Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kencan


__ADS_3

Menjalani Kencan seperti pasangan lain adalah upaya Tirta untuk dekat dengan Arini, agar hubungan mereka semakin tertambat dalam, sekaligus menghibur diri akan kabar menyedihkan tentang Andra. Dia juga Berharap dengan agenda ini Arini akan memandangnya sebagai pasangan bukan idola, dengan begitu dia bisa menggantikan posisi Andra di hati Arini.  Lagi pula terhitung selama menikah mereka tidak pernah jalan bersama sebagaimana pasangan lain.


Arini dan Tirta kini telah berada di mall. Ada perasaan menggelitik di dalam hati Arini saat mereka melangkah seirama dan Tirta menggenggam tangannya erat, mengayun-ayunkannya pelan. Ah rasanya Arini ingin meleleh berjalan bersama pemuda tinggi, berpenampilan keren dengan kacamata hitam bertengger di tulang hidung serta topi hitam menutupi sebagian wajah tampannya. Benar-benar sebuah kebanggaan.  


“Kamu mau apa?” tanya Tirta menyerahkan semua kegiatan kencan ini sesuai keinginan Arini.


Arini berpikir sejenak kencan ala pasangan yang dia tahu.


“Bagaimana kalau kita nonton aja kak,” tawar Arini hanya itu yang terpikir lalu menarik tangan Tirta.


Tirta mengernyit. “Ngapain nonton, kan aku artis!” langkah Tirta tertahan.


“Kita belanja aja. Apa-pun yang kamu mau. Baju, tas, sepatu, perhiasan,” cetus Tirta kembali melebarkan langkahnya menarik tangan Arini.


“Saya ngak butuh apa-pun kak,” tolak Arini kali ini dia yang terdiam saat Tirta menarik tangannya.


“Baiklah. Kita makan di sana!” cetus Tirta lagi.


“Kan selera kita beda.” Arini mengingatkan.


Tirta menghela napas berat, ternyata dia dan Arini begitu banyak perbedaan, hingga mereka hanya berdiri di tempat untuk memutuskan sesuatu. Namun ada satu hal yang ditangkap Tirta, ini adalah perdebatan pertama mereka. Arini  menolaknya, mengungkapkan keinginannya. Tidak seperti biasanya hanya diam terus menuruti perkataannya tanpa membantah.


Tirta tersenyum lucu akan perdebatan pertama mereka. ia merasa sudah seperti pasangan pada umumnya.


Tirta mengusap puncak kepala Arini dengan lembut. “Baiklah kita nonton saja,” ucap Tirta membuat senyum mengembang dari bibir Arini.


***


Kini mereka telah berada di dalam ruang gelap bioskop menatap layar besar di hadapan mereka. Tirta tersenyum puas saat gadis di sebelahnya sedang menyembunyikan wajahnya di bahunya.


Ya si artis modus ini kembali berhasil dengan aksinya, membuat Arini menggelayut manja padanya. Dia memilih film horor.


“Kak filmnya seram banget, tuh kan banyak  setannya, kakak bilang Cuma satu, saya takut nonton film seperti ini,” oceh Arini.


Tirta mengusap punggung Arini. “Udah! ngak apa-apa! Aku ngak pernah main film horor. Sekalian belajar jadi reverensi jika dapat peran di film horor,” kata artis modus ini, melipat bibirnya kuat menahan tawa, padahal niatnya hanya ingin menjadi tempat bersandar untuk Arini. Rasanya dia gemas sekali melihat tingkah istrinya.


Hingga film selesai di putar Arini terus menyembunyikan wajahnya.


“Buka matamu! Filmnya sudah selesai,”


“Benar kak?” Arini menarik napas lega saat menatap layar ternyata film terkutuk itu telah selesai. Mereka pun bangkit dari duduknya berjalan keluar.

__ADS_1


Tirta tersenyum puas keluar dari ruang bioskop, Arini menggandeng lengannya. Sungguh ia merasa sudah seperti pasangan bagi Arini. Kencan ini benar-benar sebuah kemajuan bagi hubungan mereka.


Terdengar riuh beberapa orang yang keluar berbarengan dengan mereka dari ruang bioskop ternyata mengenali si artis.


“Dilan Magika?” tanya kumpulan gadis-gadis yang berjumlah lima orang terlihat seumuran dengan Arini.


Tirta hanya menjawabnya dengan senyuman membuat mereka berdecak kagum.


"kami ngefens sama kak. Boleh minta tangan ngak?” pinta mereka memasang wajah unyu-unyu menggemaskan.


Tirta menggangguk, seraya tersenyum tipis melayani permintaan fans, karena jumlah hanya sedikit.


Arini menjadi tersingkir melepaskan gelayutan tangannya. Memberikan waktu untuk Tirta melayani para gadis-gadis.


Arini menatap kagum pada Tirta yang berada di tengah gadis-gadis yang menggilai Dilan Magika. Apalagi saat mereka bergiliran mengambil gambar dan menyodorkan buku lalu menjerit kegirangan, sungguh sangat menggemaskan, membaut Arini pun larut, dia seakan berada bersama bersama Rara. Tanpa sadar jiwa norak artis Arini kembali, bangkit. Dia merogoh tas selempangnya meraih buku dan pulpen. Dia juga menginginkan tanda tangan Dilan Magika.


Satu persatu gadis itu mundur pergi meninggalkan Tirta, kini giliran Arini yang maju menyodorkan bukunya.


Tirta bersedekap. “Mau apa?” ketus Tirta dia tahu Arini pasti melihatnya lagi sebagai idolanya lagi.


“Kak saya juga minta tanda tangan!” ucap Arini.


Tirta mendengkus memutar bola mata jengah. Baru saja tadi dia merasa Arini memperlakukannya seperti pasangan bukan idola. Kenapa sekarang, dia berdiri lagi sebagai fans. Tirta berdecak.


Duh Arini kembali terlupa lagi, jika Dilan Magika adalah suaminya.


Sungguh sangat sulit bagi gadis biasa seperti Arini melihat Dilan Magika sebagai suaminya. Pesona Tirta sebagai artis top nomor satu dan di gila kaum hawa begitu kuat, membuat jiwanya terlalu mengagumi Dilan Magika.


Tirta menatap tajam Arini dengan seringai menghiasi wajah tampannya. “Aku tidak akan memberikan tanda tanganku!” decak Tirta.


Arini tertunduk lesu mendengar penolakan. Tirta lalu menangkup wajah Arini. mempertemukan manik mata mereka. Ada gelenyar aneh mengalir dalam perasaan mereka. Sepasang jantung berdetak kencang saat pandangan itu bertemu.


“Untuk fans tanda tangan, kalau untuk istri tanda bibir,” ucapnya dengan lembut setelahnya Tirta menempelkan bibirnya di bibir merah Arini.


Arini membulatkan mata saat menerima tanda bibir dari suaminya, jantungnya seakan ingin lompat keluar. Ah ... sesuatu yang lebih membahagiakan dari pada ratusan tanda tangan Dilan Magika. Yaitu tanda bibir dari suaminya.


Tempelan bibir itu terlepas. Wajah Arini bersemu merah begitu pun Tirta sejenak saling padang. Ah sial ... Tirta merasa seperti abg yang sedang jatuh cinta karena Arini.


“Ayo pulang,” ajak Tirta kembali menggenggam tangan Arini. Gadis ini diam seribu bahasa mengikuti langkah kaki suaminya.


***

__ADS_1


Kini mereka telah berada di dalam mobil. Arini bersandar di sandaran kursi, menghadapkan pandangannya pada


Tirta, terus menatap kagum wajah lelaki tampan yang ada di sebelahnya. Duduk memegang stir kemudi fokus menatap jalan. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik, mengingat baru saja dia mendapatkan tanda bibir dari lelaki itu.


Pikiran Arini mengudara merangkai kejadian indah hari ini. Waktu  di kantin saat Tirta secara gantleman mengakuinya di hadapan mahasiswa kampus. Jujur hati Arini berbunga-bunga mendapatkan perlakuan manis Tirta. Di tambah kencan serta mendapatkan tanda bibir lengkaplah sudah.


Irama jantung Arini terus berdetak kencang. Isi kepalanya mulai   mengudara tentang apa yang terjadi. Mengapa idolanya ini berubah manis, selalu menciumnya, bahkan membongkar rahasia pernikahan mereka di depan orang-orang.


“Mengapa kak Dilan mengatakan itu di depan mahasiswa kampus? Dia mengakui saya istri!” pertanyaan itu berseliweran di pikirannya menduga-duga.


“Selama ini sikapnya juga berubah. Arini mengusap bibirnya.” Dia masih merasakan hangatnya bibir Tirta.


“Dia mengakui saya apa mungkin dia ....” Arini membulatkan mata sempurna lalu menegakkan badannya.


“Apa mungkin dia suka sama saya,” batin Arini. Instingnya sebagai seorang perempuan yang sering di dekati lelaki mulai terbuka. bukan sekali dua kali dia mendapatkan perkuan manis Tirta, jadi wajar jika di baper menjadi baper.


“Dia suka mencium saya. Dia mengakui saya sebagai istrinya di hadapan semua orang. Dia mengajak saya kencan. Itu semua tanda cinta seorang lelaki pada gadis yang dia suka! Tanda cinta?” batin Arini bermonolog dalam hati. Seketika dia menjadi geer sendiri karena semua kesimpulannya menuju cinta. Wajah Arini merona, Tertunduk, tersipu malu menyelipkan rambut surai rambunya ke belakang telinga, jika memang idola ini menyukainya. Ya ampun bisa gila dia jika idola ini mencintainya.


Namun dengan cepat tersadar mendongak. “Tapi tidak mungkin!” teriak sudut hati Arini yang lain lalu menggelengkan kepalanya kuat. Siapalah dia? Hanya remahan.


“Tidak mungkin! Dia itu idola! tidak mungkin menyukai saya!” Arini duduk tegak bergumam meyakinkan dalam diri, jika itu tidak mungkin! seorang Dilan Magika tidak mungkin menyukai gadis kampung sepertinya. Tangan Arini terkepal yakin dengan tatapan memicing, membusungkan dada, jika Dilan Magika tidak mungkin suka padanya.


Arini terus bermonolog menepis semua dugaan perasaan Tirta pada dirinya. Arini tersadar menatap jalan.


“Kak kita ke mana?” tanya Arini saat melihat itu bukan jalan menuju rumah Abraham.


Senyum seringai terbit di wajah si artis modus,  


“Pulang ke rumahku!” sahut Tirta singkat. Kencan hanya sebagian rencana kecilnya. Modus utamanya yah tentunya membawa Arini ke pulang ke rumahnya untuk menghabiskan malam panjang bersama. Kembali kemenangan berpihak pada Tirta.


“Ke rumah kakak!” Arini memastikan.


“Iya. Malam ini kamu nginap di rumahku? Tidur bersamaku,” ucap Tirta tersenyum miring.


Arini menelan salivanya dengan susah payah. Lagi-lagi Tirta membawanya pulang dan mengajaknya tidur bersama.


“Oh Iya ... Tidur bersama itu tanda cinta kan?”


Tanya Arini dalam hati, kembali ketetapan hatinya goyah tentang perasaan Tirta tidak mencintainya, namun mengajaknya menginap dan tidur bersama, itu tanda cinta atau bukan? Ahhh dia seketika oleng ...


 

__ADS_1


 


Hahahah gemes banget sama pasangan satu ini. Cocok banget ....


__ADS_2