Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
mirip siapa?


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat tak terasa Kandungan Arini telah memasuki trimester akhir. Kebahagiaan menyelimuti pasangan ini. semua telah berjalan dengan baik. Karier Dilan Magika kini kembali pada puncak, film tiang listrik yang dulu sempat dia tolak, booming di kalangan masyarakat. dan telah berhasil membawanya menjadi yang teratas mengukuhkan posisinya sebagai artis berbakat. Sudah tidak ada lagi mempermasalahkan pernikahannya, bahkan sekarang ia menjadi contoh pasangan teromantis. Setelah terang-terang memberikan tanda bibir, mencium Arini di hadapan semua orang saat pemutar perdana film jodoh pilihan kakakku.


Sebenarnya Tirta sudah tidak ingin berlakon lagi, ia hanya ingin menjaga Arini, namun sang istrilah yang memaksanya untuk kembali lagi ke dunia hiburan menjadi idola.


Sebisa mungkin Rian mengatur jadwal agar Tirta tidak terlalu sibuk. Tidak mengambil pekerjaan pada akhir pekan dan hanya sesekali pulang larut malam.


Arini sedang berada di dalam kamar, duduk di sofa sambil menatap layar teve di hadapan. Iris hitam mata Arini teralihkan ke arah pintu yang baru saja terbuka. Sudut bibirnya tertarik saat melihat suami idolanya datang membawa nampan di tangan yang di atasnya terdapat susu hamil serta buah-buahan.


Tirta duduk di samping Arini lalu menyodorkan segelas susu. “Minum dulu susunya, biar kamu dan anak kita sehat,” ucap Tirta.


Tangan Arini terulur menerima segelas susu cokelat dari Tirta kemudian menenggaknya.


“Semoga dia lahir dengan selamat,” sela Tirta sebelah tangannya terulur mengelus perut Arini.


Arini meletakkan gelas susu yang telah tandas ke meja. “Iya, kak. Saya sudah tidak sabar melihatnya, mereka pasti menggemaskan,” kata Arini gemas membayangkan saja sudah membuatnya girang semakin mengelus perut buncitnya.


“Iya, semoga dia mirip kamu sayang,” tambah Tirta juga ikut gemas.


Arini menegakkan duduknya. “Mirip saya?” Mengarahkan pandangannya pada Tirta dengan alis bertaut. “Saya maunya mirip kak Dilan,” ucap Arini terdengar memaksa.


“Mirip aku?” ulang Tirta menunjuk dirinya, justru kini Tirtalah yang keheranan dengan ucapan Arini.


“Iya, semoga tampan seperti ayahnya. Ayah kan artis, sedangkan saya ibunya biasa saja.” Arini tertunduk menatap perutnya semakin mengelusnya.


“Ngak! Kamu juga sangat cantik! Semoga mirip ibunya,” harap Tirta juga kekeh.


“Kak Dilan. Semoga dia mirip kakak!” protes Arini mulai mengerucutkan bibirnya.


“Aku ingin mirip kamu.”


Arini mengalihkan pandangannya kembali menatap perutnya.

__ADS_1


“Sayang jangan dengarkan ayah ya untuk mirip wajah ibu! Wajah kamu harus seperti ayah kamu ya! Biar kamu tampan dan banyak yang mengidolakan kamu nanti.” Arini meletakkan dua telapak tangannya di perut buncitnya.


Tirta mendengkus lalu menarik sudut bibirnya saat melihat Arini mengelus perutnya, memasang wajah cemberut sangat menggemaskan. Tirta menarik sebelah tangan Arini “Aku ingin anak kita seperti kamu. Terutama kesabaran kamu! Semoga turun ke anak kita sayang,” bujuk Tirta lalu mengecupnya. Senyum terkembang terbit dari wajah Arini mendengar ucapan suaminya.


Perdebatan tentang mirip siapa pun terhenti. Ketika pelayan memberitahukan jika Rian datang hendak menemuinya. Arini dan Tirta pun bergegas menemui Rian.


Tirta memutar bola mata malas. “Ada apa kemari? Bukankah ini akhir pekan! aku sedang libur,” tutur Tirta tak bersemangat kemudian membimbing Arini duduk di sofa.


“Jangan seperti itu kak,” protes Arini.


“Ya elah yang mau mesraan mulu. Aku kesini hanya ingin memberitahukanmu jika penulis novel Adinda Adi memintamu untuk memainkan peran Arsen, ceo jutek itu,” jelas Rian.


“Si jutek!” Tirta seketika terbelalak mendengar tawaran film dari Rian. Sedang kan Arini berdecak kagum terlihat antusias.


“Aku tidak mau!” Tolak Tirta dengan tegas.


“Kenapa?” tanya Rian.


“Kak ceritanya unik, saya yakin ini akan kembali booming,” sela Arini.


“Sayang amit-amit!” Tirta mengetuk-ngetuk meja sambil bergidik. “Kamu itu sekarang lagi hamil jangan sampai jika aku main di film itu anak kita, malah ngak mirip dengan kesabaran kamu tapi ikut jutek sama karakternya.” Tirta yang tadi berdebat anak mereka mirip siapa seketika takut anaknya sama seperti Arsen.


“Memang kamu sudah baca novelnya?” tanya Rian sangsi.


“Ya sudahlah. Si jutek itu karakternya galak, bermulut pedas.”


“Tapi dia itu sweet kan sangat mencintai istrinya.” sela Arini.


“Ya karena cintanya lah dia jadi bucin. Ngak pandang bulu mulai mama, papa, tetangga yang janda, anak yatim, bahkan sampai tukang sayur pun di sembur sama dia dengan kata-kata tajam, jika mengganggu istrinya,” terang Tirta. “Tiang listrik mencintai dalam diam, kalau si jutek terobsesi hingga rela melakukan apa-pun.”


“Lan pikirkan lagi, tolong hargai penulisnya karena dialah namamu kembali melambung.”

__ADS_1


“Iya kak,” tambah Arini.


“Sayang kamu lagi hamil, aku tidak ingin anak kita ikut jutek karena ayahnya berperan jutek,” tekannya.


Arini hanya menghela napas berat akan kekhawatiran Tirta tidak habis pikir. ini adalah anak mereka, kenapa kelak akan menjadi jutek hanya karena akting film.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2