
Saat ini Arini telah berada di kampus, duduk dalam ruangan kelas, menyimak dosen lelaki yang berdiri menjelaskan ilmu yang dia diberikan. Arini menatap kosong ke depan, pandangannya berkabut, sedari tadi ia terus menguap. Ia di dera rasa kantuk yang hebat membuat manik matanya memerah menahan agar tak terpejam.
Telah seminggu Arini membantu Tirta mempersiapkan perlengkapan syuting, selama itu ia terus merasakan kurang tidur apalagi semalam Tirta pulang agak terlambat.
“Arini,” bisik Rara, mengusap lengan Arini saat melihat mata sahabatnya tertutup.
“Arini,” ulang Rara dengan nada lebih tinggi.
Arini tersentak kaget mengarahkan pandangannya pada Rara yang menatapnya tajam. Gadis ini pun kembali mencoba untuk fokus menatap ke depan.
Tak beberapa lama kemudian, Arini menarik napas lega saat dosen telah selesai dengan penjelasannya dan keluar dari ruangan. Gadis ini langsung menempelkan kepalanya di meja.
“Arini kamu kenapa sih?” tanya Rara yang menatap heran semenjak neneknya tidak ada, sahabatnya ini selalu terlihat kelelahan.
“Emmm, saya sangat mengantuk, biarkan saya tidur sebentar saja,” jawab Arini malas dengan mata tertutup.
“Rini sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang membuatmu selalu mengantuk? Nenek tidak ada, mertuamu pun juga ngak ada, jadi waktu kamu luang tapi, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu saja sibuk,” oceh Rara tahu kehidupan Arini.
Arini hanya diam tak menjawab ia hanya ingin tidur.
"Arini!” Rara mengguncang tubuh sahabatnya. “Kalau kamu sibuk, aku akan membantumu. Aku ikut pulang ke rumahmu, aku akan menginap.”
Mendengar ucapan Rara yang akan berkunjung ke rumahnya membuat mata Arini membulat.
“Jangan Ra!” Arini gelagapan.
“Emang kenapa sih? Biasanya juga aku nginap." Rara mengerutkan alisnya menatap Arini lekat ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh gadis ini.
“Saya sedang sibuk mengatur rumah,” jelas Arini merasa sudah tidak aman ia bergegas memakai tasnya.
“Arini ada yang kamu sembunyikan sama aku.” Menatap tajam.
“Ngak Ra.”
“Ngga, kamu aneh. Aku ikut kamu pulang,” Gadis ini mencekal tangan Arini hingga langkah itu terhenti.
Jantung Arini berdetak kencang, menyembunyikan apa yang telah terjadi padanya.
“Ngak ada yang aku sembunyikan Ra, saya hanya benar-benar sibuk mengatur rumah,” alibi Arini tidak mungkin ia mengatakan jika ia begadang mengurus keperluan suaminya.
“Beneran?” tanya lagi memastikan
Arini mengangguk, tersenyum ceria lalu menggandeng lengan sahabatnya.
“Baiklah aku percaya, tapi kalau ada apa kamu beritahu aku ya, kita kan sahabat,” jelas Rara.
__ADS_1
“Sudah temani saya ke kantin, saya lapar. Tadi hanya sarapan roti,” tutur Arini mengalihkan perhatian lalu menarik tangan Rara yang pasrah mengikuti langkah Arini.
Arini dan Rara telah berada di kantin kampus, menu mie goreng adalah pesanan mereka.
“Ra pulang kampus kita jalan-jalan yuk, udah lama kita ngak jalan,” ajak Rara sambil menyantap makanan.
Arini terdiam sejenak mengingat agenda yang akan ia lakukan, hari ini sepulang kuliah. Dia berencana belanja bahan makanan yang telah habis di kulkas. Karena itulah tadi pagi ia hanya sarapan dengan roti.
“Maaf Ra, saya ngak bisa,” tolak Arini.
“Ngak bisa mulu.”
“Ia, lain kali ya. Jangan cemberut dong, nanti kalau nenek datang, saya temanin kamu kemana pun,” bujuk Arini.
Rara mendengus, akhirnya kembali pasrah. Mereka makan bersama, Arini hanya menimpali sedikit ocehan sahabatnya, ia sangat mengantuk apalagi suara ocehan Rara yang terasa mendayu-dayu di telinga membuatnya ingin pergi ke alam mimpi.
“Kalian di sini rupanya,” Suara lelaki membuat perhatian teralihkan, mereka kompak menatap ke arah sumber suara.
“Hai Gio,” sapa Rara terpukau pada cowok ganteng idola kampus.
“Hai Rini.” Sapa Gio kemudian duduk bergabung di samping Arini.
“Kamu kenapa Ra? Lemas gitu?” tanya Gio yang melihat wajah tak bersemangat Arini dan perempuan ini hanya tersenyum tipis.
“Ia, kamu kenapa Rin, kamu ada masalah? kamu butuh bantuan?” cecar Gio dengan banyak pertanyaan.
“Enggak ada apa-apa,” jawab Arini di ikuti kepala yang menggeleng.
Rara dan Gio asyik mengobrol, Arini hanya sesekali menimpali ia hanya ingin tidur. Di sudut tempat itu , perempuan bertubuh ramping memperhatikan interaksi mereka. Dengan tangan terkepal menahan amarah. Perempuan itu melangkah mendekat dengan gelas berisi minuman.
“Aku akan memberikanmu pelajaran,” geram perempuan itu.
Arini terjengkit kaget saat, merasa tubuhnya telah basah, matanya yang coba ia tutup kembali terbuka.
“Upps, sorry. Ngak sengaja, aku tadi hampir jatuh,” ucap perempuan itu dengan senyum menyeringai telah menumpahkan minuman ke arah Arini.
Rara dan Gio yang tadi tertegun dengan apa yang terjadi, kompak berdiri, Rara lalu mengusap tubuh Arini yang basah.
“Selly apa yang kamu lakukan sama Arini,” bentak Gio.
“Selly kamu pasti sengaja kan! Kenapa sih kamu suka banget ganggu Arini,” hardik Rara emosinya mulai naik.
“Udah, Ra aku ngak apa,” ucap Arini mengusap baju yang ia kenakan dengan tisu.
“Ia, Sel kau pasti sengajakan!” suara Gio semakin meninggi membuat perhatian orang yang berada di kantin tertuju pada mereka.
__ADS_1
“Aku bilang aku tidak sengaja.” Perempuan ini masih melakukan pembelaan.
“Sel, aku ingatkan jangan ganggu Arini. Atau kau akan berhadapan denganku,” ancam pemuda ini.
“Gio apa hebatnya sih perempuan ini, sampai kau terus membelanya, apa yang kau lihat dari dirinya, kau ingat dia itu janda! Kau benar-benar menyukai janda ini!” hardiknya menatap remeh Arini yang hanya terdiam.
“Tutup mulut, memangnya kenapa kalau aku suka padanya, kalau aku bilang aku mencintainya sejak pertama kali mengenalnya, apa urusanmu,” ungkap Gio akan perasaannya pada Arini, membuat suasana kantin menjadi riuh mendengar isi hati cowok idola kampus pada Arini yang janda.
Arini dan Rara diam mematung tak menyangka Gio mengungkapkan perasaannya.
Selly terdiam dengan tangan mengepal menahan amarah tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan. Kemudian ia pun pergi meninggalkan kantin.
“Kamu ngak apa-apa Rin?” tanya Gio menghawatirkan keadaan Arini.
“Ngak apa-apa.” Arini memaksakan senyumannya.
“Ayo kita pergi Ra,” Arini menarik tangan Rara.
“Arini aku serius menyukai kamu,” ungkap Gio pada Arini.
“Maaf, Gio. Saya hanya menganggap kamu teman. Saya tidak pantas untuk kamu, carilah perempuan yang baik untuk kamu,” jelas Arini kemudian melangkah pergi menarik tangan Rara.
“Arini,” panggil Gio namun tidak menghentikan langkah dua sahabat itu.
Rara dan Arini telah meninggalkan kantin, mereka duduk di bangku panjang.
“Gila Gio nembak kamu, kamu tolak, semua perempuan di kampus ini mengharapkan jadi pacarnya dan dengan mudahnya kamu menolaknya,” ucap Rara seakan dia yang sangat menyesali keputusan Arini.
“Rin, berapa kali aku bilang move on. Buka hati kamu dengan yang baru, kamu masih muda,” jelas Rara, ia kagum dengan kesetiaan Arini yang masih menantikan suaminya.
“Aku ngak bisa Ra,” ucap Arini yang ia kini ia telah kembali menjadi seorang istri.
“Wah, cewek Yang taksir Gio, pasti bakal ngamuk nih, terutama Selly.”
“Karena kejadian tadi Saya pasti akan semakin di hujat dan di cibir, karena Gio suka sama saya, kamu tahukan terkenal sebutan janda Saja, saya dihujat apalagi Gio suka sama saya,” keluh Arini terlihat putus asa, di kampus ini orang selalu menatap remeh padanya hanya karena statusnya.
Rara memegang tangan Arini ia tahu apa yang dirasakan Arini, sahabatnya selalu di pandang rendah dengan sebutan janda. “Ia, kamu yang sabar, Aku akan selalu membela kamu.”
“Makasih Ra.”
Arini menarik napas berat hari-harinya di kampus, akan semakin sulit akibat pengakuan cinta yang ia terima dari cowok idola kampus, gadis-gadis pasti tak kan terima dan akan mengganggunya terutama Selly.
__ADS_1