buat gue lebih tenang" ucap Risa


sementara di rumah, Rara yang sedang di temani Dirga mematikan sambungan teleponya.


"sudahlah sayang redakan amarahmu jangan sampai kau menyakiti saudara kembarmu dengan sikapmu itu " ucap Dirga.


"lalu Risa boleh begitu membohongiku? " tanya Rara menatap tajam kekasihnya itu.


"bukan begitu sayang maksudku begini kalian itu ibaratkan satu nyawa kalian tidak boleh bertengkar ya jangan pernah memutus tali persaudaraan karena darah itu lebih kental dari apapun" ucap Dirga.


"aku hanya merasa kecewa sayang kenapa ia lebih memilih bantuan orang lain daripada saudara sendiri" ucap Rara menghela nafas.


"lebih baik kalian bertemu untuk membicarakan masalah ini jangan di biarkan berlarut-larut" ucap Dirga.


Rara hanya mengangguk saja


BERSAMBUNG......

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN LOKE COMENT DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


__ADS_2