Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
modus gagal


__ADS_3

“Dasar! Enak saja dia menyuruhmu menerima cinta adiknya!” gerutu Tirta membawa Arini masuk ke dalam mobil mewahnya, tempat yang aman untuk mereka berdua bercengkerama, kini mereka duduk berdampingan di kursi belakang.


“Awas aja kamu dekat-dekat dengan adiknya!” ketus Tirta menatap tajam pada Arini yang hanya tertunduk seakan terintimidasi.


“Tidak mungkin kak, saya hanya menganggapnya teman,” ucapnya pelan.


“Baguslah!


Tirta menghadapkan tubuhnya pada Arini. Menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya menyalurkan seluruh perasaan rindunya.


“Aku merindukanmu,” ucap Tirta memeluk  erat Arini mengendus aroma parfum dari perempuan yang sangat di rindukan.


Arini membatu dalam pelukan sang artis, dengan degup jantung berdetak kencang mendengar ucapan Tirta.


Apa!! Idolanya ini sedang merindukannya.


Pelukan terlerai, Arini menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


“Kak saya tidak bisa lama-lama di sini, saya harus pulang!” ucap Arini terlihat buru-buru.


Alis pemuda ini bertaut dalam. “Pulang!” responnya dengan gelagapan ucapan Arini. Duh bukan ini rencananya. Bukan kan dia merancang Arini datang menemuinya di lokasi syuting, untuk mengajak menginap di rumahnya lagi, sama seperti dulu. Tapi, mengapa gadis ini malah meminta untuk pulang.


“Kenapa pulang?” ucapnya dengan nada tak terima.  “Kamu di sini aja temani aku syuting,” pintanya.


“Saya harus pulang cepat kak. Ayah dan ibu pasti mencari saya. Mereka khawatir jika saya pulang telat.”


“Ayolah temani aku!” pintanya dengan sedikit memaksa memegang kedua tangan Arini sungguh ia tidak ingin modusnya gagal. “Malam ini menginaplah di rumahku!” ujarnya.


Blus ...


Wajah Arini seketika memanas merona mendengar permintaan suaminya. Kenangan malam pertama mengudara di pikirannya, menginap di rumahnya, berarti mereka akan tidur bersama lagi dan mengulang malam penuh gairah itu lagi.


“Maaf kak. Saya tidak bisa, ayah dan ibu melarang saya untuk menginap di rumah kakak lagi,” jelas Arini pelan merasa tidak enak menolak permintaan Tirta.

__ADS_1


“Melarang! Memangnya kenapa?”


Arini tertunduk memilin ujung baju yang ia kenakan ada keraguan mengungkapkan fakta sebenarnya. “Karena .... Karena setelah saya menginap di rumah kakak. Sepulangnya saya langsung demam,” jelas Arini menggigit bibir kuat, menahan rasa malu dia deman setelah melalui malam pertama.


“Apa! Demam! Kenapa kamu ngak memberitahuku! Di telepon. Kamu selalu bilang baik-baik saja! Terus bagaimana keadaan kamu?” cecar Tirta panik seraya memegang bahu Arini menatap seluruh bagian tubuh istrinya, sungguh dia sangat cemas Arini menjadi demam setelah malam pertama yang tentu itu karenanya.


“Saya sudah tidak apa-apa kak,” tutur Arini dengan senyum tersungging.


Memang setelah menjalani pengalaman pertama, Arini merasakan sangat sakit ditambah semalaman Tirta mengulangnya beberapa kali. Arini juga semalaman tidak bisa tidur dalam dekapan artis idola, membuat tubuhnya menjadi kelelahan dan akhirnya daya tahan tubuhnya menurun.


“Lalu apa yang terjadi.” Tanya lagi.


“Ayah dan ibu sangat cemas ketika saya pulang dari rumah kakak, saya menjadi demam dan mengira jika kakak telah menyakiti saya.”


“Menyakiti!” sentak Tirta tak habis pikir mengapa orang tuanya berpikir seperti itu.


Arini mengangguk pelan.


“Astaga. Mereka berpikir terlalu jauh!” pemuda mengeram kesal.


Orang tuanya memang masih terus menganggap jika Tirta selalu memperlakukan Arini dengan tidak baik, apalagi mereka tahu, dulu Tirta membuat Arini menggantikan tugas pembantu di rumahnya.


“Apa itu masih sakit,” tanya Tirta ragu menunjuk bagian tubuh bawah Arini dengan ekor matanya.


Blus ...


Pipi Arini kembali merona bak tomat dengan pertanyaan Tirta kembali teringat malam panas mereka. Arini pun menggeleng cepat.


“Syukurlah.” Tirta menarik Arini ke dalam pelukannya memberikan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala gadis itu dengan sayang. “Aku akan bicara pada mereka.” Mereka terdiam menikmati dekapan pelepas rindu.


Suara pintu mobil terbuka membuat mereka tersentak, dengan cepat melepaskan pelukannya. Terlihat Rian berdiri di samping pintu sebelah Tirta.


“Kalian,” Rian memandang dengan tatapan menyelidik, apalagi mereka terlihat salah tingkah seperti terciduk.

__ADS_1


Rian tersenyum miring. “Ada Arini rupanya,” sapa Rian terdengar nada mengalun seakan sedang menggoda Tirta.


Tirta hanya memutar bola mata malas mengapa juga Rian datang dan mengganggu kemesraannya.


“Iya kak, habis ketemu Ricard,” ucap Arini dengan senyum mengembang.


“Hebat, jadi sudah dapat tanda tangannya?”


“Sudah kak!”


“Baguslah kalau begitu,” pujinya.


Arah pandang Rian kembali mengarah pada Tirta.


“Lan ada hal penting yang ingin aku bicarakan!” kata Rian terdengar serius dan mendesak.


“Nanti saja!” dia tidak punya waktu meladeni Rian, hanya ingin menghabiskan waktu bersama Arini.


“Ini penting Lan.”


Rian memajukan tubuhnya berbisik di telinga Tirta. “Ini  informasi tentang Andra. Kau menyuruhku mencari tahu kan!” bisiknya membuat alis Tirta mengerut dalam tentang berita kakaknya.


Tirta menghela napas berat menatap lekat wajah Arini. Gadis ini tidak boleh tahu jika dia sedang mencari informasi tentang Andra. Dia tidak ingin Arini mengingat Andra lagi hanya akan membuatnya sedih.


“Baiklah. Kita bicara nanti! Aku ingin mengantar Arini pulang dulu,” ucapnya tanpa melepaskan tatapan dari Arini.


“Baiklah.” Rian pun pergi.


“Aku akan mengantarmu pulang!” ucap Tirta lalu berpindah ke kursi kemudi.


Arini tertegun melihat perubahan raut wajah Tirta, datar tanpa expresi yang di bisa di baca, entah hal penting dan seserius apa yang akan di sampaikan Rian hingga membuat wajah Tirta berubah itu pikir Arini.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2