Suami Dingin Itu Adalah Guruku

Suami Dingin Itu Adalah Guruku
SUDAH SIAP


__ADS_3

malam harinya, Nadine dan Bimo memutuskan untuk istirahat yang cukup untuk mengoptimalkan usahanya dalam memiliki momongan kembali.


karna Nadine sudah hampir tiga tahun menggunakan KB.


dan atas saran Dokter Yuni, ia dan sang Suami harus menjaga pola hidup sehat selama minimal tiga hari sampai dengan tujuh hari kedepan.


Nadine tampak sudah siap dengan baju tidurnya sementara Bimo sudah berada diatas kasur dari tadi.


Bimo menepuk kasur di sebelahnya mengisyaratkan sang isteri agar berada di sampingnya.


Nadine menurut dan b3rgegas naik ke atas kasur menyusul sang suami.


Bimo memeluk sang isteri dan menempelkan dagunya di pundak sang isteri.


"apa kamu benar-benar sudah siap?" tanya Bimo memastikan.


ia tidak ingin sang isteri tertekan menuruti keinginanya.


"aku sudah siap mas" ucap Nadine tersenyum manis kearah sang suami


"baiklah jika kamu benar-benar sudah siap " ucap Bimo seraya mengecup pipi sang isteri.


Nadinepun mwmbalas dengan mengecup pipi sang suami kemudian memeluk tubuhnya dan membenamkan wajah di dada bidang sang suami.


Bimo tersenyum seraya berkali-kali mengecup puncak kepala sang isteri.


" tidur yuk " ucap Bimo mengeratkan pelukanya.


"hmm" Nadine hanya berdehem seraya memejamkan mata.


tiba-tiba ponsel Nadine pun berbunyi dengan agak malas Nadine meraih dan mengangkat telefon yang ternyata dari Risa.


Nadine segera duduk setelah tau dari siapa panggilan itu.


"halo assalamu'alaikum " ucap Nadine setelah menekan tombol hijau.


"wa'alaikum salam Nadine!!!" teriak seseorang dari sana.


"weeh gak usah teriak teriak juga kali Ris gue gak budeg" ucap Nadine sewot.


"hehehe maaf gue terlalu seneng bisa ngobrol sama loe lagi" ucap Risa cengengesan.


"hehehe sama gue juga seneng banget Ris" ucap Nadine tersenyum.


Bimo terus memandangi wajah sang isteri sat tertawa lepas bicara dengan sahabatnya itu.


ia juga ikut tersenyum seraya mengelus kepala sang isteri.


Nadine menoleh dan ingin meletakkan ponselnya tapi di cegah oleh Bimo dengan gerakan tanganya.


Nadine pun melanjutkan berbincang-bincang dengan Risa.

__ADS_1


"eh tumben loe malem-malem gini menghubungi gue ada apa ?" tanya Nadine yang merasa heran karna biasanya siang hari mereka berkabar.


" ih jahat loe ya mentang-mentang gue jauh loe nanyanya gitu " ucap Risa cemberut.


" ya gak gitu maksud gue oncom kan biasanya loe telfon gue pas siang aja kok tumben ini malam?" tanya Nadine.


"hehe gue cuma mau kasih kabar aja buat loe " ucap Risa seraya menunjukan sesuatu.


"loe.." ucap Nadine seraya mrmbuka mulutnya lebar dan melotot


Risa hanya mengangguk seraya tersenyum


"wah selamat ya udah berapa minggu?" tanya Nadine


"heh3he makasih udah jalan tiga minggu" ucap Risa.


"wah udah siap banget nih kayaknya jadi mamah" ucap Nafine menggoda.


" ish ya siap atuh neng Nadine loe aja udah punya buntut dua masa gue belum siap" ucap Risa terkekeh kecil.


" terus Rara udah loe kasih tau?" tanya Nadine.


tiba-tiba sambunganya sudah menyambung pada Rara entah sejak kapan Risa menyambungkanya.


"Nad masa gue mau jadi tante tante kan gue masih muda" ucap Rara mengadu pada Nadine.


"nah itu yang mau gue tunjukin sama loe Nad masa saudaranya mau punya anak dia bukanya seneng malah protes" ucap Risa kesal pada saudara kembarnya itu.


"lah loe baru sadar bukanya loe emang udah jafi tante bahkan saat masih sekolah kan?" tanya Nadine.


"lah iya ya kenapa gue lupa" ucap Rara tertawa geli


"dasar oncom" sungut Risa.


"santai aja bumil jangan marah-marah entar jadi kusut tuh muka dan jangan sebel sama gue ntar anak loe mirip gue gimana?" tanya Rara menggoda saudara krmbarnya.


" iih amit-amit orang gue yang hamil kok anak gue mirip loe " ucap Risa


"hahahaha" tawa Nadine dan Rara karna berhasil menggoda Risa.


"eh tapi bener loh Ris dulu gue gak suka banget sama suami gue dan apa yang terjadi ? anak gue dua-duanya mirip papahnya semua " ucap Nadine.


" oh begitu ya Nad jadi gue gak boleh sebel sama orang dong saat hamil ?" tanya Risa serius .


" ya iya kali itu kan kepercayaan orang-orang jaman dulu" ucap Nadine


" oh gitu eh udah dulu ya gue mau istirahar dulu bay assalamu'alaikum" ucap Risa seraya mematikan sambungan telefonya.


"Wa'alaikum salam " ucap Nadine dan Rara seraya menutup sambungan telefonya.


"sudah telfonya? ayo tidur besok aku kerja berangkat pagi" ucap Bimo seraya berbaring.

__ADS_1


Nadine mengangguk dan ikut berbaring memeluk sang suami.


sementara di belahan bumi yang lain, seorang pria dan wanita sedang duduk di kursi taman.


"Seila aku mohon terima aku ya ?" pinta Dimas pada Seila.


Memang sejak dua hari ini, Dimas selalu memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya.


tapi Seila masih ragu untuk menerimanya trauma masa lalunya yang membuat ia masih ragu terhadap seorang pria.


"baiklah jika kamu masih ragu terhadapku aku tak akan memaksamu lagi aku juga akan mulai menjauhimu karna aku juga mulai bosan menunggumu" ucap Dimas seraya beranjak pergi.


sementara itu, Seila terus memandangi punggung pria yang sedikit banyak membuatnya melupakan rasa traumanya.


"maafkan aku Dimas" ucap Seila lirih.


keesokan harinya, Bimo berangkat kekantor pagi-pagi sekali setelah mengantar sang isteri dan anak-anaknya.


ia sampai di kantor dan mendapat sapaan hormat dari para karyawan


ia hanya mengangguk dan terus berjalan menuju keruang kerjanya.


ia tampak bingung setelah mrmasuki ruang kerjanya karna mendapati asisten dan sekertarisnya tampak beda.


"hmm kalian ada masalah ?" tanya Bimo menatap dua orang yang tengah membolak-balikan laporan.


" tidak pak kami baik-baik saja " ucap Seila bersikap formal.


Bimo hanya menghela nafas seraya mengangguk dan mrmulai aktifitasnya sebagai CEO.


saat makan siang, Bimo mengajak Dimas makan siang di kantin kantor.


"kau kenapa Dim ?" tanya Bimo saat mereka sudah berada di dalam kantin.


Dimas mrnghela nafas sebelum bercerita.


"aku sudah memutuskan untuk mundur karna aku fikir percuma mengejar rembulan kita tak akan pernah sampai" ucap Dimas seraya menghela nafas.


Bimo hanya bisa tersenyum getir mendengar pernyataan sahabat sekaligus asisten pribadinya.


"kau yang sabar ya bos aku doakan kau segera mendapatkan apa yang kau mau " ucap Bimo seraya menepuk pundak sahabatnya itu.


Dimas hanya tersenyum getir mendengar penuturan Bos sekaligus sahabatnya itu.


mereka kemudian melanjutkan acara makan siangnya sementara Seila memilih membeli Siomay di luar untuk mengisi perutnya karna ia merasa sungkan pada Dimas.


💕💕💕


BERSAMBUNG...............


JANGAN LUPA LIKR COMENT DAN VOTE SEBANYAK BANYAKNYA

__ADS_1


__ADS_2