Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kesiangan


__ADS_3

Matahari telah menyingsing. Cahaya mentari masuk ke dalam celah jendela. Menyilaukan mata gadis masih yang bergelung di bawah selimut hangat.


Arini mulai tersadar menggeliat perlahan mengumpulkan separuh nyawanya. Matanya yang mulai terbuka sempurna seketika membola saat di suguhkan pemandangan pagi hari, melihat pemuda tampan berbaring di sampingnya.


“Kak Dilan,” ucap Arini gelagapan, pikiran buruknya mulai berselancar ke mana-mana, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dia menarik napas lega saat melihat pakaian yang ia kenakan masih lengkap.


Manik matanya pun menyusuri ruangan.


“Ini kamar kak Dilan.” Arini mulai panik menatap pemuda yang masih tertidur lelap.


“Apa yang telah saya lakukan, kenapa saya bisa tidur di kamar ini?” Memori Arini kembali mengingat kejadian semalam ia yang tidak dapat menahan kantuknya.


“Astaga semalam Saya ketiduran di sini. Kak Dilan pasti marah,” Arini seketika bangkit turun dari ranjang perlahan, menyamarkan suara langkah kaki, meninggalkan kamar Tirta sebelum si artis ini bangun.


Arini telah selesai membersihkan diri, kini ia menyeret langkah menuju dapur dengan tak bersemangat, bayangan ia tidur seranjang dengan Tirta terus terniang dan itu adalah sebuah dosa besar, yang bisa membuat suami yang tak mengharapkannya itu marah padanya.


Arini telah berada di dapur akan menyajikan menu sarapan untuknya dan Tirta. Dengan lemah ia membuka pintu kulkas meraih beberapa butir telur yang rencananya akan di jadikannya omelet sebagai menu sarapan si artis.


“Bodoh Arini kenapa kamu bisa tidur di kamar kak Dilan.” gadis ini dari tadi mengutuk dirinya. Ia menatap kosong, dengan telur yang telah di pecahkan dan di aduk dalam wadah.


Hingga teringat sesuatu, jika semalam ia belum membereskan tugasnya. Barang-barang keperluan Tirta belum ia keluarkan dari kamar dan menatanya di dalam mobil bahkan kado dari fans belum ia susun.


“Aaaa, saya lupa barang kak Dilan masih berada di dalam kamar.” Arini berdecak kembali merutuki kebodohan semalam dan matanya yang tidak bisa menahan kantuk.


Gadis cantik ini mempercepat kegiatannya memasak omelet dan menyiapkan buah serta jus buah sehat. setelah itu melakukan tugasnya yang tertunda di kamar Tirta.

__ADS_1


Arini telah berada di depan kamar Tirta dengan ragu ia masuk ke dalam, ini pertama kalinya ia masuk di dalam kamar suaminya di pagi hari. Seharusnya barang keperluan Tirta sudah ia urus di malam hari dan pagi hari tinggal membawanya ke mobil.


Arini telah masuk ke dalam kamar perlahan berharap artis itu masih terlelap, manik matanya berputar menatap sekeliling terutama tempat tidur namun telah kosong. Arini menarik napas lega saat mendengar suara gemercik air dalam kamar mandi tanda jika Tirta sedang mandi.


Tak membuang kesempatan, Arini dengan gerak cepat membereskan kado dari fans yang masih berada di sofa, ia berharap Tirta tidak keluar dari kamar mandi sampai menyelesaikan semua.


Menyusun hadiah fans telah selesai, kini tinggal masuk ke dalam ruang wardrobe tempat pakaian Tirta. Semua telah ia siapkan tinggal membawanya keluar dari kamar.


Arini baru saja masuk hingga suara langkah membuatnya berbalik.


“Ya ampun!” pekik Arini matanya membola, jantungnya seakan ingin lompat keluar saat menatap tubuh tinggi Tirta, berdiri menjulang hadapannya dengan bertelang dada, hanya handuk putih yang membalut tubuh bagian bawahnya.


Sejenak Arini tertegun menatap kagum dada bidang yang putih mulus itu yang terbasahi oleh tetesan air dari rambut yang basah, serasa mimpi ia melihat tubuh idolanya terpampang nyata di hadapannya hingga kemudian tersadar.


Arini mengalihkan  pandangannya, mata sucinya telah ternoda oleh pemandangan yang ada di hadapannya.


“Maaf kak, saya semalam belum mengeluarkan barang-barang keperluan kakak,” jelas Arini mengalihkan pandangannya.


“Ya ialah semalam, kau tidur di kamarku, seperti orang pingsan,” cibir Tirta menerobos tubuh Arini.


Tangan Tirta membuka lemari pakaian, ia meraih hoodie berwarna putih dari brand ternama.


“Kenapa kau masih berdiri saja! Cepat siapkan semua jangan sampai ada yang tertinggal,” ucap Tirta pada Arini hanya berdiri mematung masih mengalihkan pandangannya.


“Kak Dilan, bisa keluar sebentar. Tunggu saya keluar, kak baru masuk. Saya sedang mempersiapkan barang kakak,” ujar Arin masih tertunduk.

__ADS_1


Pemuda tampan ini tercengang mendengar ucapan Arini, baju yang tinggal melewati kepalanya tertahan di kedua lengan Tirta. “Kau mengusirku dari ruanganku, enak saja. Aku tidak mau, lakukan saja tugasmu dengan cepat,” tolaknya.


"Sebentar saja.” Suara Arini terdengar merengek ia tidak mungkin melihat Tirta berpakaian.


“Aku tidak mau,” kekeh Tirta meloloskan baju dari kepalanya.


Tirta memutar bola mata malas saat menatap gadis ini tidak bergerak sedikit pun. Tirta mendekat arah Arini yang berdiri mematung dengan kepala tertunduk.


Pemuda ini membungkuk. “Kenapa kau malu? melihat tubuhku?” goda Tirta menarik salah satu sudut bibirnya mencoba menatap wajah Arini yang menyembunyikan wajahnya.


Arini hanya diam tidak berani menatap pemuda yang bagian bawahnya masih berbalut handuk.


“Kau ini bukan anak gadis polos yang lugu dan malu-malu melihat tubuh lelaki, kau bahkan sudah melihat yang lebih dari ini kan, dan kau juga sudah merasakannya tubuh seorang lelaki,” cibir Tirta membuat wajah Arini memerah karena malu.


“Kau tidak ingin melihat tubuhku dan membandingkannya dengan kakakku,” goda Tirta tangannya bergerak, ke bawah, membuat Arini gelagapan.


“Tunggu kak, biar saya yang keluar,” teriak Arini melihat tangan Tirta memegang handuk seakan menyibak penutup tubuh bawahnya itu.


Arini dengan cepat melangkah, meraup dan mendekap ke dadanya semua barang yang telah disiapkan. Dan  akan ia bawa ke mobil Tirta, menerobos tubuh Tirta dengan kepala tertunduk.


Tirta mendengus tersenyum miring menatap tingkah lucu Arini.


“Dasar bocah. Aneh, kaya anak perawan ting-ting aja,” sungut Tirta lalu kembali berpakaian.


Arini berdiri di depan pintu yang tertutup menarik napas lega setelah keluar dari kamar Tirta, tubuhnya bergetar. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh lelaki. Sewaktu bersama Andra, dia tidak pernah melihat bagaimana tubuh suaminya karena mereka masih pasangan pengantin baru yang malu-malu dan belum melakukan hubungan badan selayaknya suami istri.

__ADS_1


 


__ADS_2